MENGGESER DO’A

sujud

Saya sempat kaget sekali, waktu saya tahu beliau sudah rutin mengerjakan puasa daud selama empat belas tahun.

Saya pertama kali bertemu dengan beliau sewaktu saya ditugaskan pada anjungan pengeboran lepas pantai Aceh. Kita kerja bareng. Diskusi. Lalu ngobrol kesana-kemari sampai suatu hari saya tahu bahwa senior saya yang sudah sepuh itu rutin sekali berpuasa daud. Waktu itu ada rasa malu yang pelan-pelan mengetuk kesadaran saya.

Rasanya setiap kali saya berada pada waktu senggang, saya teringat kembali akan seorang senior yang sudah sepuh. Sambil bekerja, tapi puasa daud beliau tak pernah bolong. Alangkah jauhnya capaian spiritual antara dia dan saya? Lalu kemudian di dalam hati saya memantapkan niat bahwa saya harus mencoba juga berpuasa daud.

Ada sekitar dua minggu lebih saya menjalankan puasa, sambil bekerja. Tapi masuk minggu ketiga puasa saya sudah mulai bolong-bolong dan akhirnya berhenti.

Saya tahu, bahwa ada dibutuhkan determinasi yang kukuh. Niatan yang kuat sebelum melakukan itu agar apa yang kita lakukan tidak berhenti di tengah jalan. Saya sedang menimbang-nimbang lagi, apakah memang upaya mendekatkan diri kepada Tuhan lewat merutinkan puasa daud ini cocok buat saya, ataukah ada yang lebih pas? Mendawamkan sholat dhuha, misalnya.

Tapi saya tergelitik untuk mengetahui apa sejarahnya sehingga beliau rajin sekali berpuasa?

Selang berapa minggu setelah tugas kerja saya di lautan sekitar Aceh, saya bertemu kembali dengan beliau di lautan sekitar Sangatta Kalimantan Timur. Kami kembali berbincang tentang banyak hal.

Dari sana saya mengetahui sepotong lagi cerita beliau, bahwa awal mula beliau rajin berpuasa adalah karena belitan ekonomi. Sempat di PHK oleh kantornya, lalu memulai bisnis sendiri, lalu bangkrut dan kehidupan berbalik total. Dari sana kemudian, cerita punya cerita, dia bertemu dengan seorang kiai yang menyarankan dia rajin puasa daud. Berpuasalah dia.

Saya tidak bertanya waktu itu, apakah ibadah tekun beliau itu menjadi semacam jalan yang memustajabkan doanya. Karna toh saya sudah tahu sesukses apa beliau sekarang. Beliau sudah berpunya sangat fantastis. Saya tahu bahwa entah dengan cara bagaimana, tapi doa beliau agar terbebas dari belitan ekonomi itu; terkabul. Yang saya sangat penasaran sekarang adalah kenapa dengan usia beliau yang sudah sepuh, beliau masih terus berpuasa? Bahkan setelah ekonomi lebih dari cukup.

“kalau sekarang ada orang yang mau kasih saya satu milyard, lalu meminta saya berhenti puasa, saya tidak akan mau.” Kata beliau sambil duduk bersender pada kursi dan menggeleng-geleng pelan, menjawab kebingungan saya.

Saya kagum dan menggeleng-geleng waktu beliau bercerita lagi, bahwa setelah ekonomi membaik, uang datang, dan keadaan kembali normal, dia malah menemukan kebahagiaan lain dari beribadah. Dia menemukan sebuah kenyataan bahwa beribadah itu adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan. Dunia ini cuma wasilah saja.

Teringatlah saya dengan wejangan seorang arif yang mengatakan, ‘lihatlah orang-orang yang dekat dengan Tuhannya. Pastilah kau mendapati mereka ditarik ke dalam kondisi yang memaksa mereka untuk tidak ada tempat bergantung lain, selain daripada Tuhan’.

Nabi Musa misalnya. Siapa yang tidak tahu cerita Nabi musa? Dikejar-kejar sebatalyon tentara, dengan pimpinannya ayah angkatnya sendiri. Musuhnya adalah diktator paling menyejarah. Sedang kaum yang dipimpinnya adalah sekumpulan manusia dengan tabiat paling berkhianat. Kondisi semacam itulah yang pelan-pelan menarik Nabi Musa untuk masuk kedalam penghambaan yang benar-benar total. Istilahnya bergantung pada Allah semata.

Mengatakan ‘bergantung pada Allah semata’ itu gampang. Kita membaca buku satu dua, sudah bisa tahu bahwa ibadah itu untuk Tuhan semata, bahwa sandaran itu, Tuhan semata. Tapi untuk mendapatkan tingkat keyakinan semodel Para Nabi itu, Para wali dan orang-orang shalih itu, tiadalah mungkin tanpa Allah yang mendudukkan kita pada kondisi tidak ada tempat bergantung lain selain Dia. Dan pasti ada ceritanya hingga mereka bisa mendapatkan keyakinan yang kokoh, menujam, berurat akar seperti itu.

Ada sebagian orang yang dibelit dengan kesulitan ekonomi, lalu dengan kesulitan ekonomi itu mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Berdoa dan meminta pertolongan. Ada sebagian orang yang berdosa, lalu dengan dosanya itu mereka menyesal sungguh-sungguh lalu berdoa mengharap pengampunan. Jangan dimarahi orang yang terbetik kembali kepada Tuhan karna kesulitan dunia, dengan mengatakan “heh, ibadah itu untuk Tuhan semata, bukan karena dunia!!”. Harusnya dipahami bahwa orang itu menemukan kesadaran kehambaannya dari sana. Bahwa betapa dia butuh pertolongan Tuhan. Meskipun itu urusan remeh temeh dunia.

Guru-guru yang bijak mengatakan bahwa tidak lagi penting apa yang didoakan itu, jika dibandingkan dengan kenyataan bahwa mereka ‘kembali’ pada Tuhannya. Kesadaran yang lembut mengetuk hati kita sampai mengaku tidak mungkin bisa selamat tanpa pertolongan Tuhan, lalu akhirnya berdoa, lalu akhirnya kembali; sejatinya itulah yang luar biasa bernilai. “kembali ke Tuhan”nya ini yang sangat bernilai.

Tinggal nanti kalau terus ditekuni, akan ada momennya penghambaan kita itu menemukan kedewasaannya.

Segolongan orang yang katakanlah sudah expert, setingkat Nabi dan orang-orang shalih lainnya, pada akhirnya akan didudukkan Tuhan pada ketawakalan yang fantastis, susah dinalar oleh kita-kita.

Misalnya kisah Nabi Ibrahim. Saya teringat kisah Nabi Ibrahim kala akan dibakar oleh orang-orang. Cerita ini sangat masyhur dan terekam hampir pada setiap benak kita. Nabi Ibrahim tidak terpanggang api, justru keluar dari kobaran api yang menyala-nyala dengan baik-baik saja. Saya membayangkan kedramatisan kisah itu sejak saya masih kecil dulu.

Tapi dari kisah itu, ada potongan episode yang saya baru dengar setelah saya besar. Yaitu babak dimana Jibril mendatangi Nabiyullah Ibrahim sesaat sebelum dilontarkan ke dalam api, Jibril menawarkan bantuan. Tapi bantuan itu ditampik oleh Ibrahim a.s. Beliau menyatakan tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk. Lalu Jibril menyarankan Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah S.W.T. dan itupun ditolak.

Sempat saya bingung sekali, cerita ini agak-agak tidak masuk diakal saya kala itu, sampai dewasa ini saya baru paham bahwa penolakan Ibrahim a.s. atas usulan Jibril yang menyuruhnya berdoa kala itu; adalah sebentuk ekspresi ketawakalan tingkat tinggi yang sebenarnya disebabkan adab beliau kepada Tuhan. Dalam pandangan Beliau, Allah maha mengetahui segala-galanya, dan Nabi Ibrahim ridho pada apa saja ketentuan Tuhannya. Beliau yakin sekali kalau apa saja yang tertakdir oleh Tuhan itu baik. Pantas kalau beliau disebut kekasih Allah.

Lha model kita-kita ini, kalau enggan berdoa, salah-salah malah jadi sombong kepada Tuhan. Karena keengganan kita itu di-drive oleh sebuah pemahaman yang salah, bukan oleh kemurnian tauhid. Karena kemurnian tauhid setingkat mereka itu adalah hasil dari proses kembalinya mereka, lewat segala tema dalam cerita hidup mereka.

Saya tahu kenapa saya bolong-bolong puasa. Karena tidak ada semacam tema dalam ibadah saya. Naturalnya manusia itu akan bergerak semangat kalau ada yang ingin dicapai. Kalaulah misalnya enggan mengatakan capaian itu duniawi, kita ibaratkan misalnya capaian itu adalah syurga. Mimpi tentang kenikmatan surga, misalnya. Harusnya itu men-drive saya. Bukan sebuah amalan ibadah yang kosong saja tanpa tema.

Untuk levelan saya, harusnya saya membuka mata dan menemukan sekian banyak tema yang Tuhan hadirkan di hidup saya. Tak kurang-kurang tolakan untuk kembali yang Tuhan hadirkan. Apatah itu keinginan untuk pindah kerja ke tempat yang baru. Apatah itu keinginan untuk memiliki rumah yang lebih luas dan bisa menampung sanak saudara yang berkunjung. Apatah itu keinginan untuk di akhirat nanti ditempatkan pada surga yang indah.

Karena sejatinya kesulitan hidup, belitan ekonomi, kegalauan, apapun itu yang menyedot percaya diri kita, menghempaskan harapan kita pada selainNya, lalu membuat kita menyerah dan berdoa; adalah cara Allah memanggil kita.

Kita teruskan berdoa. Sambil pelan-pelan menggeser pandangan doa kita. Dari meminta yang berpusar-pusar kepada harta, lalu bergeser pada ke-menyerahan diri bahwa hanya Tuhan yang maha membagi rizki. Dari doa yang melulu mengharap terlepas dari kegalauan, bergeser pada pengakuan bahwa hanya dengan mengingat Dia yang menenangkan hati.

Yang jelas, apapun temanya ‘panggilan Tuhan’ dalam hidup kita, mestinya itu dipakai untuk kembali.

 

***

gambar saya kopi dari sini

6 thoughts on “MENGGESER DO’A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s