MENEMBUS BATAS (dua)

Eye_iris

Ada sebagian orang, yang meski pertama kali kita bertemu, kita tunduk dengan kharismanya.

Orang-orang seperti ini selalu ada sepanjang sejarah. Saya teringat dengan cerita ketika Abrahah Pemimpin pasukan bergajah ingin menghancurkan Ka’bah. Kita semua terkenang dengan cerita bahwa Abrahah kemudian tertakdir babak belur dengan lontaran batu-batu panas dari langit. Tapi bila agak kembali ke belakang, sebelum dia tiba di dekat Ka’bah, kita akan mendapati babak dimana dia bertemu dengan Abdul Muthallib.

Pada sejarah yang saya baca, diceritakan bahwa Abrahah sempat terkesima dengan kharisma Abdul Muthallib, pada sekilas pandang saja Abrahah sudah tahu bahwa di depannya ini orang besar. Abrahah menyambutnya, meski kemudian Abrahah sedikit kecewa, dia mengharapkan orang dengan kharisma sedahsyat itu pastilah datang dengan sebuah tuntutan yang berani, nyatanya Abdul Muthallib malah hanya menagih untanya yang dirampas oleh Abrahah ketimbang menghalangi Abrahah melantakkan Ka’bah.

Tentu saya bukan ahli sejarah, tetapi saya tidak bisa untuk tidak terkenang dengan cerita itu. Cerita tentang seseorang yang memiliki kharisma yang membuat gentar orang lain bahkan sejak tatapan pertama. Betapa orang-orang seperti itu ada, dan banyak di sekitar kita.

Tadi malam saya membuka-buka timeline pada twitter, dan menemukan sebuah akun bersahaja milik seorang teman kuliah yang sebenarnya tidak begitu dekat secara personal dengan saya. Saya tidak terlalu terlibat dalam keseharian beliau, tapi yang saya tahu persis adalah ada kharisma yang begitu lekat pada dirinya. Seingat saya, saya tidak pernah berani menatap lama matanya. Ada sesuatu yang ketika saya sedang beraktifitas bersama beliau; saya merasakan jurang spiritual yang menganga lebar, entahlah, mungkin memang orang-orang shalih memiliki radius pengaruhnya sendiri.

Mengamati beliau dan perikehidupannya membuat saya kadang mendecak dalam diri sendiri, betapa saya masih harus meniti ratusan anak tangga untuk menyusul prestasi ruhani orang-orang seperti beliau. Orang-orang yang saya bahkan tak mengakrabinya dengan persis, tapi menimbulkan semacam perasaan ketertinggalan yang menyedihkan. Saya menjadi saksi bahwa betul ada orang yang kharismatik seperti itu.

Saya rasakan bahwa orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang memiliki bobot pada lisannya. Artinya saat dia mengatakan sesuatu, kalaulah saya tidak sependapat, mestilah saya menahan diri untuk tidak mendebatnya. Semacam sebuah kesadaran mental pada diri saya yang mewanti-wanti, “hati-hati kamu, ini kekata yang keluar dari lisan seorang terpercaya”.

Maka saya seringkali lebih banyak diam dan menunggu saja, siapa tahu ada pelajaran yang saya bisa petik. Syukur-syukur saya bisa semacam mengorek-ngorek, apa gerangan yang menyebabkan orang ini punya tatap mata yang teduh tapi tajam? Apa gerangan yang membuat orang segan kepadanya meski pertama kali bersapa?

Sedemikian penasarannya saya, sampai-sampai saya merasakan semacam dahaga. Sebuah kekeringan spiritual, yang hanya bisa dilipur oleh petuah dari orang-orang yang bila saya bertemu dengannya; saya merasakan kharismanya. Saya menghabiskan panjang waktu saya untuk mencari orang-orang seperti itu. Saya ingin memetik ilmu dari sumber yang saya yakini memiliki kemelimpahan kearifan hidup.

Sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang guru yang tua dan bersahaja, dia merubah tata pandang saya tentang kharisma dan keagungan seseorang. Bahwa seorang yang dekat pada Tuhannya memang boleh jadi memiliki bekas-bekas “persapaan” peribadatan yang terindera oleh kita, entah tatap matanya, entah elok wajahnya, entah kharismanya, tapi boleh jadi juga tidak.

Seorang guru yang tua yang saya ceritakan itu, nyaris tidak memiliki sebuah ciri kharismatik –kecuali jika beliau mengenakan kopiahnya-, sangat biasa dan sederhana. Tapi ingat-ingatlah kata beliau ini, “kadang-kadang, jika Tuhan sangat mencintai hambanya, dia tutupi orang itu dari “pengelihatan” manusia”, kata beliau.

Dan saya merasakan ada sesuatu yang melesat ke dalam batin saya, lalu meluluh lantakkan bangunan persepsi saya yang lama. Bahwa orang-orang yang dekat dengan Tuhannya itu, sangat boleh jadi orang-orang yang selama ini kita anggap remeh karena tidak memiliki kharisma sama sekali.

Teringat saya dengan sebuah cerita di zaman Nabi Musa. Barangkali cerita ini pernah pula kawan-kawan dengarkan.

Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk pergi ke sebuah desa, dimana di sana ada seorang kekasih Tuhan yang wafat. Nabi Musa diperintahkan untuk mensholatkannya. Tiba disana, Nabi musa terhenyak mendapati mayat seorang yang disebut tadi teronggok di tumpukan sampah tiada seorang peduli pada jenazah itu. Usut-usut, rupanya orang tersebut adalah penjahat besar. Sampah masyarakat.

Tentulah Nabi Musa heran, dan kita sama-sama tahu cerita ini, bahwa ternyata penjahat besar tadi di ujung hidupnya mengakui dengan tulus kesalahan-kesalahannya, dan meminta penuh harap akan rahmat Tuhan.

Orang itu pada penghujung hidupnya berada di sebuah kesadaran batin yang murni. Bagaimana saya menjabarkan ini dengan tepat, ya? Orang itu berada pada sebuah titik yang sangat dekat dengan rahmat Tuhan, saat dia setulus-tulusnya tulus mengakui bahwa dia ini banyak dosa, lalu seharap-harapnya harap bahwa rahmat Tuhan masih ada dan meliputi segala-galanya. Itulah jenak yang menjadi titik balik hidupnya.

“Sebersalah-bersalahnya seseorang,” kata Guru tua yang saya temui tadi, “tidak boleh, orang itu merasa pupus harapan akan rahmat Tuhan.”

Dan dalam bingkai pemaknaan yang seperti ini, saya tiba-tiba merasa bahwa di sekeliling saya begitu banyak orang-orang yang punya jenak kedekatan mereka sendiri pada Tuhan. Ada waktu-waktunya di mana setiap orang saya rasakan punya hubungan personal mereka sendiri pada Tuhan.

Entah itu seorang kuli pengeboran minyak yang saya temui di lautan sekitar aceh berapa minggu lalu, berewokan, memiliki segala prasyarat penampakan seorang tokoh antagonis, tapi pada suatu maghrib saya temukan dia sedang duduk bersimpuh tepekur pada pojokan musholla, di atas sebuah sajadah tua yang warnanya sudah pudar-pudar. Saya beringsut malu, untuk telah menilai dia sebatas apa yang tampak.

Entah itu seorang anak muda yang ceria dan konyol, saya temui sebagai karakter yang sama sekali tidak kontemplatif, tapi selalu memulai harinya pada sepertiga malam yang akhir dan menjadikannya awalan untuk meminta sebuah hari yang indah pada Tuhan.

Entah itu seorang Bapak-bapak tua dari Indonesia timur, saya temukan sebagai seorang yang memiliki kisah hidup semacam perulangan saja dari sekian banyak orang-orang yang saya temui, sama sekali tidak istimewa, tapi pada sebuah penghujung telepon saya mencuri-curi dengar dia mewejang pada istrinya, “kasihlah uang ke anak itu ma, kasihan dia mau pulang tapi bekal ndak punya, jangan kasih sedikit.” Pesannya pada istrinya di rumah untuk memberi sekadar uang pada seseorang jauh yang dia tak terlalu kenal.

Siapapun dia. Siapapun!!

Dan saya menjadi sedikit mengerti, kenapa orang-orang yang memiliki sebutlah ‘pencapaian’ spiritual yang tinggi biasanya menjadi sedemikian welas asih pada orang lain. Karena mereka melihat bahwa setiap orang punya semacam garis singgung yang kait-mengait dengan rahmat ampunan Tuhan. Seberapapun pendosanya orang itu.

Ada orang yang meniti anak tangga pada Tuhan dengan peribadatannya yang banyak dan tulus. Ada pula orang yang secara harfiah kita lihat berdosa pada masa kini, tapi entah kita tidak pernah tahu bahwa suatu ketika dosa itulah yang menghantarkannya pada rengkuhan ampunan Tuhan, kala dia menyesal sampai ke sumsum tulang dan menyadari betapa buruk hinanya dia. Nah…titik kesadaran bahwa dia merasa diri seonggok sampah, ndak punya apa-apa, dan yang semacam itulah yang melesatkan strata keruhanian dia, mungkin-mungkin melampau sang abid dan alim. Kita tak pernah tahu.

Kalaulah seorang yang fasih dalam keilmuan keagamaan, kita kenal dia dengan kharismanya yang agung dan memikat, itu sangat wajar. Tapi kita juga semestinya berhati-hati betul, pada setiap orang-orang yang tertampil dengan biasa-biasa saja –bahkan boleh jadi pendosa-, entah jenak yang mana dari keseluruhan rentet panjang hidupnya, yang menjadikan dia diwelas-asihi Tuhan, kita tak pernah tahu.

Dipenghujung perbincangan kami, Sang guru tadi bercerita pada saya. Suatu ketika dua orang dari Indonesia sedang berada di tanah Arab. Pada pelataran masjid, salah seorang dari mereka mengajak rekan satunya untuk mencari orang yang dikasihi Tuhan, wali-lah bahasa umumnya, untuk meminta doa.

Rekan yang diajak tadi mengusulkan untuk menemui seorang yang dia rasa kekasih Tuhan. ‘alim yang sedang memberikan pengajaran di serambi, dikerubungi banyak murid. Tiba disana, apa kata rekan satunya? “Bukan..bukan yang ini.”

Mereka beranjak lagi menemui seorang yang sedang duduk dan berzikir memutar-mutar tasbih. Lagi-lagi apa kata rekan satunya? “bukan orang ini.”
Kebingunganlah rekan yang diajak itu, siapalagi yang mungkin? Bila segala orang dengan kriteria yang digadang-gadang sebagai wali, nyatanya dianggap bukan oleh rekannya. “jadi kepada siapa kita meminta doa?” tanyanya.

Lalu sang rekan menunjuk seorang dengan pakaian lusuh yang amat sahaja, sedang tertidur di pelataran masjid. Dibangunkanlah orang itu oleh mereka berdua, lalu sekonyong-konyong dimintai doa, untuk keselamatan mereka berdua dan keselamatan Indonesia.

Orang tua itu kaget, tapi lalu kemudian mendoakan mereka berdua, seraya segera membalik badan dan pergi usai berdoa. Dalam langkah orang tua itu, sayup-sayup terdengar oleh mereka orang itu bergumam, “ya Allah…apa gerangan dosa saya, sehingga dua orang itu mengenal saya?”

Saya tersenyum mendengar cerita itu. Dan saya ingat persis kesimpulan wejangan itu, kalaulah orang yang dikasihi Tuhan itu dinampakkan kepada sekalian manusia, pastilah manusia berduyun-duyun meminta berkah, kata sang Guru.

Dan tidak mungkin bisa tampak, keistimewaan seseorang, kecuali oleh seorang yang istimewa pula.

*) gambar minjem dari google image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s