‘LHO’ TUKANG MARTABAK

lup

“Lho… Ga bawa motor?”

Saya kaget, tukang martabak itu mengenal saya?

Saya tidak ge’er dengan mengira dia mengenal saya, karena saya yakin saya memperhatikan partikel “lho” di awal kalimatnya. Misalnya tidak ada ‘lho’ di awalnya, saya rasa dia hanya basa-basi. Tapi dengan ‘lho’, ada sesuatu yang personal disana. Ada keheranan.

Dan di dalam keheranan beliau itu, saya menjawab, “ada pak, saya parkir di dekat gerbang”.

Setelah membayar dan berjalan menuju motor, saya diam-diam mengagumi ketelitian si Bapak Tukang Martabak. Saya jarang sekali malam-malam membeli martabak di pinggir jalan raya itu, terakhir saya membeli di sana kalau tidak salah satu bulan yang lalu. Dan seperti lumrahnya transaksi jual beli pada seluruh tukang martabak di dunia ini; jauh dari keakraban yang personal. Kalaulah ada basa-basi, pasti sifatnya formalitas dan bisa diterka seperti cerita sinetron. Tapi kok ya dalam segala kekakuan yang jarang-jarang itu, Bapak itu bisa tahu kalau saya biasanya kalau beli martabak pake motor. Dan rasanya bukan basa-basi, karena dia menggunakan “lho”. Lho berarti keheranan, dan keheranan selalulah beranjak dari pengamatan yang detail.

Dan untuk telah diperhatikan sebegitu detailnya, dan dianggap sebuah bagian yang personal dalam kehidupan Bapak itu, saya merasa tersanjung juga.

Terlebih lagi, saya adalah seorang yang porak-poranda perhatiannya dalam perkara detail. Dan ini agak-agak mengganggu.

Seperti misalnya dalam lingkungan pekerjaan saya di pengeboran minyak. Orang-orang yang sekian banyaknya itu, nyaris bisa dihitung jari; orang-orang yang saya perhatikan secara personal. Kebanyakan mereka hanya sekedar pemain figuran dalam hari-hari saya. Bukan karena merekanya tidak penting, banyak dari mereka adalah orang dengan strata kedudukan jauh di atas saya, sebagian malah bos saya secara langsung, tapi memang sayalah yang jelek dalam memperhatikan detail.

Baru sekejap saja saya berkenalan dengan orang lain, lalu setelah berlalu saya membatin sendiri, “wah…namanya tadi siapa ya?”, karena perkenalan-pun sudah menjadi sesuatu yang refleks dan tidak lagi personal.

Tapi…ada kalanya saya menyadari bahwa saya juga termasuk pemerhati yang detail. Seperti baru-baru ini. Handphone yang biasa menemani saya membunuh kebosanan di anjungan pengeboran dan dalam perjalanan kerja tiba-tiba saja suatu hari tanpa ada angin tak ada badai, tak ada firasat apa-apa, eh…ada sebuah bintik merah di layarnya.

Mulanya saya agak acuh. Tapi tak lama bintik merah itu mengganggu saya. Padahal, kalau tidak sedang membuka aplikasi dengan background gelap, bintik merah itu tidak kelihatan sama sekali. ini buktinya, “dek…lihat, HP mas ada bintik merahnya”. saya mencari dukungan dari istri saya.

“Mana?”

“ini”

“Mana?”

“Ini lho”

Saya agak heran juga, kok istri saya agak kurang jeli menangkap keganjilan di layar HP saya. Mulailah hari-hari menggunakan HP itu menjadi tidak senikmat biasanya. Mata ini seperti sudah mengatur fokus pada bintik merah kecil yang tidak terlalu kentara itu.

Saya ingat dulu guru saya waktu SMP memberi permisalan. Jika ada seorang guru berdiri di depan kelas dengan batik yang bagus, hampir tidak mungkin kita pulang ke rumah dan bercerita betapa bagusnya batik sang guru, pada orang tua kita. Tapi kalau sang guru tadi mengenakan batik biasa saja, dan ada bolong di belakangnya sedikit, kita pasti akan dengan sigap membeberkan berita itu kemana-mana.

Perhatian saya ya semodel itu saja, fokus pada hal-hal yang tidak prinsipil, jadi keindahan yang lainnya tertutup.

Seperti kejadian di dunia kerja saya lagi. Kebetulan, sekali waktu saya berdampingan bekerja dengan seorang bule yang luar biasa kaku, sok ngebos, dan lagaknya seperti yang paling menguasai area di sana.

Saya kalau boleh memilih sebenarnya enggan berurusan dengan dia. Tapi bagaimana lagi.

Nah…disela-sela waktu luang, saya sering teringat dengan orang itu dan membayangkan betapa tidak enaknya partner dengan dia. Untungnya cepat saya sadar bahwa kebencian yang pelan-pelan ditanam ini pasti nanti berbuah tidak baik, jadi supaya produktif maka harusnya saya rubah saja kekesalan menjadi doa.

Setiap kali saya mengingat dia, maka saya berdoa. Kadang-kadang saya baca Al-Fatihah, lalu setelah itu saya berdoa saja, semoga orang ini menjadi baik. Saya sering geli sendiri membayangkan adegan itu.

Tapi ajaib. Kali berikutnya saya ketemu dia, betapa dia menjadi orang yang ramah dan menegur lebih dulu. Orang ini juga menghampiri dan mencoba bercanda meskipun tidak lucu, atau mungkin sense humornya berbeda dengan saya yang terlalu asia.

Nah….Ini pasti mujarabnya doa saya, saya pikir. Saya senang juga dengan fakta itu.

Tapi tak lama saya sadar, ini bukan perkara doa saya yang asal-asalan itu kemudian menjadi mujarab dan merubah orang lain. Tapi sebenarnya doa itu mengubah saya sendiri.

Karena harapan saya kepada Tuhan agar orang itu berubah menjadi baik, maka ditampakkanlah kepada saya sisi kebaikan orang itu yang selama ini luput dari pandangan saya. Karena saya selama ini memandang orang lain tidak pernah dengan detail. Dan detail perhatian saya hanyalah fokus pada keburukannya. Masih syukur saya dalam berdoa saya tidak mengutuk orang itu, karena boleh jadi orang itu dimata Tuhan jauh-jauh lebih baiknya tinimbang saya.

Menyadari itu saya menjadi lega. HP saya yang ada bintik merahnya itu, memang belum sempat saya bawa ke service center dan klaim garansi, tapi rasanyapun tidak saya perbaiki tak apa juga. Bukan perkara kita membiarkan sebuah ketidak beresan, tapi lebih kepada dalam segala ketidak beresan, pasti masih lebih banyak yang beresnya. Dan ada yang memang dalam kuasa kita untuk memperbaikinya, ada yang semestinya kita geser saja fokusnya kepada yang baiknya.

Dan mengenai orang lain. Saya ingin sekali suatu saat nanti kala bertemu dengan seseorang, sesingkat apapun pertemuan saya dengan orang itu, saya bisa menyapanya dengan sebuah kalimat diawali dengan ‘lho’ yang ber-intonasi keheranan.

“Lho….rambutmu sudah ganti model ya, sekarang? ” misalnya…Sesuatu yang saya rasa sangat personal, dan membuat orang lain merasa menjadi bagian dari konstelasi keseharian saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s