EWUH-PAKEWUH

“Bila ada dua orang muslim berkelahi,” saya masih ingat begitu penjelasan ceramah Zainudin MZ yg sering diputar di masjid-masjid waktu sore jelang maghrib dulu, “lalu salah satu diantara mereka terbunuh, maka dua-duanya masuk neraka. Kenapa? Karna baik yang terbunuh maupun yang membunuh sudah sama-sama niat. Hanya saja yang terbunuh kalah cepat.”

Selepas mendengarkan ceramah itu, saya bertanya-tanya heran, bukankah yang biasa saya dengar dari wejangan para orang tua adalah bahwa Tuhan sebegitu baiknya, ‘niatan baik manusia, meski belum dilaksanakan sudah dihitung sebagai satu kebaikan, sedangkan niatan buruk sebelum terlaksana tiadalah dianggap?’ Saya agak bingung juga dengan kontradiksi ini, sampai saya sempat lupa dengan hal itu karena lama tiada ketemu jawaban.

Belakangan, saya menemukan penjelasan lebih dalam dari guru-guru kita –tapi mohon maaf saya tak pandai menyitir ayat atau hadistnya- yang kurang lebih maknanya begini: Keadaan di dalam hati manusia itu beragam-ragam. Kadangkala kita hanya memiliki lintasan fikiran, yang muncul sekelebat saja lalu hilang. Kadangkala lintasan fikiran itu kita ikuti, lalu hasrat hati lama kelamaan makin menguat, bertingkat-tingkat kekuatan niat itu, semakin kuat niatan di hati kita semakin dia menjadi tekad bulat, azzam, yang katakanlah hampir pasti kita laksanakan. Nah, derajat keinginan yang sampai tingkatan sangat bulat inilah, tekad yang sangat kuat inilah, yang sudah masuk dalam neraca hitung-hitungan pahala-dosa. Dan inilah yang menjelaskan duduk perkaranya kisah di pembuka tadi, ‘dua-duanya bersalah, sebab dua-duanya sudah mencapai level tekad bulat membunuh’.

Tapi sebenarnya sekarang saya sedang tidak ingin membahas pembunuhan. Saya hanya ingin bercerita bahwa akhir-akhir ini saya jadi semakin menyadari bahwa ada sesuatu di dalam hati manusia, yang men-drive, yang istilahnya menyetir, yang memberi makna pada segala tata lahiriah kita. Dan menyadari sebuah kenyataan ini membuat saya bergumam sendiri, ndak bisa kita main-main dalam urusan satu ini. ‘Segala sesuatu bergantung pada niatannya’, sungguh baris kata-kata itu bukan sekadar peribahasa lagi.

Yang berbeda ialah yang di dalam dada.

Kita,  berurusan dengan Penguasa Jagat ini, Dia Yang Maha Tahu sesuatu hingga yang paling samar di dalam diri kita.

Dan kata guru-guru yang bijak, tersebab oleh KeMaha Tahu-an Tuhan, maka tuntutan yang dibebankan pada kita ialah tuntutan untuk melakukan sebuah kegiatan lahiriah yang ‘sesuai’ dengan kapasitas batin, dengan niat, dengan segala kelengkapan pemahaman yang ada dalam dada kita. Bukan yang tidak sesuai dengan kondisi spiritual kita, bahasa njlimetnya.

Saya agak susah menjelaskan ini bila tanpa perumpamaan. Saya ingin memisalkan begini. Seorang anak yang lebih tua melihat adiknya yang masih bayi disuntik dirumah sakit dan adiknya meraung menangis, dia lalu marah pada dokter. Hal ini sangat kita maklum, karena kesadaran kepahaman dirinya tak tahu bahwa itu adalah suntikan imunisasi. Sangat wajar dia marah tersebab cintanya pada adiknya.

Memang sih, dalam pandangan yang lebih menyeluruh, marah pada dokter yg memberikan imunisasi ialah menggelikan, tetapi Tuhan Yang Maha Mengetahui segala hal dengan komprehensif bisa menilai yang tak kasat mata kita. Sebaliknya, meski secara lahiriah, tidak marah pada dokter yang memberi imunisasi adalah masuk akal. Tetapi bila ketidak marahan itu adalah wujud dari sebuah sikap tidak peduli pada adiknya –bukan karna dia paham bahwa itu imunisasi– maka sikap diam itu salah secara tata batin. Dan Tuhan tahu itu.

Banyak sekali contoh yang lebih baik. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, yang menyejarah itu, kita sama-sama tahu bahwa dalam konstelasi jagad keilmuan yang lebih kompleks tindakan Nabi Khidir lah yang benar secara maknawi, –membahasakannya agak susah ini- Nabi Khidir punya kefahaman jiwa yang lebih luas, melihat sesuatu dibalik sesuatu.

Tapi dengan tingkat kefahaman dan keilmuan yang dimiliki Nabi Musa, dengan situasi batin Nabi Musa, maka memprotes itu adalah tindakan benar secara tata batin juga. Karena marahnya Nabi Musa adalah wujud dari kebaikan moral, dari kepedulian. Perkaranya akan lain sekali jika Nabi Musa pada akhirnya diam saja, misalnya diamnya karena apatis. Mendiamkan perlakuan diluar kebiasaan yang dilakukan oleh seorang Mulia yang memang diperlihatkan Tuhan hakikat dibalik sesuatu; secara lahir benar, tapi jika diamnya itu di-drive dari kecuekan –bukan dari kesadaran bahwa ada gap pemahaman yang panjang antara dirinya dan Khidir maka hal itu salah.

Mudah-mudahan saya benar menyampaikan ini. Dan bayangkan betapa kompleksnya penilaian yang sejati itu! ya memang pengadilan yang paling adil ialah pengadilan Tuhan. Dan Tuhan-lah yang menggenggam kapasitas untuk tahu segala seluk beluk yang nampak dan yang tersembunyi.

Pemahaman seperti ini menjelaskan banyak hal, seperti kenapa Rasulullah suatu ketika pernah membiarkan Abu Bakar menafkahkan seluruh hartanya untuk perjuangan agama yang lurus ini. Karena Baginda Nabi tahu Kapasitas pemahaman Abu Bakar, penghambaan beliau, yakinnya beliau akan janji Tuhan, sungguh mencapai titik puncak keridhoan.

Di kali lain pernah Nabi mencegah sahabatnya yang lain menafkahkan segala harta yang dia punya. Sang Nabi bisa mengukur kapasitas seseorang.

Lha kalau kita main hantam kromo niru Abu Bakar, jangan-jangan kita tertipu di-drive oleh keinginan dapat uang banyak hasil sedekah tanpa perlu bekerja?

Dalam bahasa seorang ahli hikmah ternama, dia mengatakan ‘syahwat dalam kebaikan sungguhlah samar dan tersembunyi’.

Jadi saya menuliskan sebaris kalimat penting untuk saya ingat-ingat: sesuaikan tata lahirmu dengan tata batinmu. inilah rule nomor satu. peraturan pertama dalam bersikap, simpulan saya begitu.

Tetapi ada tangga kedua

Setelah menyesuaikan tata batin dan sikap lahir, rupanya ada anak tangga kedua. Nah..yang ini permisalan lagi. Katakanlah sang kakak tadi, setelah diberitahu oleh kedua orang tuanya, maka dia menjadi paham, bahwa orang tuanya tidaklah kejam dengan memberikan adiknya pada dokter. Dia menjadi paham ada sesuatu yang tertabir dari pandangannya. Ada sesuatu yang dia tidak tahu. Rupanya ada semacam gap pemahaman antara dia dan orang tuanya.

Yang paling tepat menjelaskan anak tangga kedua itu, saya rasa, ialah apa yang orang jawa bilang dengan ewuh pakewuh. Rasa hormat dan sungkan, pada dirinya, untuk terlalu frontal menentang kedua orang tuanya.

Sekali dua mungkin saja dia masih ngamuk-ngamuk karena pemahaman yang dia punya kok ya bertentangan dengan perilaku orang tuanya, dan ngamuk-ngamuknya ini secara lahiriah salah, tapi ya itu tadi, boleh jadi benar secara batin, tergantung kapasitas dia, tergantung landasan niatannya, tergantung bagaimana harmoni antara niatannya-konstelasi kefahamannya, dengan perilakunya itu. Dan semata-mata Tuhan yang benar-benar Tahu.

Tapi mestinya setelah berkali-kali tersadarkan bahwa orang tuanya memiliki visi yang lebih jauh, memiliki pandangan yang lebih menyeluruh, dan terbukti pula selalu beritikad baik pada anak-anaknya. Maka sang kakak tadi seyogyanya memiliki rasa sungkan, dan rasa hormat. setidaknya dia menjadi lebih beradab dan bersopan-sopan dalam mengutarakan beda pendapatnya.

Saya sering teringat dengan masa lalu, waktu saya sering dengan bahasa halus mengeluhkan apa yang saya inginkan pada orang tua saya. Misalnya saya ingin meminta tas baru, maka saya dengan sopan-sopan cuma bercerita saja pada orang tua saya, bahwa tas saya sekarang rusak, bahwa buku yang saya bawa kadang nongol-nongol keluar. Dengan harapan bahwa orang tua saya nanti tahu juga saya minta dibelikan tas baru. Masa-masa merengek minta tas secara frontal sudah habis, karena saya paham bahwa pandangan orang tua lebih kompleks, berjejalin dengan biaya sekolah adek saya, uang sewa rumah, dan lain-lain, dan lain-lain.

Setidaknya begitulah yang saya pahami selama ini. Dan model ewuh-pakewuh ini saya terapkan dalam penghambaan saya kepada Tuhan. Maksudnya begini, kadang-kadang saat saya berdoa, saya malu meminta dengan terlalu frontal, maka akhirnya saya memanis-manis dan mengemas kata dengan baik. Niatan saya, supaya saya bisa meniru para Nabi yang berdoa dengan anggun.

Nabi Adam, misalnya, saat diturunkan ke bumi berdoa “Tuhanku, sungguh aku telah zhalim pada diriku sendiri, bila tidak Engkau ampuni, sungguh aku merugi”. anggun sekali doa itu, tidak frontal meminta sesuatu, dan katakanlah saya terinspirasi.

Maka doa-doa saya penuh dengan peribahasa, dengan kesopanan, dengan kata-kata yang tidak mendikte Tuhan. Pertama-tama sih enak berdoa dengan cara begitu, sampai akhirnya saya menyadari sebuah kekeliruan.

Kekeliruan itu ialah saya sudah salah mengukur jarak kefahaman antara saya dan Tuhan. Bila kepada orang tua, saya bisa meminta dengan bahasa yang penuh isyarat, agar orang tua menjadi tahu kebutuhan saya, dan saya tidak melanggar tata kesopanan. Tapi kepada Tuhan?? lain perkara. Tidak bisa dibandingkan.

Saya tiba-tiba terhenyak bahwa Yang Saya Mintai ini adalah Penguasa Alam Raya, yang mengetahui setiap detil segala sesuatu. Maka bersopan-sopan pada tutur kata, tapi di hati sebenarnya masih ada semacam terbetik bahwa saya lebih mengetahui apa yang saya butuhkan dibanding Tuhan, kok ya rasanya tak sopan.

Rupanya ada tangga ketiga.

Sikap mental dalam meminta kepada Tuhan itu ternyata melampaui permainan sungkan-sungkanan.

Tahapan berikutnya setelah menundukkan kata-kata kita dalam bingkai penghormatan kepada Tuhan, lalu kita mesti tundukkan juga hati kita dalam bingkai kepasrahan.

Ya Allah…aku ini ndak tahu apa-apa yang terbaik bagiku.

Rupanya para Nabi bukan bermanis-manis kata semata, tetapi memang melafalkan apa yang mereka rasakan. Bila mereka mendaku dirinya zalim, maka begitu pula yang mereka rasakan di dalam hati.

Dan saya baru tertohok setelah menyadari jika tidak saya mulakan dari sekarang membenahi hati ini, apakah nanti saya merasa bisa menyembunyikan sesuatu dari yang Maha Mengetahui?

Saya menuliskan ini sambil agak-agak menghela nafas. Saya paham bahwa akan ada pertanyaan, “apakah serumit itu berkeTuhanan? Penghambaan?” , saya juga menanyakan ini.

Tetapi sebenarnya tidak, kata para guru, mulakanlah lagi dari tangga pertama itu.

Sesuaikan tata lahir dengan tata batinmu. Awali segalanya dengan niatan yang benar dan lurus lalu laksanakan niatan itu. atau bila terlanjur melangkah terlampau lebar, ambillah langkah berapa jejak ke belakang untuk menilai diri, apa yang sebenarnya men-drive kita tadi?

Nanti pelan-pelan kita akan tahu, bagaimana sikap yang di-setir oleh setulus-tulus niat, sebenar-benar pemahaman, semurni-murni tanpa pamrih. Dikawal Seakrab-akrab doa.

Dan di titik itu nanti kita sudah melompat tinggi, ewuh-pakewuh sudah jauh tertinggal.

4 thoughts on “EWUH-PAKEWUH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s