PUKULAN PERTAMA

Jika begini terus pemaknaan saya terhadap hidup, saya rasa saya menjadi orang yang merugi.

Saya sangat ingat, betapa berapa minggu lalu saya dihadapkan pada takdir yang menuntut diri ini untuk segera menyesuaikan batin. Pekerjaan sebagai seorang engineer lapangan migas membuat saya harus “nrimo” dipindah-pindah di tempat yang baru. Keterasingan yang sepi kembali. Orang-orang yang tak saya kenal itu. Juga segala ketakutan yang menghantu seram kala titah dari kantor memberi kabar bahwa saya disuruh menjalani tugas pada sebuah pengeboran laut dalam, tempat yang baru lagi.

Saya ingat waktu keberangkatan, sepanjang perjalanan mengapung berapa puluh meter di atas laut, pada bising deru helikopter kali itu, saya memejamkan mata dan sekuat tenaga menarik fikiran dan rasa di dalam dada ini untuk tunduk dan menyerah pada takdir Tuhan…”Sudahlah, Tuhan tahu kapasitas diri kita, dan Tuhan tahu segala yang baik dan tidak baik untuk kita”. Saya berzikir dan merapal doa apa saja yang saya bisa, sementara pada telinga saya terpasang sebuah headset penutup telinga, tapi deru bising baling-baling chopper dan gemuruh dada saya bisa menembus masuk ke dalam kepala.

Kekhawatiran itu masih juga ada. Dia lirih, sekali-sekali membadai dan membuat kacau balau alam fikiran dan perasaan, susah saya mengendalikannya.

Selepas helikopter mendarat pada sebuah helipad kapal besar di tengah lautan lepas, yang dimana-mana hanya ada warna biru laut yang tua, saya semakin gelisah. Saya letakkan tas besar pada kamar yang sempit, lalu melangkah menuju sebuah unit tempat saya bekerja di pinggiran deck kapal pengeboran, sembari dalam hati sayup-sayup saya merapal doa, menarik kesadaran ini dan memancangkannya untuk bergantung kepada Yang Maha Segala…..”Sudah… tak usah khawatir, ada Dia Yang Maha Besar!” kata saya pada diri, waktu itu. Hari terik, angin laut dengan wangi garam, lalu kapal besar yang saya dan sekitar 150 orang lainnya tempati mencari rizki itu bergoyang ritmis senada jungkat-jungkit ombak.

Pada waktu seperti itulah saya bisa menilai kapasitas diri sendiri. Jika selama ini saya merasa tidak ada masalah pada keimanan saya terhadap Tuhan; rupanya saat diletakkan pada sebuah kondisi dimana tak ada seorangpun yang kita bisa mintai tolong, tak ada suatu apapun yang bisa kita gelayuti, yang bisa kita sandari, yang kita mintai, curhati selain daripada Dia; saya rupanya masih saja goyah.

Saya masih belum total dalam berpasrah dan berharap. “Bagaimana kalau pekerjaan yang saya kerjakan ini nanti F*cked up?? Bagaimana kalau? bagaimana kalau?” Saya bertanya pada diri sendiri, lalu menjawabnya sendiri. Ada potongan kecil hati yang sepertinya sulit untuk ridho pada Takdir Tuhan.

Tuhan punya caraNya sendiri, untuk menarik kita dalam sebuah kondisi yang memaksa kita untuk tidak bisa meminta pertolongan kepada siapa saja. Untuk tidak bisa berkeluh kepada selain Dia. Untuk merombak-baikkan bolong-bolong, porak-porandanya keyakinan kita. Rasanya, saat-saat ujian datang itulah saat dimana secara benar-benar halus Tuhan memberi tahu pada kita, dimana lemahnya ketahanan batin kita. Dimana salahnya penghambaan kita. 

Dan setelah berapa hari berjalan,  pertengahan waktu tugas, setelah mungkin sekitar seminggu saya jalani pekerjaan kali itu, setelah segalanya tidak seberapa menyeramkan lagi, setelah cercah cahaya terang menggantikan badai kelam ketakutan-ketakutan saya, tiba-tiba saya menjadi tersentak. Entah sudah berapa kali ujian demi ujian saya terima, kita terima, dan setiap itu pula kita mengalami semacam galau. Semacam tidak percaya bahwa semua ini sudah Tuhan yang atur. Semacam tidak percaya bahwa setiap ujian itu sudah benar-benar terukur, pas, sepas-pasnya.

Dan kita baru bisa kembali pada track yang benar, pada sebentuk keyakinan yang hujam; bahwa semua sudah diatur, ketika PERTOLONGAN ITU TELAH MUNCUL. Saat ujian sudah berakhir. Saat jalan keluar tiba-tiba seperti berjalin-jalin di ujung episode hidup kita itu. Saat cahaya terang telah menyemburat pada kegulitaan hari-hari kita, lalu dari secercah dia membesar sampai-sampai menyilaukan mata kita.

Nah… ujian sudah selesai, dan tidak se-mengkhawatirkan yang kita duga, ternyata.

“Alhamdulillaah….” Saya ucapkan dengan lirih. Tapi dalam relung batin saya; saya tahu itu terlambat. Ada yang semestinya tetap kokoh sejak jenak pertama cobaan itu datang.

Jika masih begitu-begitu terus pemaknaan kita akan hidup, maka rasanya tiap hari kita tidak bertambah dewasa. Masih kekanak-kanakan di hadapan Tuhan.

Ada sebuah cerita, dulu, waktu Rasulullah masih hidup, suatu hari beliau melewati tanah pekuburan dan melihat seorang wanita sedang menangis meraung. Dinasehatilah oleh sang Nabi agar wanita itu bersabar. Tapi rupanya perempuan itu tak kenal bahwa yang menasehatinya ialah Nabi. Sambil menangis dia mengusir nabi dan berkata bahwa sang penasihat itu tak tahu apa yang dia rasakan.

Nabi paham sepenuhnya bahwa wanita itu sedang terguncang jiwanya, tak ada faedah menasehatinya lebih lanjut, maka Nabi beranjak meninggalkannya.

Seseorang kemudian memberitahukan kepada wanita itu, bahwa yang baru saja menasehatinya ialah Sang Nabi. Kagetlah perempuan tadi, maka didatanginya rumah beliau, dengan perasaan bersalah dia katakan bahwa dia belumlah mengenal Sang Nabi sebelum diberitahu orang-orang.

Satu kalimat saja yang Nabi ajarkan waktu itu, “Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika pada pukulan pertama” .

Pukulan pertama…Mengingat cerita itu saya menjadi malu, dan mereview ulang episode masa lalu, dimana nyaris setiap cobaanNya saya lewati dengan goyahnya keyakinan diri; pada ‘pukulan pertama’ kesulitan itu tiba; dan dipungkasi dengan ketersentakan bahwa tiba-tiba saja terang telah terbit, gelap telah usai, dan cobaan tak seseram yang kita bayangkan. Dan benar memang bahwa Tuhan tlah rajutkan jalan keluar.

Lalu saya berdoa kepada Dia. “Ya Allah….tolong hamba ini Engkau ajarkan agar kuat, agar yakin seyakin-yakinnya sejak DETIK PERTAMA ujianMu datang; bahwa Engkau yang mengatur, Engkau memberi yang terbaik, Engkau tak pernah zolim, Engkau tahu segala yang kami tak tahu, Engkau berperan dalam setiap apapun takdir hidup kami, betapapun chaosnya skenario itu dimata kami.”

Ada yang rasanya masih belum benar dalam penghambaan saya kepada Tuhan. Jikalah setiap jenak pengajaran dalam hidup, atau setiap lembar kertas buku-buku yang dibaca, atau setiap kalimat dan kata-kata bertuah orang-orang arif nan didengar; belum bisa membawa kita untuk menjadi ridho dan nrimo pada takdir dan ketentuan Tuhan; saat itulah kita mesti berdoa, dan memahami bahwa tiada daya berketaatan, tak ada upaya menghindari kemaksiatan, kecuali bersama Dia, karna Dia….bahwa Dia segala-gala.

Ridhokan kami Tuhan…ridho…pada ujianMu, sejak pukulan pertama.

*) Cerita Rasulullah SAW dan seorang wanita yang menangis di pekuburan tadi, adalah Imam Bukhari yang meriwayatkan hadist dari Anas Bin Malik. (“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang berada di sebuah kuburan sambil menangis. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata padanya : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah”. Maka berkata wanita itu : “Menjauhlah dariku engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yg menimpaku” dan wanita itu belum mengenal Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adl Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati . Kemudian wanita itu mendatangi pintu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga- penjaga pintu maka wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku belum mengenalmu maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata : “Sesungguhnya yg dinamakan sabar itu adl ketika pada pukulan pertama”)
 
*) gambar ilustrasi saya pinjam dari situs ini

3 thoughts on “PUKULAN PERTAMA

    • Saya menulis ini saat saya sedang gelisah mencari-cari makna hidup mas. Kalau ada yg tersentuh dengan tulisan ini, saya yakin bukan semata tulisan saya, tapi memang mas-nya juga sedang gelisah mencari makna hidup.

      Saya cuma mengucapkan selamat mas, saat qta haru dan gelisah merasakan ada yg salah pada kehidupan qta, berarti Tuhan sedang menuntun qta untuk lebih mengenalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s