Tanjakan-tanjakan Perjalanan

Ada sebuah perasaan bersalah mendera saya. Ketika lama membiarkan arsip tulisan berkelana di dunia maya, lalu mendiamkannya tanpa menyentuh-nyentuhnya lagi.

Saya percaya, Tuhan mempertemukan sesiapa yang Dia tuntun dengan tulisan ini. Sebagaimana Tuhan pula mempertemukan saya dengan inspirasi, dengan pertanyaan, dengan jawaban, dan pertanyaan berikutnya. Maka sejatinya kita ini berada dalam sebuah jejaring implikasi yang Tuhan desain dengan Maha canggih.

Perasaan bersalah itu adalah; ketika saya tidak menuliskan sesuatu hal yang baru di dalam blog ini, maka semisal saya telah membiarkan sesiapa saja yang membaca berhenti pada ruang jiwa yang belum selesai… Padahal, tulisan merupakan aksara yang sebisa mungkin menampung perasaan, pengalaman, dan yang lebih penting hasil pemahaman seseorang dari dialektika batinnya. Dan bila saya membiarkan tulisan saya yang lama, tanpa saya tambahi dengan tulisan yang baru -yang bisa saja muncul dari dialektika batin dengan kesimpulan baru- maka apatah saya tidak berdosa, menggiring entah siapa namanya yang membaca pada kesimpulan yang dini dan prematur?

Saya menghela nafas… Ada kalanya, sebuah suasana dalam bilik batin kita begitu bergolak dan tidak cukup kita tuangkan dalam prosa sepanjang apapun jua. Itulah mengapa kebanyakan kata-kata dikemas dalam metafora-metafora. Tidak selamanya rasa bisa menjelma utuh dan penuh dalam aksara.

Tapi satu saja yang saya ingin katakan, bahwa betapapun saya dan anda seringkali dalam hidup ini bertanya dan mencari-cari makna kesejatian diri, makna hidup, dan berbagai-bagai hal lainnya, agaknya kita mesti sependapat bahwa dalam pencarian itu kita akan berjalan seperti menempuh tanjakan-tanjakan. Di setiap tanjakan itu bisa jadi kita menemukan simpulan-simpulan. yang simpulan-simpulan itu bisa jadi berbeda hari ke hari, atau lebih bisa jadi lagi; saling melengkapi hari ke hari.

Inilah yang saya bisa katakan, bahwa tidak ada satu tulisan apapun yang bisa mencerminkan secara utuh perjalanan seseorang, melainkan kita mencermati secara seksama buah fikirnya waktu ke waktu. Seperti bila kita sudah mendaulat diri sebagai seorang pembelajar, maka kita akan berjalan terus dan terus hari ke hari.

Dan saya, Anda, Rekan-rekan kita yang lain, sebenarnya juga sedang berjalan dalam tanjakan-tanjakan perjalanan, memahami diri kita yang paling dasar ini, lalu memahami rasa kita yang berbolak-balik ini, memahami fikir kita yang abstrak ini, dan pada akhirnya memahami jiwa.

Setelah sampai pada Jiwa, ternyata perjalanan kita baru dimulai, tanjakan panjang menuju Dia.

Berjalanlah terus diriku, rekan-rekanku. Seperti para guru-guru kearifan kita di masa lalu.

Dan dengan segala kerendahan hati, saya undur sejenak dari ruang maya ini. Untuk menempuh perjalanan yang baru lagi, dan kefahaman yang mudah-mudahan menggiring saya lebih baik lagi. Untuk nantinya kembali dan melengkapi apa yang kurang dari apa yang telah saya bagi.

Salam

-Long Life Learner-