ROMANTISME PENGHAMBAAN

Agak-agaknya saya tahu mengapa saya jauh dari Tuhan sekarang ini, rasanya mungkin karena saya jarang berdoa.

Ada satu dogma yang saya pegang benar-benar sejak dulu yaitu ‘percaya diri’. Percaya diri adalah modal penting untuk bertahan dalam drama kehidupan, fikir saya. Sampai pada gilirannya, perubahan fase hidup membuat saya sadar bahwa percaya diri pada tataran tertentu tidak baik secara spiritualitas.

Di awal dulu saya mengira, untuk bertahan dari hingar-bingar ujian dunia maka kita harus betul-betul mengandalkan rasa percaya diri. Belakangan saya koreksi pemahaman ini karna ternyata percaya diri saya tidak bisa memecahkan masalah.

Setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, jauh dari orang tua, dan menjadi seorang yang katanya diberi mandat sebagai “kepala” di rumah tangga saya itu; saya menjadi tahu bahwa begitu banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa, tidak akan selesai, jika kita memasrahkan pada kemampuan kita saja. Sepercaya diri apapun kita. Sebab menjadi kepala keluarga berarti bahwa manuver kebijakan apapun yang saya ambil, seberapa remeh temehnya itu, bisa mempengaruhi keseluruhan gerbong rumah tangga saya, anak saya, istri saya, dan itu diluar kuasa saya, hingga saya menjadi khawatir.

Percaya diri, hanya bermain di seputaran wilayah kita pribadi, tapi jika sudah menyangkut orang lain, bagaimana? Saya merasa bahwa selama ini saya sudah lancang menyerahkan segala-galanya pada diri dan usaha saya sendiri dalam menghadapi hidup. Hingga suatu kali saya bertemu sebuah masalah yang pelik, saya mentok. Saya tak tahu solusinya. Hilanglah percaya diri saya.

Dalam kegamangan saya, sambil ngobrol-ngobrol via telepon, saya konsultasi kepada orangtua saya, apa gerangan kira-kira solusi dari masalah saya? siapa tahu mereka bisa urun saran.

Bapak katakan kepada saya, “kenapa kau tak pernah bertanya pada Tuhan?”

Itulah awal mula titik balik. Saya tersadar. Saya katakan “cukup” pada diri sendiri. Drama percaya diri sudah usang, ini waktunya percaya Tuhan!

Pemahaman saya akhirnya menimbulkan sebuah kondisi baru dalam batin saya. Saya terkaget-kaget dengan kenyataan ini, bahwa lewat berdoa sebanyak-banyak yang saya bisa; membuat saya secara subjektif merasa lebih dekat kepada Tuhan.

Saya merasa haru. Merasa ada tempat curhat dan tak terlalu sendiri menjalani hidup. saya bahagia di dalam gonjang-ganjing drama hidup saya. Saya merasa berteman dalam kesendirian saya. Dan pada waktu-waktu tertentu di tengah keramaian khalayak; saya sering juga merasa ‘bersendiri’ saja dengan Tuhan dalam doa-doa batin saya kepada Dia.

Dengan singkat saja, saya membenarkan kekata orang-orang arif bahwa untuk siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhannya, doa adalah jalan yang paling mudah.

Dengan berdoa, kata para guru, kita merasakan kehambaan dan butuh kita kepada Allah. Itulah mengapa kita merasa dekat… Ah..Betapa saya menjadi senang berdoa.

Akan tetapi, sebagaimana tabiat kehidupan; bahwa semakin bertambah umur, bertambah kemampuan, maka ujian kita bertambah. Sedang jika pemahaman kita menghadapi gejolak hanya begitu-begitu saja, alamat buruk tinggal menanti waktu.

Begitulah saya. pembelajaran terhenti pada tataran itu. Lalu saya merasa doa adalah semacam mantra pengendali semesta. Hingga sampai juga sebuah babak dalam kehidupan saya, dimana doa dan usaha seperti tidak mempan menyelesaikan masalah.

Masalah belum juga selesai; semakinlah saya berdoa. Semakin saya berdoa semakin saya ingin pengkabulan itu segera datang. Semakin ngotot saya dalam meminta, semakin hilang juga rasa penghambaan saya. Berdoa dalam suasana jiwa yang seperti itu terus menerus, saya tidak sadari rupanya membuat saya menjadi jenuh dalam meminta. Kadang-kadang saya tetap berdoa, tapi kok setelah saya nilai-nilai didalam hati saya ini rupanya alih-alih semakin menghamba malah merutuk-rutuk kepada Tuhan.

Anda pernah mengambek kepada Tuhan? Saya ingin ceritakan tentang ini.

Kita flashback dulu ceritanya saat saya SMA. waktu itu ramadhan. Malam itu puasa hari-hari terakhir. Pada sebuah masjid di pinggir jalan raya, di bawah batang pohon kina yang sangat rimbun, saya beriktikaf disana.

Pada penghujung subuh, setelah sholat berjamaah, salah seorang yang dituakan memberikan wejangan. Dia memulai cerita itu dengan mengatakan bahwa sebenarnya hal yang dia lakukan itu tak tepat. Apa yang beliau lakukan? Beliau ngambek kepada Tuhan.

Beliau seorang pendakwah yang latar ekonomi tidak begitu mapan. Dalam perjalanannya berdakwah ke pedalaman, ke tempat-tempat yang memang susah dijangkau kalau tak memiliki kendaraan pribadi semisal motor, dia merasa sangat kesusahan.

Di kala kesusahan itulah, terbetik di dalam hatinya untuk membeli sebuah motor. Yang saya ingat, waktu itu kata beliau ada beberapa alternatif, bisa secara kredit atau membeli bekas.

Malangnya, untuk ukuran waktu itu; motor masihlah barang mewah. Menabung sudah diupayakan, pengeluaran sudah dikekangkan, doa telah dilazimkan, tapi masih juga belum mendapatkan sebuah motor.

Rupanya, saking harunya dia, saking inginnya beliau menjangkau daerah yang sulit dijangkau itu, maka dia berdoa kepada Tuhan. Terus dia berdoa sampai-sampai suatu waktu beliau setengah protes begini. “Ya Tuhan…masa pelacur saja Engkau beri kendaraan, sedang saya untuk berdakwah alangkah susahnya.”

Waktu itu saya agak kaget juga. Kenapa pak ustadz ini tidak sabar kepada Tuhan, ya? Tetapi ada pula rasa berkecamuk di dalam hati saya kala itu. Yang saya rekam paling membekas di hati saya hingga saat ini adalah Saya ikut-ikut haru pada beberapa hal. Yang pertama, saya haru karena dengan kejujuran bercerita seperti itu, pak ustadz itu mengakui bahwa betapa manusiawinya dia dan ada yang kurang tepat pada adab-adab dia berdoa kepada Tuhan. Kedua, saya haru karena cerita itu menyerempet mirip-mirip kehidupan keluarga saya.

Bapak saya di rumah, pernah pula bercerita pada saya. Bahwa dalam perjalanan hidupnya dulu, ada suatu episode dimana dia begitu protes kepada Tuhan. Ngambek-lah bahasa gampangnya.

Saya kala itu masih kecil. Kami ditempatkan pada sebuah tempat terpencil di pelosok sumatera. Malam-malam berhias lampu teplok karena tak ada listrik. Di sela gelap dan sepi malam, kadang-kadang Bapak harus menghunus parang lari ke belakang rumah untuk mengejar babi hutan yang nyasar-nyasar masuk ke pekarangan belakang. Sepi, terpencil, tak jelas hari depannya.

Di saat seperti itulah, Bapak selalu berdoa pada Tuhan, sampai suatu ketika rupanya Bapak berdoa dengan nada ngambek kepada Tuhan. “Ya Allah, kok gini-gini amat.”

Waktu itu, mendengar cerita pak ustadz, dan cerita Bapak saya sendiri, yang saya rasakan ya sedikit haru, itu saja. Lalu terlupa.

Sekarang, setelah saya besar, menikah, punya anak, kerja di tempat yang jauh dari orang tua, baru saya paham bahwa memang kita harus selalu mengembalikan masalah kepada Tuhan karena hanya Dia ‘penyelesai’ segalanya. Apa saja kembalikan kepada Tuhan. Percaya diri dalam dunia yang serba berjejalin banyak kemungkinan ini; tidaklah berguna. Tuhanlah yang harus kita percaya. Tuhanlah sebab dari segala sebab, dan Tuhan pula yang memunculkan segala akibat.

Dan setelah kita pelan-pelan belajar mengembalikan segalanya kepada Tuhan. Belajar untuk selalu meminta pertolongannya dalam doa-doa kita. Dan ada rasa penghambaan yang haru menelusup ke dalam hati kita, kita mulai suka mengambek. Sampai juga saya pada babak seperti Pak Ustadz dan Bapak saya. Karena sangat inginnya dikabulkan oleh Tuhan, maka saya mengambek dalam doa.

Yang menarik dari cerita Ustadz dan Bapak saya dulu adalah bahwa mereka berdua pada akhirnya memang diijabah doanya. Sang Ustadz akhirnya dikabulkan memiliki sebuah motor. Dan Bapak saya, pada akhirnya dipindah-tugaskan ke Bengkulu kota. Kata Bapak itu serasa mimpi, karena waktu itu tak mungkin bisa dipindah-tempatkan kalau tak ada uang sogokan.

Sedang saya? Sampai sekarang belum juga mendapatkan apa yang saya minta. Tapi saat menuliskan ini, pelan-pelan di hati saya ada yang mereda. Kenapa? Karena saya ingat, baik Ustadz maupun Bapak saya yang awam sama-sama sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan pasti mendengar dan memberikan yang terbaik, sedang kita haruslah mempertahankan adab-adab dalam menadahkan tangan dan merapal permintaan.

Oh iya ya, fikir saya dalam hati. Diberikan rasa haru dan romantisme penghambaan saja sudah merupakan suatu karunia yang tak ternilai. Disadarkan untuk berdoa dan memercayai kekuatan Tuhan di atas segalanya saja sudah suatu karunia yang tiada dua. Masa’ saya harus ingkari semua itu dengan ngambek kepada Tuhan?

Lalu pada sebuah buku saya temukan kekisah para Nabi. Nabi Musa, pengemban risalah yang mulia itu, menghadapi masalah sekelas tiran Fir’aun. Beliau dan Harun juga berdoa, berdoa yang sudah pasti lebih menghamba daripada saya. Tapi nyatanya jarak antara doa beliau dan tenggelamnya Fir’aun adalah empat puluh tahun.

Zakaria a.s. juga seorang Nabi yang dalam segala-gala lebih mulia daripada saya. Menikah pada usia dua puluh tahun. Begitu khusyuk meminta kepada Tuhan dalam doa-doa yang santun, tetapi baru diberikan anak setelah usia beliau delapan puluh.

Ada yang sulit dikejar dari prestasi ruhani orang-orang suci. Tapi saya belajar satu hal, bahwa prasangka baik kepada Tuhan, dan doa-doa yang dilazimkan penuh kesopanan, sejatinya adalah pemberian Tuhan sebelum apa yang kita mintakan.

Setelah kita belajar lebih memercayai Tuhan dalam doa-doa kita, sekarang pula kita belajar untuk berbaik sangka, dan bersopan-sopan padaNya. Hingga sampai pada gilirannya nanti, kata orang-orang arif, terlepas dari pengkabulannya; yang lebih penting dari Doa ialah persandaran kepada Tuhan dan berbaik sangka pada Nya, hingga kita tak lagi gamang menghadapi takdir.

Dari sudut rumah kala mengetik ini, saya menyampaikan sebuah doa, permohonan maaf saya kepada Tuhan.

Saya kutipkan doa indah Nabi Zakaria “…Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulangku, sudah berkilauan kepalaku dengan uban, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdoa kepadaMu, ya Tuhanku”

;

——

doa Nabi Zakaria ialah kutipan QS 19: 2-4,

;

8 thoughts on “ROMANTISME PENGHAMBAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s