HIJRAH…

Sudah lama saya berfikir untuk memiliki domain sendiri. Awal mulanya hanya ingin terlihat keren saja, tanpa embel-embel wordpress di belakang nama blog. Tapi makin kemari keinginan itu menjadi semakin kuat, karena saya merasa harus lebih serius dalam menulis.

Banyak sekali memori perjalanan terekam dalam blog ini. Sebagian karena begitu banyaknya kenangan dan sebagian karena beberapa orang sudah mengenal blog ini, saya jadi sungkan bergerak. Lama saya baru sadar, kesungkanan itu adalah alarm pengingat, bahwa awal mula itikad menulis saya adalah menemukan jatidiri. Saya ingin merasa berarti dalam kancah sejarah, meski dengan beberapa potong kata.

Sekarang, saya baru menemukan di mana letak kelirunya. Sebuah tulisan yang saya persembahkan untuk menemukan diri saya sendiri, boleh jadi menginspirasi orang lain, tapi saya merasakan ada unsur barokah yang tergores cacat disana. Mestinya perjalanan kita tidak tertumbuk pada diri pribadi, melainkan terus berjalan sampai menemukan Dia, sang muasal kehidupan, tempat kita kembali.

Maka itu, saya mengundang rekan-rekan, untuk berkunjung ke alamat baru saya. Mudah-mudahan hijrah ini menjadi awal dari suatu yang baru. Itikad kepenulisan yang lebih di perbaiki lagi. Bahwa menulis bukan untuk puja-puji, bukan juga aktualisasi diri, tapi persembahan kepada Dia; tempat kita kembali.

saya pindah kemari

http://www.debuterbang.com

 

 

GREGET PERSANDARAN

persandaran dua

Kemarahan kuli-kuli panggul alat-alat pengeboran itu sudah memuncak, tapi untungnya saya dan seorang rekan diselamatkan oleh seorang Bapak yang begitu santun dan penyabarnya. Beliau adalah wakil dari penanggung jawab pengeboran itu.

Pasalnya, saya dan seorang rekan bertugas merintis jalan menuju camp, dengan bermodal GPS. Tapi GPS tak berkutik dalam hutan hujan tropis yang lebat, sering tak ada sinyal, dan walhasil setelah berjam-jam berputar putar, kami kembali ke tempat semula. Letih sekali tentu, tapi para kuli panggul itu lebih letih lagi, karena mereka membawa segudang perkakas dari besi, dan hampir saja kami dilabrak jika tidak seorang Bapak tadi menyelamatkan kami dengan retorikanya yang halus menenangkan para kuli panggul.

Sekarang, setelah bekerja pada dunia yang sedikit berbeda, pengeboran migas, setiap kali saya bertemu dengan seorang pimpinan yang bisa tetap tenang dan santun dalam kekalutan saya pasti teringat beliau. Resepnya sederhana saja rupanya, beliau selalu memandang ada Tuhan dibalik setiap kejadian. Bahwa sechaos apapun tampaknya sebuah peristiwa, tidaklah seperti sapi liar yang mengamuk tanpa kendali. Tetap dibawah pengawasan Tuhan, ada campur tangan Allah pada segalanya. Itu yang membuat beliau tetap kukuh dan stabil dalam kemelut.

Saya mengerti logika itu secara keilmuan, ‘ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian’. Tetapi betapa sulit menjadikan logika keilmuan itu mewujud dalam karakter pribadi saya.

setiap menghadapi kekalutan saya ikut kalut juga. Saya tidak pernah setenang beliau itu. Tidak pernah. Meski secara teoritis saya tetap ingat bahwa Tuhan berkecimpung dalam segala apa yang terjadi.

Lama saya merenungkan kenapa saya susah menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan? Sampai tiba-tiba saya tersadar bahwa hijab penghalang tebal itu rupanya bernama ilmu.

Ada sebuah ilustrasi yang mudah-mudahan mewakili. Jaman dahulu, jaman dimana keilmuan masih terbatas, seandainya ada orang yang sakit maka orang-orang akan berdoa kepada para dewa. Merapal mantra dan ritus-ritus lainnya.  Kadang-kadang sembuh, kadang-kadang tidak.

Setelah zaman semakin maju, dan kita bersentuhan dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih islami, kita tahu bahwa konsepsi mereka tentang dewa-dewa dan Tuhan yang banyak adalah tidak tepat menurut kita. Dan di sisi lainnya, science mengungkap sesuatu yang tersembunyi bahwa penyakit demam katakanlah, sebenarnya hal yang lumrah dan bisa dihilangkan dengan paracetamol, bukan dengan mantra.

Kita maju pada satu level keberadaban yang lebih tinggi. Kita menjadi paham sebab-akibat dengan bantuan science, dan pada sisi lain keilmuan keagamaan membenarkan konsep tentang keTuhanan dari yang primitif menjadi lebih ‘langit’, samawi.

Tetapi ada yang rupanya kita tinggalkan. Semakin mengerti kita dengan logika sebab-akibat dalam kehidupan ini, semakin ‘greget’ persandaran kita kepada Tuhan itu berkurang.

Jaman dulu, saat orang-orang tidak pernah berfikir bahwa manusia akan bisa terbang, mungkin mereka berfikir bahwa hanya Tuhanlah yang bisa membuat keajaiban orang bisa terbang.

Kini? Setelah pesawat bertebaran dimana-mana, kita menjadi paham bahwa logika hukum alamnya rupanya berkaitan dengan daya angkat, perbedaan tekanan, dan lain-lain yang pada satu sisi mencerdaskan kita selangkah lebih maju, tapi pada sisi lain ‘greget’ bahwa tetap Tuhan yang mengangkat dan melambungkan pesawat itu; menjadi kurang.

Ini ironi yang menyedihkan. Setiap kali kita terbentur dengan suatu masalah dalam hidup kita, maka secara otomatis persandaran kita adalah kepada otak kita yang mencari-cari bagaimana logika sebab-akibat yang akan menyelamatkan kita?

Kita sakit langsung bersandar pada sebab-akibat yang kita paham, jika sakit persandaran kita adalah minum panadol mungkin. Jika galau yang teringat pertama adalah teman tempat curhat atau mungkin ke bioskop. Jika ingin membeli rumah, maka KPR yang terbersit pertama. Tidak ada Tuhan disana.

Karena kita sudah mengerti bagaimana Tuhan “memainkan” hukum alamNya. Kita menjadi pintar, kita mencari akar penyelesaian perkara pada kemampuan kita memahami logika sebab-akibat. Tapi kita salah secara tata krama terhadap Tuhan.

Bagaimana kalau di kemudian hari kita menjadi sangat yakin bahwa kemestian sebab-akibat itulah yang menyelamatkan kita? Penyembuh kita adalah obat sakit kepala, yang menerbangkan kita adalah daya angkat pesawat, yang membuat bumi gempa adalah tumbukan lempeng?

Bahkan pada para pegiat spiritualitas yang rajin berdoa dan tafakur pun pada akhirnya paham sebuah sebab-akibat yang lebih musykil lagi. Bahwa doa kita terkabul bisa saja merupakan pancaran vibrasi gelombang otak yang kait mengait dengan kejadian di alam semesta dan menarik hal yang serupa dengan apa yang kita fikirkan. Bahwa ternyata segala sesuatu di dunia ini masuk akal. Dan disinilah ironi itu, semakin masuk akal sesuatu itu, semakin “greget” persandaran kita pada Tuhan; hilang.

Tentu kita bisa berdalih bahwa “tidak kok, ada Tuhan dibalik sesuatu”. Tapi setiap kali saya berdalih semacam itu, ada sudut lain diri saya yang mengaku dengan jujur, bahwa tidak ada “greget” dalam apa yang saya katakan. Saya sudah terlampau percaya kepada sebab-akibat.

Ironi ini harus kita pangkas sekarang juga. Sebelum kita tumbuh menjadi seorang yang beragama dalam keberagamaan yang begitu formal dengan segala tata aturannya, tapi tak punya sandaran kepada Tuhan. Kata orang arif, kita ini beragama tapi tidak bertuhan.

Seorang guru mengatakan, cara memangkasnya adalah dengan segera mengembalikan segala permasalahan dalam kehidupan kita, atau kebutuhan yang mendera kita; kepada Tuhan. Saat pertama kali kita menghadapi hal itu.

Kita sakit, langsunglah berdoa kepada Tuhan, dengan doa yang pelan dan merendah, sampai kita yakin bahwa dialah yang kuasa menyembuhkan kita. Lalu kita membeli obat.

Kita terbentur masalah keuangan, mengadulah pada setiap sujud yang tuma’ninah. Berdoalah bahwa betapa Dia maha kaya, betapa kita fakir, betapa tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari kesempitan ini selain Dia. Lalu setelah tambatan hati kita benar maka bergeraklah.

Apa saja. Apa saja yang menjadi kebutuhan hidup kita, masalah kita, berusahalah menegur diri kita agar yang pertama kali terbetik di hati adalah meminta tolong kepada Tuhan. Lalu setelah itu baru kita bergerak sambil menjaga persandaran yang benar itu.

Perkara nanti penyelesaiannya bagaimana, itu lain soal. Tidak harus keajaiban terjadi lalu serta merta masalah kelar. Bisa jadi kita tetap harus meminjam KPR, bisa jadi harus minum paracetamol dulu sekian hari baru demam reda. Tapi pandangan kita setidaknya lebih jauh dari sekedar tertumbuk pada logika sebab-akibat semata-mata.

Dalam gerak yang dibingkai nuansa minta tolong kepada Tuhan inilah, maka segala sebab-akibat ataupun keilmuan apa saja tidak akan menjadi hijab bagi kita. Sehingga mudah-mudahan jelas, bahwa ‘sebab’ itu adalah sesuatu yang diadakan oleh Allah, begitupun juga ‘akibat’ adalah sesuatu yang dijadikan ada oleh Allah.

Bahwa akibat itu lahir setelah sebab, karena memang Allah membuatnya begitu. Tidak berarti sebab dan akibat memiliki keterkaitan yang mutlak. Dan tidak berarti bahwa sebablah yang membuat akibat menjadi ada.

Seperti misalnya kita terbang pada sebuah pesawat, sesungguhnya Allah yang menggerakkan angin dan seketika setelah angin dibuat berbeda tekanannya maka Allah pula yang mengangkat pesawat itu ke atas.

Ada Dia dibalik segalanya. Bahkan dibalik sebab-akibat apapun yang telah kita pahami dengan ilmu-ilmu kita.

———
*) saya pinjem gambar ilustrasi dari sini

NAHKODA KEHIDUPAN

20130305-164034.jpg
Banyak kejadian dalam kehidupan nyata kita yang rupanya tidak kalah drama dibandingkan cerita-cerita film. Sebagian malah lebih heroik, karena kekaguman kita bakal lebih merasuk dalam disebabkan kaget bahwa hal-hal semacam itu memang ada, di sini, di kehidupan nyata.

Seperti baru-baru ini, seorang kawan saya memberi kabar yang membuat saya terperangah seperti dia juga terperangah. Kabar itu adalah seorang rekan beliau yang bekerja di salah satu perusahaan minyak besar milik negara ini, mengundurkan diri dari jabatannya untuk mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak TKI di malaysia.

Kenapa harus TKI dan kenapa malaysia? Saya tak sempat bertanya, keheranan yang tidak perlu itu tidak sempat muncul karena kalah oleh bersit rasa malu bahwa masih ada orang-orang yang bisa menukarkan pilihan hidup yang gampang dan basah oleh kemudahan keduniawian untuk kemudian memilih menjadi pejuang di jalan sepi. Menjadi bagian dari sedikit orang-orang mulia yang namanya jarang dicatut dalam buku sejarah.

Membayangkan keberanian dia dan membayangkan bahwa keputusan itu pasti telah dihadapkan pada berbagai-bagai saringan pertimbangan yang tak pernah mudah, sudah cukup membuat saya angkat topi.

Meneruskan kekaguman saya pada orang-orang model begini, Saya harus menghidangkan pada kawan-kawan sebuah cerita lainnya, demi untuk menselebrasikan kekagetan saya bahwa orang-orang seperti itu masih ada di tengah-tengah kehidupan yang kusut masai ini.

Kali ini sebuah kisah dari orang yang sangat akrab dengan keseharian saya waktu kuliah. Seorang lelaki tua dengan penampilan bersahaja dan jauh dari kesan meyakinkan. Saya juga termasuk yang menyangsikan bahwa beliau guru besar beladiri kungfu muslim.

Nah…salah satu bagian drama dalam hidup guru saya itu adalah bahwa dia memilih menyebarkan beladiri dan membangun sebuah rumah di kaki pegunungan pinggiran jalan Bandung-Sumedang, ketimbang menikmati hidup sebagai anak orang kaya di Sumatera, dan ketimbang menikmati glamournya strata kependidikan yang beliau dapatkan dari ITB. Betapa drama, bukan? Saya ingat beliau pernah bercerita bahwa orang tuanya mengeluh “sudah disekolahkan tinggi-tinggi malah ngajar silat”, begitu katanya.

Belakangan saya lebih meringsut dan merasa kecil lagi, karena ternyata beliau menjadikan beladiri hanya sebuah sambilan untuk kerja beliau yg lebih “bergengsi”, menjadi ustadz bagi orang-orang kampung sana. Gampang sekali menemukan beliau, tinggal tanya tukang ojek, diantarkan langsung sampai depan gerbang, saking santernya nama beliau. Atau mungkin juga saking heroiknya ini cerita kiai seperti jaman dulu, penyebar islam di pegunungan dan tangguh bukan buatan. Kurang heroik bagaimana lagi?

Yang saya salutkan dari orang-orang seperti itu adalah karena saya juga pernah berada dalam ambang keputusan yang berat, dan saya mengerti betul betapa memutuskan sesuatu hal yang akan mengubah keseluruhan sisa hidup kita itu tidak mudah. Salah-salah bisa hancur berantakan. Apalagi kalau kita sudah berkeluarga, sensasi ngeri-ngerinya itu jadi dobel.

Tapi memang kalau kita mau jujur, ada sisi terdalam batin kita yang ingin menjadi heroik dan merasa berguna. Lebih-lebih kalau kita baru sadar bahwa selama ini hidup kita kurang banyak menabur makna, terlalu banyak sia-sia, terlalu banyak dosa, dan segala penyesalan lainnya, lalu penyesalan yang luhur itu biasanya ingin kita wujudkan dalam sebuah perubahan hidup. Kita harus revolusi kehidupan kita sendiri.

Seperti cerita konyol saya dulu. Setelah berkeluarga dan punya anak, untunglah muncul sebetik kesadaran kalau selama ini saya sudah tak karuan menabung dosa. Sudah kotorlah istilahnya. Dan godaan bagi orang-orang yang kotor adalah merasa tidak layak untuk kembali ke jalan Tuhan.

Karna satu dan lain cerita, godaan itu berhasil saya lewatkan (saya pernah cerita ini dalam artikel lainnya) Pertaubatan tidaklah boleh surut meski dosa sedalam lautan, seluas mata memandang. Lalu muncullah keinginan saya untuk berubah.

Sempat terpikir apa baiknya saya berhenti saja dari engineer pengeboran migas? Lalu nyantri di pesantren. Belajar agama dari nol. Pergi ke arab. belajar hadist dari ratusan ulama, hidup berteman buku-buku arab klasik, dan membuat karya mengalahkan imam Syafii. singkatnya mendarma baktikan hidup saya untuk kebaikan.

Tapi dalam kegamangan itulah saya tersentak karena takdir mempertemukan saya dengan sebuah petuah dari seorang guru yang mewanti-wanti agar saya hati-hati dengan syahwat tersembunyi dalam kebaikan.

Mulanya saya tak paham, apa maksudnya? Tapi baru sekarang-sekarang saya sedikit mengerti, bahwa sewaktu saya ingin meninggalkan keduniawian saya itu; yang men-trigger saya bukanlah keinginan luhur mendarma baktikan hidup saya untuk Allah, melainkan hasrat yang benar-benar haluuus bahwa saya letih dengan hiruk-pikuk dunia, letih dengan dinamika keluarga, letih dengan ujian-ujian dan ingin berlari pada ketenangan.

Nah…ide bahwa keputusan besar dalam hidup saya ini ternyata disetir oleh keinginan yang samar untuk lari dari kenyataan hidup itulah yang berbahaya, kata guru-guru yang arif.

Karena sejatinya, “sakjane” kata orang jawa, setiap kita sudah ditakdirkan menapaki jalur masing-masing.

Bisa dibayangkan kalau saya berhenti dari dunia migas dan lalu nyantri lagi di pondok pesantren. Kasihan dunia migas kurang satu orang engineer. Dan ndak kebayang juga, betapa banyak waktu yang harus saya “sia-siakan” untuk restart ulang jalan hidup saya dari awal agar bisa jadi kiai tulen.

Ibarat kata, tak semua orang harus jadi petani. Ada yang jadi distributornya. Ada yang jadi tukang makan saja, tapi toh tukang makan ini yang menghidupkan para petani dengan membeli berasnya. Dunia butuh komposisi begini.

Yang saya ingin bagikan pada kawan-kawan, dari pengalaman kejiwaan saya adalah betapa penting melihat dengan jujur apa yang menyetir setiap putusan-putusan kita. Karena keputusan kebaikan sangat sering disusupi oleh syahwat-syahwat yang samar dan tersembunyi, yang sulit nian kita ketahui kalau tidak sering-sering mengamati dialog batin kita sendiri.

Ada orang yang jalannya adalah terjun total mengabdikan dirinya pada jalur sepi pengajaran keagamaan, jalur sepi pejuang-pejuang pendidikan. Tapi ada juga orang-orang yang jalannya adalah bergelut dalam kancah keriuhan keduniawian. Itu sudah takdirnya dari sono begitu.

Masalahnya bukan mana yang lebih terhormat, tapi masalahnya adalah bagaimana kita dengan jalur yang sudah Allah tetapkan ini bisa sebesar-besarnya memberikan sumbangsih bagi hidup.

Kita Bisa mengenal Tuhan lewat berbagai-bagai jalan. Kita bisa menjadi khalifah Tuhan yang mengelola dunia ini dalam kedinamisannya dan mengurangi jatah orang-orang kemaruk, sombong, perusak, dan lain sebagainya karena posisi-posisi penting “duniawi” dinahkodai oleh orang-orang shalih terpecaya dan handal.

Lantas apa tak boleh kita pindah jalur? Ya boleh…tentu boleh, kata guru-guru.

Tapi kalau yang memindahkannya adalah Allah. Bukan nafsu kita. Artinya saat memutuskan itu kita sudah selesai dengan dinamika diri kita sendiri. Sudah bisa mendengar detak hati kita sendiri.

Dan saat itu kita PASTI tahu bahwa kita harus pindah. Ada sebuah kemauan kuat yang menarik-narik kita ke lain jalur. Kemauan kuat yang bersih dan bebas dari syahwat-syahwat yang licik bersembunyi, seperti kemauan mulia orang-orang yang kita kutip di awal tadi.

Dan sakjane lagi, apapun jalur kita saat ini, inilah amanah Tuhan untuk sebaik-baiknya dinahkodai dan dijadikan tunggangan mengenalNya.

ALEGORI PERJALANAN

tembok-cina

Dalam kisah-kisah jagoan dunia persilatan di komik-komik, sering sekali kita menemukan cerita sang tokoh yang tadinya menguasai olah kanuragan aliran keras, lalu pada puncaknya malah diajarkan aliran lembut yang halus. Dan transisi antara dua jenis aliran ini tidak selamanya gampang.

Pada beladiri yang dulu saya pernah tekuni-pun logika ini mirip-mirip. Awalannya diajarkan tinju wigu yang keras dan frontal, setelah matang nanti akan diwejang tangan kipas, mirip-mirip taichi sedikit. Dan saya seperti robot kaku waktu mempelajari bab kelembutan itu dulu. Saya kira sudah mantap, tapi lalu malu sekali waktu diperagakan oleh seorang yang begitu saya hormati kerendahan hatinya, gerakannya seperti air mengalir.

Memang hidup ini seperti kungfu, setelah belajar segala sesuatu yang keras dan frontal ada masanya kita beralih pada sesuatu yang lebih lembut dan halus. Logika ini memang sedikit tidak kontekstual, tapi saya senang dengan pengibaratan begini, karena kenangan tentang beladiri yang bersipadan dengan realita hidup memunculkan heroisme dalam benak saya.

Heroisme model begini seperti waktu kecil bermain perang-perangan dengan kawan-kawan, kita hampir tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang halus-halus, yang abstrak-abstrak. Pusaran konstelasi kehidupan kita begitu sederhana. Makanan. Mainan. Candaan dengan kawan-kawan. Dan sesuatu yang begitu kasat mata sekali. Memang masanya begitu.

Setelah kita dewasa, sepertinya kita diletakkan pada gugusan konstelasi yang berbeda. Semestinya yang menjadi pusat daya tarik kehidupan kita sudah geser sedikit, dari yang terlalu kasat mata menjadi sesuatu yang halus dan tak terindra. Dari makanan, mainan, uang jajan, menjadi keinginan untuk aktual, kebutuhan untuk dicintai, kehausan akan rasa aman, dan yang halus-halus semisal itu.

Masalahnya, transisi ini begitu apiknya, pelan-pelan, dan tidak kita sadari, karena kita tidak pernah terbiasa mengamati detail-detail batin kita sendiri. Tahu-tahu saja kebutuhan kita sudah masuk dalam tingkatan yang pelik itu, tapi kesadaran kejiwaan kita masih tertambat pada hal kasaran yang kasat mata. Jadi kita keliru-keliru menerjemahkannya.

Saya ingat sekali saya pernah bengong cukup lama dalam fase ini. Bekerja sudah. Menikah sudah. Punya rumah dan kendaraan sudah. Lalu setiap hari saya jalani dengan jurus yang sama, menggeluti rutinitas dan mengumpulkan apa yang semestinya dalam logika saya; saya kumpulkan. Uang, sederhana saja. Tapi kok ada yang kurang ya? Apa itu?

Ada orang yang sampai dia dewasa, masih mencari-cari. Mencari ini bisa jadi suatu kebaikan, jika setidaknya dia mengerti kemana harus menuju, artinya pencarian yang dia lakoni adalah suatu tahapan perkembangan yang lumrah sekali. Seperti seorang murid yang belajar beladiri, dia sudah tahu bahwa levelnya sudah naik, dia sudah belajar rangkaian jurus yang tipikalnya sama sekali lain dengan yang sebelumnya dia pelajari, tapi karena hal itu baru maka dia masih salah-salah sedikit, dia masih mencari bentuk yang pas agar dia bisa ketemu pada harmoni. Pencarian model ini, bagus.

Tapi ada jenis pencarian yang salah arah. Yaitu orang yang tidak tahu bahwa semakin dia dewasa, sebenarnya kebutuhan yang dia cari adalah semakin halus dan abstrak. Sehingga dia masih terpusar-pusar pada hal-hal kasat mata yang selamanya tidak akan memenuhi dahaga jiwanya. Misalnya dia kerja terus menerus. Dia mengira itulah yang akan memenuhi ruang jiwanya yang kosong. Semakin dia gila kerja, semakin dia tidak menemukan apa yang dia cari. Karena harta, pekerjaan, uang, itu adalah sesuatu yang kasar, kasat mata, yang memang menjadi kebutuhan kalau kita ada pada level pemula, tapi menjadi tidak pas kalau level kita sudah naik.

Kesadaran akan posisi kejiwaan kita, apa yang sebenarnya sedang menjadi kebutuhan sebenarnya dalam hidup kita; saya rasa bisa menjadi rem yang pakem untuk menghindarkan kita dari keliru menuju.

Karena kekeliruan ini kadang bisa sangat gampang diketahui, kadang-kadang rapih nian tersembunyi. Misalnya, dalam satu fase hidup saya, saya pernah merasa begitu tertinggal dan ingin mengejar ketertinggalan kebijakan hidup itu dengan membaca. Maka saya gila membaca, saya baca semua membeli begitu banyak buku. Padahal setelah saya merenung lagi, saya jadi tersadar, membaca sedemikian banyak buku tidak sama dengan mendapatkan kearifan hidup. Terus mengumpulkan wacana, mungkin hanya memenuhi ruang logika saja, dahaga otak untuk bergelut dengan wacana dan debat-debat ilmu. Sedangkan kearifan hidup yang sebenarnya adalah dengan melihat kedalam diri kita, lalu konsisten pelan-pelan mencari letak salahnya kita selama ini.

Tentu boleh sekali membaca, tapi lebih boleh lagi jika kita menyaring apa yang kita baca sebatas apa yang benar-benar bisa aplikatif dalam hidup kita, dan lebih boleh lagi jika setelah membaca hal-hal yang aplikatif kita sejenak menutup buku dengan segala teoremanya dan menyempatkan diri untuk melukiskan kebaikan-kebaikan dalam wacana lembaran itu menjadi pengalaman hidup kita.

Dan kalau boleh saya mengutip lagi kekisah di kearifan dunia beladiri, betapa sering saya menyaksikan, di puncak pencapaiannya dalam beladiri, orang-orang yang saya kagumi itu alih-alih petantang-petenteng tapi malah biasa saja dengan beladirinya. Karena semakin menghayati hidup, semakin tahu kemana menuju.

Kalau boleh saya sederhanakan, semakin dia dewasa, semakin pencariannya berubah arah. Dari menelusur ke luar dirinya, menjadi berbalik ke dalam dirinya. Dan segala pertanyaan yang absurd tentang makna dan kesejatian hidup itu hampir pasti ditemukan di dalam diri kita sendiri. Bukan lewat harta, bukan lewat orang lain, bukan juga lewat tumpukan buku-buku.

Memang semua itu sebenarnya hanya alegori kebijakan hidup, bisa pas, bisa tidak pas. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa kebijakan hidup bisa kita temukan sendiri-sendiri dengan awalan pertanyaan ini, dari mana kita datang dan kemana kita menuju?