METAFOR ORANG-ORANG SUCI

“ini suasana batin terparah sepanjang sejarah aku kerja.” Begitu kurang lebih kawan saya yang tambun itu suatu hari bercerita lewat chatting.

Saya paham betul situasi seperti beliau itu, maka saya selalu sigap saja menyambut handphone saat ada notifikasi masuk, entah itu chatting, entah panggilan voice call skype. Dalam batin saya, saya sebenarnya tidak sedang menolong orang lain, saya sedang menolong diri saya sendiri. Ada bagian episode yang sama, sekarang sedang dirasakan rekan saya di ujung dunia sana. Maka saya sigap untuk bercerita apa saja sampai hal-hal yang tak penting sekalipun.

“Biar kutebak, meskipun kamu sudah deg-degan setengah mati, tapi istrimu pasti sebenarnya tidak paham seberapa mengerikannya bayangan yang ada di benakmu sekarang?” kata saya sambil setengah tergelak. Dia tergelak juga, padahal sejatinya saya menertawakan sebuah ironi. Ironi itu adalah kenyataan bahwa sayapun terkadang amat sering kesusahan menjelaskan apa yang benar-benar saya rasakan kepada orang-orang terdekat saya, katakanlah kawan dekat saya, atau istri saya misalnya, atau orang tua saya umpamanya.

Dan pekerjaan kami sebagai seorang engineer lapangan migas, membuat saya menyimpan segudang cerita tentang rasa yang bukan main sulit saya bahasakan. Ini satu contoh sepele saja, setiap kali saya harus pergi ke suatu tempat yang baru, yang saya belum kenal, di antah berantah pengeboran, dan meninggalkan keluarga, pasti saya merasa sangat labil. Dan itu juga yang rekan saya tadi alami saat kali pertama dia harus menjejakkan kaki ke Afrika, sebuah wilayah yang jauh lebih tertinggal dari bayangan dia. Dia mengalami kecemasan yang akut, dan saya paham itu. Saya sebenarnya tidak sedang memahami dia, tapi saya sedang berusaha memahami diri saya sendiri.

Disaat saya sedang mengalami kecemasan pekerjaan itu, segala upaya untuk menghadirkan cerita yang utuh megenai apa yang saya rasakan itu menjadi sia-sia. Istri saya misalnya, dia menganggap hal yang lumrah saja bahwa saya mengalami semacam kekalutan yang biasa. Karna raut wajah saya seperti biasa. Bagaimanapun saya harus menampilkan perwatakan yang pejal, kepala keluarga tidak selayaknya terlihat galau, saya mencontoh itu dari karakter keras Bapak. Tapi kadang-kadang ada waktunya saya ingin sejenak ada orang yang bisa menangkap pergolakan batin saya. Tentu bukan sekedar urusan pekerjaan, tapi pergolakan batin apa saja. Dan di saat istri saya, orang tua saya, belum dapat menangkap apa yang saya sampaikan, saya mulai berfikir ada yang salah. Terlebih rupanya saya tak sendiri, senior-senior saya, junior-junior saya, rekan saya dari negara lain, mengalami kegamangan yang sama.

Ini bukan mengenai orang lain yang salah, tetapi rasa kebahasaan manusialah yang salah. Saya mencatatat frase ini dalam-dalam, dan mungkin sebagian kawan-kawan setuju pula dengan ini; tidak selamanya manusia bisa membahasakan rasa lewat kata.

Itulah mengapa manusia menciptakan idiom-idiom. Permisalan-permisalan.

Penyair-penyair kita ambil contoh, di luar sisi ndak masuk akalnya, saya rasa mereka sudah menemukan hal yang saya rasakan ini jauh-jauh hari. Memang ada orang-orang yang diberikan ketrampilan mengunyah-ngunyah kenyataan hidup, lalu menuliskannya lewat jemari mereka, atau menceritakan ulang dengan bahasa yang renyah sampai orang mengerti dan meresap betul apa yang mereka katakan. Tapi orang-orang semacam ini pun harus menyerah saat mereka menemukan jalan buntu dimana di titik itu sebuah keindahan, sebuah kegetiran, atau apapun rasa yang mereka alami tidak mampu diceritakan ulang dengan benar. Bukan karena merekanya tidak maestro, tapi memang bahasa manusia terbatas. Dan memang kenyataan yang memaksa kita untuk tidak mampu berbahasa itu ada.

Itulah mengapa, kita tidak pernah protes dengan frase nyiur melambai, dengan frase matahari bulat menggelinding dan mati dalam ketuaannya yang memilukan, dengan frase awan-awan putih diseret-seret angin, dengan frase permisalan yang jutaaan kali lebih tidak masuk akal, kita tidak akan mendebat, hanya orang tolol yang mendebatnya. Kita cukup diam, dan rasa kemengertian kita saja yang menerima. Ooooh…..betapa indah gugusan nyiur yang dimaksud dia, Oooh betapa syahdu suasana sore yang dilihat kawan penyair kita itu, oooh….betapa rapih guliran awan-awan yang dipandang kawan kita itu. Kita akan menerima itu jika kita tidak memandang pada kata-katanya lagi, tapi pada batin kita sendiri. Ini masalah rasa, kawanku.

Dan berangkat dari sebuah perasaaan galau saya sendiri, lalu berpindah pada ketakjuban bahwa konsensus manusia seperti membenarkan bahwa banyak hal tak bisa diungkapkan dengan lisan dan tulisan. Saya akhirnya baru mengerti, kenapa banyak sekali spiritualis dan para guru-guru kehidupan di dunia ini, yang disalahpahami. Kenapa? Karena yang satu sudah berjalan luar biasa jauh dan terbentur pada kerdilnya bahasa manusia untuk mewakili keajaiban rasa. Sedang yang satunya baru berjalan berapa tapak, dan belum pernah mengerti bahwa di dunia ini ada yang namanya metafora. Dengan fakta seperti ini, kita harus berada pada posisi paling netral yaitu memahami keduanya.

Ada satu pelajaran, yang baru-baru ini saya petik dari orang-orang arif. Pelajaran dari orang-orang yang hati-hati sekali menyampaikan apa yang mereka ingin beritahu, karena takut-takut yang mendengar salah paham.

Pelajaran itu adalah bahwa laku manusia, seumpama amal ibadah, itu sejatinya disetir oleh ahwal-ahwal, oleh suasana-suasana batin, oleh kondisi hati.

Saya mendengarkan sepotong kalimat itu dengan biasa saja. Oke, fikir saya, amal disetir oleh ahwal, lalu apa pengaruhnya pelajaran ini?

Belakangan saya baru mengerti, bahwa ihsan, bahwa sebuah kenyataan lebih dalam dibalik seremoni ibadah manusia, sebuah rekam batin yang “merasa” melihat Tuhan, atau kalaulah tak bisa melihat Tuhan maka selalu membayangkan Tuhan melihat dia; adalah level rasa tingkat wahid.

Dan orang-orang yang berada pada posisi ini terkadang saya temukan lebih banyak diamnya daripada ngocehnya, karena halus sekali delik perkara yang mereka kuasai itu.

Saya ulang lagi dalam fikiran saya, bila laku amal ibadah kita disetir oleh ahwal (suasana batin kita, kondisi ruhaniah kita, atau apalah istilahnya), lalu kenapa?

Lalu…. kata orang-orang arif itu, janganlah memaksa Tuhan, mengojok-ojok Tuhan istilahnya, agar memindahkan posisi keruhanianmu pada level yang lebih mantap. Karena Tuhan lebih tahu. Karena sesuatu yang tidak ditekuni itu ndak mungkin meresap pada dirimu.

Wah…. ini semakin tidak masuk di akal saya. Saya ingin mendebat, tapi teringat tentang pelajaran adab-adab, saya duduk diam dan mendengarkan.

Begini, ternyata. Ambil contoh cerita yang merakyat saja. Seorang wali songo, entah sunan apa namanya saya lupa. Suatu kali pernah menangis sesenggukan. Lamaaaa sekali beliau menangis. Apa pasal? Sederhana saja, tidak sengaja beliau terjatuh, lalu dalam terjatuhnya itu refleks menggenggam rerumputan di jalan hingga tercerabut. Karena mencabut rumput tanpa alasan syar’i itulah beliau menangis.

Dan saya langsung makjleb di hati. Ya Allah….ini dia. Sesuatu yang bergejolak di hati sang guru kita itu adalah sesuatu yang mencapai tingkatan rumit untuk kita ceritakan dengan bahasa. “saya ini menangis karena merasa sedih yang melilit-lilit hati, seperti dihujam dengan palu godam” Nah… semakin dibahasakan semakin runyam dan belum tentu orang paham. Itulah ahwal. Itulah kondisi ruhani. Itulah mental spiritual. Itulah ihsan. Dan mestinya kita itu menjadi orang yang selalu menelisik sesuatu yang menjadi asbab musabab laku sang sunan itu tadi. Bukan menelisik tindakan luarnya.

Misalnya kita sama-sama paham bahwa sang sunan adalah orang shalih yang doanya menggetarkan arasy Tuhan. Lalu kita melihat bahwa ada fakta sang sunan menangis karna mencabut rumput. Lalu karena kita ingin soleh lalu kita ikut-ikut juga mencabut rumput lalu meraung-raung kesetanan. Dan merasa sudah ada pada pencapaian spiritual adi luhung. Sudah paripurna. Ya ndak masuk di akal.

Karena ada sesuatu yang berbeda yang mendrive kita dengan beliau. Beliau-beliau itu berbuat seperti itu karena di drive oleh sebuah kesadaran batin yang beliau temukan lewat perjalanan maha panjang. Lewat ketundukan yang paling merendah. Hingga beliau dapat rasa itu, dan tidak bisa lagi menceritakannya. Mungkin kita dan dia sama-sama menangisnya, tapi nilai di sisi Tuhan tidak pernah sama.

Saya lalu semakin ingin meringsek dan mundur sambil jongkok-jongkok hormat ala abdi dalem keraton itu, membayangkan para pendahulu kita, para orang-orang shalih guru negeri ini, khulafaur Rasyidin, dan Nabi Mulia Muhammad. Panjang sekali anak tangga pemisah kita dengan mereka.

Lalu misalnyapun, dalam suatu ketika kita mendapatkan rasa itu, tidak serta merta kita menjadi setingkat mereka. Contoh saja. Pastilah suatu ketika dalam babak hidup kita, kita pernah merasa sangat haruuuuuu dalam beribadah. Misalnya sujud berasa enaaaak sekali. Kita menangis. Kita merasa dekat dengan Tuhan. Kita syahdulah pokoknya. Pada titik itu, kita juga mengalami kondisi ruhani yang serupa dengan para wali, dan Orang-orang luar biasa itu, bunga-bunga dalam hati kita sama-sama mekar oleh rasa kedekatan dengan Tuhan, katakanlah begitu. Tapi apakah kemudian kita menjadi setingkat mereka dalam tataran keimanan? Tidak juga. Karena mereka mengalami perasaan itu berkelanggengan. Artinya mereka ada dalam suasana ihsan itu terusssss menerussss sedang kita sekejab-sekejab lalu hilang.

Makanya guru-guru kearifan tidak menyarankan kita hantam kromo meniru lelaku orang-orang shalih tingkat tinggi dengan metafora ibadahnya yang tak masuk akal itu. Bukan tidak boleh. Tapi belum sekarang. Bukan tak usah berjuang keras, tapi maksudnya semata agar lelaku yang cocok dengan kondisi saat ini; kita fahami dulu sampai meresap tak Cuma kulitnya. karena kita belum nemu, karena kalau membabi buta kita pasti berhenti karena letih dan lelah yang tak perlu. Mbok ya yang sesuai dengan dengan fase kita dulu, dan mbok ya naiknya bertahap.

Dan inilah yang saya saluti, dari pribadi Nabi, dari cerita yang saya temukan dari orang-orang arif tadi. Betapa panduan menapaki jalan pulang ini, jalan ketundukan ini, sudah diset untuk segala lapis tingkatan manusia.

Sholat 5 kali semata. Zakat 2.5% belaka. Puasa di ramadhan, Cuma. Karena Beliau SAW paham betul umatnya beragam-ragam. Mungkin dari titik inilah kita mesti melangkah dan menemukan kondisi seperti yang ada pada orang-orang mengagumkan itu. Sampai kita merasakan juga, gejolak batin yang tiada bisa dibahasakan lewat susatra manusia, barulah kita bisa mengerti kemusykilan sang sunan yang menangis meraung mencabut rumput, sang Abu Bakar yang bersedekah sampai ludes hartanya, Ali Ibn Abi Thalib yang tidur berselimut kain hijau menggantikan Nabi kala dikepung di rumahnya, Nabi Ibrahim yang bahkan enggan berdoa dan menolak bantuan Jibril saat akan dilontar ke dalam api menyala-nyala, Syaikh Abdul Qadir Jailani yang selepas isya bertahannuts hingga subuh lalu sholat subuh dengan wudhu sholat isya-nya, dan berbagai kemusykilan lainnya.

Maka mensyukuri pengertian-pengertian yang diberikan Tuhan pada kita saat ini lewat laku-laku yang sesuai dengan kondisi kita adalah langkah pertama. Nanti sekiranya tekun dan rajin menelisik yang lebih dari sekedar ritus-ritus pada seremoni ibadah kita, akan ditempatkan pula kita oleh Tuhan pada rasa yang semakin memaksa kita membuat banyak metafora. Dan metafora itu mungkin merupa peribadatan yang fantastis dan tak masuk akal umumnya.

Tapi sebelum itu, jangan dulu sedekah brutal sampai tak sisa lagi uangmu. Jangan dulu menangis ga jelas waktu menginjak ilalang-ilalang pinggir jalan itu. Karena kita belum mengerti gejolaknya rasa di hati, belum bertemu kondisi-kondisi yang membuat frase berhenti dan kemampuan bercerita mati, bagaimana hendak membuat puisi?

ah… betapa metafora mereka mempesona.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s