THE TAO OF LIFE

final

Sirine meraung-raung. Saya mengenakan boot dengan tergopoh-gopoh lalu saya lari kesetanan. Di ujung sana orang-orang sudah berkumpul dan berbaris rapih. Tanpa komando.

Saya masih deg-degan, bukan dengan sederhana, tapi benar-benar berdegup. Anehnya sembari jantung berdegup saya sempat juga mengagumi sebuah keteraturan dalam kerunyaman itu.

Saya teringat pelajaran PPKN oleh Pak Min, dulu sewaktu SMP, bahwa ada tatanan masyarakat yang awalnya merupa chaos tapi kemudian dalam satu moment saja langsung bisa berubah tertib, misalnya kerumunan penonton yang memasuki bioskop, awalnya chaos lalu langsung tertib setelah duduk di bangku. Mirip-mirip dengan kerumunan orang-orang di anjungan pengeboran ini. Satu sirine tanda bahaya berdengung, lalu semua orang sudah tahu apa yang akan dilakukan, lari menuju muster point (tempat berkumpul) di depan gerbang. Seperti hari itu.

Saya membayangkan ada gas semacam H2S yang melesat keluar dari dalam sumur pengeboran, konon gas itu sangat berbahaya, racun pembunuh nomor dua paling ampuh sejagat setelah sianida, dan celakanya lebih berat dari udara sehingga akumulasinya pastilah menghuni sudut-sudut yang rendah, tempat kebanyakan manusia berada, bukan pada awang-awang tinggi yang bersih tempat burung-burung terbang dan tempat mungkin cita-cita imajiner digantungkan manusia.

Cukup sadar dengan informasi itu, maka saya lari semakin kencang, dan setelah sampai pada kerumunan orang yang berbaris rapih seperti Paskibra yang saya ikuti waktu SMP, saya baru sadar bahwa itu cuma drill, cuma latihan menyelamatkan diri saja. Rutinitas yang biasa bagi para pekerja lapangan migas.

Kejadian itu sewaktu saya kuliah. Saya mengambil skripsi dan berkesempatan melihat hiruk-pikuk suasana pengeboran. Siapa sangka, setelah lulus kuliah saya benar-benar tercemplung ke dalam dunia ini. Dan di sini saya menemukan sebuah rutinitas yang perlu tapi menjemukan itu. Jemu tapi perlu. Ya, latihan penyelamatan diri itu lagi. Drill. Bermacam-macam drill. Fire drill. Abandon drill. H2S drill. Nama yang berbeda untuk tujuan yang sama, membuktikan kebenaran pribahasa orang tua-tua dulu, ‘lancar kaji karena diulang’. Tapi peribahasa itu saya rasa mesti ditambahi, ‘lancar mengulang pasti bosan’.

Tentu saja saya sering bosan dengan rutinitas tiap minggu itu, masalahya sering mengganggu jadwal tidur, ini menyebalkan, tapi saya tak bisa untuk tidak setuju atau mangkir untuk tidak hadir. Kita tidak bisa untuk memaksa diri kita untuk tidak menjadi hafal luar kepala kalau rutinitas itu diulang-ulang terus. Pasti hafal.

Begini urutannya: sirine berdentum, lari menuju muster point, kenakan helm, kacamata, dan segala alat keselamatan lainnya, jangan lupa kenakan pelampung bila kita sedang ada di lepas pantai, ambil kartu penanda, lalu berbaris rapih menunggu instruksi. Apakah bahaya teratasi, atau kemungkinan terburuk kita harus meninggalkan area itu, entah dengan kendaraan apa. Semua rutinitas itu diulang terus supaya kita menjadi mahir.

Sewaktu menjalankan latihan itu, untuk menepis rasa bosan, saya mengingat dulu masa-masa sedang tekun-tekunnya berlatih beladiri. Ada momen perulangan seperti itu. “Mengetahui seribu jurus, tapi tiada sering diulang-ulang pasti akan percuma”, begitu kata guru-guru.

Banyak orang yang belajar beladiri kemudian menjadi kecewa pada apa yang dipelajarinya, karena pada realitanya dia belum bisa menerapkannya. Mungkin karena dia belum benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya karena jarang mengulangnya. Maka guru kami kala itu mengajari hal yang sederhana saja, dua atau tiga rangkai gerakan yang disuruhnya kami mengulangnya sekira limaratus kali dalam sehari. Dan saya teringat kata-kata yang dinisbatkan pada almarhum Bruce Lee, “saya tidak takut pada orang yang memiliki seribu jurus yang dipraktekkan satu kali, tapi saya takut pada orang yang memiliki satu jurus dan dipraktekkan seribu kali”.

Kita tidak bisa mencegah bahwa tekhnik perulangan itu ampuh seperti seorang intruder, masuk dengan diam-diam tanpa kita sadari dan menjejalkan suatu nilai-nilai dalam bawah sadar kita. Maka sering sekali orang-orang yang tekun belajar beladiri merasakan kok tidak ada perkembangan berarti pada dirinya, karena berlatih itu-itu saja, padahal tanpa dia sadar kemampuan refleks dan tanggapnya sudah di atas orang-orang kebanyakan. Keajaiban perulangan.

Saya mengagumi sekali fakta ini. Meski saya sering bosan sekali pada latihan penyelamatan diri saat saya bekerja, itu dalam hal pekerjaan, lainnya lagi adalah setelah bekerja saya hampir tidak pernah mengulang satupun tekhnik beladiri yang saya pelajari waktu kuliah dulu. Tapi saya masih mempercayai keajaiban perulangan itu.

Tapi ada bahaya besar yang mengancam, apabila perulangan terus menerus membuahkan gerak refleks dalam hidup kita. Bahaya itu adalah bahwa semakin sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks, maka kita akan kehilangan detailnya, dan yang lebih menyedihkan dari kehilangan perhatian terhadap detail adalah kita kehilangan nilai-nilai.

Saya sering mendengar keluhan yang jamak dialami kawan-kawan, hidup ini begitu menjemukan karena segalanya sudah menjadi gerak refleks. Saya juga merasakan kehampaan itu. Bagi orang-orang kantoran, refleks itu bernama bangun tidur pagi-pagi sekali, pergi kerja, menanti waktu pulang, pulang kerja, dan tidur lagi. Betapa siklus itu menjemukan karena sudah tidak lagi memerlukan proses berfikir. Kita hampir lupa kapan kita mandi, kapan kita memakai sepatu, lalu tiba-tiba saja sudah berada di kantor. Tiba-tiba lagi kita sudah ada pada kendaraan di tengah kemacetan sore. Dan tiba-tiba lagi hari sudah malam, kita tidur sambil cemas-cemas sedikit karena sebentar lagi pagi. Lalu rutinitas berulang, kita mengikuti saja refleks kehidupan. Cepat memang, tapi ada yang hilang, rasa, nilai-nilai. Sesuatu yang refleks hampir selalu berjalan tanpa ketelitian niat.

Kehampaan seperti ini memang membunuh. Sebelum kejiwaan menjadi benar-benar mati, saya paham harus ada yang dibenahi. Kita harus melarikan diri dari kondisi ini. Contoh melarikan diri yang terhormat adalah pergi menyusun siasat, lalu kembali untuk masuk lagi ke gelanggang. Dan spiritualitas harusnya menemukan peranannya disini. Memberi ruang kontemplasi untuk kemudian dipakai lagi membenahi kehidupan.

Saya merasakan harusnya kita menemukan pelipur itu pada ritus-ritus keagamaan kita. Saya muslim maka saya sholat, tentu saja. Tapi keanehan itu kembali terjadi, boro-boro sholat saya menjadi pelipur pada hidup yang menjemukan, karena ternyata saya sudah demikian refleks juga melakukan sholat. Saya takbir, lalu semua menjadi serba otomatis, tiba-tiba saja saya sudah salam. Begitu terus. Ritus keagamaan yang seperti ini saya sadari tidak mungkin membawa dampak secara nyata.

Bahwa tetap melakukan peribadatan meski belum bisa total; saya setuju. Tapi berusaha memperbaiki kesalahan peribadatan kita, saya fikir juga utama. Yang salah tentu bukan seremoninya, tapi kitanya. Saya yang salah.

Beruntung, saya bertemu dengan seorang guru lagi, yang menyadarkan saya akan sebuah potongan kenyataan lagi. Bahwa tidak semua dalam kehidupan ini harus kita jalani dengan refleks.

Di dalam sholat, istilah itu dikenal dengan nama ‘tuma’ninah’. Jeda sejenak. Agar segalanya tidak tergopoh-gopoh.

Kalau perulangan yang membuat kita refleks adalah penting untung meningkatkan kecepatan respon kita terhadap sebuah keadaan, maka tuma’ninah menjadi sisi pedang satunya yang meningkatkan kesadaran kita akan nilai-nilai dari sesuatu yang sedang kita kerjakan. Menjadi mahir itu penting, tapi sadar penuh akan apa yang kita mahiri, dan menjadikan kemahiran kita itu sesuatu yang bernilai; juga luar biasa perlu. Dua-duanya penting.

Rukuk hingga punggung menjadi lurus dan luruh, duduk iftirasy yang kontemplatif, dan sujud yang merendah dan menikmati, adalah sedikit dari tuma’ninah itu.

Saya pikir ide ini juga bisa diterapkan untuk perjalanan menuju kantor dengan memperhatikan setiap detailnya. Pokoknya kontemplatif dan memperhatikan detailnya. Berterimakasih untuk pagi yang cerah, menaiki bus kota dengan  duduk di pinggir jendela dan menyeksamai pemandangan yang berseliweran, tiba di kantor dengan sepenuh kesadaran akan detail-detail ruang dan kesyukuran akan kesempatan bahwa kita telah menjadi berharga dengan bekerja dan menghidupi anak istri, lalu pulang dengan gembira setelah menutup bab hari itu dengan rencana esok hari. Semua kita amati detailnya agar tidak menjadi gerak refleks.

Satu hal yang membantu kita menyisipkan nilai-nilai dalam kehidupan kita, mungkin doa. Doa-doa dalam literatur keagamaan kita banyak sekali. Tentu dengan alasan mengikuti contoh Nabi Mulia, kita harus melakukannya. Tapi lepas dari kecintaan kita kepada junjungan, lepas dari pahala, saya mendengar kata guru-guru bahwa memulai segalanya dengan doa yang sungguh-sungguh adalah semacam upaya menghentikan laju kehidupan yang terlampau refleks, dan menjadikannya setiap potong kehidupan kita sebuah peribadatan yang sepenuh kesadaran kita lakukan. Memberi nilai-nilai dalam setiap potongan kehidupan kita ini bisa dimampatkan dalam satu kata, Niat. Dan niat ini mestilah dijaga agar sinambung, tidak Cuma di awalnya, melainkan pada keseluruhan perjalanan kita. Itulah kenapa kita perlu tuma’ninah.

Saya senang sekali mengingat pesan guru saya dulu, serangkaian jurus yang kita lakukan itu mestinya semisal ombak. Ada kalanya cepat, ada kalanya lambat. Seperti kebijakan universal yang kita sama-sama kenal itu, selalu ada harmoni dalam hidup.

 

————

gambar dikopi dari sini

2 thoughts on “THE TAO OF LIFE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s