CATATAN SEBUAH PERJALANAN PANJANG

Saya bukan pakar membuat puisi, dikatagorikan sebagai penikmat puisi-pun, rasanya belum. Tapi, dari sedikit puisi yang saya ingat, beberapa masih sering saya baca dan meninggalkan guratan kesan yang cukup dalam.

Di bawah ini salah satunya. Puisi yang saya kutip dari majalah HORISON, saya baca dan saya catat waktu SMA dulu. Bodohnya saya, tak saya catat siapa penulisnya. Seingat saya, penulisnya adalah seorang anak SMA, dari sekolah islam (mungkin madrasah aliyah), entahlah. Semoga bila kawan-kawan membaca, dialirkan pula pahala kepada siapapun penulisnya.

catatan sebuah perjalanan panjang

Saat ini…………

Aku, Kau sama-sama mengejar burung pipit yang sedang melayang terbang tuju sangkar dipucuk-pucuk pinus.

Aku tersungkur membujur, tapi bukan tafakur, melainkan bersyukur.

Karena dalam jatuhkupun masih ada cinta, buat Kau, Buat alam. Apa lagi untuk yang di atas sana, aku makin tunduk menekuk lutut.

Ini bukan dongeng, sinetron atau drama-drama lokal yang sengaja kusutradarai.

Tapi ini fakta yang terbalut dosa, segenap manusia punya mata tapi buta.

Hari ini…………

Aku, Kau sama-sama tulis surat cinta buat gedung-gedung tinggi,sampai jadi pengabdi, bahkan kuli penjual tenaga dan harga diri.

Kita sama-sama lelah, mandi keringat berwajah pucat karna tahan lapar.

Kau menangis, Aku menangis, Kau tertawa, Aku tertawa, adil bukan? Apakah ini bagian dari kata senasib sepenanggungan yang dibanggakan dan dielu-elukan orang dalam majalah, koran, layar-layar kaca bahkan layar emas bila ada?

Minggu ini………..

Aku, Kau, sama-sama seiring melangkah menyibak koridor-koridor kota, Etalase-etalase pertokoan punya mandor-mandor dan tamu-tamu negara yang selalu menjawab “ogah” bila kita ingin tukar tenaga dengan rupiah.

Lalu Aku, Kau, singgah di warung-warung tempat pribumi setengah jadi. Beli segelas kopi, pisang goreng, atau hanya singgah lepaskan lelah.

Mereka menjawab “engge” cerita ngalor ngidul, terus sama-sama mendongeng tentang kerasnya nasib demi hidup dan selembar nyawa yang konon tak punya rangkap.

Bulan ini…………

Aku belum berubah, tapi kau sudah mendapat balasan surat cinta.

Tulus hati aku berdoa, kujabat kau punya tangan dengan mesra.

Aku tetap bersendal, baju yang kumal memudar, celana yang kadal, tapi kau, bajumu digaris rapi bahkan terhias dasi

lalu kau pergi berjalan sendiri tanpa mengajakku lagi.

Iklan

One thought on “CATATAN SEBUAH PERJALANAN PANJANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s