NAHKODA KEHIDUPAN

20130305-164034.jpg
Banyak kejadian dalam kehidupan nyata kita yang rupanya tidak kalah drama dibandingkan cerita-cerita film. Sebagian malah lebih heroik, karena kekaguman kita bakal lebih merasuk dalam disebabkan kaget bahwa hal-hal semacam itu memang ada, di sini, di kehidupan nyata.

Seperti baru-baru ini, seorang kawan saya memberi kabar yang membuat saya terperangah seperti dia juga terperangah. Kabar itu adalah seorang rekan beliau yang bekerja di salah satu perusahaan minyak besar milik negara ini, mengundurkan diri dari jabatannya untuk mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak TKI di malaysia.

Kenapa harus TKI dan kenapa malaysia? Saya tak sempat bertanya, keheranan yang tidak perlu itu tidak sempat muncul karena kalah oleh bersit rasa malu bahwa masih ada orang-orang yang bisa menukarkan pilihan hidup yang gampang dan basah oleh kemudahan keduniawian untuk kemudian memilih menjadi pejuang di jalan sepi. Menjadi bagian dari sedikit orang-orang mulia yang namanya jarang dicatut dalam buku sejarah.

Membayangkan keberanian dia dan membayangkan bahwa keputusan itu pasti telah dihadapkan pada berbagai-bagai saringan pertimbangan yang tak pernah mudah, sudah cukup membuat saya angkat topi.

Meneruskan kekaguman saya pada orang-orang model begini, Saya harus menghidangkan pada kawan-kawan sebuah cerita lainnya, demi untuk menselebrasikan kekagetan saya bahwa orang-orang seperti itu masih ada di tengah-tengah kehidupan yang kusut masai ini.

Kali ini sebuah kisah dari orang yang sangat akrab dengan keseharian saya waktu kuliah. Seorang lelaki tua dengan penampilan bersahaja dan jauh dari kesan meyakinkan. Saya juga termasuk yang menyangsikan bahwa beliau guru besar beladiri kungfu muslim.

Nah…salah satu bagian drama dalam hidup guru saya itu adalah bahwa dia memilih menyebarkan beladiri dan membangun sebuah rumah di kaki pegunungan pinggiran jalan Bandung-Sumedang, ketimbang menikmati hidup sebagai anak orang kaya di Sumatera, dan ketimbang menikmati glamournya strata kependidikan yang beliau dapatkan dari ITB. Betapa drama, bukan? Saya ingat beliau pernah bercerita bahwa orang tuanya mengeluh “sudah disekolahkan tinggi-tinggi malah ngajar silat”, begitu katanya.

Belakangan saya lebih meringsut dan merasa kecil lagi, karena ternyata beliau menjadikan beladiri hanya sebuah sambilan untuk kerja beliau yg lebih “bergengsi”, menjadi ustadz bagi orang-orang kampung sana. Gampang sekali menemukan beliau, tinggal tanya tukang ojek, diantarkan langsung sampai depan gerbang, saking santernya nama beliau. Atau mungkin juga saking heroiknya ini cerita kiai seperti jaman dulu, penyebar islam di pegunungan dan tangguh bukan buatan. Kurang heroik bagaimana lagi?

Yang saya salutkan dari orang-orang seperti itu adalah karena saya juga pernah berada dalam ambang keputusan yang berat, dan saya mengerti betul betapa memutuskan sesuatu hal yang akan mengubah keseluruhan sisa hidup kita itu tidak mudah. Salah-salah bisa hancur berantakan. Apalagi kalau kita sudah berkeluarga, sensasi ngeri-ngerinya itu jadi dobel.

Tapi memang kalau kita mau jujur, ada sisi terdalam batin kita yang ingin menjadi heroik dan merasa berguna. Lebih-lebih kalau kita baru sadar bahwa selama ini hidup kita kurang banyak menabur makna, terlalu banyak sia-sia, terlalu banyak dosa, dan segala penyesalan lainnya, lalu penyesalan yang luhur itu biasanya ingin kita wujudkan dalam sebuah perubahan hidup. Kita harus revolusi kehidupan kita sendiri.

Seperti cerita konyol saya dulu. Setelah berkeluarga dan punya anak, untunglah muncul sebetik kesadaran kalau selama ini saya sudah tak karuan menabung dosa. Sudah kotorlah istilahnya. Dan godaan bagi orang-orang yang kotor adalah merasa tidak layak untuk kembali ke jalan Tuhan.

Karna satu dan lain cerita, godaan itu berhasil saya lewatkan (saya pernah cerita ini dalam artikel lainnya) Pertaubatan tidaklah boleh surut meski dosa sedalam lautan, seluas mata memandang. Lalu muncullah keinginan saya untuk berubah.

Sempat terpikir apa baiknya saya berhenti saja dari engineer pengeboran migas? Lalu nyantri di pesantren. Belajar agama dari nol. Pergi ke arab. belajar hadist dari ratusan ulama, hidup berteman buku-buku arab klasik, dan membuat karya mengalahkan imam Syafii. singkatnya mendarma baktikan hidup saya untuk kebaikan.

Tapi dalam kegamangan itulah saya tersentak karena takdir mempertemukan saya dengan sebuah petuah dari seorang guru yang mewanti-wanti agar saya hati-hati dengan syahwat tersembunyi dalam kebaikan.

Mulanya saya tak paham, apa maksudnya? Tapi baru sekarang-sekarang saya sedikit mengerti, bahwa sewaktu saya ingin meninggalkan keduniawian saya itu; yang men-trigger saya bukanlah keinginan luhur mendarma baktikan hidup saya untuk Allah, melainkan hasrat yang benar-benar haluuus bahwa saya letih dengan hiruk-pikuk dunia, letih dengan dinamika keluarga, letih dengan ujian-ujian dan ingin berlari pada ketenangan.

Nah…ide bahwa keputusan besar dalam hidup saya ini ternyata disetir oleh keinginan yang samar untuk lari dari kenyataan hidup itulah yang berbahaya, kata guru-guru yang arif.

Karena sejatinya, “sakjane” kata orang jawa, setiap kita sudah ditakdirkan menapaki jalur masing-masing.

Bisa dibayangkan kalau saya berhenti dari dunia migas dan lalu nyantri lagi di pondok pesantren. Kasihan dunia migas kurang satu orang engineer. Dan ndak kebayang juga, betapa banyak waktu yang harus saya “sia-siakan” untuk restart ulang jalan hidup saya dari awal agar bisa jadi kiai tulen.

Ibarat kata, tak semua orang harus jadi petani. Ada yang jadi distributornya. Ada yang jadi tukang makan saja, tapi toh tukang makan ini yang menghidupkan para petani dengan membeli berasnya. Dunia butuh komposisi begini.

Yang saya ingin bagikan pada kawan-kawan, dari pengalaman kejiwaan saya adalah betapa penting melihat dengan jujur apa yang menyetir setiap putusan-putusan kita. Karena keputusan kebaikan sangat sering disusupi oleh syahwat-syahwat yang samar dan tersembunyi, yang sulit nian kita ketahui kalau tidak sering-sering mengamati dialog batin kita sendiri.

Ada orang yang jalannya adalah terjun total mengabdikan dirinya pada jalur sepi pengajaran keagamaan, jalur sepi pejuang-pejuang pendidikan. Tapi ada juga orang-orang yang jalannya adalah bergelut dalam kancah keriuhan keduniawian. Itu sudah takdirnya dari sono begitu.

Masalahnya bukan mana yang lebih terhormat, tapi masalahnya adalah bagaimana kita dengan jalur yang sudah Allah tetapkan ini bisa sebesar-besarnya memberikan sumbangsih bagi hidup.

Kita Bisa mengenal Tuhan lewat berbagai-bagai jalan. Kita bisa menjadi khalifah Tuhan yang mengelola dunia ini dalam kedinamisannya dan mengurangi jatah orang-orang kemaruk, sombong, perusak, dan lain sebagainya karena posisi-posisi penting “duniawi” dinahkodai oleh orang-orang shalih terpecaya dan handal.

Lantas apa tak boleh kita pindah jalur? Ya boleh…tentu boleh, kata guru-guru.

Tapi kalau yang memindahkannya adalah Allah. Bukan nafsu kita. Artinya saat memutuskan itu kita sudah selesai dengan dinamika diri kita sendiri. Sudah bisa mendengar detak hati kita sendiri.

Dan saat itu kita PASTI tahu bahwa kita harus pindah. Ada sebuah kemauan kuat yang menarik-narik kita ke lain jalur. Kemauan kuat yang bersih dan bebas dari syahwat-syahwat yang licik bersembunyi, seperti kemauan mulia orang-orang yang kita kutip di awal tadi.

Dan sakjane lagi, apapun jalur kita saat ini, inilah amanah Tuhan untuk sebaik-baiknya dinahkodai dan dijadikan tunggangan mengenalNya.

6 thoughts on “NAHKODA KEHIDUPAN

  1. Reblogged this on Scientia Afifah and commented:
    “Masalahnya bukan mana yang lebih terhormat, tapi masalahnya adalah bagaimana kita dengan jalur yang sudah Allah tetapkan ini bisa sebesar-besarnya memberikan sumbangsih bagi hidup.

    Kita Bisa mengenal Tuhan lewat berbagai-bagai jalan. Kita bisa menjadi khalifah Tuhan yang mengelola dunia ini dalam kedinamisannya dan mengurangi jatah orang-orang kemaruk, sombong, perusak, dan lain sebagainya karena posisi-posisi penting “duniawi” dinahkodai oleh orang-orang shalih terpecaya dan handal.

    Lantas apa tak boleh kita pindah jalur? Ya boleh…tentu boleh, kata guru-guru.

    Tapi kalau yang memindahkannya adalah Allah. Bukan nafsu kita. Artinya saat memutuskan itu kita sudah selesai dengan dinamika diri kita sendiri. Sudah bisa mendengar detak hati kita sendiri.. ”
    😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s