ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

xfactor

Geli sekali saya mengingat fakta, bahwa bapak-bapak dengan umur lebih tua dari saya –termasuk saya sendiri-, di anjungan pengeboran tengah laut, malam-malam berkerumun di ruang TV untuk menyaksikan acara X-FACTOR. Kontes nyanyi menyanyi yang lumrah di TV itu. 

Mulanya saya tidak memperhatikan, entah sudah sejak berapa lama acara kontes-kontes menanyi model apapun tidak menarik perhatian saya. Hingga saya melihat bahwa mulai dari Bapak-bapak sampai anak-anak ribut membicarakan ini, saya mulai penasaran. Dan menontonlah saya, meski kebanyakan hanya memantaunya dari youtube. 

Dari ruangan kerja saya di tengah laut itu, sambil membunuh kebosanan, saya mengamati detail potongan babak dimana kontestan menyanyikan lagu dengan aransemen mereka yang unik-unik. Saya baru menyadari, betapa buruk perbendaharaan lagu yang saya miliki? Nyaris semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang kali pertama saya dengar. Wacana seni saya sungguh memprihatinkan. 

Sambil menikmati kekagetan akan fakirnya saya dalam dunia musik, saya membayangkan saya mengikuti kontes itu, tapi kemudian saya tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki seorang anak di rumah. Seorang perempuan kecil satu setengah tahun. Mungkin ini gerangan alasan, kenapa setiap kali saya mencoba menghayalkan saya mengikuti kontes serupa; selalu ada mental block. Semacam barrier bawah sadar bahwa untuk sekedar imajinasi-pun, hal itu tidak layak. Karena sudah bukan masanya, ini masanya saya mendidik anak saya. Bukan masanya saya berjibaku dengan anak-anak itu. 

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa acara kontes-kontes semacam ini bisa menghasilkan penyanyi yang dikenang sejarah. Sudah banyak sekali kontes, tetapi orang-orangnya hanya seperti bunga di musim semi yang singkat. Muncul, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa dirindukan siapapun. Karena zaman sekarang mungkin musim semi siklusnya terlalu cepat. Hilang satu, digantikan lagi dengan yang lain. 

Tapi seandainya anak saya besar nanti, saya tetap menginginkan berada dalam satu momen dimana saya mendampingi anak saya dalam sebuah perlombaan. Perlombaan apapun itu. Dan adegan yang paling saya nantikan pada waktu itu nanti adalah mungkin pemberitahuan yang dramatis, diselingi tetabuh drum yang ritmis dan mencekam, lalu sang MC membacakan keputusan bahwa anak saya…kalah. 

Betapa mendidik diri untuk terbiasa mengikuti kompetisi itu sangat penting, tapi saya yakin yang lebih penting dari setiap adegan-adegan mencekam pengumuman hasil lomba itu adalah bukan nama kita disorak-sorai sebagai pemenang, tapi adalah bagaimana kita tetap anggun dan kharismatik meski tertakdir kalah. Saya yakin, anak saya akan lebih banyak belajar dalam momen kekalahannya dibanding dari gegap gempita kemenangan yang sebentar dan merapuhkan dirinya dalam segala puja-puji. Kalah, lebih sering mendewasakan orang ketimbang menangnya. 

Saya ingat sekali dulu waktu gencar-gencarnya american idol, saya membaca pada sebuah artikel bagaimana runner-up American idol -edisi keberapa saya lupa- menampilkan wajah yang tetap tersenyum saat dinyatakan dia kalah, dan lalu mengeluarkan sepotong kalimat yang gagah, “Saya menunggu rekan saya ini, untuk bersaing pada panggung sesungguhnya, di luar ini nanti”. Dia kalah, tetapi anggun dan tidak kehilangan kekerenannya. Dan memang akhirnya pada industri musik yang lebih keras dan kejam kontes hidupnya dia lebih terkenal dan mereguk sukses. Sayang saya lupa namanya, memang perbendaharaan musik saya mengenaskan. 

Tapi yang jelas, terlepas dari urusan seni, saya mengingat banyak sekali babak dimana saya kalah. Dan saya ingat bagaimana tempo-tempo itu saya bisa begitu emosional. Kalah main badminton tingkat RT, kalah pada lomba pidato tingkat provinsi, kalah pada lomba nasyid, berkali-kali kalah dalam persaingan sepuluh besar kelas, kalah dalam wawancara akhir saringan masuk BHMN, dan banyak cerita lainnya. Kekalahan yang tidak anggun. 

Saya tersentak, kok ya hidup diwarnai terlalu sentimentil? Padahal betapa bergairahnya hidup jika selalu dinamis dan memperbaiki apa-apa yang kurang, tanpa menomorsatukan gelar. 

Saya sudah memutuskan, akan mengambil penokohan seorang Bapak yang membesarkan hati anaknya yang mengalami kekalahan pertama. Tidak ada keharuan yang drama. Tidak ada tangis-tangis yang menye-menye dari saya. Hanya pengingat, bahwa betapapun tidak menjadi juara kali ini, kita tetap bisa terlihat anggun dan terhormat. Lalu menjadi lebih dewasa lagi dengan menganggap biasa saja dari segala yang luput, dan tak terlalu gembira pada yang teraih. 

Tentu saya bukannya tidak mengaharapkan anak saya menjadi pemenang. Biarlah…kala dia menjadi pemenang nanti, dia sudah tidak membutuhkan dampingan Bapaknya. Karena pelajaran menjadi pemenang sudah saya ajarkan sejak dari dia jatuh bangun dalam kekalahannya yang memesona itu tadi. Selalu anggun dalam kekalahan, saya rasa sudah menang dengan sendirinya.

 

Iklan

‘LHO’ TUKANG MARTABAK

lup

“Lho… Ga bawa motor?”

Saya kaget, tukang martabak itu mengenal saya?

Saya tidak ge’er dengan mengira dia mengenal saya, karena saya yakin saya memperhatikan partikel “lho” di awal kalimatnya. Misalnya tidak ada ‘lho’ di awalnya, saya rasa dia hanya basa-basi. Tapi dengan ‘lho’, ada sesuatu yang personal disana. Ada keheranan.

Dan di dalam keheranan beliau itu, saya menjawab, “ada pak, saya parkir di dekat gerbang”.

Setelah membayar dan berjalan menuju motor, saya diam-diam mengagumi ketelitian si Bapak Tukang Martabak. Saya jarang sekali malam-malam membeli martabak di pinggir jalan raya itu, terakhir saya membeli di sana kalau tidak salah satu bulan yang lalu. Dan seperti lumrahnya transaksi jual beli pada seluruh tukang martabak di dunia ini; jauh dari keakraban yang personal. Kalaulah ada basa-basi, pasti sifatnya formalitas dan bisa diterka seperti cerita sinetron. Tapi kok ya dalam segala kekakuan yang jarang-jarang itu, Bapak itu bisa tahu kalau saya biasanya kalau beli martabak pake motor. Dan rasanya bukan basa-basi, karena dia menggunakan “lho”. Lho berarti keheranan, dan keheranan selalulah beranjak dari pengamatan yang detail.

Dan untuk telah diperhatikan sebegitu detailnya, dan dianggap sebuah bagian yang personal dalam kehidupan Bapak itu, saya merasa tersanjung juga.

Terlebih lagi, saya adalah seorang yang porak-poranda perhatiannya dalam perkara detail. Dan ini agak-agak mengganggu.

Seperti misalnya dalam lingkungan pekerjaan saya di pengeboran minyak. Orang-orang yang sekian banyaknya itu, nyaris bisa dihitung jari; orang-orang yang saya perhatikan secara personal. Kebanyakan mereka hanya sekedar pemain figuran dalam hari-hari saya. Bukan karena merekanya tidak penting, banyak dari mereka adalah orang dengan strata kedudukan jauh di atas saya, sebagian malah bos saya secara langsung, tapi memang sayalah yang jelek dalam memperhatikan detail.

Baru sekejap saja saya berkenalan dengan orang lain, lalu setelah berlalu saya membatin sendiri, “wah…namanya tadi siapa ya?”, karena perkenalan-pun sudah menjadi sesuatu yang refleks dan tidak lagi personal.

Tapi…ada kalanya saya menyadari bahwa saya juga termasuk pemerhati yang detail. Seperti baru-baru ini. Handphone yang biasa menemani saya membunuh kebosanan di anjungan pengeboran dan dalam perjalanan kerja tiba-tiba saja suatu hari tanpa ada angin tak ada badai, tak ada firasat apa-apa, eh…ada sebuah bintik merah di layarnya.

Mulanya saya agak acuh. Tapi tak lama bintik merah itu mengganggu saya. Padahal, kalau tidak sedang membuka aplikasi dengan background gelap, bintik merah itu tidak kelihatan sama sekali. ini buktinya, “dek…lihat, HP mas ada bintik merahnya”. saya mencari dukungan dari istri saya.

“Mana?”

“ini”

“Mana?”

“Ini lho”

Saya agak heran juga, kok istri saya agak kurang jeli menangkap keganjilan di layar HP saya. Mulailah hari-hari menggunakan HP itu menjadi tidak senikmat biasanya. Mata ini seperti sudah mengatur fokus pada bintik merah kecil yang tidak terlalu kentara itu.

Saya ingat dulu guru saya waktu SMP memberi permisalan. Jika ada seorang guru berdiri di depan kelas dengan batik yang bagus, hampir tidak mungkin kita pulang ke rumah dan bercerita betapa bagusnya batik sang guru, pada orang tua kita. Tapi kalau sang guru tadi mengenakan batik biasa saja, dan ada bolong di belakangnya sedikit, kita pasti akan dengan sigap membeberkan berita itu kemana-mana.

Perhatian saya ya semodel itu saja, fokus pada hal-hal yang tidak prinsipil, jadi keindahan yang lainnya tertutup.

Seperti kejadian di dunia kerja saya lagi. Kebetulan, sekali waktu saya berdampingan bekerja dengan seorang bule yang luar biasa kaku, sok ngebos, dan lagaknya seperti yang paling menguasai area di sana.

Saya kalau boleh memilih sebenarnya enggan berurusan dengan dia. Tapi bagaimana lagi.

Nah…disela-sela waktu luang, saya sering teringat dengan orang itu dan membayangkan betapa tidak enaknya partner dengan dia. Untungnya cepat saya sadar bahwa kebencian yang pelan-pelan ditanam ini pasti nanti berbuah tidak baik, jadi supaya produktif maka harusnya saya rubah saja kekesalan menjadi doa.

Setiap kali saya mengingat dia, maka saya berdoa. Kadang-kadang saya baca Al-Fatihah, lalu setelah itu saya berdoa saja, semoga orang ini menjadi baik. Saya sering geli sendiri membayangkan adegan itu.

Tapi ajaib. Kali berikutnya saya ketemu dia, betapa dia menjadi orang yang ramah dan menegur lebih dulu. Orang ini juga menghampiri dan mencoba bercanda meskipun tidak lucu, atau mungkin sense humornya berbeda dengan saya yang terlalu asia.

Nah….Ini pasti mujarabnya doa saya, saya pikir. Saya senang juga dengan fakta itu.

Tapi tak lama saya sadar, ini bukan perkara doa saya yang asal-asalan itu kemudian menjadi mujarab dan merubah orang lain. Tapi sebenarnya doa itu mengubah saya sendiri.

Karena harapan saya kepada Tuhan agar orang itu berubah menjadi baik, maka ditampakkanlah kepada saya sisi kebaikan orang itu yang selama ini luput dari pandangan saya. Karena saya selama ini memandang orang lain tidak pernah dengan detail. Dan detail perhatian saya hanyalah fokus pada keburukannya. Masih syukur saya dalam berdoa saya tidak mengutuk orang itu, karena boleh jadi orang itu dimata Tuhan jauh-jauh lebih baiknya tinimbang saya.

Menyadari itu saya menjadi lega. HP saya yang ada bintik merahnya itu, memang belum sempat saya bawa ke service center dan klaim garansi, tapi rasanyapun tidak saya perbaiki tak apa juga. Bukan perkara kita membiarkan sebuah ketidak beresan, tapi lebih kepada dalam segala ketidak beresan, pasti masih lebih banyak yang beresnya. Dan ada yang memang dalam kuasa kita untuk memperbaikinya, ada yang semestinya kita geser saja fokusnya kepada yang baiknya.

Dan mengenai orang lain. Saya ingin sekali suatu saat nanti kala bertemu dengan seseorang, sesingkat apapun pertemuan saya dengan orang itu, saya bisa menyapanya dengan sebuah kalimat diawali dengan ‘lho’ yang ber-intonasi keheranan.

“Lho….rambutmu sudah ganti model ya, sekarang? ” misalnya…Sesuatu yang saya rasa sangat personal, dan membuat orang lain merasa menjadi bagian dari konstelasi keseharian saya.

BERBOHONG KEPADA TUHAN

images

Saya ini ternyata sering bohong kepada Tuhan.

Berapa waktu lalu, saya sedang dalam proses perekrutan untuk masuk dalam salah satu BHMN di bidang regulator usaha hulu migas. Perekrutan itu begitu panjangnya, dan sempat pula berapa kali momen tes-nya berbenturan dengan jadwal kerja saya ke lapangan. Tapi alhamdulillah ada-ada saja jalannya sehingga saya bisa mengikuti tes hingga akhir. (Entah itu jadwal tesnya tiba-tiba direschedule berapa kali hingga saya bisa ikut, dll).

Awalnya saya bisa mengikuti tes ini dengan sikap mental yang biasa-biasa saja. Tapi semakin ke belakang, saat kandidat semakin sedikit, dan keberhasilan sudah di depan mata, saya sadar sikap mental saya sudah tidak lagi pasrah kepada Tuhan, melainkan kuat sekali keinginan agar saya lulus.

Saya sadar penuh akan perubahan kejiwaan itu, tapi saya tidak bisa keluar dari suasananya. Begitu besarnya tarikan nafsu itu, saya kewalahan menghadangnya. Awal-awal tes, saya bisa berdoa dengan tulus, “Ya Allah….sekiranya ini baik buat hamba, mudahkan…sekiranya buruk, gantikan dengan yang lebih baik.” begitu menjiwainya saya dengan doa itu, hingga saat jadwal tes berbenturan dengan waktu kerja; saya biasa saja. “ah…takdir Allah begitu”. saya fikir, lalu gulana hilang. Plong sekali rasanya. Eh malah tiba-tiba banyak kejaiban terjadi dan saya sampai pada tahap akhir wawancara.

Tapi saya sudah mulai merasa tak enak waktu tahap akhir tes itu. Mulanya saya berdoa di lisan agar Allah memberikan saya yang terbaik. tapi di sudut sana, di dalam hati saya, setelah saya renungi saya mendengar suara yang lain lagi, yang dengan lantang ingin agar saya lulus.

Saya merenung, apakah saya sudah bohong kepada Allah?? hingga saya akhirnya merubah redaksi doa saya, “Ya Allah…kenapa hati ini condong sekali pada pilihan nafsu saya sendiri?”.

Dan memang pada akhirnya saya tidak lulus. Sebuah ending yang klimaks, setelah segala keajaiban kejadian rasanya tidak bisa untuk tidak ditafsirkan sebagai pertanda baik; nyatanya saya tidak lulus.

Saya melisankan, “Allah tahu yang terbaik.” tapi hati saya sebenarnya sulit sekali menerima. Untuk apa Allah memberikan segala pertanda kebaikan ini, jika diujungnya ternyata saya tidak lulus? Saya cemas sekali, cemas pada kenyataan kejiwaan bahwa saya memprotes takdir Tuhan. bahaya sekali ini.

Selang satu minggu saja, dari pengumuman ketidak lulusan saya itu, BHMN itu dibubarkan oleh MK. saya kaget sekali, meskipun kemudian akhirnya bersyukur “untung saya tidak jadi masuk ke sana.”

Memang pada akhirnya BHMN yang dibubarkan itu tadi hanya berganti nama, situasi kembali stabil, dan beberapa orang kawan saya berhasil diterima bekerja.

Tapi saya sudah mendapatkan pelajaran. Bahwa sebenarnya saya belum bisa total bersandar kepada Allah. Saya sering menipu diri.

Saya lupakan kejadian itu, dan melanjutkan rutinitas seperti biasa saja dengan membawa sebuah pelajaran penting bahwa saya harus menyandarkan segalanya pada Tuhan.

Kemudian Allah mentakdirkan kenyataan yang baru lagi. Tawaran datang bertubi-tubi. Seorang kawan memberikan kontak project manager di negeri antah berantah jika saya ingin mencoba menjadi konsultan di luar negri. Selang berapa lama setelah itu, Kantor saya sekarang menawarkan saya untuk pindah dari engineer lapangan menjadi orang kantoran dengan sebelumnya ditraining dulu ke luar negri. lalu sebuah tawaran dari perusahaan saingan masuk ke email saya (saya sempat menolak tawaran ini, tapi kemudian dikirimkan lagi tawaran dari perusahaan yang sama tapi untuk area asia, bukan sebatas indonesia saja). Mana yang harus saya pilih??

Saya bingung. Dalam kebingungan itu saya lalu berdiskusi kepada rekan saya. Ngobrol-ngobrol dengan istri saya. Telpon orang tua saya.

Tapi setelah itu saya menyesal sekali. Ternyata saya masih juga belum beranjak dari posisi saya yang lama. Saat dihadapkan pada sesuatu, saya belum bisa otomatis mengembalikannya kepada Tuhan. Bukan Allah yang terbetik pertama kali dalam hati saya. Tapi nama seorang teman, tapi pendapat istri, tapi keinginan nanya ke ortu, segalanya ada dalam benak saya kecuali Tuhan.

kalaulah ada Allah-nya. pastilah itu hanya embel-embel. Usaha sudah, maka penutupnya doa. Kenapa Tuhan saya hampiri yang paling terakhir?

Saya bohong kalau saya mengatakan “kembalikan segalanya kepada Tuhan.” nyatanya lagi-lagi makhluk yang ada dalam pikiran saya pertama kali, secara otmatis. Saya belum memasrahkan segalanya kepada Allah.

Tentu saja saya harus berusaha. Dan diskusi pada rekan, pada orang tua, pada istri itu adalah bagian dari usaha. Tapi mestinya usaha itu didasarkan pada sebuah kemengertian hati bahwa tetap saja Allah yang saya gantungi harapan. Tetap Allah yang pertama kali tercetus di hati. Begitu ada sesuatu yang mengganjal atau harus diputuskan, saya tidak ingin ada siapapun yang menghuni ruang hati ini kecuali Tuhan. “Ya Allah…apa yang harus hamba lakukan?” Barulah setelah itu saya bergerak misalnya diskusi dengan orang lain, sambil di hati berharap Allah memberikan pencerahan lewat siapapun yang Dia kehendaki. Sehingga saat misalnya tiba-tiba hati saya mendapatkan kecenderungannya pada salah satu pilihan; lewat jalan berdiskusi dengan orang lain; yang terbetik di hati saya adalah “ya Allah..terimakasih, akhirnya Kau berikan pencerahan lewat orang ini”.

Tapi betapa hal yang begini ini sulit, jika tidak Allah sendiri memberikan rahmat.

Tiba-tiba saya ingat banyak kisah tentang orang yang karena urusan kencing saja jadi disiksa di kubur. Karena salah niat maka masuk neraka. Karena riya maka amal tak diterima. Karena jumawa maka dibalikkan kenyataan dirinya dari seorang abid jadi pendosa. Betapa banyaknya fakta bahwa sebenarnya manusia tidak bisa mencapai Tuhan dengan dirinya sendiri. Begitu banyaknya hal yang dikira sepele tapi ternyata berdampak besar.

Benarlah orang-orang arif yang mengatakan, andaikan kita mengandalkan amal kita untuk bargain dengan syurganya Allah, pastilah orang sedunia ini masuk neraka semua.

Apa yang bisa saya andalkan dari diri saya sendiri?

karena betapa pelik dan musykilnya perjalanan menuju Tuhan itu.

Betapa kacau balaunya penghambaan model begitu. Akhirnya saya duduk, diam, mengaku saja. “Ya Allah…mana mungkin aku mencapaiMu bila bukan Engkau sendiri yang mengantarkan aku padaMu.”

———–

note:

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap akhir shalat

:Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.

[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud)

*) gambar diambil dari sini

MANTRA KEBAHAGIAAN

kebahagiaan

Saya benar-benar merasa beruntung, untuk telah dikelilingi begitu banyak orang-orang yang kebaikan mereka sebegitu tertanam dalam memori saya. Sebagian orang-orang yang saya kenal ini memang sukses secara kasat mata. Misalnya saja rekan-rekan di perkuliahan saya. Saya menjadi saksi bahwa cerita tentang orang-orang dengan latar belakang keluarga seadanya, lalu kemudian berubah menjadi orang-orang sukses karena perjuangan mereka; tidaklah hanya ada pada sesumbar cerita-cerita motivasi. Ini real.

Saya tidak bisa untuk tidak bangga pada mereka. Tentu sedikit iri kadang-kadang juga ada, tapi saya menepis iri itu agar tidak menjadi pemantik untuk sebuah pertandingan yang tak perlu. Orang-orang yang lebih sukses daripada saya, di dalam hati saya, saya daulat menjadi guru kehidupan untuk saya. Tanpa mereka pernah tahu.

Tapi kadang-kadang, saya bisa menemukan kembali kegairahan untuk terus bekerja, tanpa perlu menjadikan iri pada orang lain sebagai bahan bakarnya. Dan sering saya menemukan juga, bahwa saya tidak perlu alasan yang terlalu filsafat untuk menghentikan iri dan pertandingan yang tak perlu dalam kehidupan saya. Cukup saya melihat sekeliling saya, dan saya akan menemukan orang-orang yang tetap berjuang dengan kebaikan dan ketulusan sempurna, tanpa aura kedengkian, iri hati, atau keinginan berpenyakit apapun itu. Meski secara hitung-hitungan sederhananya, saya lebih beruntung daripada mereka.

Keluarga Nenek saya di kampung, selalu menimbulkan kenangan yang baik dan enak. Mungkin saja, saya masih bertahan hidup dalam segala kebaikan kejadian, dan masih diselamatkan dalam segala kekhilafan yang tidak pintar, adalah sumbangsih doa-doa mereka yang tulus.

Waktu saya sedang bertugas di sebuah pengeboran migas di darat, saya lupa persisnya dimana. Jalanan menuju anjungan pengeboran itu dijeda oleh pemandangan gubuk-gubuk yang kecil, dan orang-orang yang melihat dengan tatapan yang tidak bisa saya artikan.

Saya tidak tahan untuk tidak sekali-sekali menoleh dan melihat rumah-rumah kecil yang mereka dirikan itu. Bukan semata soal mereka, tapi juga soal saya sendiri. Kemunculan mereka pada sebuah episode pekerjaan yang sudah demikian memutus memori saya tentang kebaikan orang-orang desa, seakan memanggil-manggil saya. Bahwa ada sesuatu yang harus saya jaga tetap sinambung. Ingatan dan rasa terimakasih terhadap segala yang berjasa. Terhadap keluarga Nenek.

Orang-orang yang saya lihat pada jalanan menuju area pengeboran itu, kalau secara kasaran saja, adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding keluarga Nenek saya. Dan keluarga Nenek saya, mungkin saja adalah orang-orang yang kalah beruntung dibanding saya. Tapi saya membatin sendiri sembari kerja. Ah…apatah keberuntungan itu?

Misalnya saja, saya tahu orang-orang di sekitar area pengeboran itu adalah orang yang mungkin tidak pernah mencecap pendidikan, tapi apa benar mereka tidak bahagia? Ada sebuah kenyataan bahwa mereka sedang berada dalam kehidupan yang bahagia. Versi mereka.

Bangun pagi, bertemu anak istrinya. Bercerita dan tertawa. Menanak nasi. Lalu sama-sama pergi ke kebun lalu menanam lalu memetik. Betapa hidup mereka begitu ramah dan berkelindan dengan alam. Mereka sudah benar-benar membuktikan filsafat rezeki yang dibaca orang-orang kota dari buku-buku di gramedia, ‘burung saja terbang di pagi hari, lalu kembali sore hari dengan perut kenyang”.

Di benak mereka, Tuhan adalah maha pengasih penyayang. Mereka benar-benar sudah menjadi penyaksi. Saat mereka mengatakan “aku bersaksi” maka kesadaran bahwa dunia ini dibanjur oleh welas asihnya Allah, benar-benar mereka rasakan. Tidak menipu.

Ada yang berdebat dalam benak saya. Baru saat itulah saya menyadari sebuah harmoni yang lain lagi. Harmoni itu adalah saat nurani kepahlawanan, kebaikan kita tersentil dengan ketimpangan sosial, lalu dengan semangat kita ingin membantu orang-orang seperti itu, umpamanya dengan pendidikan, dengan mengajari mereka baca- tulis- hitung, kita harus hati-hati menanamkan ide-nya kepada mereka. Dan ide-nya kepada diri kita sendiri.

Ide itu adalah, bahwa mereka sedang berbahagia. Dan kita datang untuk menggenapkan kebahagiaan mereka. Memberi wacana tentang berbagai-bagai model kebahagiaan yang harus dicecap.

Bukan lantas membanting mereka dari suasana kedamaian kejiwaan, “eh… kalian itu sebenarnya tertinggal, lihatlah orang-orang yang sukses, bisa baca, punya rumah, punya mobil, kalian tertinggal…hahahaha…kalian tertinggal….ayo bangun, kejar orang-orang itu.”

Saya yakin, orang-orang yang dipantik geloranya dengan isu klasik ‘ketertinggalan dari orang lain’ akan bisa bangkit. Tapi kebangkitan mereka ini sejatinya berbahan bakar amarah. Saya merasakan, memaksa orang lain untuk bangkit lewat mantra-mantra kemarahan dan dendam atas kesuksesan orang lain; adalah sangat tidak elok. Mereka bisa sukses terlihat pada kasarannya, tapi sebenarnya mereka sedang seperti kesetanan. Berlari terus, berlari terus…untuk tidak pernah menerima kekalahan. Dan yang lebih buruk dari itu adalah mereka belajar membenci kelebihan orang lain. Karena kelebihan orang lain, berarti kekurangan mereka, dan kekurangan mereka adalah tafsir dari tidak bahagia.

Apakah kita yang S2 lantas harus memandang dengan iba kepada orang-orang yang S1, sembari mereduksi kebahagiaan pada tataran gelar  tipuan semata. “Ah…kasihan benar orang-orang yang hanya S1 itu”. Dan siklus ini bisa bergulir seperti bola salju tak terkendali. Yang SMA memandang dengan penuh iba kepada yang tak berpendidikan.

Bukan tak boleh memajukan.Saya setuju tentang membaikkan peradaban. Betapa saya iri pada orang-orang tulus yang membangun negeri ini. Yang melihat mereka saya ingin beringsut hilang saja, sudahlah manusia ini tak ada apa-apanya, dan didalam kekecilan itu rupanya saya masih kecil juga dibanding orang-orang baik itu.

Tapi saya tidak setuju dengan ide bahwa orang-orang yang sedang kita ajak maju adalah orang-orang yang tidak bahagia. Maka mereka hanya bisa kita buat bahagia dengan mengajarkan sebuah lelakon “tidak mau kalah dengan orang lain”.

Saya teringat nenek saya. Tiada pendidikan. Baca tulis beliau tak bisa. Satu-satunya tulisan yang bisa beliau buat adalah tanda tangan beliau. Babak demi babak waktu kakek saya yang kepala sekolah itu mengajari istrinya sebuah tanda tangan sederhana sebagai kelengkapan syarat naik haji, saya ingat sekali.

Saya tahu kakek saya tahu istrinya tiada bisa membaca dan menulis. Tapi ada fakta bahwa kakek tak pernah saya liat memaksa nenek untuk bisa baca tulis. Dan tak pernah saya lihat kakek menatap nenek dengan sebuah pandangan yang mengasihani, karena kakek sadar bahwa kebahagiaan itu bentuknya tidak bisa diraba, dan tidak bisa dipaksa.

Toh saya senang, memiliki memori kakek-nenek yang begitu mesra. Sampai-sampai seloroh ibu saya adalah kalau kakek ingin pergi ke sungai dan hendak buang hajat, itupun dia gelisah mencari-cari nenek dulu. Hendak pamit. Jangan-jangan nanti nenek kebingungan mencari kakek. Betapa drama. Dan betapa nyata. Bahagia.

Tapi kakek juga seorang pemaksa, pada celahnya yang dia rasa tepat. Saya tak boleh minum, tak boleh makan, sebelum saya menamatkan mengeja bacaan pada buku yang dia beri. Kakek mengajari saya segala yang dia tahu.

Saya memberanikan diri berkesimpulan. Bahwa kakek mengajari saya, karena keterpanggilannya sendiri. Karena ingin memberikan wacana kepada saya bahwa ada berjuta-juta keajaiban di luar sana yang bisa saya ketahui lewat jendela aksara.

Tapi kakek tahu, bahwa kebahagiaan saya akan tumbuh lewat pemaknaan saya sendiri. Kebahagiaan nenek akan tumbuh dari penghayatan nenek sendiri. Karena eskalasi kebahagiaan itu bertingkat-tingkat. Tak terdefinisi. Berbagi saja. Sesederhana itu. Tak ada pesan-pesan kebencian. Tak ada mantra-mantra kemarahan. Tak ada pemaksaan kebahagiaan.

Mungkin karena menyadari betul bahwa kebahagiaan itu indah dengan rupanya yang fleksibel itulah, orang-orang desa bisa menjadi lebih spiritualis dibanding saya, dibanding kita.

Saya ingat, berapa bulan sebelum kematian kakek, kakek telah mengurus segala administrasinya, agar kelak saat beliau meninggal nenek bisa menikmati uang pensiun kakek tanpa repot. Kakek tahu nenek buta aksara.

Saya selalu membayangkan adegan opera, waktu nenek dengan kaca-kaca pada matanya mengenang kakek setiap kali mengambil uang pensiun. Kakek meninggal diawali dengan firasat yang indah dan penuh cinta. Firasat yang jarang kita temukan sekarang.

Dan yang terakhir bibi saya di sebelah rumah nenek. Dia saya ingat sebagai seorang yang jarang bicara. Tersenyum seperlunya saja. Suka memberi saya sangu kalau pulang kampung. Dan pekerja keras. Waktu bibi sedang menggoreng pisang dagangannya untuk biaya kuliah anaknya, dan asik ngobrol di depan rumah, tiba-tiba saja dia tergeletak dan wafat. Sebegitu sederhananya. Kata ibu saya waktu melayat, betapa teduh wajahnya.

Kepada orang-orang seperti ini. Saya sering merasa kerdil. Saya tidak mengingat satupun bahwa saya pernah berbuat baik kepada mereka. Sedang mereka dengan segala ketertingalannya yang jujur, selalu mengirimkan SMS bertanya kabar, mengirimkan doa, menjadikan saya sebagai contoh kebaikan untuk anaknya, dan banyak lagi.

Andaikan saja, saya diberikan ketrampilan untuk melisankan apa-apa yang saya fikirkan, saya akan menyempatkan diri, kembali ke sana, dan menggenapkan bakti yang belum tuntas.

Mungkin dengan mengajak mereka untuk menyerap ilmu-ilmu lebih banyak. Wacana-wacana lebih luas. Bukan perkara mereka tertinggal dan tidak bahagia. Bukan perkara ada orang lain yang ada pada puncak harta lalu harus kita gulingkan. Tapi semata urun terimakasih. Karena saya yang telah lancang untuk minim bertegur-tegur. Kepada mereka, dan kepada Tuhan yang telah mengaliri mereka dengan kejujuran yang manis sekali dikenang.

—–

note: gambar diambil dari sini

THE TAO OF LIFE

final

Sirine meraung-raung. Saya mengenakan boot dengan tergopoh-gopoh lalu saya lari kesetanan. Di ujung sana orang-orang sudah berkumpul dan berbaris rapih. Tanpa komando.

Saya masih deg-degan, bukan dengan sederhana, tapi benar-benar berdegup. Anehnya sembari jantung berdegup saya sempat juga mengagumi sebuah keteraturan dalam kerunyaman itu.

Saya teringat pelajaran PPKN oleh Pak Min, dulu sewaktu SMP, bahwa ada tatanan masyarakat yang awalnya merupa chaos tapi kemudian dalam satu moment saja langsung bisa berubah tertib, misalnya kerumunan penonton yang memasuki bioskop, awalnya chaos lalu langsung tertib setelah duduk di bangku. Mirip-mirip dengan kerumunan orang-orang di anjungan pengeboran ini. Satu sirine tanda bahaya berdengung, lalu semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan, lari menuju muster point (tempat berkumpul) di depan gerbang. Seperti hari itu.

Saya membayangkan ada gas semacam H2S yang melesat keluar dari dalam sumur pengeboran, konon gas itu sangat berbahaya, racun pembunuh nomor dua paling ampuh sejagat setelah sianida, dan celakanya lebih berat dari udara sehingga akumulasinya pastilah menghuni sudut-sudut yang rendah, tempat kebanyakan manusia berada, bukan pada awang-awang tinggi yang bersih tempat burung-burung terbang dan tempat mungkin cita-cita imajiner digantungkan manusia.

Cukup sadar dengan informasi itu, maka saya lari semakin kencang, dan setelah sampai pada kerumunan orang yang berbaris rapih seperti Paskibra yang saya ikuti waktu SMP, saya baru sadar bahwa itu cuma drill, cuma latihan menyelamatkan diri saja. Rutinitas yang biasa bagi para pekerja lapangan migas.

Kejadian itu sewaktu saya kuliah. Saya mengambil skripsi dan berkesempatan melihat hiruk-pikuk suasana pengeboran. Siapa sangka, setelah lulus kuliah saya benar-benar tercemplung ke dalam dunia ini. Dan di sini saya menemukan sebuah rutinitas yang perlu tapi menjemukan itu. Jemu tapi perlu. Ya, latihan penyelamatan diri itu lagi. Drill. Bermacam-macam drill. Fire drill. Abandon drill. H2S drill. Nama yang berbeda untuk tujuan yang sama, membuktikan kebenaran pribahasa orang tua-tua dulu, ‘lancar kaji karena diulang’. Tapi peribahasa itu saya rasa mesti ditambahi, ‘lancar mengulang pasti bosan’.

Tentu saja saya sering bosan dengan rutinitas tiap minggu itu, masalahya sering mengganggu jadwal tidur, ini menyebalkan, tapi saya tak bisa untuk tidak setuju atau mangkir untuk tidak hadir. Kita tidak bisa untuk memaksa diri kita untuk tidak menjadi hafal luar kepala kalau rutinitas itu diulang-ulang terus. Pasti hafal.

Begini urutannya: sirine berdentum, lari menuju muster point, kenakan helm, kacamata, dan segala alat keselamatan lainnya, jangan lupa kenakan pelampung bila kita sedang ada di lepas pantai, ambil kartu penanda, lalu berbaris rapih menunggu instruksi. Apakah bahaya teratasi, atau kemungkinan terburuk kita harus meninggalkan area itu, entah dengan kendaraan apa. Semua rutinitas itu diulang terus supaya kita menjadi mahir.

Sewaktu menjalankan latihan itu, untuk menepis rasa bosan, saya mengingat dulu masa-masa sedang tekun-tekunnya berlatih beladiri. Ada momen perulangan seperti itu. “Mengetahui seribu jurus, tapi tiada sering diulang-ulang pasti akan percuma”, begitu kata guru-guru.

Banyak orang yang belajar beladiri kemudian menjadi kecewa pada apa yang dipelajarinya, karena pada realitanya dia belum bisa menerapkannya. Mungkin karena dia belum benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya karena jarang mengulangnya. Maka guru kami kala itu mengajari hal yang sederhana saja, dua atau tiga rangkai gerakan yang disuruhnya kami mengulangnya sekira limaratus kali dalam sehari. Dan saya teringat kata-kata yang dinisbatkan pada almarhum Bruce Lee, “saya tidak takut pada orang yang memiliki seribu jurus yang dipraktekkan satu kali, tapi saya takut pada orang yang memiliki satu jurus dan dipraktekkan seribu kali”.

Kita tidak bisa mencegah bahwa tekhnik perulangan itu ampuh seperti seorang intruder, masuk dengan diam-diam tanpa kita sadari dan menjejalkan suatu nilai-nilai dalam bawah sadar kita. Maka sering sekali orang-orang yang tekun belajar beladiri merasakan kok tidak ada perkembangan berarti pada dirinya, karena berlatih itu-itu saja, padahal tanpa dia sadar kemampuan refleks dan tanggapnya sudah di atas orang-orang kebanyakan. Keajaiban perulangan.

Saya mengagumi sekali fakta ini. Meski saya sering bosan sekali pada latihan penyelamatan diri saat saya bekerja, itu dalam hal pekerjaan, lainnya lagi adalah setelah bekerja saya hampir tidak pernah mengulang satupun tekhnik beladiri yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Tapi saya masih mempercayai keajaiban perulangan itu.

Tapi ada bahaya besar yang mengancam, apabila perulangan terus menerus membuahkan gerak refleks dalam hidup kita. Bahaya itu adalah bahwa semakin sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks, maka kita akan kehilangan detailnya, dan yang lebih menyedihkan dari kehilangan perhatian terhadap detail adalah kita kehilangan nilai-nilai.

Saya sering mendengar keluhan yang jamak dialami kawan-kawan, hidup ini begitu menjemukan karena segalanya sudah menjadi gerak refleks. Saya juga merasakan kehampaan itu. Bagi orang-orang kantoran, refleks itu bernama bangun tidur pagi-pagi sekali, pergi kerja, menanti waktu pulang, pulang kerja, dan tidur lagi. Betapa siklus itu menjemukan karena sudah tidak lagi memerlukan proses berfikir. Kita hampir lupa kapan kita mandi, kapan kita memakai sepatu, lalu tiba-tiba saja sudah berada di kantor. Tiba-tiba lagi kita sudah ada pada kendaraan di tengah kemacetan sore. Dan tiba-tiba lagi hari sudah malam, kita tidur sambil cemas-cemas sedikit karena sebentar lagi pagi. Lalu rutinitas berulang, kita mengikuti saja refleks kehidupan. Cepat memang, tapi ada yang hilang, rasa, nilai-nilai. Sesuatu yang refleks hampir selalu berjalan tanpa ketelitian niat.

Kehampaan seperti ini memang membunuh. Sebelum kejiwaan menjadi benar-benar mati, saya paham harus ada yang dibenahi. Kita harus melarikan diri dari kondisi ini. Contoh melarikan diri yang terhormat adalah pergi menyusun siasat, lalu kembali untuk masuk lagi ke gelanggang. Dan spiritualitas harusnya menemukan peranannya disini. Memberi ruang kontemplasi untuk kemudian dipakai lagi membenahi kehidupan.

Saya merasakan harusnya kita menemukan pelipur itu pada ritus-ritus keagamaan kita. Saya muslim maka saya sholat, tentu saja. Tapi keanehan itu kembali terjadi, boro-boro sholat saya menjadi pelipur pada hidup yang menjemukan, karena ternyata saya sudah demikian refleks juga melakukan sholat. Saya takbir, lalu semua menjadi serba otomatis, tiba-tiba saja saya sudah salam. Begitu terus. Ritus keagamaan yang seperti ini saya sadari tidak mungkin membawa dampak secara nyata.

Bahwa tetap melakukan peribadatan meski belum bisa total; saya setuju. Tapi berusaha memperbaiki kesalahan peribadatan kita, saya fikir juga utama. Yang salah tentu bukan seremoninya, tapi kitanya. Saya yang salah.

Beruntung, saya bertemu dengan seorang guru lagi, yang menyadarkan saya akan sebuah potongan kenyataan lagi. Bahwa tidak semua dalam kehidupan ini harus kita jalani dengan refleks.

Di dalam sholat, istilah itu dikenal dengan nama ‘tuma’ninah’. Jeda sejenak. Agar segalanya tidak tergopoh-gopoh.

Kalau perulangan yang membuat kita refleks adalah penting untung meningkatkan kecepatan respon kita terhadap sebuah keadaan, maka tuma’ninah menjadi sisi pedang satunya yang meningkatkan kesadaran kita akan nilai-nilai dari sesuatu yang sedang kita kerjakan. Menjadi mahir itu penting, tapi sadar penuh akan apa yang kita mahiri, dan menjadikan kemahiran kita itu sesuatu yang bernilai; juga luar biasa perlu. Dua-duanya penting.

Rukuk hingga punggung menjadi lurus dan luruh, duduk iftirasy yang kontemplatif, dan sujud yang merendah dan menikmati, adalah sedikit dari tuma’ninah itu.

Saya pikir ide ini juga bisa diterapkan untuk perjalanan menuju kantor dengan memperhatikan setiap detailnya. Pokoknya kontemplatif dan memperhatikan detailnya. Berterimakasih untuk pagi yang cerah, menaiki bus kota dengan  duduk di pinggir jendela dan menyeksamai pemandangan yang berseliweran, tiba di kantor dengan sepenuh kesadaran akan detail-detail ruang dan kesyukuran akan kesempatan bahwa kita telah menjadi berharga dengan bekerja dan menghidupi anak istri, lalu pulang dengan gembira setelah menutup bab hari itu dengan rencana esok hari. Semua kita amati detailnya agar tidak menjadi gerak refleks.

Satu hal yang membantu kita menyisipkan nilai-nilai dalam kehidupan kita, mungkin doa. Doa-doa dalam literatur keagamaan kita banyak sekali. Tentu dengan alasan mengikuti contoh Nabi Mulia, kita harus melakukannya. Tapi lepas dari kecintaan kita kepada junjungan, lepas dari pahala, saya mendengar kata guru-guru bahwa memulai segalanya dengan doa yang sungguh-sungguh adalah semacam upaya menghentikan laju kehidupan yang terlampau refleks, dan menjadikannya setiap potong kehidupan kita sebuah peribadatan yang sepenuh kesadaran kita lakukan. Memberi nilai-nilai dalam setiap potongan kehidupan kita ini bisa dimampatkan dalam satu kata, Niat. Dan niat ini mestilah dijaga agar sinambung, tidak Cuma di awalnya, melainkan pada keseluruhan perjalanan kita. Itulah kenapa kita perlu tuma’ninah.

Saya senang sekali mengingat pesan guru saya dulu, serangkaian jurus yang kita lakukan itu mestinya semisal ombak. Ada kalanya cepat, ada kalanya lambat. Seperti kebijakan universal yang kita sama-sama kenal itu, selalu ada harmoni dalam hidup.

 

————

gambar dikopi dari sini

PAK-LIK (MENEMBUS BATAS 3)

Man_-_old_man_silhouette

Siapa saja yang mendengar kata “Pak-lik” akan tahu bahwa itu adalah panggilan ala Jawa. Semacam “Om”-nya bahasa Indonesia tapi dengan pengkelasan. Dengan Grading. Bahwa orang yang dipanggil Pak-Lik tadi, adalah orang yang secara strata umur mestilah dibawah Bapaknya yang memanggil.

Nah…Pak-Lik ini, tetangga saya di Sumatera.

Hidup di sumatera, tetapi dengan Bapak yang Jawa, saya merasakan hidup dalam sebuah keterjepitan budaya. Kalau-kalau ada orang yang kebetulan dari Jawa lalu dengan kejamnya berbahasa Jawa kepada saya, maka saya langsung berkata “wah…aku ndak bisa ngomong Jawa Mas, tapi kalau Mas-nya ngomong aku ngerti.” Tentu saja kalimat terakhir tadi hanya sebagai poles-poles belaka, agar fakta bahwa saya terlahir dari seorang Bapak yang Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa; tidak terlalu kentara.

Fakta kedua, saya sering lupa kalau orang bertanya berapa umur Bapak saya. Ini serius. Mengingat tanggal lahir adalah pekerjaan sangat tidak umum di keluarga saya, maka kalau ada orang yang bertanya berapa umur Bapak saya, saya akan meraba-raba dulu baru menjawab asal saja.

Yang jelas Pak-Lik, tetangga saya, Orang Jawa seperti Bapak saya, saya tahu pasti umurnya lebih muda dari Bapak. Di rumah Pak-Lik, saya menikmati sebuah penampilan budaya yang sama sekali berbeda dari keluarga saya yang blasteran. Mereka orang Jawa tulen, suami istri. Anak-anaknya terlahir dengan paras yang sangat njawani. Bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Dan banyak lagi yang saya lihat sangat Jawa. Sesuatu yang saya jarang temukan di rumah saya, saya katakan jarang, tetapi saya tidak asing.

Ibu saya sumatera. Maka saya lahir dan besar dalam segala kepolosan Sumatera; yang enak katakan enak, tidak katakan tidak, tapi ada unggah-ungguh ala Jawa di rumah saya. Kutub medan magnetnya ialah Bapak, tentu saja.

Dan meskipun Bapak tidak pernah berbahasa Jawa dengan saya, dengan adik-adik saya, dengan Ibu saya, tetapi saya menjadi paham bagaimana sebagian masyarakat kita rupanya sering menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan sangat baik, dan kita harus menjadi semacam ahli perang untuk membacanya.

Bapak adalah orang yang menyembunyikan kekesalannya dan masih bisa bersopan-sopan kepada orang yang membuatnya kesal, misalnya. Atau menyembunyikan nasehatnya dalam kata-kata yang berkias-kias, tidak sastrawi memang, tapi hampir pasti jarang to the point, harus ditebak dulu. Itulah, saya sering bingung bila beliau marah, padahal saya tidak tahu apa penyebab marahnya.

Maka saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba melihat lagi selapis demi selapis apa sebenarnya yang terjadi. Ini yang saya dapati pada kultur orang-orang Jawa. Sesuatu pastilah tidak sesederhana sebagaimana sesuatu itu terlihat. Mungkin orang Jawa mewarisi sun tzu.

Jadi waktu kadang-kadang berkunjung ke rumah Pak-Lik dan numpang nonton TV –waktu itu saya tak punya TV- saya sudah menduga bahwa pasti ada juga permainan penyembunyian perasaan itu.

Sekali waktu, saya dengar Pak-Lik bercerita tentang pekerjaannya di penambangan batubara. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang ranjang dari kayu yang dibuatnya dengan tangannya sendiri. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang pelapon rumahnya yang dibuat seperti ala candi terbalik dengan teras berundak-undaknya itu. Sekali waktu tentang sepatu boot-nya. Sekali waktu tentang kolam belakang rumahnya yang dibuat dengan model pematang meninggi; yang tidak umum di antero lingkungan saya, dan macam-macam lagi.

Saya, anak kecil itu, merasa sudah memiliki alarm awas terhadap segala permainan penyembunyian makna, maka saya sok-sok menilai dengan hati-hati. Apakah benar Pak-Lik ini hebat membuat kerajinan dari kayu? Apakah benar Pak-Lik ini sedang bercerita tentang rumahnya yang dibuatnya dengan tangannya sendiri? Apakah Pak-Lik seorang pembuat kolam ikan yang digdaya? Lalu di ujung simpulan, saya menebak-nebak dengan teori konspirasi, bahwa Pak-Lik menceritakan segala kelebihannya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia seseorang yang marjinal. Pasti Pak-Lik ingin terlihat hebat. Karena menurut saya pastilah Bapak saya lebih hebat daripada Pak-Lik. Ada aroma tidak ikhlas yang saya cium dari ceritanya. Begitu fikir saya.

Beliau hidup di sudut komplek. Tukang pos selalu kesulitan menemukan rumahnya. Di belakang rumah sudah dihuni oleh lebatnya hutan-hutan bakau dan kecipak ikan dari rawa-rawa. susah untuk tidak mengatakan beliau orang yang marjinal.

Dan sebuah kenyataan bahwa Pak-Lik bertetangga dengan saya, sama-sama hidup di sudut komplek yang tua, menghasilkan sebuah fakta lagi bahwa sebenarnya keluarga saya dan Pak-Lik sama marjinalnya. Ini membuat saya kesulitan menentukan grading.

Tetapi saya pikir, kan pekerjaan Bapak saya seorang PNS, sedangkan Pak-Lik murni swasta, dan rumah kami tidak se-menyelempit rumah Pak-Lik, maka rasanya secara struktural yang tidak kasat mata, keluarga kami lebih mantap sedikit dibanding Pak-Lik. Mungkin itu juga alasannya kenapa secara otomatis keluarga kami memanggil beliau dengan sebutan Pak-Lik. Inilah kesimpulan saya yang agak prematur.

Tapi sebenarnya, di luar segala permainan sandi-sandi perasaan model Jawa ini, saya mengagumi keduanya. Baik Bapak maupun Pak-Lik. Kalau kita lepaskan dulu status pekerjaan mereka, lalu mengamati mereka dengan jujur, kita akan sepakat bahwa mereka berdua adalah pekerja keras. Kepala rumah tangga yang baik. Baik Pak-Lik maupun Bapak saya, dua-duanya membangun rumah dengan tangannya sendiri.

Ini bukan kata-kata kiasan. Membangun rumah dengan tangannya sendiri adalah makna seharfiah-harfiahnya. Tentu dalam hal ini ada tangan orang lain yang membantu. Misalnya tangan saya.

Saya ingat waktu kecil dulu sering dibentak Bapak agar lebih cekatan dan tidak loyo dalam mengangkat batu-batu bata, dalam mengaduk semen. Saya lalu cekatan sebentar lalu loyo kembali kalau lama tak dimarahi. Kadang saya bermain-main di sela kesibukan saya membantu Bapak. Dan dalam segala ketidak pedulian itulah kadang-kadang ada episode yang terlewat dari masa kecil saya. Dan kita semua tahu, episode yang tidak utuh dari kehidupan kita bisa berujung pada sadisme. Sadisme itu bernama kesimpulan hidup yang tidak dewasa, mengerikan sekali bukan? Untungnya kadang-kadang Bapak mau membagi episode yang terlewat dari mata saya itu.

Misalnya, Bapak bercerita bahwa ilmu bangunan yang beliau miliki adalah ilmu “curi-curi” dari membantu pendirian musholla dekat rumah. Saat orang-orang gotong royong Bapak ikut membantu, dan dari sana mendapatkan sedikit ilmu untuk membangun rumah. Saya mengagumi sekali kehebatan bapak dalam mengkopi ilmu. Saya waktu itu membayangkan Bapak sebagai model orang yang waskita, sekali liat maka bisa meniru.

Praktek membangun rumah dimulai. Pembuatan pondasi lancar. Menumpuk bata di atas pondasi lancar. Merakit besi-besi lancar. Saya menikmati proses itu dengan kadang-kadang melihat saja, kadang-kadang sok membantu. Tapi saat akan mengecor bagian atas dinding, Bapak rupanya mengalami kendala.

Sudah di-gojrok semen dan batu koral ke dalam papan pembatas di dinding itu, tapi semennya malah terjun bebas dari sela-sela growong antara papan dan batu bata.

Ah…coba lagi.

Dicoba lagi tapi hasilnya tetap sama. Berulang kali dicoba dan tetap sama. Bapak gagal mengecor. Hari sudah menjelang sore.

Teronggok lesu Bapak saya waktu itu. Sudah kepalang tanggung membikin rumah sendiri. Sudah bergaya model pemberani dan tangguh waktu ditanyai tetangga ‘kok ya mbikin ga pake tukang?’ Bapak ‘menjawab biar lebih puas hasilnya’. Ternyata sore hari itu Bapak harus berhenti karena masalah sepele pengecoran yang gagal.

Saya memang baru mendengar lagi cerita itu waktu saya sudah tamat kuliah kalau tak salah, dan saya membayangkan semangat yang jatuh itu semisal kebuntuan pada satu babak skripsi. Saya paham sekali bagaimana mencelosnya perasaan kita.

Cerita berlanjut, tiba-tiba dari belakang Bapak ada suara yang memanggil. Rupanya Pak-Lik. Mereka berbincang dalam bahasa Jawa yang saya sebenarnya mengerti tapi tak usah kita tuliskan di sini.

Pak Lik membantu dengan cekatan. “wah…Gampang iki mas, ayo tak bantu.” Dengan sigap Pak-Lik menambal growong-growong pada bilah papan dan bata; dengan kertas-kertas semen. Lalu setelah semua growong tertutup maka diguyur sadis dengan semen coran. Bapak mengira kertas semen itu tidak mungkin bisa bertahan, tapi rupanya sukses besar.

Satu ganjalan dalam babak dalam pembuatan rumah akhirya terlewati.

Saya mulai pelan-pelan merubah pemaknaan saya terhadap Pak-Lik. Saya mengerti benar bahwa Pak-Lik di dalam hatinya tahu bahwa Bapak saya adalah sebagaimana pula dirinya. Merasakan beban yang besar untuk bisa menghadapi semuanya dan lalu menampilkan sisi paling mencerahkan dari keseharian mereka. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada yang bergolak.

Saya tahu bahwa Bapak saya berterima kasih kepada Pak-Lik dengan episode itu. Dan saya tahu pula, bahwa Pak-Lik dengan caranya sendiri mungkin menemukan juga semangat dirinya saat menyadari bahwa yang berjuang tidak cuma dia.

Tapi Pak-Lik mungkin sekarang sudah lupa sama sekali dengan kejadian ini. Mungkin menerapkan model keikhlasan tingkat tinggi ala para sufi; Lakukan, lalu lupakan. Saya tak pernah mengungkit cerita bantuannya yang sepele tapi berimbas besar itu. Dan saat kadang-kadang pulang mudik ke rumah; saya juga jarang berkunjung ke rumah Pak-Lik karena saya sekarang sudah ada TV tentu saja.

Saya berterimakasih kepada keduanya. Kepada Pak-Lik atas bantuan kecilnya untuk Bapak saya. Lalu kepada Bapak untuk telah menggenapkan puzzle yang hilang dari rekaman saya tentang Pak-Lik dan apa-apa saja yang di baliknya.

Rupanya, sebelum melihat menembus batas-batas, kita haruslah melihat dengan jujur kepada diri kita sendiri. Segala anasir keburukan dari jiwa kita, bisa membuat kita salah memandang yang tidak semestinya.

Dan tiba-tiba saya merasa dikelilingi banyak Sun-tzu.

 

 

 

——–

note:

gambar diambil dari sini

 

METAFOR ORANG-ORANG SUCI

“ini suasana batin terparah sepanjang sejarah aku kerja.” Begitu kurang lebih kawan saya yang tambun itu suatu hari bercerita lewat chatting.

Saya paham betul situasi seperti beliau itu, maka saya selalu sigap saja menyambut handphone saat ada notifikasi masuk, entah itu chatting, entah panggilan voice call skype. Dalam batin saya, saya sebenarnya tidak sedang menolong orang lain, saya sedang menolong diri saya sendiri. Ada bagian episode yang sama, sekarang sedang dirasakan rekan saya di ujung dunia sana. Maka saya sigap untuk bercerita apa saja sampai hal-hal yang tak penting sekalipun.

“Biar kutebak, meskipun kamu sudah deg-degan setengah mati, tapi istrimu pasti sebenarnya tidak paham seberapa mengerikannya bayangan yang ada di benakmu sekarang?” kata saya sambil setengah tergelak. Dia tergelak juga, padahal sejatinya saya menertawakan sebuah ironi. Ironi itu adalah kenyataan bahwa sayapun terkadang amat sering kesusahan menjelaskan apa yang benar-benar saya rasakan kepada orang-orang terdekat saya, katakanlah kawan dekat saya, atau istri saya misalnya, atau orang tua saya umpamanya.

Dan pekerjaan kami sebagai seorang engineer lapangan migas, membuat saya menyimpan segudang cerita tentang rasa yang bukan main sulit saya bahasakan. Ini satu contoh sepele saja, setiap kali saya harus pergi ke suatu tempat yang baru, yang saya belum kenal, di antah berantah pengeboran, dan meninggalkan keluarga, pasti saya merasa sangat labil. Dan itu juga yang rekan saya tadi alami saat kali pertama dia harus menjejakkan kaki ke Afrika, sebuah wilayah yang jauh lebih tertinggal dari bayangan dia. Dia mengalami kecemasan yang akut, dan saya paham itu. Saya sebenarnya tidak sedang memahami dia, tapi saya sedang berusaha memahami diri saya sendiri.

Disaat saya sedang mengalami kecemasan pekerjaan itu, segala upaya untuk menghadirkan cerita yang utuh megenai apa yang saya rasakan itu menjadi sia-sia. Istri saya misalnya, dia menganggap hal yang lumrah saja bahwa saya mengalami semacam kekalutan yang biasa. Karna raut wajah saya seperti biasa. Bagaimanapun saya harus menampilkan perwatakan yang pejal, kepala keluarga tidak selayaknya terlihat galau, saya mencontoh itu dari karakter keras Bapak. Tapi kadang-kadang ada waktunya saya ingin sejenak ada orang yang bisa menangkap pergolakan batin saya. Tentu bukan sekedar urusan pekerjaan, tapi pergolakan batin apa saja. Dan di saat istri saya, orang tua saya, belum dapat menangkap apa yang saya sampaikan, saya mulai berfikir ada yang salah. Terlebih rupanya saya tak sendiri, senior-senior saya, junior-junior saya, rekan saya dari negara lain, mengalami kegamangan yang sama.

Ini bukan mengenai orang lain yang salah, tetapi rasa kebahasaan manusialah yang salah. Saya mencatatat frase ini dalam-dalam, dan mungkin sebagian kawan-kawan setuju pula dengan ini; tidak selamanya manusia bisa membahasakan rasa lewat kata.

Itulah mengapa manusia menciptakan idiom-idiom. Permisalan-permisalan.

Penyair-penyair kita ambil contoh, di luar sisi ndak masuk akalnya, saya rasa mereka sudah menemukan hal yang saya rasakan ini jauh-jauh hari. Memang ada orang-orang yang diberikan ketrampilan mengunyah-ngunyah kenyataan hidup, lalu menuliskannya lewat jemari mereka, atau menceritakan ulang dengan bahasa yang renyah sampai orang mengerti dan meresap betul apa yang mereka katakan. Tapi orang-orang semacam ini pun harus menyerah saat mereka menemukan jalan buntu dimana di titik itu sebuah keindahan, sebuah kegetiran, atau apapun rasa yang mereka alami tidak mampu diceritakan ulang dengan benar. Bukan karena merekanya tidak maestro, tapi memang bahasa manusia terbatas. Dan memang kenyataan yang memaksa kita untuk tidak mampu berbahasa itu ada.

Itulah mengapa, kita tidak pernah protes dengan frase nyiur melambai, dengan frase matahari bulat menggelinding dan mati dalam ketuaannya yang memilukan, dengan frase awan-awan putih diseret-seret angin, dengan frase permisalan yang jutaaan kali lebih tidak masuk akal, kita tidak akan mendebat, hanya orang tolol yang mendebatnya. Kita cukup diam, dan rasa kemengertian kita saja yang menerima. Ooooh…..betapa indah gugusan nyiur yang dimaksud dia, Oooh betapa syahdu suasana sore yang dilihat kawan penyair kita itu, oooh….betapa rapih guliran awan-awan yang dipandang kawan kita itu. Kita akan menerima itu jika kita tidak memandang pada kata-katanya lagi, tapi pada batin kita sendiri. Ini masalah rasa, kawanku.

Dan berangkat dari sebuah perasaaan galau saya sendiri, lalu berpindah pada ketakjuban bahwa konsensus manusia seperti membenarkan bahwa banyak hal tak bisa diungkapkan dengan lisan dan tulisan. Saya akhirnya baru mengerti, kenapa banyak sekali spiritualis dan para guru-guru kehidupan di dunia ini, yang disalahpahami. Kenapa? Karena yang satu sudah berjalan luar biasa jauh dan terbentur pada kerdilnya bahasa manusia untuk mewakili keajaiban rasa. Sedang yang satunya baru berjalan berapa tapak, dan belum pernah mengerti bahwa di dunia ini ada yang namanya metafora. Dengan fakta seperti ini, kita harus berada pada posisi paling netral yaitu memahami keduanya.

Ada satu pelajaran, yang baru-baru ini saya petik dari orang-orang arif. Pelajaran dari orang-orang yang hati-hati sekali menyampaikan apa yang mereka ingin beritahu, karena takut-takut yang mendengar salah paham.

Pelajaran itu adalah bahwa laku manusia, seumpama amal ibadah, itu sejatinya disetir oleh ahwal-ahwal, oleh suasana-suasana batin, oleh kondisi hati.

Saya mendengarkan sepotong kalimat itu dengan biasa saja. Oke, fikir saya, amal disetir oleh ahwal, lalu apa pengaruhnya pelajaran ini?

Belakangan saya baru mengerti, bahwa ihsan, bahwa sebuah kenyataan lebih dalam dibalik seremoni ibadah manusia, sebuah rekam batin yang “merasa” melihat Tuhan, atau kalaulah tak bisa melihat Tuhan maka selalu membayangkan Tuhan melihat dia; adalah level rasa tingkat wahid.

Dan orang-orang yang berada pada posisi ini terkadang saya temukan lebih banyak diamnya daripada ngocehnya, karena halus sekali delik perkara yang mereka kuasai itu.

Saya ulang lagi dalam fikiran saya, bila laku amal ibadah kita disetir oleh ahwal (suasana batin kita, kondisi ruhaniah kita, atau apalah istilahnya), lalu kenapa?

Lalu…. kata orang-orang arif itu, janganlah memaksa Tuhan, mengojok-ojok Tuhan istilahnya, agar memindahkan posisi keruhanianmu pada level yang lebih mantap. Karena Tuhan lebih tahu. Karena sesuatu yang tidak ditekuni itu ndak mungkin meresap pada dirimu.

Wah…. ini semakin tidak masuk di akal saya. Saya ingin mendebat, tapi teringat tentang pelajaran adab-adab, saya duduk diam dan mendengarkan.

Begini, ternyata. Ambil contoh cerita yang merakyat saja. Seorang wali songo, entah sunan apa namanya saya lupa. Suatu kali pernah menangis sesenggukan. Lamaaaa sekali beliau menangis. Apa pasal? Sederhana saja, tidak sengaja beliau terjatuh, lalu dalam terjatuhnya itu refleks menggenggam rerumputan di jalan hingga tercerabut. Karena mencabut rumput tanpa alasan syar’i itulah beliau menangis.

Dan saya langsung makjleb di hati. Ya Allah….ini dia. Sesuatu yang bergejolak di hati sang guru kita itu adalah sesuatu yang mencapai tingkatan rumit untuk kita ceritakan dengan bahasa. “saya ini menangis karena merasa sedih yang melilit-lilit hati, seperti dihujam dengan palu godam” Nah… semakin dibahasakan semakin runyam dan belum tentu orang paham. Itulah ahwal. Itulah kondisi ruhani. Itulah mental spiritual. Itulah ihsan. Dan mestinya kita itu menjadi orang yang selalu menelisik sesuatu yang menjadi asbab musabab laku sang sunan itu tadi. Bukan menelisik tindakan luarnya.

Misalnya kita sama-sama paham bahwa sang sunan adalah orang shalih yang doanya menggetarkan arasy Tuhan. Lalu kita melihat bahwa ada fakta sang sunan menangis karna mencabut rumput. Lalu karena kita ingin soleh lalu kita ikut-ikut juga mencabut rumput lalu meraung-raung kesetanan. Dan merasa sudah ada pada pencapaian spiritual adi luhung. Sudah paripurna. Ya ndak masuk di akal.

Karena ada sesuatu yang berbeda yang mendrive kita dengan beliau. Beliau-beliau itu berbuat seperti itu karena di drive oleh sebuah kesadaran batin yang beliau temukan lewat perjalanan maha panjang. Lewat ketundukan yang paling merendah. Hingga beliau dapat rasa itu, dan tidak bisa lagi menceritakannya. Mungkin kita dan dia sama-sama menangisnya, tapi nilai di sisi Tuhan tidak pernah sama.

Saya lalu semakin ingin meringsek dan mundur sambil jongkok-jongkok hormat ala abdi dalem keraton itu, membayangkan para pendahulu kita, para orang-orang shalih guru negeri ini, khulafaur Rasyidin, dan Nabi Mulia Muhammad. Panjang sekali anak tangga pemisah kita dengan mereka.

Lalu misalnyapun, dalam suatu ketika kita mendapatkan rasa itu, tidak serta merta kita menjadi setingkat mereka. Contoh saja. Pastilah suatu ketika dalam babak hidup kita, kita pernah merasa sangat haruuuuuu dalam beribadah. Misalnya sujud berasa enaaaak sekali. Kita menangis. Kita merasa dekat dengan Tuhan. Kita syahdulah pokoknya. Pada titik itu, kita juga mengalami kondisi ruhani yang serupa dengan para wali, dan Orang-orang luar biasa itu, bunga-bunga dalam hati kita sama-sama mekar oleh rasa kedekatan dengan Tuhan, katakanlah begitu. Tapi apakah kemudian kita menjadi setingkat mereka dalam tataran keimanan? Tidak juga. Karena mereka mengalami perasaan itu berkelanggengan. Artinya mereka ada dalam suasana ihsan itu terusssss menerussss sedang kita sekejab-sekejab lalu hilang.

Makanya guru-guru kearifan tidak menyarankan kita hantam kromo meniru lelaku orang-orang shalih tingkat tinggi dengan metafora ibadahnya yang tak masuk akal itu. Bukan tidak boleh. Tapi belum sekarang. Bukan tak usah berjuang keras, tapi maksudnya semata agar lelaku yang cocok dengan kondisi saat ini; kita fahami dulu sampai meresap tak Cuma kulitnya. karena kita belum nemu, karena kalau membabi buta kita pasti berhenti karena letih dan lelah yang tak perlu. Mbok ya yang sesuai dengan dengan fase kita dulu, dan mbok ya naiknya bertahap.

Dan inilah yang saya saluti, dari pribadi Nabi, dari cerita yang saya temukan dari orang-orang arif tadi. Betapa panduan menapaki jalan pulang ini, jalan ketundukan ini, sudah diset untuk segala lapis tingkatan manusia.

Sholat 5 kali semata. Zakat 2.5% belaka. Puasa di ramadhan, Cuma. Karena Beliau SAW paham betul umatnya beragam-ragam. Mungkin dari titik inilah kita mesti melangkah dan menemukan kondisi seperti yang ada pada orang-orang mengagumkan itu. Sampai kita merasakan juga, gejolak batin yang tiada bisa dibahasakan lewat susatra manusia, barulah kita bisa mengerti kemusykilan sang sunan yang menangis meraung mencabut rumput, sang Abu Bakar yang bersedekah sampai ludes hartanya, Ali Ibn Abi Thalib yang tidur berselimut kain hijau menggantikan Nabi kala dikepung di rumahnya, Nabi Ibrahim yang bahkan enggan berdoa dan menolak bantuan Jibril saat akan dilontar ke dalam api menyala-nyala, Syaikh Abdul Qadir Jailani yang selepas isya bertahannuts hingga subuh lalu sholat subuh dengan wudhu sholat isya-nya, dan berbagai kemusykilan lainnya.

Maka mensyukuri pengertian-pengertian yang diberikan Tuhan pada kita saat ini lewat laku-laku yang sesuai dengan kondisi kita adalah langkah pertama. Nanti sekiranya tekun dan rajin menelisik yang lebih dari sekedar ritus-ritus pada seremoni ibadah kita, akan ditempatkan pula kita oleh Tuhan pada rasa yang semakin memaksa kita membuat banyak metafora. Dan metafora itu mungkin merupa peribadatan yang fantastis dan tak masuk akal umumnya.

Tapi sebelum itu, jangan dulu sedekah brutal sampai tak sisa lagi uangmu. Jangan dulu menangis ga jelas waktu menginjak ilalang-ilalang pinggir jalan itu. Karena kita belum mengerti gejolaknya rasa di hati, belum bertemu kondisi-kondisi yang membuat frase berhenti dan kemampuan bercerita mati, bagaimana hendak membuat puisi?

ah… betapa metafora mereka mempesona.