PAK-LIK (MENEMBUS BATAS 3)

Man_-_old_man_silhouette

Siapa saja yang mendengar kata “Pak-lik” akan tahu bahwa itu adalah panggilan ala Jawa. Semacam “Om”-nya bahasa Indonesia tapi dengan pengkelasan. Dengan Grading. Bahwa orang yang dipanggil Pak-Lik tadi, adalah orang yang secara strata umur mestilah dibawah Bapaknya yang memanggil.

Nah…Pak-Lik ini, tetangga saya di Sumatera.

Hidup di sumatera, tetapi dengan Bapak yang Jawa, saya merasakan hidup dalam sebuah keterjepitan budaya. Kalau-kalau ada orang yang kebetulan dari Jawa lalu dengan kejamnya berbahasa Jawa kepada saya, maka saya langsung berkata “wah…aku ndak bisa ngomong Jawa Mas, tapi kalau Mas-nya ngomong aku ngerti.” Tentu saja kalimat terakhir tadi hanya sebagai poles-poles belaka, agar fakta bahwa saya terlahir dari seorang Bapak yang Jawa tapi tidak bisa bahasa Jawa; tidak terlalu kentara.

Fakta kedua, saya sering lupa kalau orang bertanya berapa umur Bapak saya. Ini serius. Mengingat tanggal lahir adalah pekerjaan sangat tidak umum di keluarga saya, maka kalau ada orang yang bertanya berapa umur Bapak saya, saya akan meraba-raba dulu baru menjawab asal saja.

Yang jelas Pak-Lik, tetangga saya, Orang Jawa seperti Bapak saya, saya tahu pasti umurnya lebih muda dari Bapak. Di rumah Pak-Lik, saya menikmati sebuah penampilan budaya yang sama sekali berbeda dari keluarga saya yang blasteran. Mereka orang Jawa tulen, suami istri. Anak-anaknya terlahir dengan paras yang sangat njawani. Bahasa Jawa adalah bahasa keseharian mereka. Dan banyak lagi yang saya lihat sangat Jawa. Sesuatu yang saya jarang temukan di rumah saya, saya katakan jarang, tetapi saya tidak asing.

Ibu saya sumatera. Maka saya lahir dan besar dalam segala kepolosan Sumatera; yang enak katakan enak, tidak katakan tidak, tapi ada unggah-ungguh ala Jawa di rumah saya. Kutub medan magnetnya ialah Bapak, tentu saja.

Dan meskipun Bapak tidak pernah berbahasa Jawa dengan saya, dengan adik-adik saya, dengan Ibu saya, tetapi saya menjadi paham bagaimana sebagian masyarakat kita rupanya sering menyembunyikan apa yang mereka rasakan dengan sangat baik, dan kita harus menjadi semacam ahli perang untuk membacanya.

Bapak adalah orang yang menyembunyikan kekesalannya dan masih bisa bersopan-sopan kepada orang yang membuatnya kesal, misalnya. Atau menyembunyikan nasehatnya dalam kata-kata yang berkias-kias, tidak sastrawi memang, tapi hampir pasti jarang to the point, harus ditebak dulu. Itulah, saya sering bingung bila beliau marah, padahal saya tidak tahu apa penyebab marahnya.

Maka saya selalu menyempatkan diri untuk mencoba melihat lagi selapis demi selapis apa sebenarnya yang terjadi. Ini yang saya dapati pada kultur orang-orang Jawa. Sesuatu pastilah tidak sesederhana sebagaimana sesuatu itu terlihat. Mungkin orang Jawa mewarisi sun tzu.

Jadi waktu kadang-kadang berkunjung ke rumah Pak-Lik dan numpang nonton TV –waktu itu saya tak punya TV- saya sudah menduga bahwa pasti ada juga permainan penyembunyian perasaan itu.

Sekali waktu, saya dengar Pak-Lik bercerita tentang pekerjaannya di penambangan batubara. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang ranjang dari kayu yang dibuatnya dengan tangannya sendiri. Sekali waktu Pak-Lik bercerita tentang pelapon rumahnya yang dibuat seperti ala candi terbalik dengan teras berundak-undaknya itu. Sekali waktu tentang sepatu boot-nya. Sekali waktu tentang kolam belakang rumahnya yang dibuat dengan model pematang meninggi; yang tidak umum di antero lingkungan saya, dan macam-macam lagi.

Saya, anak kecil itu, merasa sudah memiliki alarm awas terhadap segala permainan penyembunyian makna, maka saya sok-sok menilai dengan hati-hati. Apakah benar Pak-Lik ini hebat membuat kerajinan dari kayu? Apakah benar Pak-Lik ini sedang bercerita tentang rumahnya yang dibuatnya dengan tangannya sendiri? Apakah Pak-Lik seorang pembuat kolam ikan yang digdaya? Lalu di ujung simpulan, saya menebak-nebak dengan teori konspirasi, bahwa Pak-Lik menceritakan segala kelebihannya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia seseorang yang marjinal. Pasti Pak-Lik ingin terlihat hebat. Karena menurut saya pastilah Bapak saya lebih hebat daripada Pak-Lik. Ada aroma tidak ikhlas yang saya cium dari ceritanya. Begitu fikir saya.

Beliau hidup di sudut komplek. Tukang pos selalu kesulitan menemukan rumahnya. Di belakang rumah sudah dihuni oleh lebatnya hutan-hutan bakau dan kecipak ikan dari rawa-rawa. susah untuk tidak mengatakan beliau orang yang marjinal.

Dan sebuah kenyataan bahwa Pak-Lik bertetangga dengan saya, sama-sama hidup di sudut komplek yang tua, menghasilkan sebuah fakta lagi bahwa sebenarnya keluarga saya dan Pak-Lik sama marjinalnya. Ini membuat saya kesulitan menentukan grading.

Tetapi saya pikir, kan pekerjaan Bapak saya seorang PNS, sedangkan Pak-Lik murni swasta, dan rumah kami tidak se-menyelempit rumah Pak-Lik, maka rasanya secara struktural yang tidak kasat mata, keluarga kami lebih mantap sedikit dibanding Pak-Lik. Mungkin itu juga alasannya kenapa secara otomatis keluarga kami memanggil beliau dengan sebutan Pak-Lik. Inilah kesimpulan saya yang agak prematur.

Tapi sebenarnya, di luar segala permainan sandi-sandi perasaan model Jawa ini, saya mengagumi keduanya. Baik Bapak maupun Pak-Lik. Kalau kita lepaskan dulu status pekerjaan mereka, lalu mengamati mereka dengan jujur, kita akan sepakat bahwa mereka berdua adalah pekerja keras. Kepala rumah tangga yang baik. Baik Pak-Lik maupun Bapak saya, dua-duanya membangun rumah dengan tangannya sendiri.

Ini bukan kata-kata kiasan. Membangun rumah dengan tangannya sendiri adalah makna seharfiah-harfiahnya. Tentu dalam hal ini ada tangan orang lain yang membantu. Misalnya tangan saya.

Saya ingat waktu kecil dulu sering dibentak Bapak agar lebih cekatan dan tidak loyo dalam mengangkat batu-batu bata, dalam mengaduk semen. Saya lalu cekatan sebentar lalu loyo kembali kalau lama tak dimarahi. Kadang saya bermain-main di sela kesibukan saya membantu Bapak. Dan dalam segala ketidak pedulian itulah kadang-kadang ada episode yang terlewat dari masa kecil saya. Dan kita semua tahu, episode yang tidak utuh dari kehidupan kita bisa berujung pada sadisme. Sadisme itu bernama kesimpulan hidup yang tidak dewasa, mengerikan sekali bukan? Untungnya kadang-kadang Bapak mau membagi episode yang terlewat dari mata saya itu.

Misalnya, Bapak bercerita bahwa ilmu bangunan yang beliau miliki adalah ilmu “curi-curi” dari membantu pendirian musholla dekat rumah. Saat orang-orang gotong royong Bapak ikut membantu, dan dari sana mendapatkan sedikit ilmu untuk membangun rumah. Saya mengagumi sekali kehebatan bapak dalam mengkopi ilmu. Saya waktu itu membayangkan Bapak sebagai model orang yang waskita, sekali liat maka bisa meniru.

Praktek membangun rumah dimulai. Pembuatan pondasi lancar. Menumpuk bata di atas pondasi lancar. Merakit besi-besi lancar. Saya menikmati proses itu dengan kadang-kadang melihat saja, kadang-kadang sok membantu. Tapi saat akan mengecor bagian atas dinding, Bapak rupanya mengalami kendala.

Sudah di-gojrok semen dan batu koral ke dalam papan pembatas di dinding itu, tapi semennya malah terjun bebas dari sela-sela growong antara papan dan batu bata.

Ah…coba lagi.

Dicoba lagi tapi hasilnya tetap sama. Berulang kali dicoba dan tetap sama. Bapak gagal mengecor. Hari sudah menjelang sore.

Teronggok lesu Bapak saya waktu itu. Sudah kepalang tanggung membikin rumah sendiri. Sudah bergaya model pemberani dan tangguh waktu ditanyai tetangga ‘kok ya mbikin ga pake tukang?’ Bapak ‘menjawab biar lebih puas hasilnya’. Ternyata sore hari itu Bapak harus berhenti karena masalah sepele pengecoran yang gagal.

Saya memang baru mendengar lagi cerita itu waktu saya sudah tamat kuliah kalau tak salah, dan saya membayangkan semangat yang jatuh itu semisal kebuntuan pada satu babak skripsi. Saya paham sekali bagaimana mencelosnya perasaan kita.

Cerita berlanjut, tiba-tiba dari belakang Bapak ada suara yang memanggil. Rupanya Pak-Lik. Mereka berbincang dalam bahasa Jawa yang saya sebenarnya mengerti tapi tak usah kita tuliskan di sini.

Pak Lik membantu dengan cekatan. “wah…Gampang iki mas, ayo tak bantu.” Dengan sigap Pak-Lik menambal growong-growong pada bilah papan dan bata; dengan kertas-kertas semen. Lalu setelah semua growong tertutup maka diguyur sadis dengan semen coran. Bapak mengira kertas semen itu tidak mungkin bisa bertahan, tapi rupanya sukses besar.

Satu ganjalan dalam babak dalam pembuatan rumah akhirya terlewati.

Saya mulai pelan-pelan merubah pemaknaan saya terhadap Pak-Lik. Saya mengerti benar bahwa Pak-Lik di dalam hatinya tahu bahwa Bapak saya adalah sebagaimana pula dirinya. Merasakan beban yang besar untuk bisa menghadapi semuanya dan lalu menampilkan sisi paling mencerahkan dari keseharian mereka. Seperti tidak ada apa-apa, padahal ada yang bergolak.

Saya tahu bahwa Bapak saya berterima kasih kepada Pak-Lik dengan episode itu. Dan saya tahu pula, bahwa Pak-Lik dengan caranya sendiri mungkin menemukan juga semangat dirinya saat menyadari bahwa yang berjuang tidak cuma dia.

Tapi Pak-Lik mungkin sekarang sudah lupa sama sekali dengan kejadian ini. Mungkin menerapkan model keikhlasan tingkat tinggi ala para sufi; Lakukan, lalu lupakan. Saya tak pernah mengungkit cerita bantuannya yang sepele tapi berimbas besar itu. Dan saat kadang-kadang pulang mudik ke rumah; saya juga jarang berkunjung ke rumah Pak-Lik karena saya sekarang sudah ada TV tentu saja.

Saya berterimakasih kepada keduanya. Kepada Pak-Lik atas bantuan kecilnya untuk Bapak saya. Lalu kepada Bapak untuk telah menggenapkan puzzle yang hilang dari rekaman saya tentang Pak-Lik dan apa-apa saja yang di baliknya.

Rupanya, sebelum melihat menembus batas-batas, kita haruslah melihat dengan jujur kepada diri kita sendiri. Segala anasir keburukan dari jiwa kita, bisa membuat kita salah memandang yang tidak semestinya.

Dan tiba-tiba saya merasa dikelilingi banyak Sun-tzu.

 

 

 

——–

note:

gambar diambil dari sini

 

2 thoughts on “PAK-LIK (MENEMBUS BATAS 3)

  1. Orang-orang besar tak harus selalu terlihat mata pada awalnya, tapi kebaikannya sampai ke hati pada akhirnya. Seperti bapak muda pekerja bengkel pedalaman banten yg ikhlas menawarkan penginapan gratis pada 2 orang pemuda bingung diakhir senja hehe.. tulisan yg adem tuan, keep writing!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s