TAK AKAN PERNAH TERBELI

Lumma-CLR-BMW-M6-1
Dalam jangka waktu sebulan, apakah mungkin upah dari sebuah pekerjaan mencuci piring akan mencapai nilai lima ratus juta atau senilai BMW terbaru? Dengan logika umum yang normal, kita tahu itu rasanya sangat tidak mungkin, bukan?

Tapi anehnya kita sering melakukan hal yang sebaliknya, kita sering menganggap hal itu mungkin, dan jelas-jelas itu suatu kesalahan dalam cara memandang. Hal itu analog dengan kita yang selalu menganggap bahwa usaha terbaik manusia dalam peribadatannya bisa dibarter dengan karunia Allah. Padahal karunia Allah dibandingkan usaha terbaik manusia sekalipun, tetap tak akan sebanding.

Ini sebuah perumpamaan sederhana. Anggaplah kita ini seorang anak yang berharap agar orang tua kita membelikan kita sebuah mobil baru seharga lima ratus juta. Maka untuk ‘merayu’ orang tua kita, kita melakukan segala macam kegiatan membantu orang tua kita di rumah.hand-washing-dishes

Kita mencuci piring, menyapu rumah, mencucikan mobil orang tua kita, mengepel lantai, menyapu halaman, dan macam-macam. Dengan harapan orang tua kita akan mengabulkan keinginan kita untuk dibelikan sebuah mobil.

Membantu orang tua adalah baik, akan tetapi sebuah sikap yang salah akan terjadi saat seorang anak melakukan segala baktinya itu, kemudian dia beranggapan bahwa baktinya itu -segala macam pekerjaan rumah tangga yang dia bantu lakukan itu- jika ditotal-total upahnya akan senilai harga mobil yang lima ratus juta.

Padahal kalau misalnya dihitung, upah cuci piring, upah cuci mobil, nyapu rumah, ngepel; tidak akan pernah mencapai lima ratus juta. Tidak akan pernah senilai itu.

Kalaupun mobil akhirnya diberikan oleh orang tua kita, itu semata karena kebaikan mereka. Bukan karena harga mobil itu terbayar dengan upah kerja keras kita yang membantu mencuci dan menyapu di rumah.

Begitulah kita. Saat keinginan untuk mendekat kepada Allah muncul, maka kita terdorong untuk melakukan segala amal baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita tidak lagi ‘memandang’ kepada Allah, tetapi kita memandang kepada amal. Bukan lagi karunia Allah yang menarik kita kepadaNya yang kita andalkan, melainkan usaha kita sendiri.

Cara mengetahuinya gampang sekali, saat suatu ketika kita nge-drop dalam beribadah, kita akan kehilangan harapan untuk bisa dekat kepada Allah.

Taroklah peribadatan kita sempurna, sholat berbilang-bilang rakaat, dzikir begitu dawam, tilawah Qur’an berlembar-lembar, tetapi suatu ketika ada masalah menghantam, lalu kejiwaan kita begitu rapuh dan kita gelisah. Kita begitu larut dalam gelisah, sholat tak tenang, dzikir terlupa, sampai akhirnya menjadi sadar, kalau saya sampai se-gelisah ini, lalu apa artinya segala laku peribadatan yang saya lakukan sebanyak itu kalau tidak membuat saya bisa tenang dan pasrah pada Allah?

Lalu kita kecewa, kecewa pada sebuah kenyataan bahwa kita tidak bisa menjaga track-record kemulusan peribadatan kita. Dan kita sampai pada sebuah kesimpulan yang fatal “Ah…memang tak mungkin saya bisa sampai kepada Allah, sudahlah”.

Kesimpulan fatal yang membuat kita putus asa terhadap rahmat Allah itulah, yang menandakan bahwa selama ini kita “berjalan” menuju Allah bukan dengan “mengandalkan/ mengharapkan karunia Allah” melainkan dengan menganggap hebat usaha kita sendiri.

Saya belakangan baru mengerti, apa maksud orang-orang arif yang mengatakan bahwa orang yang akan berhasil sampai di penghujungnya adalah orang-orang yang sejak awal sudah mengandalkan Allah. Bukan mengandalkan dirinya sendiri.

Orang-orang seperti ini, saat beribadah dia akan memaknai ibadahnya sebagai sebuah bentuk minta tolong kepada Allah. ya, minta tolong, begitu saja. Sebagai sebuah bentuk mengharapkan kebaikan Allah, agar Allah menarik orang tersebut mendekat.

Saat orang-orang seperti ini terpuruk, mereka tetap akan memandang Allah, dan malah menjadi menyadari bahwa betapa segala daya dan kekuatan adalah milik Allah. Malah mereka semakin sadar dan ngerti bahwa sebenarnya kemampuan manusia ini cuma ngarep tok kepada Allah. Ngarep, dan bentuk pengharapan itu terejawantah dalam segala macam perilaku kehidupan. Tapi intinya tetap bukan pada perilaku kebaikan itu, tetapi bahwa perilaku kebaikan itu cuma bentuk lain dari minta tolong.

Daya berkeinginan datangnya dari Allah. Segala upaya terbaik manusiapun karena pertolongan Allah. Sudah tidak ada tempatnya lagi bagi sombong-sombongan manusia untuk bertahta.

Sudah, memang manusia ini tidak akan pernah bisa membeli karunia Allah dengan prestasi terbaik sekalipun.

Maka ngeri sebenarnya kalau mengharapkan hitungan keadilan Allah. Hitungan adil itu adalah seperti ibarat di atas tadi, kalau mobil seharga lima ratus juta diberikan ke kita, dan ternyata usaha terbaik kita hanya diupahi katakanlah sepuluh juta, maka berarti kita hutang empat ratus sembilan puluh juta. Mau bayar pake apa?

Jadi jangan menantang keadilan Allah, tapi bersimpuh dan mengharap saja pada rahmatNya. Menjadi fakir dihadapan Tuhan.

Jadi, kita berjalan terus saja, jatuh, bangun lagi, jalan lagi, jatuh lagi bangun lagi jalan lagi. Sambil jangan pernah berfikir bahwa usaha kita yang jatuh bangun ini yang akan mengatarkan kita sampai padaNya. Melainkan karena kebaikan diriNya sendirilah.

Seperti yang masyhur kita tahu, kita sejengkal Dia sedepa. kita sedepa Dia sehasta. kita jalan Dia berlari.

PENYAKSI

NEBULADi luar angkasa sana, kumpulan awan gas dan material-material halus lainnya berpusar, mengkabut dan memadat. Dalam sebuah teori dikatakan inilah cikal-bakal, awal mula pembentuk bintang-bintang yang berpijar-pijar. Nebula.

Trilliunan bebintang mengambang dan berputar dalam konstelasi yang stabil di luar angkasa sana. Pada manzilah-manzilahnya sendiri. Mataharinya kita, dibandingkan segala ketakjuban gugusan bintang-bintang itu tadi hanyalah mungil saja.

wpid-wp-1421119068482.jpegSaya tercenung memandangi ini semua. Seperti kita bisa melihat rekaman penciptaan alam semesta.

Dan sampai saat ini pun ilmu pengetahuan pelan-pelan menyingkap kecantikan karya Allah di alam semesta.

Sesuatu yang tidak akan selesai dituliskan meski seluruh samudera menjadi tinta dan sebanyak seluruh pohon menjadi pena.

Tiba-tiba saya tersadar, kita ini sebenarnya berurusan dengan Sang Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat. Bumi yang besar ini saja masih terlalu kecil. Lihatlah Trilyunan bintang-bintang dibentuk. Allah-lah pemilik kekuatan maha menakjubkan di balik susunan alam semesta ini. Yang menggulirkan setiap partikel apapun saja di samudera angkasa lepas untuk bersatu dan mewujud bebintang-bintang raksasa.

Maka selain Maha Indah (segala sesuatu penisbatan sifat jamaliyahNya), Allah sekaligus juga maha Perkasa dan Agung (segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan tak terperi dan membuat gemetar merupakan keniscayaan sifatnya yang Jalal).

Memandang inilah terkadang ketakutan itu muncul tiba-tiba. Siapa yang kita sering sebut namaNya dalam Doa? Dia begitu Agung dan Kuat, mengerikan kekuasaanNya.

Tengoklah pada awan merah yang disulam oleh halilintar. Gurat-gurat petir yang sangat indah sekaligus mematikan. Siapa seniman dibalik ini?

APTOPIX Chile Volcano

Saya sering memikirkan, kenapa alam raya ini harus ada, padahal bumi yang ditempati manusia ini hanya senoktah debu dibandingkan kemelimpahan kreasi Allah di luar angkasa itu? Kenapa segala kecantikan dan kedigdayaan alam raya harus sebesar itu jika manusia sekecil ini?

Baru belakangan saya menyadari bahwa Penzahiran kekuasaan Allah adalah ibarat aliran air yang tiada akan pernah kering. Allah seakan-akan mendemonstrasikan segala keagungannya. Mencipta berbilliun-billiun fenomena. Tidak selesai dikaji. Terlalu amat sangat melimpah untuk ditapaki satu demi satu.

universe-pleasureSaking menakjubkannya segala kreasi Allah itu, tidak sedikit manusia-manusia yang salah fokus dan akhirnya menghambakan diri pada keagungan dan kengerian yang mereka lihat secara zahir.

Menyembah bintang. Menyembah gegunung. Menyembah hukum tarik menarik di alam semesta.

Sedikit cuma, dari keseluruhan trah manusia, yang dianugerahi pengenalan akan Allah, menjadi tahu bahwa Allah bukan semua itu, tetapi Pencipta semua itu. Tak serupa semua itu.

Dan untuk memperkenalkan dirinya yang tiada sebanding apapun saja itu, Allah menzahirkan segala kedigdayaan yang menggetarkan.

Lihatlah…lalu diamlah. Tidak mungkin tidak terpana.

Nanti kita akan bisa merasakan bahwa segala yang terhampar luas berserakan ini sebenarnya adalah demonstrasinya Allah sebagai perkenalan kepada kita.

Para pendosa yang diampuni taubatnya adalah perwujudan sifatNya yang Maha Pengampun.

Orang-orang yang dilimpahi rezeki adalah ejawantah dari Welas Asihnya Dia.

Para ibu yang menyayangi anaknya sejak lahir. Orang tua yang rela berdarah-darah demi anaknya.

Burung-burung kecil yang mengepakkan sayap dan berburu lalu pulang berjingkat dan menyuapi makan anaknya dari mulut ke mulut.

Semua merupakan cara Dia menzahirkan cinta dan penjagaan.

Tapi di lain sisi, dalam sebuah hikmah yang tersembunyi rapih dan jarang dipahami manusia, kita bisa melihat juga bahwa perang masih terjadi.

Orang-orang mati danbergelimpangan. Anak-anak kecil teriris nadinya. Tangisan lengking menguar, yang lebih memilukan bahkan dari luka itu sendiri.

Orang-orang yang ditinggalkan keluarganya.

Tsunami yang menyapu bersih satu desa.

Kecelakaan pesawat yang merenggut bayi, Ibunya, Bapaknya, saudara-saudaranya, dan semua kegetiran yang masih saja mewujud meski tak terhitung berapa orang-orang salih dan ahli ibadah memanjatkan doa dan puja-puji agar tragedi berhenti, agar korban-korban tak tumbang dan memerah lagi.

Nyatanya masih ada perang dan bencana meski beratus tahun sudah berlalu.

Lihatlah…lalu diamlah. Tidak mungkin tidak terpana.

Karena ternyata semua itu terzahir sebagai ejawantah dari keperkasaanNya yang Maha Kuat dan tiada bisa disetir manusia.

Hikmah-hikmah yang dia jejalinkan dalam segala fungsi sebab akibat yang kompleks, mekanika takdir, dan jejaring aksi reaksi alam semesta yang luasnya mengerikan ini, Kadang terlalu rumit plotnya dan tak bisa dinalar kita-kita.

Kesimpulan sederhananya sungguh bahwa Dia Maha Perkasa.

Pemilik keindahan yang menakjubkan sekaligus Penguasa absolut tanpa senoktahpun tandingan disisiNya, Dialah yang kita sebut-sebut dalam do’a.

Dan hari ke hari menjadi semakin takut dan memahami, kenapa Sang Nabi SAW sebegitu ketakutannya hingga seperti terdengar gelegak air mendidih dari dadanya. Tak tahukah kita siapa yang kita sembah ini?

“Rabbana amanna bima anzalta wattaba’narrasula faktubna ma’asy-syahidin”

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul. Karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi” (QS ALI IMRAN : 53)

***

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Al Mu’minun : 78)

Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. (Al Mu’minun : 79)

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? ﴾ Al Mu’minun:80 ﴿

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” ﴾ Al Mu’minun:84 ﴿

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” ﴾ Al Mu’minun:86 ﴿

***

posting ulang dari blog permanen saya di http://www.debuterbang.com

PUNCAK KECANGGUNGAN

Saya termasuk satu diantara sedikit orang-orang yang berada di puncak kecanggungan. Dalam banyak perkara, saya mengamati diri saya sebagai seorang yang canggung pada level yang lumayan mengkhawatirkan.

Saya merasa canggung saat berada di kerumunan. Merasa canggung pada suasana yang baru. Merasa canggung jika mengenakan pakaian yang sedikit modis. Juga merasa canggung jika berkendaraan mewah.

Tadinya, saya mengira kecanggungan ini adalah imbas dari konsep zuhud. Rupanya saya keliru.

Ada satu ilustrasi yang selama berapa tahun cukup mengagumkan bagi saya, yaitu ketika saya mendengar seorang ustadz yang mengajar dan selalu menolak saat beliau diberikan amplop sebagai upah mengajar. Saya mengagumi kezuhudan beliau. Dan selama bertahun-tahun pula saya menjadikan kisah dalam cerita itu sebagai role model.

Saya bukan ustadz, tentu saja, tapi dalam banyak hal saya menolak sesuatu yang “mewah” saya beri tanda kutip. Karena begitulah konsepsi zuhud dalam benak saya.

Rupanya, dengan cara berfikir yang demikian itu, saya sudah mengkaitkan sikap zuhud dengan sesuatu yang melulu kasat mata.

Misalnya, naik kendaraan umum ketimbang memiliki mobil pribadi adalah zuhud dalam versi saya yang lama. Zuhud selalu saya kaitkan dengan sikap sederhana yang kasat mata. Penafsiran yang minimalis.

Belakangan, saya tiba-tiba menyadari suatu fakta, bahwa saya menolak sesuatu yang menurut saya tidak zuhud itu; bukanlah karena dorongan sikap mental yang sederhana. Melainkan karena dorongan kecanggungan yang saya sebut di awal tadi. Rasa canggung yang disetir oleh pemaknaan yang berlebihan terhadap benda-benda.

Begini cerita lanjutnya. Ada beberapa hal yang menurut saya mewah, tetapi akhirnya saya menyadari bahwa ianya tepat guna. Artinya mewah atau mahal -tetapi fungsional- bukan berarti tidak zuhud.

Satu contoh yaitu motor. Menurut saya, membeli motor itu sesuatu yang tidak zuhud pada awalnya. Karena saya besar dalam lingkungan keluarga yang marjinal dan sulit secara keuangan. Motor dalam skala saya adalah mewah. Namun setelah saya diberikan kemampuan keuangan, lalu saya membeli motor, saya merasakan ada semacam sensasi bersalah di benak saya.

Sensasi yang tadinya saya kira sebagai sikap zuhud, tapi ternyata lahir dari kecanggungan. Canggung terhadap benda. Padahal motor cuma benda. Cuma kumpulan besi, kaleng, dan baut-baut. Rasa canggung inilah yang telat sekali saya sadari, dan bertahun-tahun tertipu dalam makna zuhud yang kurang pas.

Nyatanya, motor sangat membantu kehidupan saya. Saya bisa berangkat kerja dengan cepat, bisa menghemat, pergi kesana-sini. Dan lain-lain.

Jadi membeli motor, adalah sebuah keputusan mahal dalam skala saya waktu itu, keputusan yang sedikit saya sesali karena mengira saya tidak zuhud lagi, tapi belakangan saya sadari itu adalah sebuah keputusan yang tepat. Dan saya mensyukuri rezeki itu.

Karena motor sangatlah fungsional. Dan rasa bersalah saya di awal-awal itu adalah sebuah kecanggungan. yaitu sikap memandang berlebih terhadap benda.

Sebuah keputusan mahal lainnya, dalam skala saya adalah membeli mobil. Keputusan ini sempat memberikan rasa guncang yang lain lagi. Mengingat mobil lebih mahal dari motor. Dan saya merasa sudah tidak zuhud. Rupanya, mobil sangatlah membantu saya. Waktu istri melahirkan. Bolak-balik ke Rumah Sakit. Dan sekarang istri bolak-balik ke tempat kerja dengan mobil, sambil membawa anak saya yang sudah semakin besar. jadi mobil ternyata fungsional.

Itulah yang saya maksud dengan kecanggungan.

Baru belakangan ini saja, saya bertemu dengan bentuk kearifan lainnya. Yaitu saat seorang ulama yang sepuh selesai mengajar diberikan amplop, dan dia menerimanya dengan biasa saja.

Tidak ada raut gembira. Tidak ada penolakan yang resisten. Tapi sebuah sikap biasa saja yang malah menimbulkan kesan zuhud yang sebenarnya.

Apa pasal? pasalnya, kata beliau. Saat menerima uang yang diberikan, dia tidak pernah memandang orang yang memberikan uang itu. Tapi beliau memandang uang sebagai rezeki yang diberikan Allah.

Jadi, “mata hati” yang memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan mendudukkan perkara zuhud tepat pada tempatnya yang sesuai.

“Mata hati” yang selalu memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan melepaskan kita dari puncak kecanggungan, mendudukkan benda sebagai benda semata.

Tidak canggung memakai jas, pun biasa saja saat memakai kaos oblong. Tidak canggung naik mobil, pun bersyukur saat naik metro mini. Tinggal di hotel berbintang, ataupun di rumah kontrakan. Biasa saja. Karena kita sudah mendudukkan benda sebagai benda semata. Bukan sesuatu yang lekat di hati. Membuat jumawa, atau menjadikan canggung yang tak pada tempatnya.

***

posting ulang dari blog permanen saya http://www.debuterbang.com

MENGGURUKAN RIVAL

Sering kita temukan pernyataan bahwa kita sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. Selama bertahun-tahun saya rupanya menafsirkan hal tersebut secara keliru, saya rasa.

Sejak saya SMA, sampai saya kuliah, meskipun saya termasuk orang yang tidak banyak bicara, atau mungkin kurang ekspressif, tetapi saya mengamati juga orang-orang di sekitar saya dalam “diam” saya itu, dan menjadikan mereka yang saya anggap punya kelebihan, sebagai rival. Meski tentu saja rival dalam artian positif.

Kebaikan dari mentalitas seperti ini tentu saja ada, yaitu saya menjadi tertantang untuk mengejar pencapaian seseorang. Mengejar rekan-rekan yang lebih tersohor dalam komunitas. Mengejar kepiawaian seorang rekan dalam membantai soal-soal matematika dan angka-angka. Mengejar kemahiran seorang rekan dalam akrobat kata-kata dan orasi.

Banyak sekali tema “pengejaran” yang membuat hidup menjadi lebih cepat dan meningkat. Seperti dalam kisah komik, chinmi memiliki rival yaitu shie-fan, seseorang yang dia kejar pencapaian ilmu tongkat-nya. Naruto memiliki rival, yaitu sasuke.

Begitulah. Bertahun-tahun saya menafsirkan bahwa untuk kita berkembang kita harus memiliki rival.

Sampai kemudian berapa tahun belakangan saya menyadari ada sesuatu yang berubah dalam cara saya memandang hal ini. Dan ini baru bisa saya rangkumkan dalam bahasa setelah berapa waktu ini saja.

Yaitu bahwa perlombaan itu berbeda dengan pertandingan.

Pertandingan mengharuskan dua kubu berhadapan. Semisal tinju atau kumite dalam karate. Sedangkan perlombaan, para pesertanya tidak berhadapan. Melainkan mereka bersama-sama bergerak menuju arah yang sama. Seperti lomba lari.

Sebenarnya itulah yang kita lakukan dalam hidup ini. saya rasa, kehidupan kita ini bukan masalah kita bisa mengalahkan siapa. Karena kita, dan mereka, sebenarnya sama-sama bergerak ke tujuan yang sama. Ke akhir yang sama. Jadi tidak ada yang dikalahkan dan mengalahkan.
Atau lebih tepatnya, kita tidak saling menaklukkan satu sama lain.

Saya teringat, bahwa sahabat Umar dan Abu bakar dalam perlombaan amalnya. Umar selalu berusaha mengejar Abu Bakar dalam amalnya.

Dan berkali-kali Umar tertinggal.

Saat Rasulullah bertanya siapa yang hari ini puasa, di antara para sahabat, pastilah Umar menjadi orang yang menyaksikan bahwa Abu Bakar orang yang puasa.

Saat Rasulullah bertanya lagi siapa yang sudah mengunjungi orang sakit, siapa yang sudah memberi makan anak yatim? Selalu Abu Bakar mengungguli Umar.

Sampai pada puncaknya saat Umar menafkahkan setengah hartanya – setengah, coba bayangkan, setengah harta!!- lagi-lagi Umar tertegun melihat Abu Bakar menafkahkan SEMUA hartanya. SEMUA. i mean every single thing!! “Gila!”.

Sebuah pencapaian yang luar biasa. Waktu itulah Umar menyadari dia tidak akan pernah menang melawan Abu Bakar.
***
Saat ini, saya menyadari bahwa memandang hidup sebagai sebuah pertandingan, dalam konteks kalah-mengalahkan sangatlah tidak tepat.

Kita akan selalu tersiksa dalam cita-cita kita sendiri untuk menaklukkan orang lain. Kalau saya merenung lebih dalam lagi, bukankah ego yang menyetir semua itu?

Maka berapa tahun belakangan saya menyadari bahwa setiap orang memiliki “keluarbiasaannya” sendiri. Maka semua orang adalah guru bagi saya.
Dan selayaknya kita belajar pada orang-orang.

Berlomba-lomba dalam kebaikan, ya, tentu saja. Tapi tidak ada lagi bersit di hati saya untuk menaklukkan siapapun saja.

Maka dalam ketertinggalan ilmu pengetahuan misalnya, saya daulat-lah orang yang lebih pandai dari saya sebagai guru. Saya belajar darinya. Biarkanlah dia melaju dengan kepintarannya, dan sudilah mengajarkan ilmunya kepada saya. Karena kita sama-sama bergerak menuju akhir kehidupan, bukan? Dan semua ini hanya perkara bagaimana dalam perjalanan sampai finish ini kita saling memberi kebaikan pada khalayak. Bukan masalah bagaimana kita menjegal orang-orang yang sama-sama berlari menuju akhir.

Saya mengerti bahwa dalam kapasitas intelektual, dalam perkembangan emosional, dalam spiritualitas, seni, kemahiran mengelola rumah tangga, kearifan mendidik anak, keluwesan pergaulan di dunia kerja, pengetahuan perminyakan, dan sebagainya dan sebagainya; saya pastilah tertinggal dari banyak orang.

Maka saya mendaulat pula sekian banyak orang menjadi guru buat saya. Tempat bercermin, bertanya, menimba ilmu, memulung kearifan, meminta koreksi, dan segala macamnya, untuk supaya saya bisa pula berjalan secepat orang-orang, dan memberi kebaikan di sepanjang jalan yang kita sama-sama lalui.

Perkara siapa yang saat ini melaju di depan, siapa yang tertinggal di belakang, tak terlalu penting lagi buat saya.

Karena saya ingat sebuah ungkapan yang masyhur, bila tak mampu berlomba dengan para abid dalam ibadahnya, setidaknya kita berlomba dengan para pendosa dalam istighfarnya.

Dan lomba bukan pertandingan tinju, Bukan menaklukkan satu sama lain. Tapi bergerak bersama-sama, menuju arah yang sama. Sehingga saya mengkonversi semua yang saya anggap rival menjadi guru.

***

posting ulang dari blog http://www.debuterbang.com

NITENI ROSO

Orang jawa bilang, ‘niteni roso’. Mencermati perasaan sendiri. Dari perasaan yang gampang dicermati seperti rasa marah atau rasa bahagia yang sangat, sampai perasaan yang halus seperti khatir (lintasan-lintasan fikiran).

Kebiasaan untuk selalu awas dengan perasaan yang muncul dalam diri kita sendiri, ternyata berguna untuk membuat semacam jarak mental antara kesadaran kita pribadi, dan perasaan itu sendiri.

Hal ini memang agak ribet dijelaskan. Tapi sederhananya kurang lebih begini, saat kita sudah bisa mencermati perasaan kita sendiri, tanpa terhanyut, maka kita akan perlahan-lahan membenarkan, bahwa ‘la hawla wa la quwwata illa billah’.

Tiada daya berketaatan, dan tiada upaya menghindari kemaksiatan kecuali dengan izin Allah.

Saya ingat seorang guru pernah menjabarkan, bahwa ‘hawla’ itu adalah daya di dalam batin. Katakanlah segala macam lintasan fikiran, sampai kemudian lintasan fikiran itu menguat dan menjadi azzam (tekad). Nah, tekad inilah yang menjadi penggerak bagi kita untuk kemudian melakukan ‘quwwata’ sebuah upaya secara fisik.

Jadi upaya yang kita lakukan secara fisik (quwwata), terlebih dahulu disetir oleh adanya keinginan dan daya di dalam batin kita (hawla). Dan dalam tataran batiniyah inilah, orang-orang yang terbiasa awas dengan fikiran dan perasaannya sendiri; akan mendapati sebuah kenyataan bahwa segala perasaan dan lintasan fikiran di dalam batin itu bukan kita yang buat, melainkan ‘diturunkan’ oleh Allah.

Itulah kenapa kita harus mensyukuri segala amal baik dengan mengingat bahwa Allah telah memampukan kita melakukan amal itu. Dan di lain sisi kita harus berlindung pula pada Allah dari segala daya batiniyah yang buruk. Tidak mungkin kita bisa selamat dari keburukan dan dosa, melainkan sejak awal perjalanan kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Pemilik segala kekuatan dan daya, baik batin maupun fisik kasat mata.

Dan semua perjalanan mengenali anasir terhalus dalam diri kita itu bagaimana memulainya? Kata guru-guru, rupanya sederhana saja, dzikrullah setiap masa.

***

posting ulang dari blog permanen http://www.debuterbang.com

MELAINKAN SEDIKIT SEKALI

Kenyataan bahwa manusia tidak mungkin memiliki pengetahuan yang komprehensif, dengan sendirinya menjadi hujjah yang sangat kuat untuk menunjukkan bahwa Allah maha luas ilmunya.

Sekomplit-komplit pengetahuan manusia, tidak bisa mencapai sedikitpun saja dari kemaha luasan ilmu Allah.

Inilah salah satu alasan kenapa kemudian di dalam kehidupan akan banyak sekali terjadi persinggungan dan silang sengketa antar manusia, karena manusia tidak komprehensif pemahamannya.

Dua orang yang saling memandang dengan kacamata pengetahuan dan kepahaman yang berbeda akan bisa berselisih meskipun dua orang itu sama-sama orang baik. Itulah seninya takdir.

Maka memandang kehidupan, tidak akan pernah bisa hitam-putih. Orang-orang arif mengatakan Allah bisa memasukkan malam ke dalam siang, siang ke dalam malam. Kadang-kadang Allah memunculkan kebaikan dari sesuatu yang zahirnya ternampak jahat, atau menyisipkan kejahatan dalam sesuatu yang kelihatan baik dan menarik. Itulah kehebatan Allah. Seorang pendosa dan bergajulan rupanya menjadi hamba yang disayangi Tuhan tersebab perasaan fakir dan butuhnya kepada keampunan Allah, seorang abid menjadi dimurkai Tuhan tersebab perasaan jumawa atas amalnya. Dan semuanya itu luput dari pandangan manusia.

Kalau kita melihat sejarah, kita akan melihat sebuah kenyataan yang mencengangkan, bahwa betapa kehidupan ini sebenarnya tidak kalah “drama” dibandingkan dengan cerita sinetron atau drama yang kita biasa baca di Novel. Lihatlah betapa apiknya Allah menyusun takdir.

Indonesia misalnya. Kita mengenal tokoh sejarah yang masyhur: Sukarno seorang nasionalis. Semaun yang seorang komunis. Lalu Kartosuwiryo yang seorang islamis. Agak sulit kita percayai bahwa rupanya tiga orang tersebut tumbuh besar dalam didikan guru yang sama, yaitu HOS Tjokroaminoto.

Tinggal di rumah kos-kosan yang sama, teman berdebat dan diskusi, lalu sampai waktunya kemudian takdir mengarahkan mereka menjadi berhadap-hadapan di medan laga sejarah.  Tiga orang pembesar sejarah Indonesia ini, lahir dari ceruk “rumah” yang sama. Betapa drama-nya.

Kita tidak bahas mengenai siapa yang benar menurut kita, tentu. Yang kita ingin lihat adalah sisi yang lain, yaitu sebuah kenyataan bahwa ketiga orang itu sama-sama menginginkan persatuan, tetapi berselisih pada tataran cara mewujudkannya. Artinya ketiga orang itu sama-sama lahir dari sebuah niatan yang anggaplah baik, tetapi kemudian terjadi simpangan pada saat mereka menzahirkan niatan itu. Yang mana neraka yang mana syurga? Urusan Allah-lah itu, manusia tidak sampai kepada penghakiman mengenai itu.

Perbedaan tindakan itu kita amati rupanya lahir karena latar belakang keilmuan yang beda, karakter, cara pandang, mungkin sosial budaya keluarga, dan lain-lain, dan lain-lain yang kita tidak bisa lihat detailnya satu-satu.

Masih di Indonesia lagi, kita ambil contoh lain. KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asyari adalah dua ulama besar yang juga sama-sama merupakan teman main. Tidur dalam bilik kecil yang sama. Lahir dari “tempat” pendidikan yang sama, sampai akhirnya takdir menghantarkan dua gerakan ormas besar yang mereka dirikan untuk menjadi rival pemikiran satu sama lain, dari dulu hingga sekarang.

Musa memprotes khidir. Mereka berselisih betapapun dua-duanya orang yang sama-sama dekat pada Tuhan, tetapi bisa berbeda pandangan.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang menyejarah itu menarik untuk kita bahas sama-sama, kita sama-sama tahu bahwa dalam pandangan jagad keilmuan yang lebih kompleks tindakan Nabi Khidir lah yang benar jika dilihat dari kacamata yang lebih luas, Sebabnya Nabi Khidir punya kefahaman atau data yang lebih banyak dibandingkan Nabi Musa saat itu, Khidir melihat sesuatu dibalik sesuatu.

Tapi dengan tingkat kefahaman dan keilmuan yang dimiliki Nabi Musa, dengan situasi batin Nabi Musa, maka memprotes itu adalah tindakan benar  juga. Karena marahnya Nabi Musa adalah wujud dari kebaikan moral, dari kepedulian. Dan sangat wajar Nabi Musa memrotes Khidir, dalam kapasitas data yang Nabi Musa pahami.

Kita tentu mengerti bahwa Khidir benar, akan tetapi Nabi Musa tidak bisa untuk diam saja. Perkaranya akan lain sekali jika Nabi Musa pada akhirnya diam, misalnya diamnya karena apatis. Diamnya itu di-drive dari kecuekan –bukan dari kesadaran bahwa ada gap pemahaman yang panjang antara dirinya dan Khidir– maka diam seperti itu salah.

Dan bayangkan betapa kompleksnya penilaian yang sejati itu! Ya memang pengadilan yang paling adil ialah pengadilan Tuhan. Dan Tuhan-lah yang menggenggam kapasitas untuk tahu segala seluk beluk yang nampak dan yang tersembunyi. Tugas manusia ialah menjalankan peranan dengan segala kapasitas data yang dia miliki, sambil memahami bahwa sekompleks-kompleks dan sebenar-benar pemahaman dan penghakiman hanyalah milik Allah.

Tugas manusia adalah menjalankan peranan sebaik mungkin dengan kapasitas data yang mereka miliki saat ini.

Kenapa mereka yang dulunya dekat kemudian ditakdirkan berhadap-hadapan? Kenapa orang-orang yang sama-sama punya impian kebaikan kemudian bertemu di gelanggang? Lepaskan sejenak ego kita, dan kita pandang ini dari kacamata yang lebih luas. Itulah takdir Allah. Dan semua takdir Allah, pasti berhikmah.

Itu semua adalah drama kolosal yang Allah pertontonkan, untuk menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin mencapai pemahaman yang komprehensif. Akan selalu ada celah untuk manusia memiliki pandangan yang berbeda, tersebab keterbatasan manusia. Dan kemampuan manusia hanyalah sebatas menjalani peranan masing-masing dengan sebaik mungkin.

Ada yang dimudahkan jalannya untuk menjalankan peranan tertentu. Ada yang dimudahkan menjalankan peranan lainnya. Dan dalam setiap peranan itu, Allah-lah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya mendasari setiap pergerakan, setiap kecenderungan, setiap tingkah laku, setiap keputusan, setiap persilangan pendapat, pokoknya apa saja Allah tahu.

Dan menilik kemaha-luasan ilmu Allah ini, maka sepatutnya dalam menjalankan peranan ini, manusia kemudian memandang orang lain sebagai manusia yang juga menjalankan peranan takdirnya sendiri.

Dua orang yang sama-sama baik bisa dipertemukan takdir di panggung sejarah untuk berhadapan satu sama lain. Yang paling benar absolut adalah Allah, tentu saja. Tapi dari sudut pandang manusia, yang paling berkah ialah yang memandang bahwa dalam segala kelakonannya saat ini mereka tidak selalunya berhadapan dengan para durjana, tetapi mungkin saja berhadapan dengan orang yang sama-sama benar, hanya saja takdir memutuskan saat ini mereka harus bertempur di medan sejarah. Lalu mereka semakin menyadari keluasan ilmu Allah. Dan tiadalah manusia mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan sedikit sekali.

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

LAUTAN PENGELIHATAN

EyesSeorang pengemudi motor disalip secara serampangan oleh seorang pengemudi motor lainnya. Orang yang disalip ini kaget dan kemudian muntab, dia marah besar dan mengejar pengemudi motor yang menyalipnya.

Darah mendidih, maklum anak muda. Setelah kejar-kejaran panjang, dia berhenti di dekat motor yang menyalip. Motor itu diparkir di tepi jalan, persis di dekat toilet umum. Dia lihat pengemudi motor yang menyalipnya tadi keluar dari toilet umum sambil memberi uang lima ribu kepada penjaga, dan menyuruh sang penjaga menyimpan kembaliannya.

Anak muda yang tadinya marah dan siap melabrak, urung melampiaskan kemarahannya. Dia biarkan sang pengemudi motor itu berlalu saja.

Tadinya dia pikir pengemudi motor itu menghina dia dengan menyalipnya secara serampangan dan mengajak adu kebut-kebutan. Rupanya gelegak amarah dia itu tidak tepat konteks, karena sebenarnya sang penyalip ini menyalip dengan buru-buru sebab kebelet mau buang air. Bagaimana dia bisa marah.

Cerita ini fiktif belaka. Tetapi bagian yang benar adalah sebuah kenyataan bahwa seringkali apa yang tampak mata tidak selalunya hitam putih.

Semakin lengkap data yang kita punya, maka semakin lengkaplah bahan-bahan yang kita perlukan untuk mengambil kesimpulan. Kesimpulan dua orang yang memiliki data-data berbeda, bisa jadi berbeda sama sekali. Makin lengkap data, makin bijak seseorang mengambil kesimpulan.

Dalam literatur orang-orang yang arif, tingkat kepahaman seseorang dalam memahami kehidupan ini, mereka namakan dengan “maqom”. Levelan spiritual.

Seseorang, semakin arif dirinya, rupanya semakin menyadari bahwa bisa jadi apa yang tampak mata dan kita nilai sebagai sesuatu yang buruk atau yang baik, dimata Tuhan akan sama sekali berbeda. Apa pasal? Pasalnya adalah bahwa Allah memiliki lebih banyak data dibandingkan manusia, sehingga Allah akan menilai dengan PASTI lebih komprehensif.

Coba kita tengok permisalan ini.

Ada berapa jumlah sel pada tubuh manusia? Para ilmuwan mengatakan ada sepuluh pangkat tiga belas sel pada pada tubuh manusia. Trilliun…trilliun…trilliun banyaknya.

Tiap sel bergerak sendiri. Masing-masing sel kalau dipecah lagi akan menjadi atom-atom yang juga bergerak sendiri dengan intelegensianya masing-masing. Dan tak pernah tabrakan. Dan ber-ratus ratus triliun kehidupan itu ada di dalam lautan ilmunya Allah. Tidak satupun dari sebiji atom yang Allah tidak tahu. Yang Allah lupakan dari perhitungan Dia yang Maha.

Itu dari segi mikro, dari sisi yang lebih besar sedikit, Allah mengetahui, detail latar belakang budaya seseorang, kecenderungan batin seseorang. Apakah orang ini terpapar dengan pengetahuan keilmuan keagamaan yang cukup apa tidak? Apakah orang ini melakukan sesuatu dengan dasar kebencian? Atau kecintaan? Apakah niat baik orang ini ada unsur rasa ingin dikenal? Apakah seseorang pendosa ini melakukan dosanya karena pembangkangan terhadap Tuhan atau karena kebodohan? Apakah kebodohan itu karena kemalasan belajar apakah karena sistem sosial yang membuat dia bodoh?

Dan macam-macam dan berbagai-bagai. Itulah ilmuNya Allah.

Kita kumpulkan seluruh pohon-pohon di dunia, lalu tujuh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan segala pengetahuanNya yang komprehensif itu, tidak akan habis kita tuliskan.

Poinnya apa? Poinnya adalah, bahwa seringkali di dunia ini apa yang terlihat, tak seperti yang terlihat.

Kalau misalnya kita melihat seorang pendosa, secara zahir kita lihat orang itu katakanlah minum-minuman keras sampai mabuk dan membuat kekacauan. Kita, tidak pada posisi yang pantas untuk menghakimi orang itu dengan NERAKA atau SYURGA. Karena neraka dan syurga adalah terletak pada keridhoan Allah, dengan segala kearifan dan lautan pengetahuanNya.

Bukan berarti kita tidak boleh memberikan peringatan. Justru kita harus memberikan.

Itulah namanya peranan. Setiap orang diberikan peranan oleh Allah, agar dunia ini bisa dinamis. Orang-orang berkebaikanlah. Menyampaikan yang baik. Menghentikan keburukan yang mengancam, dengan kebaikan yang kuat dan sistematis. Tetapi, dalam segala peranan berkebaikan yang kita lakukan itu, kita pahamilah, bahwa Allah memandang dengan lautan kepahaman yang pastinya lebih hebat dari mata manusia yang redup dan begitu terbatas.

Kita pernah dengar, seorang pendosa yang membunuh 99 orang, lalu bertanya pada orang ke seratus yang kemudian dibunuhnya pula karena orang itu mengatakan bahwa sang pendosa tidak akan lagi diampuni Tuhan. Selepas membunuh orang keseratus itu, sang pendosa berjalan lagi dan menyesal dia ingin bertaubat, lalu pergi mencari orang yang bisa membimbingnya bertaubat. Di tengah jalan dia mati. Cerita ke belakangnya sudah sangat masyhur, dia masuk syurga.

Apa pasal? Pasalnya adalah keridhoan Tuhan, dengan segala kapasitas ilmunya Alah, Allah paham detak hati manusia, latar belakang keilmuan, gejolak hati, kondisi rumah tangga, karakter budaya, IQ, macam-macam tentang orang itu.

Itulah kenapa kita tidak boleh memandang rendah seseorang.

Seorang pendosa di masa kini, boleh jadi di masa depan akan mentaubati dosanya dan dosanya malah menjadi jalannya untuk dekat pada Allah.

Seorang yang tampak pendosa, boleh jadi lebih masyhur di langit, pasalnya dia merasa begitu fakir dan butuh pertolongan Tuhan.

Sekali lagi, bukan menafikan kebaikan. Tetapi dalam berkebaikan, kita harus paham bahwa segala orang di dunia ini berkelindan dengan segala kemungkinan untuk terpapar rahmat Allah yang begitu luas dan rahmat Allah mengalahkan murkaNya.

Satu hal yang sangat penting adalah, dikarenakan luasnya ilmu Allah, maka Allah mestilah juga bijaksana. Alimul Hakim. Maha berilmu dan Maha bijaksana.

Maka Allah tidak mungkin reaktif.

Semisal ada pendosa yang mempertontonkan dosanya, dan kemudian kita teriakkan, “ya Allah, ini orang menghina Engkau, rajam dia dengan api”. Ya tidak mungkin kemudian JEDEERRRR dari langit turun petir yang menghantam orang itu.

Pasalnya, Allah maha bijaksana. Kalau Allah reaktif dan gampang tersinggungan oleh dosa manusia, maka Allah akan kehilangan kemaha bijaksanaannya. Mosok Allah dipanas-panasi sama manusia kemudian tersulut? Ndak mungkin.

Maka tetaplah berkebaikan, tetapi dalam berkebaikan itu, “sambil malu-lah”. Bahwa orang yang kita ajak berkebaikan itu, bisa jadi namanya lebih wangi di sisi Tuhan yang maha bijaksana, ketimbang kita yang merasa mulia.

 

———

gambar saya pinjam dari link ini
posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

PADA UJUNG PANDANGAN

Sebuah rumah baru akan menjadi kukuh jika didirikan di atas pondasi yang baik.

Begitulah, seorang guru memberi wejangan bahwa kehidupan keberagamaan kita haruslah juga didirikan di atas pondasi yang kuat.

Kehidupan keberagamaan itu adalah ibarat perlambang bangunan amal dan peribadatan, pondasinya adalah pengenalan yang benar akan Allah.

Kenal akan Allah menjadi wajib, karena pada Allah-lah segala lelaku keberagamaan, tindak-tanduk dalam hidup kita tujukan.

Allah, ibaratnya adalah ujung akhir pandangan ‘mata’ hati kita.

Pengenalan terhadap Allah, menjadi porsi yang paling besar di awal-awal risalah kenabian.

Formalitas sholat lima waktu-pun baru ada selepas sekian puluh tahun Nabi berdakwah mengenalkan kembali manusia kepada Allah.

Sedikit kesimpulan yang kita bisa petik adalah bahwa tauhid menjadi penting sebelum segala peribadatan formal lainnya dikenalkan. Awaluddin makrifatullah. Awal keberagamaan adalah mengenal Allah. Sebelum seberapa cepat kita berjalan kepada suatu tempat, tahu tempatnya dulu adalah yang paling utama, bukan?

Yang menarik adalah, sebuah kenyataan bahwa orang musyrik quraisy kala itu bukannya tak kenal sama sekali kepada Allah, mereka tahu Allah.

Saat ditanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab bahwa Allah-lah sang pencipta.

Tetapi saat ditanyakan pada mereka, kenapa mereka menyembah berhala? Mereka berkelit bahwa mereka tidak menyembah berhala, melainkan berhala menjadi ‘perantara’ antara mereka dan Allah.

Kalau kita bahasakan, mata hati orang-orang quraisy kala itu terhenti di berhala. Tidak menembus ke baliknya lagi. Tidak sampai mentok di akhir.

Inilah yang dikoreksi oleh Rasulullah, bahwa tauhid itu menjadikan Allah semata-mata sebagai persandaran, sebagai fokus mata hati -istilahnya begitu- bukan yang lain, dan tiada yang lain.Sampai mentok umpamanya. Hingga ke ujungnya.

Saya ingin bercerita begini, di zaman Nabi Musa, saat firaun ingin merebus masyitoh karena mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, seorang pegawai istana memprotes, apakah firaun ingin membunuh orang-orang padahal mereka hanya mengakui Allah adalah Tuhan semesta alam?

Sedikit yang diketahui tentang orang ini, hanya saja beliau diyakini sebagai salah seorang yang ‘paham’ tentang Tuhan.

Saat seseorang menganggap matahari sebagai Tuhan, orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh lagi, mereka akan berkata bahwa matahari bukan Tuhan, akan tetapi Sesuatu Yang Tak Bisa Didefinisikan, yang menzahirkan matahari, itulah Tuhan.

Kelihatan kan? Bahwa pandangan batin orang arif dalam kisah ini, lebih jauh dibanding orang lain.

Perhatikan bagaimana pandangan mata hati orang-orang arif bisa menembus jauh lebih dalam. Sampai ke ujung pandangan, dimana tidak ada lagi dibalik itu.

Seperti Nabi Ibrahim, saat melihat matahari dan menyaksikan kedahsyatan matahari, beliau mengira itu Tuhan, tetapi kemudian tersadar bahwa Tuhan tidak mungkin tenggelam. Dan Tuhan tak mungkin zahir tertampak mata.

Kemudian mata hati beliau terbuka dan pandangan beliau menembus lebih dalam, dan menjadi tahu bahwa pastilah Tuhan itu adalah Sang Penguasa di balik segala sistem alam semesta itu.

Jadi pandangan beliau seakan tembus, tembus lagi, tembus sampai mentok dimana tidak ada lagi selepas itu.

Segala persepsi kemanusiaan tempat kita memandang, pastilah bukan Tuhan, pastilah Tuhan adalah Sang Penzahir semua itu. Semua yang kita bisa persepsikan, hal zahir yang nampak mata, segala ciptaan, bukan Tuhan. Maka fokus mata hati kita tidak boleh terhenti di situ.

Kepahaman seperti inilah yang lama ditanamkan Nabi Muhammad kepada para sahabat.

Yang saya catat adalah ini, ini penting, fokus kita tidak boleh terhenti pada sesuatu yang BUKAN Tuhan.

Saat kita beramal, maka kita jangan terhenti pandangannya dengan menganggap bahwa formalitas ibadah itulah yang akan menyelamatkan, tetapi Allah, yang telah mentakdirkan kita mampu beribadah kepada Dia, itulah ujung pandangan kita.

Kalau tidak begini, maka akan banyak berhala di kehidupan kita, karena persandaran kita, pandangan hati kita terhenti pada sesuatu yang bukan Tuhan.

Saat berusaha, maka usaha itu jangan menjadi fokus pandangan. Tetapi Sang Penguasa segala variabel dibalik hubungan sebab-akibat usaha-hasil itu yang kita tujui.

Saat meminta ampun atas kesalahan, jangan kesalahan itu yang menjadi fokus pandangan, tetapi Allah Yang Maha Pengampun dibalik takdir bahwa kita diharuskan meniti jalan pulang lewat tema pertaubatan itulah, yang harus dipandang.

Kita melihat sekarang kesalah kita ini rupaya karena menggalakkan kehidupan keberagamaan yang mengacu pada aspek formal semata, tanpa membenarkan pondasi nya. Ibarat kita ramai-ramai memandang kepada sesuatu yang salah.

Semisal kita ramai berdebat larat mengenai manakah yang lebih baik, demokrasikah atau khilafahkah? Atau misalnya lagi, presiden A atau presiden B yang lebih baik? Lalu segala kehidupan keseharian kita menjadi berputar-putar dalam kutub itu semata.

Mendebatkan demokrasi dan khilafah dalam wacana keilmuan yang apik tidak ada yang salah tentu, Mendebatkan presiden pilihan juga silakan. Hanya saja, yang kita perlu pelajari bahwa orang-orang yang arif akan memandang lebih jauh, mereka sadar betapa apiknya Allah mendesain cerita kehidupan, hingga orang-orang yang sama-sama beriman kepadaNya, bisa berada pada sisi yang berhadap-hadapan dalam adu ideologi.

Penyebabnya banyak, keragaman sosial budaya, karakter, latar belakang keilmuan, kesempatan-kesempatan untuk masing-masing mereka bertemu dengan wacana yang lain dari yang sekarng mereka anut. Banyak sekali penyebab perbedaan.

Jadi Bukan demokrasi, bukan khilafah yang bisa menyelamatkan, tetapi pengenalan yang benar akan Allah. Sehingga melihat dia dibalik segala peran yang dimainkan orang-orang.

Fokus kehidupan kita itu, pandangan batin kita itu, rupanya jangan sampai keliru.

Saat orang-orang berdebat misalnya menentukan mana yang benar-mana yang salah, mata hati orang-orang yang arif memandang ada Allah dibalik segala kejadian hidup itu.

Mereka menjadi haru, bahwa betapa Allah telah menzahirkan berbagai-bagai jalan pencarian manusia menujuNya.

Saat orang-orang memaki pendosa, misalnya seorang pecandu narkoba. Orang-orang arif melihat lebih jauh dari itu. Mereka menjadi haru, bahwa betapa kenyataan  ‘Allah itu Maha Pengampun’ hanya bisa terwujud dengan terzahirnya seorang pendosa yang kemudian diampuni.

Kalau kita memaksa tak ada pendosa di dunia, bukankah kita memaksa bahwa kenyataan Allah itu maha pengampun; untuk tidak mewujud? Tidak bisa.

Yang ada di ujung pandangan orang-orang arif adalah bahwa Allah sudah mentadbir segalanya ini dengan luar biasa sempurna dan bijaksana. Dan pengenalan akan keberadaanNya itulah, yang membuat segalanya lebih dari sekedar hitam-putih semata.

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

MENCURI SELENDANG TUHAN

Allah SWT, memiliki hak dan segala keagungan untuk berkata seperti apapun kepada makhlukNya.

Mengancam dengan neraka, atau memberi iming-iming keindahan syurga adalah tentu adalah hak Allah.

Menjadi kurang tepat, atau malah tidak ber-etika jika manusia kemudian ‘memastikan’ bahwa orang lain akan masuk syurga atau masuk neraka.

Saya rasa, memastikan atau menghakimi orang lain dengan neraka atau syurga adalah sebuah bentuk kesombongan kepada Allah.

Salah satu contoh adalah surah Abasa. Allah tentu berhak memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan ‘yang bermuka masam’ saat beliau ditegur oleh Allah sebab beliau menyiratkan wajah sedikit kecewa karena seorang buta menginterupsi beliau saat beliau sedang mendakwahkan islam kepada banyak pemuka quraisy.

Allah berhak memanggil beliau dengan sebutan itu, Allah pemilik jagadita semesta ini, berhak dong. Sedang manusia tidak. Karena konteks hubungan manusia dan manusia tidak dalam posisi bisa menghakimi dengan sesuatu yang menjadi hak Tuhan.

Begitulah masalah syurga neraka.

Menyampaikan sebuah kebenaran, mengingatkan akan janji syurganya Allah, mengingatkan akan ancaman nerakanya Allah, adalah sebuah kebolehan, tetapi dalam konteks bahwa kita hanya “repetition” dari apa yang Allah telah tuliskan dalam Quran. Bukan untuk memandang orang lain dengan sikap mental bahwa orang lain itu pasti penduduk jurang neraka.

Saat menilai seseorang PASTI neraka, atau PASTI syurga, maka kita sudah salah arah.

Pasalnya, kita ingat sabda sang Nabi, bahwa yang bisa menyebabkan seseorang masuk ke syurga itu bukan amal, melainkan ridhonya Allah.

Dan kita tak pernah tahu, bagian mana dari keseluruhan lelaku kita yang Allah ridhoi.

Itu untuk menilai diri pribadi kita, apalagi menilai orang lain? Lebih musykil lagi.

Masyhur kita dengar, sebuah cerita seorang pelacur seumur hidup, di akhir cerita dia masuk syurga. Apa pasal, di ujung hayatnya dia memberi minum seekor anjing. Dan hal itu ternyata membuat Allah ridho. Maka masuklah dia ke syurga. Mungkin diapun tak tahu bahwa memberi minum anjing itulah yang menyebabkan Allah ridho.

Bukan masalah memberi minum anjingnya, tapi mungkin saat itu dia memberi minum dengan sebuah kesadaran bahwa anjing pun makhluk Tuhan. Mungkin juga dia memberi minum anjing dengan sebuah kesadaran bahwa dia hanya sekedar memberi minum, merasa berbuat baik pun tidak. Merasa punya amal pun tidak. Kita tak tahu.

Ridhonya Allah. Itu dia.

Dan kepahaman seperti inilah yang akan membuat kita memandang orang lain sebagai sesama manusia yang memiliki ribuan kemungkinan untuk terkena rahmat Allah. Rahmat Allah mendahului murkaNya.

Dan kepahaman seperti ini tidak kemudian menjadi “kalau begitu kita diamkan saja semua keburukan, toh kalau Allah ridho masuk syurga juga itu orang”. Bukan.

Melainkan, kita menjadi paham bahwa setiap orang sudah lahir dan diberikan peranan masing-masing.

Ingatkanlah apa yang perlu diingatkan. Sampaikan apa yang perlu disampaikan.  Dan sadari bahwa dalam menyampaikan apapun saja yang kita sampaikan itu, kita sama sekali tidak tahu, jangan-jangan ridho Allah lebih mengucur deras pada orang yang terzahir seperti keliatan pendosa itu.

Kita tetap beramal dan berkebaikan kok, karena kita juga tak tahu, mana yang akan Allah ridhoi, maka kita melakukan segala kebaikan.

Segala kebaikan dalam kacamata pandangan bahwa orang lain dan siapapun saja di muka bumi ini sama-sama menjadi objek dari keampunan Allah yang maha luas.

Dalam kacamata pandangan bahwa seorang yang tampak zahir sebagai pendosa, bisa jadi di masa depan jangan-jangan bisa membeli ridhonya Allah lewat pertaubatannya.

Pendosa yang bertaubat dan menyadari bahwa dirinya jelek dan sangat butuh akan pertolongan Tuhan, lebih dekat kepada ridho Allah dibanding ahli amal yang jumawa dan  memandang manusia selainnya sebagai penduduk neraka semua.

Orang-orang yang memandang orang lain dengan kebencian dan menisbatkan api neraka ke tengkuk orang-orang sesuka-suka hatinya, rasanya sudah menjadi sombong. Sedang kesombongan hanya milik Allah. Selendang Tuhan. Beranikah mencuri selendang Tuhan?

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

YANG TERPANDANG

image

Kebanyakan orang, saat mereka beramal mereka menimbang-nimbang amalnya. Mengira-ngira apakah amal yang mereka lakukan ikhlas atau riya? Menghitung-hitung apakah peribadatan yang mereka lakukan itu bisa menghantarkan mereka ke syurga apakah tidak?

Sedangkan orang-orang yang arif, saat beramal mereka ‘terpandang’ pada karunia Allah. Betapa saat itu mereka mensyukuri untuk telah tertakdirkan menjadi hamba yang ‘kembali’ pada Allah.

Orang-orang yang arif tidak sempat menebak-nebak apakah amalnya ikhlas atau riya, karena mereka terpandang kepada kebaikan Allah yg telah memberikan mereka hadiah berupa kesempatan ketaatan.

Jangankan menyoal riya dan tiada riya, merasa punya kemampuan beramal pun mereka tidak.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.

{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:

والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها

Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.

Ibnu Athoillah mengatakan, jangan bersandar pada ‘amal.

Orang yg bersandar pada amal berarti sibuk mentakjubi dirinya. Sedang orang yg bersandar pada Allah berarti orang itu selalunya terpandang bahwa amal ibadah yang mereka lakukan adalah sebuah hadiah dari Allah.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kepada hambaNya, Allah memberikan pula wadahnya. Begitu seorang guru berkata.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kedekatan padaNya, dan kepahaman pada agamaNya, Allah akan memberikan wadah berupa kesempatan, berupa takdir beramal bagi hamba itu.

Bahwa amal yang terzahir oleh kita adalah anugerah sebelum anugerah, itulah yang terpandang di ‘mata’ orang-orang arif.

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

YANG SEBENAR-BENARNYA TEMA

Kenyataan bahwa manusia tidak akan tenang hidupnya sebelum dia menentukan sebuah tujuan dalam kehidupannya, mungkin menjadi salah satu pembeda antara manusia dan lain-lain makhluk.

Seekor singa, misalnya. Bisa saja dia hidup hari ini, mencari makan, lalu tidur, dan kembali lagi esok hari dalam sebuah rutinitas yang serupa. Setiap hari, sang singa hanya memperpanjang durasi hidupnya, dari makan menuju makan, tanpa sebuah tema besar apapun dalam kehidupannya. Dia hidup, dan melakukan segala sesuatunya dalam kehidupannya yang alamiah hanya untuk memperpanjang durasi hidupnya. Tidak ada tema, tidak ada alasan, tidak ada sesuatu yang dikejar, dan tidak ada sesuatu yang lebih ‘dalam’ sebagai penggerak.

Sedangkan manusia tidak. Manusia akan gelisah dan merasa selalu kurang, sampai dia menemukan sebuah tema besar yang kemudian dia anut, atau dia akui menjadi sentral cerita keseluruhan kehidupannya.

Harus ada sebuah tema, tujuan, sebuah “mengapa”, sebuah “darimana dan mau kemana?” yang menjadi ide keseluruhan gerak hidupnya.

Yang ingin menjadi dokter, akan menjadikan pencapaian akan titel dokter sebagai tujuan keseluruhan hidupnya. Jadi ada tujuan, dan ada prasarana. Tujuan-nya adalah menjadi dokter, prasarananya adalah makan, minum, belajar, pulang larut, dan seterusnya.

Tanpa tujuan, tanpa tema, sebuah proses makan, minum, belajar, pulang larut, akan menjadi kurang greget. Tidak berarti. Tapi dengan tema, segala aktivitas apapun menjadi punya makna yang bisa dilekatkan kepada aktivitas itu.

Sebuah “makan” akan menjadi lebih dalam maknanya jika dilekatkan dengan sebuah ide bahwa makan itu nanti bisa jadi sarana pencapaian tujuan yang lebih adiluhung.

Itu kalau dia punya cita-cita menjadi dokter. Ada juga, sebagian manusia yang tema kehidupan yang mereka ‘anut’ adalah menjadi pemusik, misalnya. Maka keseluruhan tindak-tanduk kehidupannya, hiruk-pikuk kesehariannya, baginya menjadi PRASARANA untuk mencapai tujuan menjadi pemusik.

Begitulah singkatnya, manusia tidak bisa untuk tidak memiliki sebuah tema, tujuan. Menjadi dokter, menjadi pejabat, membahagiakan keluarga, menjadi pebisnis, menjadi ayah yang teladan, macam-macam. Orang paling bergajulan sedunia-pun, dia memiliki sebuah tema. Sebuah alasan yang menjadikan segala atribut kehidupan, aktivitas, menjadi prasarana pencapaian tujuan itu. Terlepas apakah yang mereka lakukan benar atau tidak secara norma.

Alasan-alasan itulah, yang nantinya akan membuat roda hidup bergerak. Karena setiap orang memiliki bahan bakar, ada alasan-alasan yang membuat setiap orang bergerak. Maka kehidupan menjadi berjalan.

Permasalahannya adalah, kita jarang sekali menyadari bahwa tema kehidupan yang kita pilih adalah sangat temporer.

Orang yang menjadikan capaian titel S3 sebagai tema hidupnya, misalnya. Setelah mencapai S3, lalu apa tema-nya? Orang ini harus mencari sebuah tujuan yang lain lagi, sebuah alasan agar kehidupannya terus memiliki bahan bakar penggerak.

Orang yang menjadikan pencapaian kebahagiaan keluarga sebagai tema hidupnya, akan mencapai juga suatu titik dimana dia butuh alasan yang lain lagi untuk bergerak.

Sebuah kondisi yang kita alami, yang kita kira merupakan sebuah capaian tujuan, bisa saja hanya merupakan sebuah sarana perjalanan bagi orang lainnya.

Singkatnya sesuatu di dalam hidup ini kadang bisa menjadi tujuan, atau kadang bisa dianggap sebagai sarana mencapai tujuan, tergantung cara pandang.

Kita ulangi lagi, sesuatu itu, bisa menjadi TUJUAN, atau bisa jadi PRASARANA dalam hidup, tergantung CARA PANDANG.

Belakangan saya sadari sebuah paradoks, Bagaimana mungkin, sesuatu yang terukur (PRASARANA) menjadi tujuan hidup? Pasti ada yang salah, jika tujuan besar bagi segolongan orang, bisa sekedar menjadi prasarana bagi sebagian lainnya, atau sebaliknya. Pasti ada yang salah.

Saya baru menyadari sebuah kesalahan berfikir saya,  setelah mengkaji petuah orang-orang arif,kenapa kok sepertinya selalu ada yang kurang?

Saya baru menyadari bahwa Segala atribut apapun dalam kehidupan ini sebenarnya PRASARANA, bukan tujuan, bukan tema kehidupan kita. Tema hidup kita semestinyalah tidak temporer dan kerdil. Dia harus sesuatu yang lebih luhur.

Segala sesuatu dalam hidup ini, semuanya PRASARANA, bukan tujuan. Cobalah artikulasikan segala macam lelakon apa saja dalam hidup, pastilah itu sebenarnya sarana, bukan tujuan. Jadi selama ini kita sudah banyak salah memilih tema.

Makan-minumnya kita. Kerja-istirahatnya kita. Atribut-atribut sosial kita. Keluarga kita. Kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Semua bukan tujuan. Karena semuanya ini temporer.

Menjadi pebisnis yang sukses, jelas bukan tujuan hidup. Menjadi orang yang banyak beramal dengan mendirikan panti asuhan, pun bukan tujuan hidup. Berdakwah keliling dunia, bukan tujuan hidup. Segala apapun yang bisa kita sebutkan dan berikan contoh gamblangnya, adalah sarana, bukan tujuan.

Semuanya sarana, untuk mengenal Dia. Tema besar kehidupan ini adalah mengenal Dia, sang pencipta alam ini, yang laisa kamislihi syaiun. Tiada serupa apapun, tiada umpama. DariNya kita berawal, padaNya kita kembali. Dia yang memberikan kita atribut-atribut, yang menggelar sedemikian banyak prasarana. Maka Dia-lah sebenar-benar tema. Tujuan. SelainNya, semua yang terhampar hanyalah sarana mengenal Dia.

Kita harus berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri, bila sudah terlalu sibuk dan penat kita mengejar sesuatu, dan ternyata sesuatu yang kita tuju itu terlampau temporer, kerdil dan terukur, maka itu bukan tujuan. Itu Cuma sarana.

 

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

BERDAMAI DENGAN BADAI

Dalam usaha manusia ‘mengakrabi’ Tuhannya, manusia begitu terbatas kemampuannya. Mata yang zahir tidak akan bisa melihat Allah. Akan tetapi, Allah yang Maha Hidup dan Terus Menerus Mengurus makhluknya, bisa ‘didekati’ lewat penghayatan akan ‘perbuatanNya’ (perbuatan Allah yang terzahir di alam ini disebut af’al).

Menghayati atau istilahnya mentafakuri af’al Allah yang bekerja pada alam ini, merupakan salah satu pintu untuk mengingati Tuhan pemilik semesta ini. Jika kita tidak bisa ‘melihat’ Tuhan, maka lihatlah segala alam dan kejadian hidup ini, dan sadarilah bahwa ada ‘gerak’nya Allah lewat Qada dan Qadarnya pada semua yang terlihat.

Guyuran hujan. Terik matahari. Hembusan Angin. Bulan yang melengkung sabit lalu memurnama. Arak-arakan awan. Kecambah yang tumbuh dan menjadi pohon. Anak menangis. Hiruk pikuk manusia. Dan segala hal yang terjadi pada kehidupan kita, tidak lepas dari Qada dan Qadar. Artinya PASTI ada andil Tuhan dalam kejadian hidup kita.

Dalam pengertian seperti inilah, alam semesta dan kejadian di dalamnya bisa diumpamakan sebagai pintu memasuki ingatan kepada Allah. Kita melihat alam, dan ibaratnya ada sebuah pintu disana, pintu itulah yang kita masuki agar kenal kepada Sang Pemilik alam ini.

Ini pengibaratan saja –tentu sama sekali tidak mewakili keadaan sebenarnya-, misalnya seorang anak memiliki Ayah seorang pengemudi supir truk. Sang anak tahu, bahwa sang supir truk inilah yang mengakibatkan gerak pada keseluruhan truk. Sang anak sudah sekian lama tak bertemu ayahnya. Maka, saat sang anak menunggu di pinggir jalan raya, dan melihat truk melintas, anak ini mungkin saja mata zahirnya terlihat mengamati badan truk, melihat roda berputar, melihat knalpot berasap, tetapi hati sang anak ini tertambat ingatannya kepada Ayahnya yang berada di dalam truk itu. Apapun saja kejadian di luar truk, ban berdecit, wiper bergerak, suara klakson, malah semakin menghantarkan anak ini pada keakraban batin dengan Ayahnya.

Orang yang matanya melihat kepada kejadian zahir di hidup ini, tetapi hatinya memandang kepada Sang Kreator takdir, berarti ibaratnya sudah melewati pintu itu tadi. Kejadian hidup, alam ini, merupakan salah satu pintu untuk mengenal yang Punya alam. Artinya kejadian apapun saja dalam hidup dia, akan berkah, karena semakin kenallah dia dengan Tuhan. Dalam kejadian hidup, yang dia pandang adalah Sang Penggerak Hidup. Seperti contoh diatas tadi, meskipun jelas contoh itu sama sekali tidak mewakili keadaan sesungguhnya.

Akan berbeda halnya dengan seseorang yang tidak pernah mencoba mendekati Sang Pemilik Alam ini, maka apa saja kejadian hidup tidak akan membuatnya ingat kepada Sang Penggerak. Dia hanya akan tertambat dan sibuk oleh macam-macam kejadian. Yang memang pastilah af’al Allah itu bermacam-macam.

Umumnya manusia, dia akan baru bisa mengingati bahwa kejadian hidup ini merupakan af’al Allah, merupakan ‘gerak’nya Allah lewat Qada dan Qadarnya, jika kejadian itu bersinggungan persis dengan dirinya.

Ibarat kapal, jika badai itu menghempas biduk kita, barulah kita ini akan tersentak dan memaknai badai ini sebagai ‘gerak’ Sang Maha Perkasa. Kalau misalnya kita melayari lautan biru yang anggun. Kita melihat burung-burung belibis yang terbang berjejer, rasanya agak-agak jarang kita tersentak dan menjadikan segala pemandangan itu pintu mengingati Tuhan. Karena toh kejadian itu tidak persis menyentuh kita. Tentu pengecualian bagi orang-orang yang memang sudah “kenal” dengan Tuhannya.

Jadi inilah PR kita, mencoba mengenal Sang Kreator takdir lewat seluruh kejadian hidup yang kita alami.

Akan tetapi, dalam segala hal yang menyentuh kita itu tadi, takdir kejadian hidup yang persis bersinggungan dengan kita itu tadi, kita tidak akan bisa memasuki pintu ingatan kepada Allah itu, jika kita memaknai kejadian hidup ini dengan keluh kesah dan ketidak puasan.

Karena ada mental block di dalam hati kita. Boro-boro mau masuk kepada ingatan tentang Sang Pencipta, tapi kita tertambat di pintu saja akibat tidak nrimo dengan perbuatannya Sang Pencipta. Jika kejadian hidup itu membadai, maka langkah pertama ialah berdamai dengan badai.

Agaknya, itulah kenapa, orang yang sabar terhadap kejadian hidup yang menimpa dirinya, diganjar dengan balasan yang besar. Orang yang mensabari kejadian hidup, atau dalam levelan yang lebih expert lagi ialah orang yang ridho terhadap Allah (terhadap ‘gerak’nya Allah pada keseluruhan cerita hidupnya) akan diganjar dengan keridhoan balik dari Allah.

Pada Ihya Ulumuddin, dikatakan, saat hamba-hamba yang terpilih dimasukkan ke dalam syurga ‘adn dan memperoleh rahmat ‘melihat’ Tuhannya –yang merupakan rahmat sangat besar-, Allah bertanya, “adakah lagi yang kalian inginkan?”, para hamba itu menjawab “kami memohon keridhoanMu”.

Guru-guru mengatakan, sang hamba meminta keridhoan Allah, saat sang hamba sudah bertemu Allah, mengisyaratkan bahwa Puncak dari anugerah atau kebaikan Allah kepada hambaNya, ialah keridhoan Allah kepada sang hamba. Yang pada gilirannya tentu berakibat bahwa sang hamba dapat menemui Tuhannya terus menerus tersebab Allah sudah ridho padanya.

Mengingati segala hal ini, saya kemudian meng-istighfari sebuah PR besar lainnya di diri saya, dan mungkin kita, yaitu bagaimana mengupayakan sabar –atau ridho kita pada ketentuan Allah- untuk selalu tertata dengan rapih dan menjadi respon spontan kita untuk setiap kejadian.

Karena jika sabar, dan ridho kepada kejadian hidup belum menjadi respon spontan kita, maka selamanya kita akan tertutup dari hikmah. Kita tidak kenal kepada Sang Kreator hidup, lebih-lebih lagi mana mungkin kita bisa menyusul capaian orang-orang arif.

Semakin banyak kejadian hidup, kita akan semakin disibukkan oleh kejadian hidup. Padahal di sana ada pintu ingatan kepadaNya, tapi kita malah tercover. Tertutup. –konon, istilah ‘kafir’ berangkat dari makna ini, orang-orang yang tertutup dari mengenalNya-

Kita akan semakin tertinggal dari….. Rasulullah. Saat di thaif, dalam takdir kejadian hidup yang sedih dan menyayat, beliau berdoa dalam doa yang panjang, mengharap kerdihoan Allah. Jelas sekali di dalam doa beliau, beliau menerima kejadian hidup beliau saat itu, dan mengharap Allah meridhoi beliau. Ridho Allah adalah puncak karunia.

Kita akan semakin tertinggal, jika mengingat kisah seorang sahabat yang ditembusi pedang dan tombak sekujur tubuhnya dalam perang, lalu beliau berdoa “Ambillah darahku sekehendak hatiMu asal Engkau Ridho ya Allah”. Ridho… puncak karunia.

Kita akan semakin tertinggal jika mengingat kisah Nabi Ibrahim, yang diperintah meninggalkan Ismail dan hajar pada lembah Makkah. Tapi beliau ridho…dan Allah ridho pada beliau hingga dijuluki kekasihNya.

Melihat betapa berat gejolak batin dalam meridhoi kejadian, dan menakar betapa mulianya ganjaran kebaikan untuk orang yang ridho pada kejadian hidup, sepertinya memang kita harus banyak-banyak berdoa. Supaya kita semakin dikenalkan pada Sang Pemilik hidup ini. Karena geraknya Allah sangat terasa dalam keseluruhan plot hidup kita, tapi selama ini kita gagal terus memasuki pintu ingatan kepadaNya. Kita tertambat pada zahir takdir.

Maka itulah guru-guru kita berulang kali mengingatkan kita untuk mendoakan mereka. Sholawat kepada Nabi, keluarganya, sahabat dan para penerusnya, dalam pemaknaan konteks bahwa kita begitu paham Nabiyullah Muhammad SAW adalah orang yang sangat ridho kepada kejadian hidupnya, dan Allah sangat ridho pada beliau, dan pencapaian kearifan dan kedekatan pada Allah selevel beliau sangat-sangat sulit kita susul, maka setidaknya sholawat dan salam ini menjadikan jalan untuk Allah meridhoi kita karena kita ridho pada hamba kesayanganNya. Mensaluti pribadinya.

Membaca sholawat dalam pengakuan kelemahan diri seperti ini, buat saya, sangat membantu untuk berdamai dengan badai.

——

*) gambar saya pinjam dari sini

*) posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

MENJADI TIADA (From Hero to Zero)

Setelah saya amati dan memperhatikan wejangan para guru, membandingkannya dengan perasaan batin saya sendiri, saya menyimpulkan bahwa memang kebutuhan hidup manusia akan semakin menuju kepada arah yang abstrak. Berbanding lurus dengan umur dan perkembangan kedewasaan seseorang.

Waktu kecil, kebutuhan hidup kita begitu ‘zahir’, hanya perlu makan dan minum. Besar sedikit, -tentu tetap perlu makan dan minum- kita perlu sesuatu yang lebih bisa menghibur, misalnya mainan. Semakin bertambahnya umur kita lagi, kita perlu komunitas. Kita perlu orang-orang untuk bertukar fikiran. Dewasa lagi kita butuh rasa aman, kasih sayang, dan pada puncaknya –menurut ahli psikologi- manusia akan sangat merasa butuh akan aktualisasi diri.

Betul, bukan? semakin lama semakin menuju pada sesuatu yang Abstrak.

Aktualisasi diri ini adalah semacam kebutuhan abstrak yang membuat orang tersebut merasa ada. Merasa dirinya dibutuhkan di dunia ini.

Tadinya, saya mengira bahwa memang benar, kebutuhan untuk menjadi ada dan ‘aktual’, diakui di kancah dunia ini, atau setidaknya ‘merasa berarti’ dalam lingkungan kita masing-masing; adalah puncak jawaban dari pencarian makna hidup oleh manusia.

Akan tetapi, saya belakangan menyadari sebuah fakta lain, bahwa guru-guru kearifan, ulama-ulama yang jernih hatinya telah menyadarkan saya, bahwa itu (aktualisasi diri tadi) sama sekali bukan puncak, ada anak tangga lainnya dalam eskalasi kebutuhan manusia itu. -saya pinjam istilah kawan saya- puncak kebutuhan manusia sebenarnya adalah menjadi hamba Tuhan, atau menjadi tiada. Atau dalam elaborasi yang lebih detail sedikit, kita bisa katakana sebenarnya puncak kebutuhan manusia itu adalah pengertian bahwa dirinya ‘ada’ di dunia ini untuk sebuah tujuan. Bukan untuk mencari ‘pengakuan’ dari lingkungan atau alam semesta, tetapi untuk ‘menjadi berguna’ di mata Tuhan.

Ramai orang berkebaikan -termasuk kita sendiri- dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup yang disebutkan para psikolog itu tadi. Aktualisasi diri.

Coba perhatikan, Ada rasa ‘senang’ di dalam hati saat berkebaikan. Katakanlah saya membantu orang lain, ada semacam sensasi yang melegakan di dalam hati saya. Sensasi merasa ‘ada’. Sensasi merasa berguna.

Tidak ada yang salah dengan sensasi itu. Sangat manusiawi. Yang salah adalah, saat saya menganggap bahwa dengan melakukan kebaikan dilandasi dengan niat ingin menjadi aktual dan ada –yang sebenarnya memenuhi kebutuhan psikologis saya sendiri-saya merasa sudah menjadi hamba Tuhan. Hamba yang baik. Padahal tidak seperti itu. Saat sebuah kebahagiaan itu masih berupa perasaan menjadi aktual, menjadi ada, berarti kebahagiaan saya masih berpusar-pusar dalam pemenuhan kebutuhan psikologi saya sendiri. Simpelnya tidak lillahi ta’ala kata Guru-guru.

Harusnya bagaimana?

Saya menuliskan petuah para guru yang menampar diri saya sendiri. Harusnya, setelah perjalanan saya menemukan macam-macam tingkat kebutuhan, dan pada puncaknya saya sudah merasa ada dan aktual itu, maka saya harus melangkah ke tangga berikutnya yaitu “membuang diri saya sendiri”. melepaskan keinginan untuk aktual dan menjadi diakui itu.

Gampangnya, kalau selama ini perjalanan manusia -yang kita pahami dari buku-buku psikologi- adalah journey “from zero to hero”, maka perjalanan kearifan yang diajarkan guru-guru yang ‘sudah menemukan Tuhan’ ialah journey “from hero to zero”.

Menjadi tiada.

Orang-orang yang menjadi tiada ini, pada zahirnya akan tetap berkebaikan. Mungkin pencapaian kebaikan mereka secara zahir bisa menyamai orang-orang lain yang juga berkebaikan, mungkin lebih. atau bisa jadi terlihat kurang. Tapi yang berbeda adalah pemaknaan mereka tentang prosesi kebaikan itu.

Orang yang berkebaikan dalam rangka pemenuhan kebutuhan psikologisnya untuk menjadi aktual dan merasa ada, merasakan kebahagiaan saat dirinya diakui di tengah khalayak. Dan dengan sedikit menyesali diri sendiri, saya harus katakana bahwa ini adalah ghurur, tipuan. Kita tertipu.

Orang yang berkebaikan dalam rangka menjadi hamba Tuhan, menemukan kebahagiaan karena ditengah prosesi dia berkebaikan itu; dia semakin menemukan fakta bahwa dirinya sebenarnya ‘bukan sejatinya pelaku kebaikan itu sendiri’. Akan tetapi dia adalah orang yang diberikan kehormatan untuk mengalirkan kebaikan dari Sang Sumber Kebaikan itu.

Bahasa majazi-nya, Diri orang ini ‘tidak ada’. Dia menjadi zero. Dia mengenal Tuhannya, maka dia menjadi tiada.

Ibaratnya, kita adalah kolam yang dialiri air jernih dari sebuah parit yang terhubung dengan sumber mata air yang tiada pernah akan habis. Semakin kita membuka diri akan air nan jernih itu, semakin air akan membludak mengaliri kita.

Dan semakin air mengaliri kolam jiwa kita –umpamanya-, semakin air akan meluap dan banjir kemana-mana.

Air yang meluap di kolam kita itu, adalah perlambang kebaikan yang kita lakukan. Dianya bukan karena kita ingin menjadi ada dengan kebaikan-kebaikan itu, tetapi ianya adalah sebuah konsekuensi logis dari suasana hati yang dipenuhi kejernihan.

Singkatnya, orang-orang yang semakin menjadi hamba Tuhan, dia akan semakin tergerak untuk berkebaikan. Tanpa peduli apakah kebaikan itu nanti menjadikan dirinya aktual atau tidak.

Dalam bahasa lain, saat seseorang sudah mengenal dirinya dan kenal Tuhannya -kata guru-guru- orang ini akan dialiri hikmah dan segala macam kebaikan, yang tidak mungkin dia bisa untuk tidak berbuat baik. Pastilah kebaikan itu ‘luber’ dari dirinya.

Orang-orang yang sudah menjadi zero pasti akan tergerak berbuat baik. Sebagaimana kolam yang sudah penuh pasti akan luber ke sebelah menyebelahnya.

Dan mengutip pesan Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang berguna buat orang lain, tentu kebaikan dan daya guna yang dia sebarkan itu dalam bingkai lillahi ta’ala. Saya rasa orang-orang yang ‘zero’ yang dimaksud.

 

——-

*) sebelumnya sudah pernah ada tulisan semakna dengan ini saya tuliskan di sini

*) posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

MENYEMBUHKAN PERSANDARAN

Ada takbir menyemburat dari pucuk menara-menara masjid. Bersama tahlil, dan tahmid. Idul fitri sejak dulu ialah selebrasi kegembiraan. Lama sudah saya mengakrabi idul fitri sebagai ekspresi budaya yang syahdu, hingga baru-baru inilah saya menyadari aspek ruhani dari gempita puja-puji di setiap sore jelang malam lebaran.

Sekian lama rupanya saya tidak bertakbir. Seruan yang ianya membesarkan Allah, menegasikan yang lain.

Mungkin ini kenapa gerangan dzikir dan peribadatan apapun saja yang saya lakukan belum menghantarkan saya menjadi pribadi bersih yang dicirikan dengan tiada gelisah dan tiada duka. Semacam bintang penghargaan yang disematkan Tuhan pada hati orang-orang yang arif.

Rupanya, saat selama ini saya berdoa, doa saya hanya meminta dengan pesimis.

Mungkin sembari berdoa, saya lupa mentakbirkan Allah. Membesarkan Allah. Sembari berdoa, hati saya malah sibuk menghadap kepada ‘masalah’. Atau sembari beramal, hati saya mengukur kemampuan Allah dengan kalkulasi-kalkulasi kemungkinan ala manusia.

Saya ingat kisah nabi Zakaria, yang berpuluh tahun tak memiliki anak, hingga senja usia beliau, masih saja berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa, kepada Engkau, ya Tuhanku.”

Sebuah doa yang men-akbar-kan Allah. Istri beliau mandul, usia beliau sudah demikian tua, tetapi segala kemusykilan keadaan versi manusia itu tidak membuat beliau menganggap kecil kebesaran Tuhan. Apa buktinya? Buktinya ialah beliau berdoa, dan pengharapannya tidak pernah berkurang.

Dan begitu juga para Nabi yang lain. Nabi Muhammad SAW di kala islam dimusuhi seantero penjuru, dan keberhasilan syiar tauhid seperti tidak akan ada masa depannya, tapi Beliau tetap mentakbirkan Allah.

Musa alaihissalam, melawan firaun sang penguasa absolut di era itu, yang sekaligus bapak angkat beliau sendiri. Segala takdir perjuangan saat itu sulit dikalkulasi dengan siasat perang macam apapun saja, tapi tetap Musa menggantungkan harapannya kepada Tuhan.

Ada yang lebih akbar dari masalah. Bahkan lebih Akbar dari usaha dan peribadatan terhebat manusia itu sendiri. Maka jangan menilai Tuhan dengan kalkulasi manusia.

Mungkin, selepas puasa kita disuruh memperbanyak takbir pada idul fitri ialah semacam pengingat, bahwa manusia-manusia sekalian, jangan selalunya mengukur kemampuan Allah dengan sudut pandang makhluk.

Kita seperti disuruh berhenti dari kedunguan kita sendiri, yaitu berdoa sekalian pesimis. Atau kedunguan kita berikutnya, yaitu beramal sekalian menilai bahwa Allah mestilah hanya bisa merahmati selevel dengan amal kita. Padahal Kita disuruh memanggilNya saja. Minta tolong. Dan percaya bahwa Dia lebih Akbar dari segala persoalan kita. Bahkan lebih akbar dari usaha kita yang demikian ‘manusia.’

Meski jalan keluar belum terlihat. Meski halang rintang demikian  berjejal-jejal. Tetapi persandaran kita kepada Dia tidak boleh hilang. Ciri dari persandaran yang tidak benar, adalah saat kita berdoa, kita mulai mengukur-ukur kemampuan Tuhan dengan kalkulasi manusia yang begitu tidak komprehensif. Tugas kita berdoa semata, minta tolong, menghadap, melapor dengan sebenar-benar melapor. Masalah cara pengkabulannya entah bagaimana-bagaimana, adalah wilayah keTuhanan yang jangan diserempet-serempet dengan logika kita yang pendek dan prematur.

Mungkin, selepas Ramadhan kita disuruh bertakbir adalah untuk menyembuhkan persandaran kita yang sakit itu.

Ciri persandaran yang sakit dan tidak semestinya adalah ‘saat kita sangat ingin kembali kepada Tuhan –lewat segala peribadatan dan juga termasuk puasa kita yang lalu- kita merasa putus asa dari pertolongan Allah. Kita merasa SELAMA-LAMANYA kita tidak akan sampai, Karena kita sibuk menilai peribadatan kita sendiri. Kita sibuk mengukur lelaku kita sendiri. Lalu kita bayangkan bahwa kehebatan Allah dalam mencerahkan hambanya hanya selevel kemampuan kita itu.

Mengatakan “Duh Tuhan…dengan amal seperti ini bagaimana mungkin saya bisa mencapai Engkau” adalah baik dengan syarat dan ketentuan.

Dia akan menjadi baik, jika pengakuan kelemahan diri itu menggiring untuk semakin mengharapkan pertolongan dan keAkbaran Allah.

Dia akan menjadi salah, jika pengakuan kelemahan itu lahir dari sudut pandang yang mengira bahwa Allah hanya bisa menyelamatkan kita jika peribadatan kita telah sempurna. Padahal sang guru yang arif berpesan bahwa peribadatan manusia tidak akan pernah sempurna selamanya. Maka janganlah menilai Tuhan selevel dengan peribadatan manusia.

Jadi mungkin, kita harus meniru siti hajar. Saat ditengah kesulitan di padang tandus, Ismail menangis meraung dan tidak ada air sama sekali. Maka siti hajar berlari…berlari bolak-balik mencari air di sepanjang shofa dan marwa. Meski akal sehat dan kalkulasi kemakhlukkan pasti menganggap tidak mungkin ada pertolongan, tapi siti hajar men-Akbar-kan Allah.

Tugas beliau dan kita hanya berlari saja. Berlari…berlari….berlari…. dan segala usaha yang merupakan ekspresi berharap dalam doa yang benar-benar membesarkan Allah.

Lalu segala aktifitas bekerja, berdoa, ibadah apapun saja itu jangan kita ingat-ingat lagi. Lakukan lalu lupakan. Agar cukup Allah saja yang besar di hati kita. Bukan usaha kita. Bukan masalah kita.

——————

*) selamat hari raya idul fithri. saya mohon maaf lahir dan bathin atas segala khilaf dan tulisan yang tidak berkenan selama ini
*) gambar saya pinjam dari sini

*) saya posting ulang dari blog permanen saya di http://www.debuterbang.com

YANG MENDENGUNG-DENGUNGKAN TIRAKAT

Telah hampir pergi Ramadhan. Satu yang saya ingat dari wejangan orang-orang arif, “jikalah tidak kita dapatkan keampunan Allah di kala Ramadhan ini? Kapan lagi kiranya kita bakal dapatkan?”

“Pintu Tuhan” selalu terbuka memang, tetapi potongan pertanyaan di atas tadi sudah cukup menjadi tema besar solilokui kita sendiri. Ramadhan adalah bulan dimana rahmat dan ampunan merupakan “pintu” yang lebih gampang ditemukan, tersebab segala aral pelintangnya yang biasa menutupi gerbang pintu itu; telah dirobohkan.

Amarah. Nafsu. Kebencian. Dengki. Dendam yang menahun. Ambisi dan angan-angan yang menjalari kesadaran kita setiap bulannya, harusnya redam dan lepas satu-satu dengan puasa.

Tema besar puasa ialah menjadi manusia yang lebih spiritual. Taqwa. Bukan sekedar icip-icip sensasi menjadi orang miskin dan jarang makan. Dan awal dari menjadi lebih spiritualis adalah dengan memasuki gerbang rahmat dan keampunan pemilik alam semesta ini, saya rasa.

Disitulah ironi itu saya rasakan menjadi demikian getir. Kala Gerbang Rahmat itu terbuka sedemikian besar, rupanya belum juga saya berhasil memasukinya.

Mungkin, puasa saya tidak benar-benar menjadi tirakat pejalan ruhani menuju Tuhan. Puasa saya adalah selebrasi tidak makan dan tidak minum semata. Adapun amarah, adapun nafsu, adapun kebencian dan segala anasir yang buruk di dalam diri itu bisa saja masih ada. Mungkin sekadar sembunyi dan mengamati dengan picingan mata yang licik.

Atau mungkin, saya sudah berhasil menaklukkan hawa nafsu, karena keniscayaan hukum alam. Sebodoh-bodohnya dan setidak spiritualis apapun seseorang,  jikanya dia lapar seharian dan tidak makan tidak minum, maka secara logis semangat berkeburukan dalam varian nafsu yang bagaimanapun saja itu, akan menurun dalam presentase tertentu. Ibarat belukar, pepadang ilalang, semak dan rumput di sepanjang setapak menuju gerbang rahmat Tuhan itu telah diberantas dengan mesin potong.

Jalan sudah dibersihkan, Tetapi sayanya tidak bergerak menuju Tuhan.

Adakah gunanya jalanan yang bersih dan gerbang pintu yang terngaga besar, jika tiada dimasuki?

Saya ingat, sewaktu dulu saya SMP saya rasakan begitu sedih kehilangan Ramadhan. Sempat saya kira saya seorang spiritualis karena kesedihan saya yang begitu dramatis itu. Belakangan saya menyadari, bahwa saya hanya menangisi romantika suasana kebudayaan yang unik pada bulan puasa. Saya Cuma menangisi hilangnya syahdu azan sore, hilangnya momen buka puasa, dan momen sahur. Serta menangisi hilangnya keseluruhan tembang-tembang religi di setiap sudut kota yang kecil itu.

Setelah sekian tahun lewat, saya rupanya masih  sama saja. Sementara kesedihan orang-orang arif ialah rasa pilu berpisah dengan keintiman keampunan Pemilik Jagadita Semesta ini, rasa haru untuk telah bertemu sang pemilik Rahmat. Maka kesedihan saya baru di-emperannya saja. Menyesali untuk sebulan tirakat tidak juga menyampaikan saya ke pintu.

Tapi tiada mengapa. Setidaknya kerinduan untuk mengetuk pintu Tuhan (untuk sampai ke Tuhan) adalah peta hidup yang benar.

Bahwa segala kejadian kehidupan harusnya menjadi semacam corong yang mendengung-dengungkan janji baiat para manusia di alam ruhani dahulu. Bahwa hidup semestinya untuk mengenal Yang Memberikan Hidup.

Harapan saya sederhana saja, semoga sisa bulan-bulan di depan saya nantinya, segala kejadian hidup akan menggerek-gerek saya kepada benang merah cerita yang paling sejati itu tadi. Mengenal Sang Penulis Skenario Hidup ini.

Jadi semisal nanti saya kekurangan uang, maka kekurangan uang itu ialah “TOA” yang mendengung-dengungkan woro-woro agar saya tirakat tuk kembali ke pintu Tuhan.

Maka semisal saya terbentur dengan hiruk pikuk kertas-kertas arsip di kantor, maka kebisingan kantor itulah yang mendengung-dengungkan bewara untuk saya tirakat kembali ke pintunya Tuhan.

Maka semisal saya sedih, gelisah, hilang kunci motor, terjebak macet, berselisih dengan keluarga, tidak dapat parkiran di pekarangan kantor, kejebak banjir, apapun saja itu, menjelma kembali sebagai sketsa indah Ramadhan. Pulang…. Pulang….. Pulanglah ke sangkan paran, asal muasal hidup, yang menuliskan segala lelakon ini.

“Aku akan pergi menghadap Tuhanku, niscaya Dia akan memberikanku petunjuk” Kata Ibrahim A.S.

Dan dalam perjalanan itu nantiya, jikalah begitu banyak kesulitan merajah-rajah, jikalah keengganan dan kebrisikan angan-angan dan fikiran menghalangi dalam usaha kembali ke Tuhan inilah, saya semestinya sadar bahwa jalanan harus kembali dibersihkan.

Amarah, nafsu, diri yang paling dalam dan segala kehalusan kemusykilan tirai-tirai yang merentang-rentang di sepanjang jalan ini hanya bisa dimusnahkan dengan Puasa. Tirakat yang memaksa keburukan diri untuk diam dan menyerah. Mungkin dengan persepsi seperti ini sajalah puasa kita akan lebih dari sekedar haus lapar semata.

***

posting ulang dari blog permanen saya di http://www.debuterbang.com