KERAN-KERAN KEBAIKAN

20120810-144820.jpg

Pernah dalam satu fase kehidupan saya, saya sangat mendendam pada kemiskinan.

Ketidak-nyamanan dalam rumah tangga saya, setelah saya runut-runut, saya simpulkan merupakan efek berantai dari kemiskinan. Tidak setiap hari manusia bisa berada dalam kondisi yang elegan untuk berhadapan dengan serba kekurangan, maka kadang-kadang kita muntab dan marah-marah pada entah siapa.

Begitulah waktu itu, saya masih SMP, dan sudah saya patri dalam benak saya sebuah janji bahwa saya ingin lepas dari kerangkeng kekurangan. Sangat ingin.

Bertahun setelah itu, saya menyadari, ambisi akan kekayaan telah menjadi sebuah tema sentral dalam visi hidup saya. Belajar dan bekerja-pun selalu berkait-kait dengan filsafat perubahan strata itu. Saya ingin berhenti menjadi orang yang selalu kurang. Saya ingin berubah.

Pernah saya katakan pada orang tua saya dulu, “Pak, suatu nanti aku akan pergi ke Jawa, dan merubah martabat kehidupan keluarga kita.”

Entah apakah orang tua saya masih ingat kata-kata saya itu. Jujur saya sendiri tidak terlalu menjiwai dan mengingatinya, tapi mungkin memang Tuhan Maha Mengabulkan meski keinginan kita masih berupa anasir-anasir halus yang belum kita lantangkan.

Saya pindah ke pulau jawa. Bekerja. Dan meski tidak kaya raya, tapi setelah bisa melepaskan orang tua dari kewajiban membiayai saya tiap bulannya, saya merasa luar biasa senang.

Saya sempat menikmati euphoria merasa menjadi pribadi merdeka, merasa menjadi benar-benar seperti seorang pria sejati waktu kali pertama gaji bulanan masuk. Rasanya tidak bisa dilukiskan. Dan tanpa saya sadar, impian masa kecil bahwa saya ingin berhenti dari hidup penuh kekurangan; kembali menyeruak. Pelan-pelan tapi mematikan. Seperti ada yang mengintip dari dalam bilik kesadaran saya. Sesuatu yang jahat dan siap menikam.

Belakangan saya sadar, ambisi ini salah. Saya letih berjalan menapaki hidup dengan bahan bakar yang terlalu picis.

Saya tidak ingat persis bagaimana saya bisa berubah fikiran. Tapi yang saya rasakan adalah entah mengapa saya tiba-tiba memandang diri saya sebegitu naifnya. Hidup dan bekerja keras untuk kepentingan pribadi yang sempit, saya rasa betapa piciknya.

Cukup lama saya hidup dalam ketidak mengertian, dan membenci masa lalu dan masa kini. Dan hidup dalam sikap batin yang seperti itu rasanya tidak enak. Saya mulai agak reda, setelah saya mendapatkan semacam pencerahan, bahwa hidup untuk diri sendiri adalah kerdil dan singkat. Agar hidup kita bermakna maka kita haruslah hidup berderma kebaikan untuk orang lain. Akhirnya Hidup untuk orang lain saya yakini adalah hidup yang luas dan ‘berumur’ panjang.

Lalu saya mulai menikmati sebuah suasana kejiwaan, dimana saya merasa begitu lega saat saya bisa membantu uang kuliah adik tertua saya. Atau bisa memberikan sekedar basa-basi kiriman uang kepada orang tua saya –yang mereka tak pernah sama sekali meminta-.

Ooh…. Rupanya ini yang dimaksud orang-orang bijak, bahwa memberi itu menenangkan hati.

Ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diceritakan dengan sederhana. Apa lagi saat saya sudah menikah, menafkahi istri, dan juga seorang anak perempuan lucu yang kini belum genap satu tahun, dan lagi nakal-nakalnya. Saya merasakan menemukan bahan bakar, untuk perjalanan yang panjang dan naik-turun ini.

Begitulah, setiap kali saya bepergian ke tempat kerja. Lokasi pengeboran di antah-berantah. Lautan lepas. Teluk. Hutan. Atau dimana saja takdir menuntun saya, saya selalu mensugesti diri bahwa ini adalah perjuangan demi keluarga. Ada mata rantai kehidupan yang harus saya perjuangkan. Saya membayangkan saya sebagai lokomotif yang digelayuti gerbong-gerbong panjang. Saya harus kuat, dan itu satu-satunya pilihan.

Sampai akhir-akhir ini, saya menemukan kejanggalan dalam diri saya. Saya meyakini, bahwa motif paling dasar dari perjuangan hidup saya sudah tidak sepicik dulu lagi, saya ingin hidup dalam kewajaran dan memberikan yang terbaik bagi keluarga saya. Bukankah itu baik?

Tapi kenapa setiap kali saya dihantam masalah, atau berada dalam kondisi tidak mood, atau merasa letih menghadapi terror rutinitas kerja; mengingati keluarga dan tanggung jawab yang saya emban, terkadang tidak bisa mematri semangat saya agar berkobar-kobar?

Saya heran. Apa yang salah pada diri saya? Saya yakin benar bahwa cukup lama saya bisa berjalan dengan bahan bakar semangat berbuat untuk orang lain, tapi mengapa sekarang meredup?

Dalam pergulatan batin itu saya menemukan kenyataan bahwa saat saya merasa menjadi seorang yang “ada” di dunia, dengan karya dan sumbangsih saya untuk orang-orang sekitar, tanpa saya sadari rupanya saya mengharapkan ‘pengakuan’ dari mereka. “acknowledgement”, sesuatu yang membuat saya bisa merasa hidup. Entah itu ucapan terimakasih, atau raut muka kebanggaan, atau nama yang selalu disebut-sebut, atau apa saja. Dan saya tiba-tiba terdiam.

Sore hari…matahari menjelang hilang…dan saya waktu memikirkan itu sedang duduk menghadap lautan pada sebuah kapal pemboran besar pada lautan dalam Selat Makassar.

“Astaghfirullah….” Saya membatin, ternyata selama ini saya masih juga berbuat untuk diri sendiri, meski sedemikian samarnya.

Lalu disitulah saya merasa tiba-tiba menemukan kuncinya. Saya tiba-tiba merasa bahwa sedemikian panjang waktu yang saya tempuh adalah semacam pembelajaran yang digulirkan oleh Tuhan untuk saya tuai maknanya.

Kapan terakhir kali saya berbuat untuk Dia? Saya gugat diri saya sendiri.

Hening yang panjang… tak ada jawaban dari diri saya sendiri.

Saya menjadi paham satu hal. Bahwa sejatinya dalam hidup ini segala sesuatu berasal dari Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.

Allah-lah pemberi rizki. Pengucur pemahaman hidup. Yang menganugerahi ilmu-ilmu. Segalanya. Sedang apa-apa selain Allah sebenarnya hanyalah wasilah, hanya jalan, hanya sarana untuk keMaha Besaran Dia mewujud di bumi ini.

Maka pontang-panting kita mencari nafkah, bekerja, sebenarnyalah bukan perkara kita pada keluarga kita, apalagi perkara kita pada diri sendiri. Tapi ini tentang kita dan Tuhan.

Apakah atas nikmat hidup yang sudah diberikan ini, kita sudah menjadi hamba yang menerima mandat Tuhan? ‘kemuliaan untuk menjadi jalan rahmat bagi orang lain’ itu apakah sudah sepenuhnya kita sadari?

Apakah saya sudah menyatakan diri ‘siap’ untuk dikucuri kemuliaan, berupa kepercayaan bahwa saya ini layak menjadi jalan rahmat bagi orang lain? Bahwa saya ini layak jadi jalan rizki orang lain?

Ternyata kehidupan ini bukan perkara kita mencari penghidupan diri dan menghidupi keluarga, tapi lebih kepada rasa terimakasih dan kehambaan kita kepada Tuhan. Yang sudah kasih kita hidup. Lalu dengan rasa terimakasih itu kita ingin menjadi orang yang dipercaya Tuhan menjadi jalan kebaikan. Kita ingin ada gunanya hidup kita yang sekali-sekalinya ini. Kita ingin Tuhan ‘menengok’ kita juga dan memilih kita jadi saluran kasih sayang Nya untuk hambanya yang lain.

“Ya Tuhan…jangan sampai hidup kami ini sia-sia, sementara orang lain berlomba-lomba memantaskan diri untuk dijadikan saluran rahmat olehMu untuk hambamu, kami ini malah tidak menyambut kemuliaan itu.”

Saya baru paham. Dengan sikap mental yang beginilah mungkin kita baru mengerti makna hidup, penciptaan manusia. Pengabdian. Dan pada gilirannya menjadi ‘wakil’, pengelola, dan inilah sejatinya ‘berbuat untuk Tuhan”.

Dalam hati yang terisak kala itu, saya meralat visi hidup saya. Bukan untuk saya sendiri. Bukan untuk keluarga. Bukan aktualisasi diri.

“Ya Allah…rizki untuk anak istri dan keluargaku sesungguhnyalah bisa Engkau alirkan lewat jalan mana saja sesuka Engkau, tapi berkenanlah jadikan hamba orang yang Engkau anugerahi rahmat, Engkau percayai untuk memanggul mandat kebaikan itu, supaya hamba ‘ada gunanya’ buat Engkau.”

Ternyata kita hanya keran kebaikan. Dan mata air pemberian itu tetaplah Tuhan.

Bila kita sudah siap menerima kemuliaan itu, nantinya rezeki untuk anak kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita. Rezeki untuk istri kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita. Ilmu dan pencerahan untuk keluarga kita; sangat bisa jadi dialirkan lewat kita.

Bukan karena kita berbuat, tapi karena betapa Tuhan telah memuliakan kita dengan menjadikan kita keran-keran kebaikan.

Dan inilah yang harusnya menjadi bahan bakar kita.

Dalam sikap mental seperti itu, kita harus siap ‘capek’ mengemban kemuliaan itu, karna begitu banyak jalan kebaikan untuk orang lain akan dititipkan lewat kita. Capek tak mengapa, asalkan ditatap dan diwelas-asihi Tuhan sudah bukan main.

Tak mengapa, karna sekali lagi ini bukan tentang kita dan mereka. Tapi rahasia kita dan Yang Di Atas Sana.

Benarlah kata orang-orang arif. Hidup untuk Tuhan adalah luarbiasa dan mengabadi.

Iklan

3 thoughts on “KERAN-KERAN KEBAIKAN

  1. Tulisan ini membuka ke pemahaman yg hakiki, bahwa sejatinya hidup tak pernah punya tujuan lain, ianya cuma satu untuk Allah. Akhirnya terkuak, betapa selama ini banyak yg belum baik, betapa banyak hal yg perlu diluruskan, betapa kini hati boleh berlega, terima kasih untuk telah menuliskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s