SEPASANG SAYAP PENGHAMBAAN

20120730-121243.jpg

Kita hidup bagaikan memiliki dua sayap, kata para guru. Sayap satunya ialah harapan, satunya lagi ialah rasa takut. Tanpa kedua hal itu, kita tak bisa meniti kehambaan kepada Tuhan.

Cukup lama, saya hidup dan memaknai kondisi kejiwaan saya waktu lalu sebagai bentuk pertaubatan yang dalam. Saya merasa saya sudah menghayati rasa penyesalan sedemikian rupa. Sampai suatu ketika saya disadarkan bahwa ada yang salah dalam cara saya memahami pertaubatan.

Seorang guru nan arif menggedor kesadaran saya, sewaktu saya semacam curhat kepada beliau, “kok saya ini setiap kali ingin berdoa kepada Tuhan, rasanya enggan, mundur maju. Merasa sudah begitu banyak dosa saya, tak layak saya berdoa.”

Waktu itu, yang saya harapkan beliau akan membesarkan hati saya lalu membenarkan saya, dengan mengatakan bahwa merasa diri jelek itu bagus, menyesal terhadap masa lalu itu bagus, teruskan. Nyatanya jawaban dari beliau malah membalikkan persepsi saya.

“Tidak boleh,” kata beliau, “sebagai manusia, sebagai hamba, kita putus asa akan rahmat Tuhan.”

DEGGG..rasanya ada yang menghantam di dalam diri saya. Putus asa terhadap rahmat Tuhan? Saya merenung dan mencari-cari kalau-kalau ingatan tentang itu ada dalam memori keilmuan saya, adakah kosa kata atau makna itu pernah menyelip dalam pemahaman saya?

Penyesalan, adalah langkah awal pertaubatan, kata beliau. Menyesal akan masa lalu yang kelam, dan memahatkan sebuah perjanjian kepada Tuhan untuk tidak lagi mengulangi kebodohan penentangan kita, pelanggaran kita. Lalu kita mulai hari baru dengan “melupakan” masa lalu; adalah benar.

Tetapi, penyesalan yang berlarat-larat dan membuat kita sampai tidak yakin pada rahmat Tuhan, enggan mendekat kepada Tuhan, seakan-akan tidak akan pernah Tuhan mengampunkan dan memberi kesempatan kedua, lalu kita berkata “ah..tak guna berdoa, saya ini pendosa. Doa seorang pendosa, toh tidak akan dikabulkan.” ; Adalah tipu daya.

Selepas hari itu, saya ingat betul, bagaimana saya mencoba meyakinkan hati bahwa sependosa apapun kita, tidak layak kita untuk putus asa terhadap rahmat Tuhan, lalu berhenti meminta kepada Tuhan. Saya cari-cari bagaimana bentuk pengharapan yang benar.

Dan saat saya baru akan mulai-mulai memperbaiki keyakinan pengharapan saya yang sudah coreng-moreng, Tuhan pertemukan saya dengan contoh orang yg berharap penuh itu.

Tuhan mempertemukan kita dengan pelajaran-pelajaran, dengan makna-makna yang bisa kita petik dari keseharian kehidupan kita. Kadang-kadang, kita dalam kondisi yang prima untuk menangkap “pesan” Tuhan dari drama kehidupan kita. Tapi kadang-kadang pula, kita terlalu larut dalam kesibukan dan kebodohan, sehingga hari-hari seperti berjalan tanpa makna. Padahal, hilangnya waktu, dan tenggelamnya kita dalam kesibukan demi kesibukan tanpa ada sesuatu yang bisa kita tafakuri, adalah tipu daya yang mengerikan.

Untuk itulah saya bersyukur, kemarin, pada perjalanan menuju bandara Soekarno Hatta, saya bertemu dengan seorang supir taxi yang luarbiasa pemaknaannya akan hidup.

Setelah saya masuk ke dalam taxi, melambai-lambaikan tangan kepada istri dan anak saya, lalu taxi berjalan pelan meninggalkan komplek perumahan, saya memulai obrolan dengan supir taxi tersebut, atau lebih tepatnya beliau dulu yang memulai.

Beliau bertutur menarik, pencerita yang jujur. Sebegitu menariknya perbincangan demi perbincangan kami, tentang keluarga, anak, pekerjaan, spiritualitas, hingga saya tidak memerhatikan sudah ada dimana saya waktu itu. Banyak sekali cerita yang begitu menyentuh dari tutur kata beliau, tapi saya hanya akan ceritakan satu saja.

Beliau adalah seorang pembelajar kehidupan. Takdir menempatkan dia menjadi seorang supir taxi setelah beliau “dilempar” dari jabatannya pada sebuah bank swasta.

Suatu hari, menjelang beliau berangkat bekerja seperti biasa, istrinya mengeluh kepadanya. “Pak, belikan saya mesin cuci, kaki saya parises, sudah sakit kalau dibawa nyuci, Pak.”

Sambil merapikan baju, mengambil kunci dan ngeluyur pergi menuju taxinya beliau menjawab singkat kepada istrinya, “iya, nanti sore.”

Waktu mendengar cerita itu, posisi saya duduk di bangku depan, saya menyandarkan diri pada bangku yang saya buat agak doyong ke belakang. Tak saya lihat ekspresi Bapak itu bercerita, tapi saya rasa saya bisa “menangkap” geletar pada nada suaranya.

Kata beliau “Sambil naxi, saya bingung, kenapa saya jawab nanti sore? Dari mana uang untuk beli mesin cuci? Sedang uang di tangan Cuma ada dua puluh ribu.”

Saya tetap memandang ke depan, tapi telinga saya mendengar dengan penuh setiap potong suaranya. Lalu kata sang Bapak, waktu itu dia menangis.

“Bapak menangis waktu itu?” saya Tanya.

“Ya saya menangis, tapi tangis saya pun adalah doa, sebenarnya” jawab beliau cepat.

Dalam tangisnya, beliau berdoa. “Ya Allah, engkau melihat tangis hamba. Engkau Maha Tahu apa yang hamba butuhkan. Cuma hal kecil inilah yang hamba mohonkan kepada Engkau. Bila Engkau mau, tak ada yang tidak mungkin. Engkau bisa saja mengeluarkannya dari perut bumi, atau bahkan menjatuhkannya dari langit. Engkaulah yang maha bijaksana.”

Saya kutip doa yang indah itu dalam rekaman memori saya. Bapak itu lalu melanjutkan.

Tidak lama setelah beliau berdoa, dari radio panggil di dalam taxi terdengar berita. Ada sebuah mobil taxi dicuri, nomor polisi sekian-sekian. Diingatnya nomor itu dan berapa detik kemudian beliau kaget. Apa pasal? Taxi yang dicuri itu ternyata ada tepat di depan mobilnya.

Diraihnya radio panggil, dipastikannya bahwa dia tidak sedang salah menerka. Lalu setelah benar-benar yakin, dipacunya gas mobilnya, dan dikejarnya taxi berikut pencurinya.Taxi itu terkejar dan terpinggir.

Saya yang mendengar cerita itu, sudah demikian salut pada cerita sang Bapak sampai pada detik ini. “lalu pencurinya ditangkap, pak?” Tanya saya mengharapkan semacam adegan heroik Hollywood.

“Tidak, pencurinya saya lepaskan.” Jawabnya.

Saya kaget, tapi tak sempat bertanya beliau sudah menjawab. Taxi itu, sudah ibarat milik dia sendiri. “Yang penting barang sudah kita dapatkan kembali, semoga setelah saya lepas orang itu mendapat jalan untuk pertaubatannya.” Beliau menjelaskan. “saya mendoakan kebaikan untuk orang itu, kita ndak boleh mendoakan pencuri itu misalnya biar masuk ke perut bumi, itu ndak ada adab kepada Tuhan.” Kata-katanya terjaga, dan runut.

Polisi tak lama datang. Beliau menghampiri dan menjelaskan bahwa mobil sudah diamankan. Tapi pencurinya lari. Polisi berterimakasih. Bapak itu lalu dipanggil menuju kantor menemui bos-nya.

“Atas keberanian anda menyelamatkan asset perusahaan dengan membahayakan nyawa, kami berikan anda piagam penghargaan.” Bos-nya berkata di ruangan itu dengan bangga.

“Berikut kami berikan voucher belanja senilai satu setengah juta, ditambah uang tunai satu juta rupiah, sekadar ucapan terimakasih kami.”

“Allahu Akbar.” Saya yang dari tadi mendengar cerita itu dengan takzim, tak tahan untuk tidak berteriak.

“Saya waktu itu juga bertakbir kencang, pak,” beliau menyambut takbir saya, “Tapi saya bertakbirnya dalam hati, setelah itu saya menangis.”

Dan sekali lagi Tuhan memang mengabulkan doa dengan cara yang unik. Sore itu, sang supir taxi pulang ke rumah dengan membawa mesin cuci, persis seperti apa yang diminta istrinya.

Saya berkaca-kaca sekali waktu mendengar cerita itu. Saya lihat foto bapak itu terpampang di depan saya, di atas dashboard mobil taxi Toyota limo itu. Orangnya tidak seberapa tua, mukanya polos, dan saya tiba-tiba teringat lagi dengan salam khas beliau saat menghampiri rumah saya waktu itu, mengkatupkan kedua telapak tangan di depan dada, salam yang santun.

Tiba-tiba mobil sudah sampai di bandara, saya lihat argo, lalu merogoh uang di dompet, saya genapkan dua ratus ribu. Sebagai bentuk terimakasih saya atas pelajaran hidup yang sungguh berharga, dan harga yang sebenarnya tak sesuai untuk sebuah perjalanan mengawali hari kerja; yang menyenangkan.

Saya berikan uang itu kepada beliau, “terimakasih, pak. Ambil aja kembaliannya” saya mengangguk hormat.

Beliau lalu tersenyum dan mengkatupkan telapak tangan di depan dadanya, salam yang rasanya saya tidak akan lupa. Saya lalu mengangkat tas besar saya menuju gerbang masuk, dan sekilas pandang saya lihat dia menginfakkan lebih kembalian uang saya tadi pada seorang satpam jaga di parkiran bandara.

Saya menggeleng-geleng, duh Gusti, betapa kerdil saya dibanding orang semulia dia. Orang yang tak pernah memutuskan harapannya kepada Tuhan.

Ada sayap yang patah dalam titian penghambaan kita, selepas kesadaran diri akan keburukan-keburukan kita, mestinya sependosa apapun kita tetap harus berharap yakin kepada Tuhan.

Saya seret tas besar saya itu dan masuk dalam kerumunan orang-orang yang antri di bandara, lamat-lamat masih terngiang di kepala saya pelajaran yang saya petik dari perjalanan hari ini.

Jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhan.

Ada sayap penghambaan yang mesti saya perbaiki, Lalu tiba-tiba saya merasa harapan di depan masih sangat luas, masih sangat luas.

Iklan

2 thoughts on “SEPASANG SAYAP PENGHAMBAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s