ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

xfactor

Geli sekali saya mengingat fakta, bahwa bapak-bapak dengan umur lebih tua dari saya –termasuk saya sendiri-, di anjungan pengeboran tengah laut, malam-malam berkerumun di ruang TV untuk menyaksikan acara X-FACTOR. Kontes nyanyi menyanyi yang lumrah di TV itu. 

Mulanya saya tidak memperhatikan, entah sudah sejak berapa lama acara kontes-kontes menanyi model apapun tidak menarik perhatian saya. Hingga saya melihat bahwa mulai dari Bapak-bapak sampai anak-anak ribut membicarakan ini, saya mulai penasaran. Dan menontonlah saya, meski kebanyakan hanya memantaunya dari youtube. 

Dari ruangan kerja saya di tengah laut itu, sambil membunuh kebosanan, saya mengamati detail potongan babak dimana kontestan menyanyikan lagu dengan aransemen mereka yang unik-unik. Saya baru menyadari, betapa buruk perbendaharaan lagu yang saya miliki? Nyaris semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang kali pertama saya dengar. Wacana seni saya sungguh memprihatinkan. 

Sambil menikmati kekagetan akan fakirnya saya dalam dunia musik, saya membayangkan saya mengikuti kontes itu, tapi kemudian saya tiba-tiba teringat bahwa saya memiliki seorang anak di rumah. Seorang perempuan kecil satu setengah tahun. Mungkin ini gerangan alasan, kenapa setiap kali saya mencoba menghayalkan saya mengikuti kontes serupa; selalu ada mental block. Semacam barrier bawah sadar bahwa untuk sekedar imajinasi-pun, hal itu tidak layak. Karena sudah bukan masanya, ini masanya saya mendidik anak saya. Bukan masanya saya berjibaku dengan anak-anak itu. 

Saya sebenarnya tidak yakin, bahwa acara kontes-kontes semacam ini bisa menghasilkan penyanyi yang dikenang sejarah. Sudah banyak sekali kontes, tetapi orang-orangnya hanya seperti bunga di musim semi yang singkat. Muncul, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa dirindukan siapapun. Karena zaman sekarang mungkin musim semi siklusnya terlalu cepat. Hilang satu, digantikan lagi dengan yang lain. 

Tapi seandainya anak saya besar nanti, saya tetap menginginkan berada dalam satu momen dimana saya mendampingi anak saya dalam sebuah perlombaan. Perlombaan apapun itu. Dan adegan yang paling saya nantikan pada waktu itu nanti adalah mungkin pemberitahuan yang dramatis, diselingi tetabuh drum yang ritmis dan mencekam, lalu sang MC membacakan keputusan bahwa anak saya…kalah. 

Betapa mendidik diri untuk terbiasa mengikuti kompetisi itu sangat penting, tapi saya yakin yang lebih penting dari setiap adegan-adegan mencekam pengumuman hasil lomba itu adalah bukan nama kita disorak-sorai sebagai pemenang, tapi adalah bagaimana kita tetap anggun dan kharismatik meski tertakdir kalah. Saya yakin, anak saya akan lebih banyak belajar dalam momen kekalahannya dibanding dari gegap gempita kemenangan yang sebentar dan merapuhkan dirinya dalam segala puja-puji. Kalah, lebih sering mendewasakan orang ketimbang menangnya. 

Saya ingat sekali dulu waktu gencar-gencarnya american idol, saya membaca pada sebuah artikel bagaimana runner-up American idol -edisi keberapa saya lupa- menampilkan wajah yang tetap tersenyum saat dinyatakan dia kalah, dan lalu mengeluarkan sepotong kalimat yang gagah, “Saya menunggu rekan saya ini, untuk bersaing pada panggung sesungguhnya, di luar ini nanti”. Dia kalah, tetapi anggun dan tidak kehilangan kekerenannya. Dan memang akhirnya pada industri musik yang lebih keras dan kejam kontes hidupnya dia lebih terkenal dan mereguk sukses. Sayang saya lupa namanya, memang perbendaharaan musik saya mengenaskan. 

Tapi yang jelas, terlepas dari urusan seni, saya mengingat banyak sekali babak dimana saya kalah. Dan saya ingat bagaimana tempo-tempo itu saya bisa begitu emosional. Kalah main badminton tingkat RT, kalah pada lomba pidato tingkat provinsi, kalah pada lomba nasyid, berkali-kali kalah dalam persaingan sepuluh besar kelas, kalah dalam wawancara akhir saringan masuk BHMN, dan banyak cerita lainnya. Kekalahan yang tidak anggun. 

Saya tersentak, kok ya hidup diwarnai terlalu sentimentil? Padahal betapa bergairahnya hidup jika selalu dinamis dan memperbaiki apa-apa yang kurang, tanpa menomorsatukan gelar. 

Saya sudah memutuskan, akan mengambil penokohan seorang Bapak yang membesarkan hati anaknya yang mengalami kekalahan pertama. Tidak ada keharuan yang drama. Tidak ada tangis-tangis yang menye-menye dari saya. Hanya pengingat, bahwa betapapun tidak menjadi juara kali ini, kita tetap bisa terlihat anggun dan terhormat. Lalu menjadi lebih dewasa lagi dengan menganggap biasa saja dari segala yang luput, dan tak terlalu gembira pada yang teraih. 

Tentu saya bukannya tidak mengaharapkan anak saya menjadi pemenang. Biarlah…kala dia menjadi pemenang nanti, dia sudah tidak membutuhkan dampingan Bapaknya. Karena pelajaran menjadi pemenang sudah saya ajarkan sejak dari dia jatuh bangun dalam kekalahannya yang memesona itu tadi. Selalu anggun dalam kekalahan, saya rasa sudah menang dengan sendirinya.

 

Iklan

4 thoughts on “ANAK SAYA KALAH X-FACTOR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s