BERBOHONG KEPADA TUHAN

images

Saya ini ternyata sering bohong kepada Tuhan.

Berapa waktu lalu, saya sedang dalam proses perekrutan untuk masuk dalam salah satu BHMN di bidang regulator usaha hulu migas. Perekrutan itu begitu panjangnya, dan sempat pula berapa kali momen tes-nya berbenturan dengan jadwal kerja saya ke lapangan. Tapi alhamdulillah ada-ada saja jalannya sehingga saya bisa mengikuti tes hingga akhir. (Entah itu jadwal tesnya tiba-tiba direschedule berapa kali hingga saya bisa ikut, dll).

Awalnya saya bisa mengikuti tes ini dengan sikap mental yang biasa-biasa saja. Tapi semakin ke belakang, saat kandidat semakin sedikit, dan keberhasilan sudah di depan mata, saya sadar sikap mental saya sudah tidak lagi pasrah kepada Tuhan, melainkan kuat sekali keinginan agar saya lulus.

Saya sadar penuh akan perubahan kejiwaan itu, tapi saya tidak bisa keluar dari suasananya. Begitu besarnya tarikan nafsu itu, saya kewalahan menghadangnya. Awal-awal tes, saya bisa berdoa dengan tulus, “Ya Allah….sekiranya ini baik buat hamba, mudahkan…sekiranya buruk, gantikan dengan yang lebih baik.” begitu menjiwainya saya dengan doa itu, hingga saat jadwal tes berbenturan dengan waktu kerja; saya biasa saja. “ah…takdir Allah begitu”. saya fikir, lalu gulana hilang. Plong sekali rasanya. Eh malah tiba-tiba banyak kejaiban terjadi dan saya sampai pada tahap akhir wawancara.

Tapi saya sudah mulai merasa tak enak waktu tahap akhir tes itu. Mulanya saya berdoa di lisan agar Allah memberikan saya yang terbaik. tapi di sudut sana, di dalam hati saya, setelah saya renungi saya mendengar suara yang lain lagi, yang dengan lantang ingin agar saya lulus.

Saya merenung, apakah saya sudah bohong kepada Allah?? hingga saya akhirnya merubah redaksi doa saya, “Ya Allah…kenapa hati ini condong sekali pada pilihan nafsu saya sendiri?”.

Dan memang pada akhirnya saya tidak lulus. Sebuah ending yang klimaks, setelah segala keajaiban kejadian rasanya tidak bisa untuk tidak ditafsirkan sebagai pertanda baik; nyatanya saya tidak lulus.

Saya melisankan, “Allah tahu yang terbaik.” tapi hati saya sebenarnya sulit sekali menerima. Untuk apa Allah memberikan segala pertanda kebaikan ini, jika diujungnya ternyata saya tidak lulus? Saya cemas sekali, cemas pada kenyataan kejiwaan bahwa saya memprotes takdir Tuhan. bahaya sekali ini.

Selang satu minggu saja, dari pengumuman ketidak lulusan saya itu, BHMN itu dibubarkan oleh MK. saya kaget sekali, meskipun kemudian akhirnya bersyukur “untung saya tidak jadi masuk ke sana.”

Memang pada akhirnya BHMN yang dibubarkan itu tadi hanya berganti nama, situasi kembali stabil, dan beberapa orang kawan saya berhasil diterima bekerja.

Tapi saya sudah mendapatkan pelajaran. Bahwa sebenarnya saya belum bisa total bersandar kepada Allah. Saya sering menipu diri.

Saya lupakan kejadian itu, dan melanjutkan rutinitas seperti biasa saja dengan membawa sebuah pelajaran penting bahwa saya harus menyandarkan segalanya pada Tuhan.

Kemudian Allah mentakdirkan kenyataan yang baru lagi. Tawaran datang bertubi-tubi. Seorang kawan memberikan kontak project manager di negeri antah berantah jika saya ingin mencoba menjadi konsultan di luar negri. Selang berapa lama setelah itu, Kantor saya sekarang menawarkan saya untuk pindah dari engineer lapangan menjadi orang kantoran dengan sebelumnya ditraining dulu ke luar negri. lalu sebuah tawaran dari perusahaan saingan masuk ke email saya (saya sempat menolak tawaran ini, tapi kemudian dikirimkan lagi tawaran dari perusahaan yang sama tapi untuk area asia, bukan sebatas indonesia saja). Mana yang harus saya pilih??

Saya bingung. Dalam kebingungan itu saya lalu berdiskusi kepada rekan saya. Ngobrol-ngobrol dengan istri saya. Telpon orang tua saya.

Tapi setelah itu saya menyesal sekali. Ternyata saya masih juga belum beranjak dari posisi saya yang lama. Saat dihadapkan pada sesuatu, saya belum bisa otomatis mengembalikannya kepada Tuhan. Bukan Allah yang terbetik pertama kali dalam hati saya. Tapi nama seorang teman, tapi pendapat istri, tapi keinginan nanya ke ortu, segalanya ada dalam benak saya kecuali Tuhan.

kalaulah ada Allah-nya. pastilah itu hanya embel-embel. Usaha sudah, maka penutupnya doa. Kenapa Tuhan saya hampiri yang paling terakhir?

Saya bohong kalau saya mengatakan “kembalikan segalanya kepada Tuhan.” nyatanya lagi-lagi makhluk yang ada dalam pikiran saya pertama kali, secara otmatis. Saya belum memasrahkan segalanya kepada Allah.

Tentu saja saya harus berusaha. Dan diskusi pada rekan, pada orang tua, pada istri itu adalah bagian dari usaha. Tapi mestinya usaha itu didasarkan pada sebuah kemengertian hati bahwa tetap saja Allah yang saya gantungi harapan. Tetap Allah yang pertama kali tercetus di hati. Begitu ada sesuatu yang mengganjal atau harus diputuskan, saya tidak ingin ada siapapun yang menghuni ruang hati ini kecuali Tuhan. “Ya Allah…apa yang harus hamba lakukan?” Barulah setelah itu saya bergerak misalnya diskusi dengan orang lain, sambil di hati berharap Allah memberikan pencerahan lewat siapapun yang Dia kehendaki. Sehingga saat misalnya tiba-tiba hati saya mendapatkan kecenderungannya pada salah satu pilihan; lewat jalan berdiskusi dengan orang lain; yang terbetik di hati saya adalah “ya Allah..terimakasih, akhirnya Kau berikan pencerahan lewat orang ini”.

Tapi betapa hal yang begini ini sulit, jika tidak Allah sendiri memberikan rahmat.

Tiba-tiba saya ingat banyak kisah tentang orang yang karena urusan kencing saja jadi disiksa di kubur. Karena salah niat maka masuk neraka. Karena riya maka amal tak diterima. Karena jumawa maka dibalikkan kenyataan dirinya dari seorang abid jadi pendosa. Betapa banyaknya fakta bahwa sebenarnya manusia tidak bisa mencapai Tuhan dengan dirinya sendiri. Begitu banyaknya hal yang dikira sepele tapi ternyata berdampak besar.

Benarlah orang-orang arif yang mengatakan, andaikan kita mengandalkan amal kita untuk bargain dengan syurganya Allah, pastilah orang sedunia ini masuk neraka semua.

Apa yang bisa saya andalkan dari diri saya sendiri?

karena betapa pelik dan musykilnya perjalanan menuju Tuhan itu.

Betapa kacau balaunya penghambaan model begitu. Akhirnya saya duduk, diam, mengaku saja. “Ya Allah…mana mungkin aku mencapaiMu bila bukan Engkau sendiri yang mengantarkan aku padaMu.”

———–

note:

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap akhir shalat

:Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.

[Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud)

*) gambar diambil dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s