DEBU, DAUN, DAN KUPU-KUPU

Berapa lama, hikmah dari suatu kejadian baru bisa kita fahami? Sebagian orang -dan saya termasuk dalam bagian ini- membutuhkan rentang waktu yang panjang, penantian yang lama. Barulah, pada akhirnya nanti, saya mengerti hikmah kejadian yang saya alami. Ada orang-orang yang lebih ‘berilmu’ lagi, disingkapkan kepada mereka oleh Tuhan, hikmah dari sebuah kejadian, lebih cepat dari orang-orang awam seperti kita.

Mulanya saya tergerak lagi menulis ini karena ada sebuah teori yang saya sedikit sekali bisa jelaskan. “The Butterfly Effect”, nama teori itu kata para ilmuwan nan pintar.

Saya teringat dengan wacana ini, karena tiba-tiba saya berfikir kembali tentang hikmah-hikmah suatu perkara. Mudah-mudahan saya bisa menguraikannya. Beginilah singkatnya teori ini berkata:

Ilmuwan yang pintar-pintar, telah melakukan sebuah perhitungan nan rumit, persamaan diferensial non linear (saya tidak paham maksudnya apa), yang panjang dan berjalin-jalin, yang mengerucut pada suatu simpulan mengagumkan, bahwa misalnya sebuah perhitungan dimulai dengan angka “dua”. Dilewatkanlah angka itu pada berentet-rentet mekanisme perhitungan yang akhir dari persamaan yang sedemikian panjangnya itu menghasilkan suatu nilai.

Lalu kita mulai lagi perhitungan itu dari awal dengan nilai yang kecil sekali perbedaannya, misalnya “2.0000001” dan dimasukkan nilai itu dalam ratusan rentet perhitungan, maka hasil akhirnya sama sekali berbeda dengan hitungan sebelumnya. Betapapun akal sehat kita menyatakan apatah artinya nilai nol koma nol nol nol nol nol satu? Tapi ternyata berpengaruh. Dalam perhitungan panjang dan implikasi yang berjejaring tak karuan, sangat berpengaruh.

Sampai disini, saya tertegun. Tapi yang lebih membuat kaget lagi adalah penyederhanaan hitungan ini dalam sebuah kalimat yang lebih mudah dicerna oleh kita, begini kata para ahli tadi; kesimpulan dari perhitungan itu, bila dibahasakan dalam sebuah kalimat yang lebih renyah adalah: ‘kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil misalnya, merupakan sebuah variabel penting  tak bisa diabaikan yang turut pula menentukan apakah berapa bulan kemudian di Texas akan terjadi tornado atau tidak?’

Mengagumkan memang. Sebegitukah? tanya saya pada diri sendiri.

Saya lalu berandai-andai. Dalam kasus saya, tepat berapa bulan setelah kelulusan sekitar lima tahun lalu, saya diterima bekerja pada sebuah perusahaan Service Migas yang sampai sekarang saya geluti. Kenapa bisa begitu? karena pembukaan lowongan pekerjaan perusahaan ini Bertepatan berapa hari setelah kelulusan saya.

Seandainya saja dosen pembimbing saya memundurkan bimbingan satu hari saja, mungkin saya tidak dapat lulus pada waktu itu, maka mungkin saya tidak akan bekerja di sini.

Saya melanjutkan dramatisasi ini, kenapa dosen pembimbing yang sedianya selalu telat tapi hari itu tiba-tiba datang lebih cepat? mungkin tadi pagi setelah berjalan dari rumah, dia sakit perut tak tertahan, lalu memaksa supirnya untuk tiba di kampus lebih cepat dari biasa.

Bagaimana dia bisa sakit perut? Mungkin saja malam hari sebelumnya dia makan tahu goreng isi yang begitu menggoda, buatan istrinya, dilambari pula dengan cabe rawit yang demikian pedas, diambil dari belakang rumahnya.

Darimana cabe rawit itu? mungkin dari biji cabe yang dengan sembarangan dilempar oleh pembantunya ke belakan rumah, lalu Tuhan perkenankan tumbuh dan kemudian dia makan.

Kalau begini ceritanya, sebiji cabe saja memengaruhi hidup seorang mahasiswa.

Memang cerita ini dramatisasi, saya tahu betul itu. Tapi dengan mengarang beginilah maka saya semakin yakin, bahwa sekecil apapun perbuatan kita, semua akan memiliki implikasi yang panjang.

Dalam ranah pengetahuan maka kepak sayap kupu-kupu saja menjadi salah satu variable yang penting tak bisa diabaikan dalam perkiraan kedatangan tornado, maka dalam alam khayal saya, biji cabe pun menjadi penentu jua kelulusan saya, hidup saya kedepannya, dan lain-lain yang ilmu kita tak mungkin sampai.

Orang boleh saja, mendebat teori efek kupu-kupu itu, tapi saya lebih memilih memaknainya begini. Susah-senang, Sembuh-Luka, Sempit-Lapang, sebenarnya bergilir-gilir saja dalam kehidupan kita. Karena kita berada dalam jejaring aksi reaksi yang demikian kompleks dan memengaruhi satu sama lainnya.

Kalau segala hal kecil saja, kepak sayap serangga, dedaunan jatuh, memiliki guna, dalam jejaring implikasi-implikasi yang luas. Maka apakah saya layak memvonis ‘tidak baik’ untuk sesuatu yang saya alami sekarang? lalu memaksa Tuhan untuk merubah seperti yang saya mau. Padahal apatah baik itu? baik sekarang dimata kita, apa implikasinya bertahun-tahun kedepan? masihkah baik? Padahal pula dunia ini tidak berpusat di saya saja. Ada rekan-rekan yang lain. Ada orang-orang di belahan dunia sana. Ada alam semesta. Dan setiap apapun ada implikasi. Dan tidak sekecil apapun hal dalam jejaring implikasi yang rumit itu, yang Tuhan abaikan. Tidak…Tidak sama sekali.

Tapi itulah sisi lemah kita sebagai manusia. Di situlah kita harus bersangka yang baik. Hikmah….hikmah…. semua sudah tertata, sudah rapih, ada implikasi-implikasi kebaikan yang kita tidak tahu.

seperti cerita ini, saya baca pertama kali dari sebuah buku cerita SD, sayang saya tak bisa kutipkan judulnya, tak sama tepat perbincangan mereka, tapi maknanya kurang lebih serupa. Adalah sunan Bonang -mudah-mudahan benar- bersama muridnya usai makan siang. Ada sebutir nasi menempel pada bibir sang murid, ditegurlah oleh sang sunan. Murid tadi kemudian membuang nasi itu ke tanah.

“Apa yang kau lakukan, itu mubazir” kata sang guru.

“Bagaimana mungkin mubazir, guru?” jawab murid, “nasi itu cuma sebutir, kelak nasi itu akan berguna untuk semut, ulat, dan sebagainya”.

Sang guru menjawab, “Bukan itu maksudku, apakah tadi kau membuang nasi itu dengan niat?”

Sang murid tertegun. Cerita berikutnya adalah sang guru menekankan betapa pentingnya niat, penanaman kesadaran dalam setiap perilaku kita, apa saja. Karena kita tak pernah paham implikasi perbuatan kita apa, maka melambarinya dengan niat adalah demikian utama.

Dulu sekali, saya bingung memikirkan dimana letaknya usaha kita? Bila sekecil apapun bahkan batuk saja ada implikasinya, dan kita tak pernah tahu implikasi itu dalam rentang aksi reaksi yang pusing dan lama, apakah baik untuk kita apakah buruk nantinya? Baru sekarang-sekarang saya agak-agak memahaminya.

itulah Ikhlas yang diajarkan para guru-guru kita. Menanamkan sekeping kesadaran dalam otak kita, bahwa semua yang kita lakukan itu semata murni mencari ridhoNya. Tidak ada yang lain.

Karna usaha kita bila dilemparkan pada hasil-hasil kasat mata di dunia saja, belum tentu baik. Kaya sekarang belum tentu baik, bagaimana puluhan tahun kedepan? apa implikasi dari berlimpahnya uang kita? miskin sekarang pun belum tentu baik, apa implikasi kemiskinan kita? Tapi bila kita sudah menjuduli segalanya dengan penghibaan akan ridho Tuhan, mudah-mudahan segala rasa yang ada di dunia hanya kulitnya saja. Baik semata.

Di sebaliknya, ada hikmah. Hikmah inilah yang nantinya membuat kita lebih tenang. Mungkin kita mesti berusaha memendekkan, mesti mempercepat hikmah itu masuk dalam kesadaran kita. Kalau dulu, suatu kejadian baru bisa kita syukuri, atau kita ketahui kebaikan di sebaliknya setelah bertahun-tahun waktu terlewat, mudah-mudahan sekarang dalam hitungan bulan kita bisa paham.

Dan dalam perjalanan mencari hikmah itu, moga-moga tidak ketelikung pula kita di jalanan panjang pencarian. Bahwa hikmah pula adalah fadhilah, adalah bonus-bonus dari upaya kita, bukan yang dituju.

Maka, tak mengerti maksud di sebalik sebuah kejadian pada saat ini, bukanlah suatu cela. Selama di hati kita terpancang satu keyakinan yang kokoh bahwa tidak sebutir debu diangkat angin, tidak sehelai daun jatuh gugur ke tanah, tidak satu kepak sayap serangga, berjalan tanpa guna, dan kita percaya di sebalik semua itu ada hikmah yang pasti luar biasa.

 

*) gambar diambil dari google images di sini
*) cerita sunan, saya ingat pernah baca di buku dongeng SD. boleh jadi tidak akurat, kalau ada yang ingat, tolong tambahi, ya
Iklan

3 thoughts on “DEBU, DAUN, DAN KUPU-KUPU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s