MENGEJAR ORANG-ORANG SUCI

images

Dalam suasana kantuk yang asing saya dikagetkan dengan dering telepon berita dari rumah yang jauh, rumah kami dibobol maling. Handphone, uang, printer, dan segala yang gampang dibawa; raib.

Saya mereka-reka kejadian berapa tahun lalu itu, waktu orang tua saya menelepon. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa pencuri memiliki celah? Memang pengamanan rumah kami itu boleh dikata dibawah standar. Pintu belakang hanya dikunci dengan sederhana, jendela tanpa teralis, tapi saya kenal betul siklus hidup keluarga saya itu. Bapak akan selalu bangun dini hari yang buta, waktu ayam-ayam masih enggan bangun. Ibu-pun juga begitu. Lalu ritual yang biasa mereka lakoni, Bapak akan sholat di penghujung malam, Ibu saya akan menghidupkan kompor dan menyiapkan dagangan untuk dibawa ke pasar pagi.

Tapi kenyataan bahwa seluruh rumah terlelap di waktu biasanya mereka sudah memulai kehidupan itulah yang membuat saya bingung. Kenapa bisa? Dan akhirnya maling itu masuk pada momennya yang tepat. Momen dimana takdir mempersilakan dia memilah-milah isi rumah dengan santainya dan lalu melenggang pergi. Bapak dan ibu kaget waktu bangun hari menjelang subuh, dan maling sudah raib beserta barang-barang, tanpa permisi, dan hanya meninggalkan pintu belakang terbuka menganga dengan gusar.

Pada akhirnya toh semua orang akan merasakan kehilangan. Sekali waktu saya takjub dengan kenyataan bahwa sebuah kalimat yang kita dengar berulang kali sampai hafal; kadang-kadang baru kita benar-benar mengerti maknanya setelah sekian lama kemudian. Bahwa pada akhirnya toh kita semua akan merasakan kehilangan.

Saya menangkap nada sedih pada intonasi Ibu saya di telepon. Gusar yang alami dari seorang yang mengumpulkan rupiah demi rupiah yang kemudian lenyap. Saya mengerti itu. Saya juga lalu menangkap gusar penyesalan pada nada Bapak dari ceruk speaker handphone kala mengabari saya, saya paham ada yang terluka dari harga dirinya sebagai tameng rumah itu. Tapi saya menanti momen dimana saya yakin akan ada yang saya saluti dari sikapnya memaknai hidup. Dan benar saja, tepat sekitar tiga hari dari kejadian itu, beliau menelepon saya lagi dengan nada yang biasa. Ketenangan khas seorang yang matang oleh tempa keras hidup, lalu mewejang bahwa toh semua orang pada akhirnya akan mengalami kehilangan.

Yang berhari-hari masih menyimpan kemarahan adalah adik kedua saya. Dia menyimpan kekesalan yang nyala. Mungkin analisa saya, selepas saya dan adik tertua saya pindah ke luar sumatera dialah yang dituakan di rumah itu. Dan kehilangan itu merobek ego mudanya. Saya hanya mendengar berita saja, waktu malam itu dia mengumpulkan serombongan kawan-kawannya dan memutari semua sudut sunyi komplek itu dengan segala yang mungkin untuk menghajar maling-maling. Maling itu beruntung tidak ditemukan.

Saya, dari ujung telepon, setelah kejadian agak mereda, lalu mewejang adik saya. Wejangannya Cuma kopi paste dari kata-kata Bapak.

Saya paham tingkat kebijaksanaan petuah saya belum selevel Bapak, dan saya juga agak ragu, apakah bila saya sendiri yang mengalami kejadian itu akan bisa memraktekkan apa yang saya katakan.

Bahwa kata-kata bijak bisa dipindah suarakan; itu sudah jelas. Tapi kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

***

Betapa saya lalu ingin menjadi bijak dan baik. Saya ingin menyalip prestasi orang-orang dengan kematangan mental spiritual itu. Lalu mulailah hari-hari saya diisi dengan perlombaan.

Tempo-tempo saya memiliki teman yang luar biasa memikatnya bagi khalayak, berada di sampingnya berarti siap-siap tenggelam dari ingatan sejarah, tak perduli betapapun pencapaian pendidikan yang kita punya telah lebih tinggi, tak perduli retorika kita lebih cerlang, tapi kesederhanaan dan keramahannya yang magis telah memikat siapa saja, dia adalah rival utama dalam perlombaan yang ingin saya menangkan ini. Saya mati-matian ingin menyaingi keramah-tamahan yang dia miliki, dalam sebuah judul cantik “berlomba-lomba dalam kebaikan” saya ingin kalahkan dia, lama saya babak belur, lalu pada akhirnya saya capek dan menyerah.

Tempo-tempo lainnya saya ingin menyalip lagi seorang kawan yang demikian tekun berkecimpung dalam banyak literatur keilmuan keagamaan. Mati-mati saya belajar, tapi juga berujung capek dan terengah-engah saja.

Belakangan saya semakin menemukan orang-orang yang gila kebaikannya. Dalam sekali waktu tugas saya bertemu dengan seorang kawan yang membelikan rumah untuk seorang tak mampu yang dia temukan di sudut jalan, ini sinting, fikir saya. Mana mungkin saya menyusul pencapaian tak masuk akal ini?

Saya tahu kenyataan bahwa saya terengah-engah dalam upaya pengejaran adalah sesuatu yang mesti saya tafakuri. Bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan adalah sebuah anjuran adiluhung yang tiada cela; saya setuju benar, tapi ada maknanya yang rasanya mesti saya rajut ulang.

Saya lalu ingat dengan sebuah perbandingan yang memang dari segala lini tidak tepat saya tarik sebagai permisalan dalam kasus ini, tapi saya belum menemukan sebuah pengibaratan yang lain.

Adalah Umar Ibn Khattab, yang dalam cerita sejarah kita temukan menjadi seorang pencemburu yang ingin menyaingi Abu Bakar dalam peribadatan beliau. Waktu orang-orang tak berpunya menjadi semacam target amal, dan dipikullah karung-karung gandum oleh Umar pada suatu malam, lalu kagetlah beliau waktu mendapatkan bahwa Abu Bakar telah mengantarkan gandum pada orang yang tak berpunya lebih dulu, Umar selalu kalah langkah.

Suatu babak lainnya Umar menyedekahkan setengah hartanya di jalan kebaikan, dia dapati Abu Bakar rupa-rupanya menginfakkan semua yang dia punya. Waktu Umar mengamuk-ngamuk ingin mengemplang siapa saja yang mengatakan Nabi SAW wafat, Abu Bakar jua yang dengan bijaksana menenangkannya dan mengingatkan bahwa betapapun sang Nabi hanyalah manusia biasa. Ada jarak yang terentang antara sesuatu yang ada di hati Umar dan Abu Bakar.

Saya jauh panggang dari api dengan Umar, sedang orang-orang yang saya temui saya yakin dalam track yang benar menapaki jalan suci berapa anak tangga mengikuti Abu Bakar.

Tapi tiba-tiba saja saya tersentak. Apa motivasi dari perlombaan saya selama ini? Menuju Tuhan-kah atau persaingan pencapaian yang tanpa terindra rupanya hendak memuaskan sudut psikologis manusia yang paling purba semata; saya lebih baik daripada dia?

Lalu disinilah saya menemukan jawabannya. Pada sudut kecil yang lain lagi. Setelah berapa tahun peristiwa kehilangan di keluarga saya itu lewat. Setelah berapa tahun acara kejar mengejar pencapaian imajiner yang saya lakukan terhadap rekan-rekan saya lewat.

Tiba-tiba saja saya sudah tertakdir ada di sebuah anjungan pengeboran lepas pantai dalam rutinitas kikuk yang biasa. Para bule yang sebagian normal-normal arogan. Lalu Bule-bule yang sopan dan menimbulkan kecanggungan untuk kita yang tak siap dengan ewuh-pakewuh model luar negeri. Lalu Pribumi-pribumi yang sebenarnya pintar tetapi tertutup oleh kesantunan timur yang enggan menonjolkan diri, dan lalu seorang sepuh yang kebetulan menjadi senior saya dalam pekerjaan, dan yang saya sebut terakhir ini juga kebetulan mengajarkan banyak cerita tentang menimati hidup.

Dan hari itu, kami (saya dan senior saya yang sepuh itu) bercerita tentang beberapa hal. Saya tergelitik untuk tahu bagaimana dia mendapatkan kematangan mental seperti yang saya lihat itu. Manteng ibadahnya, bijak gerak-geriknya.

Saya sering bertemu dengan orang yang lebih tua, tapi untuk mengagumi kematangan jiwa mereka; saya jarang. Salah satu dari sekian yang jarang itu adalah orang tua dihadapan saya kali itu, selain Bapak saya sendiri.

“Bagaimana bapak bisa konstan melaksanakan ibadah yang berat-berat?” tanya saya dalam lagak yang tak terlalu mau tahu, padahal saya memang melakukan penelitian semacam pseudo research amatiran tentang itu. Apakah kematangan jiwa itu semata haknya orang-orang tua saja? Saya membatin protes.

Sebelum berpacu buta mengejar pencapaian Bapak ini, saya rasa menelisik niatan pribadinya dalam bertirakat adalah utama.

Senior saya itu bercerita banyak hal. Tidak melulu menjawab pertanyaan saya sebenarnya, tapi yang saya bisa rangkai-rangkai dari cerita hidupnya adalah bahwa betapa jujur menilai diri itu awalan untuk memperbaiki spiritualitas kita. Mungkin-mungkin mematangkannya dengan takaran yang pas, karna terlalu lama kebohongan kita membuat mentalitas kita menjadi selamanya mentah.

Seperti nyata waktu beliau bercerita tentang suatu dini hari berapa puluh tahun lalu beliau bersujud dalam sembahyang yang total, lalu seperti diputarkan ulang segala tabiat-tabiat mudanya. Hura-huranya, sombong-arogannya, rasa ingin lebih baik dari orang lainnya, segalanya. Lalu beliau menyerah sekali pada Tuhan. Dan itulah titik balik hidupnya menjadi seorang ‘abid yang fantastis menurut saya.

“Jujur menilai diri, mengaku akan segala kesalahan kita, dan ridho pada takdir Tuhan.” Kata beliau menyimpulkan butir-butir pra syarat yang akan menaikkan level spiritualitas kita.

Dan pemahaman lalu masuk pelan-pelan mengoreksi cara pandang saya yang muda dan ketelingsut. Pada akhirnya toh semua orang akan kehilangan. Dan yang paling anggun dari segalanya adalah saat kita belajar pelan-pelan melepaskan segala keakuan kita yang menabir kita dari Tuhan. “Menghilangkan” segalanya yang toh pada akhirnya akan hilang itu.

Sedekah kita adalah mestinya semacam simulasi bahwa segala-gala akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa memang sebenar-benarnya itu harta bukan milik kita. Lepaslah kita dari keterikatan yang semu itu.

Puasa kita mestinya semacam simulasi, bahwa segala kenikmatan ragawi sejatinya akan hilang, lalu kita mengikhlaskan kehilangan itu dengan pengertian yang dewasa bahwa betapa sebenarnya selama ini dunia merajam-rajam kita dengan segala kebutuhan yang berluber-luber kita ikuti tak wajar.

Kecemburuan kita terhadap kebaikan lelaku kawan-kawan kita mestinya semacam introspeksi, bahwa orang-orang lain bisa dengan segenap usahanya melecat-lecat menuju Tuhan, lalu kita dengan segala kejujuran yang dewasa mengaku bahwa rupanya selama ini kita alih-alih ingin ke Tuhan juga tapi malah berpusar-pusar ingin mendaku diri lebih baik dari sesiapa saja.

kematangan mental spiritual adalah sesuatu yang ditancapkan Tuhan dalam hati masing-masing kita sendiri. Lewat umpamanya kejadian-kejadian, umpamanya perenungan mendalam akan makna-makna hidup, atau umpamanya lewat pengertian-pengertian yang ajeg dan tiba-tiba saja masuk merubah cara pandang. Dan ini yang pada mulanya menyetir segala apa saja perilaku yang terlihat.

Bodoh sekali saya ini. Semisal melihat orang kaya itu memiliki mobil, maka segala cara saya upayakan untuk membeli mobil. Selepas mobil terbeli, saya kira saya sudah kaya. Padahal yang semestinya saya tiru adalah cara fikir orang-orang kaya, etos kerjanya orang-orang kaya, ketrampilan melihat peluangnya orang-orang kaya, dan mobil itu hanya aksesoris luaran. Yang kalau segala pra syaratnya sudah saya miliki, maka akan tertampil dengan sendirinya.

Sekarang saya belajar tidak lagi mati-matian buta ingin mengejar mereka-mereka. Saya menikmati memandang perlombaan dari sudut yang baru lagi. Pelan-pelan saya belajar menghilangkan segala sesuatu yang toh pada akhirnya nanti akan hilang.

Saya tetap menatap iri pada pencapaian prestasi orang-orang suci, tapi ada sesuatu sebelum ritual yang ingin saya tiru. Apa gerangan yang bergejolak di dada mereka-mereka itu?

note:

*) Guru2 bilang, tidak akan bisa beribadah dengan benar, terkecuali orang yang mukhlash (mukhlash ialah orang yang diikhlaskan oleh Allah) bukan orang yang mendaku dirinya ikhlas.

*) gambar dipinjam dari sini

Iklan

MENGGESER DO’A

sujud

Saya sempat kaget sekali, waktu saya tahu beliau sudah rutin mengerjakan puasa daud selama empat belas tahun.

Saya pertama kali bertemu dengan beliau sewaktu saya ditugaskan pada anjungan pengeboran lepas pantai Aceh. Kita kerja bareng. Diskusi. Lalu ngobrol kesana-kemari sampai suatu hari saya tahu bahwa senior saya yang sudah sepuh itu rutin sekali berpuasa daud. Waktu itu ada rasa malu yang pelan-pelan mengetuk kesadaran saya.

Rasanya setiap kali saya berada pada waktu senggang, saya teringat kembali akan seorang senior yang sudah sepuh. Sambil bekerja, tapi puasa daud beliau tak pernah bolong. Alangkah jauhnya capaian spiritual antara dia dan saya? Lalu kemudian di dalam hati saya memantapkan niat bahwa saya harus mencoba juga berpuasa daud.

Ada sekitar dua minggu lebih saya menjalankan puasa, sambil bekerja. Tapi masuk minggu ketiga puasa saya sudah mulai bolong-bolong dan akhirnya berhenti.

Saya tahu, bahwa ada dibutuhkan determinasi yang kukuh. Niatan yang kuat sebelum melakukan itu agar apa yang kita lakukan tidak berhenti di tengah jalan. Saya sedang menimbang-nimbang lagi, apakah memang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan lewat merutinkan puasa daud ini cocok buat saya, ataukah ada yang lebih pas? Mendawamkan sholat dhuha, misalnya.

Tapi saya tergelitik untuk mengetahui apa sejarahnya sehingga beliau rajin sekali berpuasa?

Selang berapa minggu setelah tugas kerja saya di lautan sekitar Aceh, saya bertemu kembali dengan beliau di lautan sekitar Sangatta Kalimantan Timur. Kami kembali berbincang tentang banyak hal.

Dari sana saya mengetahui sepotong lagi cerita beliau, bahwa awal mula beliau rajin berpuasa adalah karena belitan ekonomi. Sempat di PHK oleh kantornya, lalu memulai bisnis sendiri, lalu bangkrut dan kehidupan berbalik total. Dari sana kemudian, cerita punya cerita, dia bertemu dengan seorang kiai yang menyarankan dia rajin puasa daud. Berpuasalah dia.

Saya tidak bertanya waktu itu, apakah ibadah tekun beliau itu menjadi semacam jalan yang memustajabkan doanya. Karna toh saya sudah tahu sesukses apa beliau sekarang. Beliau sudah berpunya sangat fantastis. Saya tahu bahwa entah dengan cara bagaimana, tapi doa beliau agar terbebas dari belitan ekonomi itu; terkabul. Yang saya sangat penasaran sekarang adalah kenapa dengan usia beliau yang sudah sepuh, beliau masih terus berpuasa? Bahkan setelah ekonomi lebih dari cukup.

“kalau sekarang ada orang yang mau kasih saya satu milyard, lalu meminta saya berhenti puasa, saya tidak akan mau.” Kata beliau sambil duduk bersender pada kursi dan menggeleng-geleng pelan, menjawab kebingungan saya.

Saya kagum dan menggeleng-geleng waktu beliau bercerita lagi, bahwa setelah ekonomi membaik, uang datang, dan keadaan kembali normal, dia malah menemukan kebahagiaan lain dari beribadah. Dia menemukan sebuah kenyataan bahwa beribadah itu adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan. Dunia ini cuma wasilah saja.

Teringatlah saya dengan wejangan seorang arif yang mengatakan, ‘lihatlah orang-orang yang dekat dengan Tuhannya. Pastilah kau mendapati mereka ditarik ke dalam kondisi yang memaksa mereka untuk tidak ada tempat bergantung lain, selain daripada Tuhan’.

Nabi Musa misalnya. Siapa yang tidak tahu cerita Nabi musa? Dikejar-kejar sebatalyon tentara, dengan pimpinannya ayah angkatnya sendiri. Musuhnya adalah diktator paling menyejarah. Sedang kaum yang dipimpinnya adalah sekumpulan manusia dengan tabiat paling berkhianat. Kondisi semacam itulah yang pelan-pelan menarik Nabi Musa untuk masuk kedalam penghambaan yang benar-benar total. Istilahnya bergantung pada Allah semata.

Mengatakan ‘bergantung pada Allah semata’ itu gampang. Kita membaca buku satu dua, sudah bisa tahu bahwa ibadah itu untuk Tuhan semata, bahwa sandaran itu, Tuhan semata. Tapi untuk mendapatkan tingkat keyakinan semodel Para Nabi itu, Para wali dan orang-orang shalih itu, tiadalah mungkin tanpa Allah yang mendudukkan kita pada kondisi tidak ada tempat bergantung lain selain Dia. Dan pasti ada ceritanya hingga mereka bisa mendapatkan keyakinan yang kokoh, menujam, berurat akar seperti itu.

Ada sebagian orang yang dibelit dengan kesulitan ekonomi, lalu dengan kesulitan ekonomi itu mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Berdoa dan meminta pertolongan. Ada sebagian orang yang berdosa, lalu dengan dosanya itu mereka menyesal sungguh-sungguh lalu berdoa mengharap pengampunan. Jangan dimarahi orang yang terbetik kembali kepada Tuhan karna kesulitan dunia, dengan mengatakan “heh, ibadah itu untuk Tuhan semata, bukan karena dunia!!”. Harusnya dipahami bahwa orang itu menemukan kesadaran kehambaannya dari sana. Bahwa betapa dia butuh pertolongan Tuhan. Meskipun itu urusan remeh temeh dunia.

Guru-guru yang bijak mengatakan bahwa tidak lagi penting apa yang didoakan itu, jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Kesadaran yang lembut mengetuk hati kita sampai mengaku tidak mungkin bisa selamat tanpa pertolongan Tuhan, lalu akhirnya berdoa, lalu akhirnya kembali; sejatinya itulah yang luar biasa bernilai. “kembali ke Tuhan”nya ini yang sangat bernilai.

Tinggal nanti kalau terus ditekuni, akan ada momennya penghambaan kita itu menemukan kedewasaannya.

Segolongan orang yang katakanlah sudah expert, setingkat Nabi dan orang-orang shalih lainnya, pada akhirnya akan didudukkan Tuhan pada ketawakalan yang fantastis, susah dinalar oleh kita-kita.

Misalnya kisah Nabi Ibrahim. Saya teringat kisah Nabi Ibrahim kala akan dibakar oleh orang-orang. Cerita ini sangat masyhur dan terekam hampir pada setiap benak kita. Nabi Ibrahim tidak terpanggang api, justru keluar dari kobaran api yang menyala-nyala dengan baik-baik saja. Saya membayangkan kedramatisan kisah itu sejak saya masih kecil dulu.

Tapi dari kisah itu, ada potongan episode yang saya baru dengar setelah saya besar. Yaitu babak dimana Jibril mendatangi Nabiyullah Ibrahim sesaat sebelum dilontarkan ke dalam api, Jibril menawarkan bantuan. Tapi bantuan itu ditampik oleh Ibrahim a.s. Beliau menyatakan tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk. Lalu Jibril menyarankan Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah S.W.T. dan itupun ditolak.

Sempat saya bingung sekali, cerita ini agak-agak tidak masuk diakal saya kala itu, sampai dewasa ini saya baru paham bahwa penolakan Ibrahim a.s. atas usulan Jibril yang menyuruhnya berdoa kala itu; adalah sebentuk ekspresi ketawakalan tingkat tinggi yang sebenarnya disebabkan adab beliau kepada Tuhan. Dalam pandangan Beliau, Allah maha mengetahui segala-galanya, dan Nabi Ibrahim ridho pada apa saja ketentuan Tuhannya. Beliau yakin sekali kalau apa saja yang tertakdir oleh Tuhan itu baik. Pantas kalau beliau disebut kekasih Allah.

Lha model kita-kita ini, kalau enggan berdoa, salah-salah malah jadi sombong kepada Tuhan. Karena keengganan kita itu di-drive oleh sebuah pemahaman yang salah, bukan oleh kemurnian tauhid. Karena kemurnian tauhid setingkat mereka itu adalah hasil dari proses kembalinya mereka, lewat segala tema dalam cerita hidup mereka.

Saya tahu kenapa saya bolong-bolong puasa. Karena tidak ada semacam tema dalam ibadah saya. Naturalnya manusia itu akan bergerak semangat kalau ada yang ingin dicapai. Kalaulah misalnya enggan mengatakan capaian itu duniawi, kita ibaratkan misalnya capaian itu adalah syurga. Mimpi tentang kenikmatan surga, misalnya. Harusnya itu men-drive saya. Bukan sebuah amalan ibadah yang kosong saja tanpa tema.

Untuk levelan saya, harusnya saya membuka mata dan menemukan sekian banyak tema yang Tuhan hadirkan di hidup saya. Tak kurang-kurang tolakan untuk kembali yang Tuhan hadirkan. Apatah itu keinginan untuk pindah kerja ke tempat yang baru. Apatah itu keinginan untuk memiliki rumah yang lebih luas dan bisa menampung sanak saudara yang berkunjung. Apatah itu keinginan untuk di akhirat nanti ditempatkan pada surga yang indah.

Karena sejatinya kesulitan hidup, belitan ekonomi, kegalauan, apapun itu yang menyedot percaya diri kita, menghempaskan harapan kita pada selainNya, lalu membuat kita menyerah dan berdoa; adalah cara Allah memanggil kita.

Kita teruskan berdoa. Sambil pelan-pelan menggeser pandangan doa kita. Dari meminta yang berpusar-pusar kepada harta, lalu bergeser pada ke-menyerahan diri bahwa hanya Tuhan yang maha membagi rizki. Dari doa yang melulu mengharap terlepas dari kegalauan, bergeser pada pengakuan bahwa hanya dengan mengingat Dia yang menenangkan hati.

Yang jelas, apapun temanya ‘panggilan Tuhan’ dalam hidup kita, mestinya itu dipakai untuk kembali.

 

***

gambar saya kopi dari sini