ALEGORI PERJALANAN

tembok-cina

Dalam kisah-kisah jagoan dunia persilatan di komik-komik, sering sekali kita menemukan cerita sang tokoh yang tadinya menguasai olah kanuragan aliran keras, lalu pada puncaknya malah diajarkan aliran lembut yang halus. Dan transisi antara dua jenis aliran ini tidak selamanya gampang.

Pada beladiri yang dulu saya pernah tekuni-pun logika ini mirip-mirip. Awalannya diajarkan tinju wigu yang keras dan frontal, setelah matang nanti akan diwejang tangan kipas, mirip-mirip taichi sedikit. Dan saya seperti robot kaku waktu mempelajari bab kelembutan itu dulu. Saya kira sudah mantap, tapi lalu malu sekali waktu diperagakan oleh seorang yang begitu saya hormati kerendahan hatinya, gerakannya seperti air mengalir.

Memang hidup ini seperti kungfu, setelah belajar segala sesuatu yang keras dan frontal ada masanya kita beralih pada sesuatu yang lebih lembut dan halus. Logika ini memang sedikit tidak kontekstual, tapi saya senang dengan pengibaratan begini, karena kenangan tentang beladiri yang bersipadan dengan realita hidup memunculkan heroisme dalam benak saya.

Heroisme model begini seperti waktu kecil bermain perang-perangan dengan kawan-kawan, kita hampir tidak pernah berfikir tentang sesuatu yang halus-halus, yang abstrak-abstrak. Pusaran konstelasi kehidupan kita begitu sederhana. Makanan. Mainan. Candaan dengan kawan-kawan. Dan sesuatu yang begitu kasat mata sekali. Memang masanya begitu.

Setelah kita dewasa, sepertinya kita diletakkan pada gugusan konstelasi yang berbeda. Semestinya yang menjadi pusat daya tarik kehidupan kita sudah geser sedikit, dari yang terlalu kasat mata menjadi sesuatu yang halus dan tak terindra. Dari makanan, mainan, uang jajan, menjadi keinginan untuk aktual, kebutuhan untuk dicintai, kehausan akan rasa aman, dan yang halus-halus semisal itu.

Masalahnya, transisi ini begitu apiknya, pelan-pelan, dan tidak kita sadari, karena kita tidak pernah terbiasa mengamati detail-detail batin kita sendiri. Tahu-tahu saja kebutuhan kita sudah masuk dalam tingkatan yang pelik itu, tapi kesadaran kejiwaan kita masih tertambat pada hal kasaran yang kasat mata. Jadi kita keliru-keliru menerjemahkannya.

Saya ingat sekali saya pernah bengong cukup lama dalam fase ini. Bekerja sudah. Menikah sudah. Punya rumah dan kendaraan sudah. Lalu setiap hari saya jalani dengan jurus yang sama, menggeluti rutinitas dan mengumpulkan apa yang semestinya dalam logika saya; saya kumpulkan. Uang, sederhana saja. Tapi kok ada yang kurang ya? Apa itu?

Ada orang yang sampai dia dewasa, masih mencari-cari. Mencari ini bisa jadi suatu kebaikan, jika setidaknya dia mengerti kemana harus menuju, artinya pencarian yang dia lakoni adalah suatu tahapan perkembangan yang lumrah sekali. Seperti seorang murid yang belajar beladiri, dia sudah tahu bahwa levelnya sudah naik, dia sudah belajar rangkaian jurus yang tipikalnya sama sekali lain dengan yang sebelumnya dia pelajari, tapi karena hal itu baru maka dia masih salah-salah sedikit, dia masih mencari bentuk yang pas agar dia bisa ketemu pada harmoni. Pencarian model ini, bagus.

Tapi ada jenis pencarian yang salah arah. Yaitu orang yang tidak tahu bahwa semakin dia dewasa, sebenarnya kebutuhan yang dia cari adalah semakin halus dan abstrak. Sehingga dia masih terpusar-pusar pada hal-hal kasat mata yang selamanya tidak akan memenuhi dahaga jiwanya. Misalnya dia kerja terus menerus. Dia mengira itulah yang akan memenuhi ruang jiwanya yang kosong. Semakin dia gila kerja, semakin dia tidak menemukan apa yang dia cari. Karena harta, pekerjaan, uang, itu adalah sesuatu yang kasar, kasat mata, yang memang menjadi kebutuhan kalau kita ada pada level pemula, tapi menjadi tidak pas kalau level kita sudah naik.

Kesadaran akan posisi kejiwaan kita, apa yang sebenarnya sedang menjadi kebutuhan sebenarnya dalam hidup kita; saya rasa bisa menjadi rem yang pakem untuk menghindarkan kita dari keliru menuju.

Karena kekeliruan ini kadang bisa sangat gampang diketahui, kadang-kadang rapih nian tersembunyi. Misalnya, dalam satu fase hidup saya, saya pernah merasa begitu tertinggal dan ingin mengejar ketertinggalan kebijakan hidup itu dengan membaca. Maka saya gila membaca, saya baca semua membeli begitu banyak buku. Padahal setelah saya merenung lagi, saya jadi tersadar, membaca sedemikian banyak buku tidak sama dengan mendapatkan kearifan hidup. Terus mengumpulkan wacana, mungkin hanya memenuhi ruang logika saja, dahaga otak untuk bergelut dengan wacana dan debat-debat ilmu. Sedangkan kearifan hidup yang sebenarnya adalah dengan melihat kedalam diri kita, lalu konsisten pelan-pelan mencari letak salahnya kita selama ini.

Tentu boleh sekali membaca, tapi lebih boleh lagi jika kita menyaring apa yang kita baca sebatas apa yang benar-benar bisa aplikatif dalam hidup kita, dan lebih boleh lagi jika setelah membaca hal-hal yang aplikatif kita sejenak menutup buku dengan segala teoremanya dan menyempatkan diri untuk melukiskan kebaikan-kebaikan dalam wacana lembaran itu menjadi pengalaman hidup kita.

Dan kalau boleh saya mengutip lagi kekisah di kearifan dunia beladiri, betapa sering saya menyaksikan, di puncak pencapaiannya dalam beladiri, orang-orang yang saya kagumi itu alih-alih petantang-petenteng tapi malah biasa saja dengan beladirinya. Karena semakin menghayati hidup, semakin tahu kemana menuju.

Kalau boleh saya sederhanakan, semakin dia dewasa, semakin pencariannya berubah arah. Dari menelusur ke luar dirinya, menjadi berbalik ke dalam dirinya. Dan segala pertanyaan yang absurd tentang makna dan kesejatian hidup itu hampir pasti ditemukan di dalam diri kita sendiri. Bukan lewat harta, bukan lewat orang lain, bukan juga lewat tumpukan buku-buku.

Memang semua itu sebenarnya hanya alegori kebijakan hidup, bisa pas, bisa tidak pas. Tapi mungkin kita akan sepakat bahwa kebijakan hidup bisa kita temukan sendiri-sendiri dengan awalan pertanyaan ini, dari mana kita datang dan kemana kita menuju?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s