TAK AKAN PERNAH TERBELI

Lumma-CLR-BMW-M6-1
Dalam jangka waktu sebulan, apakah mungkin upah dari sebuah pekerjaan mencuci piring akan mencapai nilai lima ratus juta atau senilai BMW terbaru? Dengan logika umum yang normal, kita tahu itu rasanya sangat tidak mungkin, bukan?

Tapi anehnya kita sering melakukan hal yang sebaliknya, kita sering menganggap hal itu mungkin, dan jelas-jelas itu suatu kesalahan dalam cara memandang. Hal itu analog dengan kita yang selalu menganggap bahwa usaha terbaik manusia dalam peribadatannya bisa dibarter dengan karunia Allah. Padahal karunia Allah dibandingkan usaha terbaik manusia sekalipun, tetap tak akan sebanding.

Ini sebuah perumpamaan sederhana. Anggaplah kita ini seorang anak yang berharap agar orang tua kita membelikan kita sebuah mobil baru seharga lima ratus juta. Maka untuk ‘merayu’ orang tua kita, kita melakukan segala macam kegiatan membantu orang tua kita di rumah.hand-washing-dishes

Kita mencuci piring, menyapu rumah, mencucikan mobil orang tua kita, mengepel lantai, menyapu halaman, dan macam-macam. Dengan harapan orang tua kita akan mengabulkan keinginan kita untuk dibelikan sebuah mobil.

Membantu orang tua adalah baik, akan tetapi sebuah sikap yang salah akan terjadi saat seorang anak melakukan segala baktinya itu, kemudian dia beranggapan bahwa baktinya itu -segala macam pekerjaan rumah tangga yang dia bantu lakukan itu- jika ditotal-total upahnya akan senilai harga mobil yang lima ratus juta.

Padahal kalau misalnya dihitung, upah cuci piring, upah cuci mobil, nyapu rumah, ngepel; tidak akan pernah mencapai lima ratus juta. Tidak akan pernah senilai itu.

Kalaupun mobil akhirnya diberikan oleh orang tua kita, itu semata karena kebaikan mereka. Bukan karena harga mobil itu terbayar dengan upah kerja keras kita yang membantu mencuci dan menyapu di rumah.

Begitulah kita. Saat keinginan untuk mendekat kepada Allah muncul, maka kita terdorong untuk melakukan segala amal baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita tidak lagi ‘memandang’ kepada Allah, tetapi kita memandang kepada amal. Bukan lagi karunia Allah yang menarik kita kepadaNya yang kita andalkan, melainkan usaha kita sendiri.

Cara mengetahuinya gampang sekali, saat suatu ketika kita nge-drop dalam beribadah, kita akan kehilangan harapan untuk bisa dekat kepada Allah.

Taroklah peribadatan kita sempurna, sholat berbilang-bilang rakaat, dzikir begitu dawam, tilawah Qur’an berlembar-lembar, tetapi suatu ketika ada masalah menghantam, lalu kejiwaan kita begitu rapuh dan kita gelisah. Kita begitu larut dalam gelisah, sholat tak tenang, dzikir terlupa, sampai akhirnya menjadi sadar, kalau saya sampai se-gelisah ini, lalu apa artinya segala laku peribadatan yang saya lakukan sebanyak itu kalau tidak membuat saya bisa tenang dan pasrah pada Allah?

Lalu kita kecewa, kecewa pada sebuah kenyataan bahwa kita tidak bisa menjaga track-record kemulusan peribadatan kita. Dan kita sampai pada sebuah kesimpulan yang fatal “Ah…memang tak mungkin saya bisa sampai kepada Allah, sudahlah”.

Kesimpulan fatal yang membuat kita putus asa terhadap rahmat Allah itulah, yang menandakan bahwa selama ini kita “berjalan” menuju Allah bukan dengan “mengandalkan/ mengharapkan karunia Allah” melainkan dengan menganggap hebat usaha kita sendiri.

Saya belakangan baru mengerti, apa maksud orang-orang arif yang mengatakan bahwa orang yang akan berhasil sampai di penghujungnya adalah orang-orang yang sejak awal sudah mengandalkan Allah. Bukan mengandalkan dirinya sendiri.

Orang-orang seperti ini, saat beribadah dia akan memaknai ibadahnya sebagai sebuah bentuk minta tolong kepada Allah. ya, minta tolong, begitu saja. Sebagai sebuah bentuk mengharapkan kebaikan Allah, agar Allah menarik orang tersebut mendekat.

Saat orang-orang seperti ini terpuruk, mereka tetap akan memandang Allah, dan malah menjadi menyadari bahwa betapa segala daya dan kekuatan adalah milik Allah. Malah mereka semakin sadar dan ngerti bahwa sebenarnya kemampuan manusia ini cuma ngarep tok kepada Allah. Ngarep, dan bentuk pengharapan itu terejawantah dalam segala macam perilaku kehidupan. Tapi intinya tetap bukan pada perilaku kebaikan itu, tetapi bahwa perilaku kebaikan itu cuma bentuk lain dari minta tolong.

Daya berkeinginan datangnya dari Allah. Segala upaya terbaik manusiapun karena pertolongan Allah. Sudah tidak ada tempatnya lagi bagi sombong-sombongan manusia untuk bertahta.

Sudah, memang manusia ini tidak akan pernah bisa membeli karunia Allah dengan prestasi terbaik sekalipun.

Maka ngeri sebenarnya kalau mengharapkan hitungan keadilan Allah. Hitungan adil itu adalah seperti ibarat di atas tadi, kalau mobil seharga lima ratus juta diberikan ke kita, dan ternyata usaha terbaik kita hanya diupahi katakanlah sepuluh juta, maka berarti kita hutang empat ratus sembilan puluh juta. Mau bayar pake apa?

Jadi jangan menantang keadilan Allah, tapi bersimpuh dan mengharap saja pada rahmatNya. Menjadi fakir dihadapan Tuhan.

Jadi, kita berjalan terus saja, jatuh, bangun lagi, jalan lagi, jatuh lagi bangun lagi jalan lagi. Sambil jangan pernah berfikir bahwa usaha kita yang jatuh bangun ini yang akan mengatarkan kita sampai padaNya. Melainkan karena kebaikan diriNya sendirilah.

Seperti yang masyhur kita tahu, kita sejengkal Dia sedepa. kita sedepa Dia sehasta. kita jalan Dia berlari.

PENYAKSI

NEBULADi luar angkasa sana, kumpulan awan gas dan material-material halus lainnya berpusar, mengkabut dan memadat. Dalam sebuah teori dikatakan inilah cikal-bakal, awal mula pembentuk bintang-bintang yang berpijar-pijar. Nebula.

Trilliunan bebintang mengambang dan berputar dalam konstelasi yang stabil di luar angkasa sana. Pada manzilah-manzilahnya sendiri. Mataharinya kita, dibandingkan segala ketakjuban gugusan bintang-bintang itu tadi hanyalah mungil saja.

wpid-wp-1421119068482.jpegSaya tercenung memandangi ini semua. Seperti kita bisa melihat rekaman penciptaan alam semesta.

Dan sampai saat ini pun ilmu pengetahuan pelan-pelan menyingkap kecantikan karya Allah di alam semesta.

Sesuatu yang tidak akan selesai dituliskan meski seluruh samudera menjadi tinta dan sebanyak seluruh pohon menjadi pena.

Tiba-tiba saya tersadar, kita ini sebenarnya berurusan dengan Sang Pemilik Kekuatan Maha Dahsyat. Bumi yang besar ini saja masih terlalu kecil. Lihatlah Trilyunan bintang-bintang dibentuk. Allah-lah pemilik kekuatan maha menakjubkan di balik susunan alam semesta ini. Yang menggulirkan setiap partikel apapun saja di samudera angkasa lepas untuk bersatu dan mewujud bebintang-bintang raksasa.

Maka selain Maha Indah (segala sesuatu penisbatan sifat jamaliyahNya), Allah sekaligus juga maha Perkasa dan Agung (segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan tak terperi dan membuat gemetar merupakan keniscayaan sifatnya yang Jalal).

Memandang inilah terkadang ketakutan itu muncul tiba-tiba. Siapa yang kita sering sebut namaNya dalam Doa? Dia begitu Agung dan Kuat, mengerikan kekuasaanNya.

Tengoklah pada awan merah yang disulam oleh halilintar. Gurat-gurat petir yang sangat indah sekaligus mematikan. Siapa seniman dibalik ini?

APTOPIX Chile Volcano

Saya sering memikirkan, kenapa alam raya ini harus ada, padahal bumi yang ditempati manusia ini hanya senoktah debu dibandingkan kemelimpahan kreasi Allah di luar angkasa itu? Kenapa segala kecantikan dan kedigdayaan alam raya harus sebesar itu jika manusia sekecil ini?

Baru belakangan saya menyadari bahwa Penzahiran kekuasaan Allah adalah ibarat aliran air yang tiada akan pernah kering. Allah seakan-akan mendemonstrasikan segala keagungannya. Mencipta berbilliun-billiun fenomena. Tidak selesai dikaji. Terlalu amat sangat melimpah untuk ditapaki satu demi satu.

universe-pleasureSaking menakjubkannya segala kreasi Allah itu, tidak sedikit manusia-manusia yang salah fokus dan akhirnya menghambakan diri pada keagungan dan kengerian yang mereka lihat secara zahir.

Menyembah bintang. Menyembah gegunung. Menyembah hukum tarik menarik di alam semesta.

Sedikit cuma, dari keseluruhan trah manusia, yang dianugerahi pengenalan akan Allah, menjadi tahu bahwa Allah bukan semua itu, tetapi Pencipta semua itu. Tak serupa semua itu.

Dan untuk memperkenalkan dirinya yang tiada sebanding apapun saja itu, Allah menzahirkan segala kedigdayaan yang menggetarkan.

Lihatlah…lalu diamlah. Tidak mungkin tidak terpana.

Nanti kita akan bisa merasakan bahwa segala yang terhampar luas berserakan ini sebenarnya adalah demonstrasinya Allah sebagai perkenalan kepada kita.

Para pendosa yang diampuni taubatnya adalah perwujudan sifatNya yang Maha Pengampun.

Orang-orang yang dilimpahi rezeki adalah ejawantah dari Welas Asihnya Dia.

Para ibu yang menyayangi anaknya sejak lahir. Orang tua yang rela berdarah-darah demi anaknya.

Burung-burung kecil yang mengepakkan sayap dan berburu lalu pulang berjingkat dan menyuapi makan anaknya dari mulut ke mulut.

Semua merupakan cara Dia menzahirkan cinta dan penjagaan.

Tapi di lain sisi, dalam sebuah hikmah yang tersembunyi rapih dan jarang dipahami manusia, kita bisa melihat juga bahwa perang masih terjadi.

Orang-orang mati danbergelimpangan. Anak-anak kecil teriris nadinya. Tangisan lengking menguar, yang lebih memilukan bahkan dari luka itu sendiri.

Orang-orang yang ditinggalkan keluarganya.

Tsunami yang menyapu bersih satu desa.

Kecelakaan pesawat yang merenggut bayi, Ibunya, Bapaknya, saudara-saudaranya, dan semua kegetiran yang masih saja mewujud meski tak terhitung berapa orang-orang salih dan ahli ibadah memanjatkan doa dan puja-puji agar tragedi berhenti, agar korban-korban tak tumbang dan memerah lagi.

Nyatanya masih ada perang dan bencana meski beratus tahun sudah berlalu.

Lihatlah…lalu diamlah. Tidak mungkin tidak terpana.

Karena ternyata semua itu terzahir sebagai ejawantah dari keperkasaanNya yang Maha Kuat dan tiada bisa disetir manusia.

Hikmah-hikmah yang dia jejalinkan dalam segala fungsi sebab akibat yang kompleks, mekanika takdir, dan jejaring aksi reaksi alam semesta yang luasnya mengerikan ini, Kadang terlalu rumit plotnya dan tak bisa dinalar kita-kita.

Kesimpulan sederhananya sungguh bahwa Dia Maha Perkasa.

Pemilik keindahan yang menakjubkan sekaligus Penguasa absolut tanpa senoktahpun tandingan disisiNya, Dialah yang kita sebut-sebut dalam do’a.

Dan hari ke hari menjadi semakin takut dan memahami, kenapa Sang Nabi SAW sebegitu ketakutannya hingga seperti terdengar gelegak air mendidih dari dadanya. Tak tahukah kita siapa yang kita sembah ini?

“Rabbana amanna bima anzalta wattaba’narrasula faktubna ma’asy-syahidin”

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul. Karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi” (QS ALI IMRAN : 53)

***

Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (Al Mu’minun : 78)

Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. (Al Mu’minun : 79)

Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? ﴾ Al Mu’minun:80 ﴿

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” ﴾ Al Mu’minun:84 ﴿

Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” ﴾ Al Mu’minun:86 ﴿

***

posting ulang dari blog permanen saya di http://www.debuterbang.com

PUNCAK KECANGGUNGAN

Saya termasuk satu diantara sedikit orang-orang yang berada di puncak kecanggungan. Dalam banyak perkara, saya mengamati diri saya sebagai seorang yang canggung pada level yang lumayan mengkhawatirkan.

Saya merasa canggung saat berada di kerumunan. Merasa canggung pada suasana yang baru. Merasa canggung jika mengenakan pakaian yang sedikit modis. Juga merasa canggung jika berkendaraan mewah.

Tadinya, saya mengira kecanggungan ini adalah imbas dari konsep zuhud. Rupanya saya keliru.

Ada satu ilustrasi yang selama berapa tahun cukup mengagumkan bagi saya, yaitu ketika saya mendengar seorang ustadz yang mengajar dan selalu menolak saat beliau diberikan amplop sebagai upah mengajar. Saya mengagumi kezuhudan beliau. Dan selama bertahun-tahun pula saya menjadikan kisah dalam cerita itu sebagai role model.

Saya bukan ustadz, tentu saja, tapi dalam banyak hal saya menolak sesuatu yang “mewah” saya beri tanda kutip. Karena begitulah konsepsi zuhud dalam benak saya.

Rupanya, dengan cara berfikir yang demikian itu, saya sudah mengkaitkan sikap zuhud dengan sesuatu yang melulu kasat mata.

Misalnya, naik kendaraan umum ketimbang memiliki mobil pribadi adalah zuhud dalam versi saya yang lama. Zuhud selalu saya kaitkan dengan sikap sederhana yang kasat mata. Penafsiran yang minimalis.

Belakangan, saya tiba-tiba menyadari suatu fakta, bahwa saya menolak sesuatu yang menurut saya tidak zuhud itu; bukanlah karena dorongan sikap mental yang sederhana. Melainkan karena dorongan kecanggungan yang saya sebut di awal tadi. Rasa canggung yang disetir oleh pemaknaan yang berlebihan terhadap benda-benda.

Begini cerita lanjutnya. Ada beberapa hal yang menurut saya mewah, tetapi akhirnya saya menyadari bahwa ianya tepat guna. Artinya mewah atau mahal -tetapi fungsional- bukan berarti tidak zuhud.

Satu contoh yaitu motor. Menurut saya, membeli motor itu sesuatu yang tidak zuhud pada awalnya. Karena saya besar dalam lingkungan keluarga yang marjinal dan sulit secara keuangan. Motor dalam skala saya adalah mewah. Namun setelah saya diberikan kemampuan keuangan, lalu saya membeli motor, saya merasakan ada semacam sensasi bersalah di benak saya.

Sensasi yang tadinya saya kira sebagai sikap zuhud, tapi ternyata lahir dari kecanggungan. Canggung terhadap benda. Padahal motor cuma benda. Cuma kumpulan besi, kaleng, dan baut-baut. Rasa canggung inilah yang telat sekali saya sadari, dan bertahun-tahun tertipu dalam makna zuhud yang kurang pas.

Nyatanya, motor sangat membantu kehidupan saya. Saya bisa berangkat kerja dengan cepat, bisa menghemat, pergi kesana-sini. Dan lain-lain.

Jadi membeli motor, adalah sebuah keputusan mahal dalam skala saya waktu itu, keputusan yang sedikit saya sesali karena mengira saya tidak zuhud lagi, tapi belakangan saya sadari itu adalah sebuah keputusan yang tepat. Dan saya mensyukuri rezeki itu.

Karena motor sangatlah fungsional. Dan rasa bersalah saya di awal-awal itu adalah sebuah kecanggungan. yaitu sikap memandang berlebih terhadap benda.

Sebuah keputusan mahal lainnya, dalam skala saya adalah membeli mobil. Keputusan ini sempat memberikan rasa guncang yang lain lagi. Mengingat mobil lebih mahal dari motor. Dan saya merasa sudah tidak zuhud. Rupanya, mobil sangatlah membantu saya. Waktu istri melahirkan. Bolak-balik ke Rumah Sakit. Dan sekarang istri bolak-balik ke tempat kerja dengan mobil, sambil membawa anak saya yang sudah semakin besar. jadi mobil ternyata fungsional.

Itulah yang saya maksud dengan kecanggungan.

Baru belakangan ini saja, saya bertemu dengan bentuk kearifan lainnya. Yaitu saat seorang ulama yang sepuh selesai mengajar diberikan amplop, dan dia menerimanya dengan biasa saja.

Tidak ada raut gembira. Tidak ada penolakan yang resisten. Tapi sebuah sikap biasa saja yang malah menimbulkan kesan zuhud yang sebenarnya.

Apa pasal? pasalnya, kata beliau. Saat menerima uang yang diberikan, dia tidak pernah memandang orang yang memberikan uang itu. Tapi beliau memandang uang sebagai rezeki yang diberikan Allah.

Jadi, “mata hati” yang memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan mendudukkan perkara zuhud tepat pada tempatnya yang sesuai.

“Mata hati” yang selalu memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan melepaskan kita dari puncak kecanggungan, mendudukkan benda sebagai benda semata.

Tidak canggung memakai jas, pun biasa saja saat memakai kaos oblong. Tidak canggung naik mobil, pun bersyukur saat naik metro mini. Tinggal di hotel berbintang, ataupun di rumah kontrakan. Biasa saja. Karena kita sudah mendudukkan benda sebagai benda semata. Bukan sesuatu yang lekat di hati. Membuat jumawa, atau menjadikan canggung yang tak pada tempatnya.

***

posting ulang dari blog permanen saya http://www.debuterbang.com

MENGGURUKAN RIVAL

Sering kita temukan pernyataan bahwa kita sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. Selama bertahun-tahun saya rupanya menafsirkan hal tersebut secara keliru, saya rasa.

Sejak saya SMA, sampai saya kuliah, meskipun saya termasuk orang yang tidak banyak bicara, atau mungkin kurang ekspressif, tetapi saya mengamati juga orang-orang di sekitar saya dalam “diam” saya itu, dan menjadikan mereka yang saya anggap punya kelebihan, sebagai rival. Meski tentu saja rival dalam artian positif.

Kebaikan dari mentalitas seperti ini tentu saja ada, yaitu saya menjadi tertantang untuk mengejar pencapaian seseorang. Mengejar rekan-rekan yang lebih tersohor dalam komunitas. Mengejar kepiawaian seorang rekan dalam membantai soal-soal matematika dan angka-angka. Mengejar kemahiran seorang rekan dalam akrobat kata-kata dan orasi.

Banyak sekali tema “pengejaran” yang membuat hidup menjadi lebih cepat dan meningkat. Seperti dalam kisah komik, chinmi memiliki rival yaitu shie-fan, seseorang yang dia kejar pencapaian ilmu tongkat-nya. Naruto memiliki rival, yaitu sasuke.

Begitulah. Bertahun-tahun saya menafsirkan bahwa untuk kita berkembang kita harus memiliki rival.

Sampai kemudian berapa tahun belakangan saya menyadari ada sesuatu yang berubah dalam cara saya memandang hal ini. Dan ini baru bisa saya rangkumkan dalam bahasa setelah berapa waktu ini saja.

Yaitu bahwa perlombaan itu berbeda dengan pertandingan.

Pertandingan mengharuskan dua kubu berhadapan. Semisal tinju atau kumite dalam karate. Sedangkan perlombaan, para pesertanya tidak berhadapan. Melainkan mereka bersama-sama bergerak menuju arah yang sama. Seperti lomba lari.

Sebenarnya itulah yang kita lakukan dalam hidup ini. saya rasa, kehidupan kita ini bukan masalah kita bisa mengalahkan siapa. Karena kita, dan mereka, sebenarnya sama-sama bergerak ke tujuan yang sama. Ke akhir yang sama. Jadi tidak ada yang dikalahkan dan mengalahkan.
Atau lebih tepatnya, kita tidak saling menaklukkan satu sama lain.

Saya teringat, bahwa sahabat Umar dan Abu bakar dalam perlombaan amalnya. Umar selalu berusaha mengejar Abu Bakar dalam amalnya.

Dan berkali-kali Umar tertinggal.

Saat Rasulullah bertanya siapa yang hari ini puasa, di antara para sahabat, pastilah Umar menjadi orang yang menyaksikan bahwa Abu Bakar orang yang puasa.

Saat Rasulullah bertanya lagi siapa yang sudah mengunjungi orang sakit, siapa yang sudah memberi makan anak yatim? Selalu Abu Bakar mengungguli Umar.

Sampai pada puncaknya saat Umar menafkahkan setengah hartanya – setengah, coba bayangkan, setengah harta!!- lagi-lagi Umar tertegun melihat Abu Bakar menafkahkan SEMUA hartanya. SEMUA. i mean every single thing!! “Gila!”.

Sebuah pencapaian yang luar biasa. Waktu itulah Umar menyadari dia tidak akan pernah menang melawan Abu Bakar.
***
Saat ini, saya menyadari bahwa memandang hidup sebagai sebuah pertandingan, dalam konteks kalah-mengalahkan sangatlah tidak tepat.

Kita akan selalu tersiksa dalam cita-cita kita sendiri untuk menaklukkan orang lain. Kalau saya merenung lebih dalam lagi, bukankah ego yang menyetir semua itu?

Maka berapa tahun belakangan saya menyadari bahwa setiap orang memiliki “keluarbiasaannya” sendiri. Maka semua orang adalah guru bagi saya.
Dan selayaknya kita belajar pada orang-orang.

Berlomba-lomba dalam kebaikan, ya, tentu saja. Tapi tidak ada lagi bersit di hati saya untuk menaklukkan siapapun saja.

Maka dalam ketertinggalan ilmu pengetahuan misalnya, saya daulat-lah orang yang lebih pandai dari saya sebagai guru. Saya belajar darinya. Biarkanlah dia melaju dengan kepintarannya, dan sudilah mengajarkan ilmunya kepada saya. Karena kita sama-sama bergerak menuju akhir kehidupan, bukan? Dan semua ini hanya perkara bagaimana dalam perjalanan sampai finish ini kita saling memberi kebaikan pada khalayak. Bukan masalah bagaimana kita menjegal orang-orang yang sama-sama berlari menuju akhir.

Saya mengerti bahwa dalam kapasitas intelektual, dalam perkembangan emosional, dalam spiritualitas, seni, kemahiran mengelola rumah tangga, kearifan mendidik anak, keluwesan pergaulan di dunia kerja, pengetahuan perminyakan, dan sebagainya dan sebagainya; saya pastilah tertinggal dari banyak orang.

Maka saya mendaulat pula sekian banyak orang menjadi guru buat saya. Tempat bercermin, bertanya, menimba ilmu, memulung kearifan, meminta koreksi, dan segala macamnya, untuk supaya saya bisa pula berjalan secepat orang-orang, dan memberi kebaikan di sepanjang jalan yang kita sama-sama lalui.

Perkara siapa yang saat ini melaju di depan, siapa yang tertinggal di belakang, tak terlalu penting lagi buat saya.

Karena saya ingat sebuah ungkapan yang masyhur, bila tak mampu berlomba dengan para abid dalam ibadahnya, setidaknya kita berlomba dengan para pendosa dalam istighfarnya.

Dan lomba bukan pertandingan tinju, Bukan menaklukkan satu sama lain. Tapi bergerak bersama-sama, menuju arah yang sama. Sehingga saya mengkonversi semua yang saya anggap rival menjadi guru.

***

posting ulang dari blog http://www.debuterbang.com

NITENI ROSO

Orang jawa bilang, ‘niteni roso’. Mencermati perasaan sendiri. Dari perasaan yang gampang dicermati seperti rasa marah atau rasa bahagia yang sangat, sampai perasaan yang halus seperti khatir (lintasan-lintasan fikiran).

Kebiasaan untuk selalu awas dengan perasaan yang muncul dalam diri kita sendiri, ternyata berguna untuk membuat semacam jarak mental antara kesadaran kita pribadi, dan perasaan itu sendiri.

Hal ini memang agak ribet dijelaskan. Tapi sederhananya kurang lebih begini, saat kita sudah bisa mencermati perasaan kita sendiri, tanpa terhanyut, maka kita akan perlahan-lahan membenarkan, bahwa ‘la hawla wa la quwwata illa billah’.

Tiada daya berketaatan, dan tiada upaya menghindari kemaksiatan kecuali dengan izin Allah.

Saya ingat seorang guru pernah menjabarkan, bahwa ‘hawla’ itu adalah daya di dalam batin. Katakanlah segala macam lintasan fikiran, sampai kemudian lintasan fikiran itu menguat dan menjadi azzam (tekad). Nah, tekad inilah yang menjadi penggerak bagi kita untuk kemudian melakukan ‘quwwata’ sebuah upaya secara fisik.

Jadi upaya yang kita lakukan secara fisik (quwwata), terlebih dahulu disetir oleh adanya keinginan dan daya di dalam batin kita (hawla). Dan dalam tataran batiniyah inilah, orang-orang yang terbiasa awas dengan fikiran dan perasaannya sendiri; akan mendapati sebuah kenyataan bahwa segala perasaan dan lintasan fikiran di dalam batin itu bukan kita yang buat, melainkan ‘diturunkan’ oleh Allah.

Itulah kenapa kita harus mensyukuri segala amal baik dengan mengingat bahwa Allah telah memampukan kita melakukan amal itu. Dan di lain sisi kita harus berlindung pula pada Allah dari segala daya batiniyah yang buruk. Tidak mungkin kita bisa selamat dari keburukan dan dosa, melainkan sejak awal perjalanan kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Pemilik segala kekuatan dan daya, baik batin maupun fisik kasat mata.

Dan semua perjalanan mengenali anasir terhalus dalam diri kita itu bagaimana memulainya? Kata guru-guru, rupanya sederhana saja, dzikrullah setiap masa.

***

posting ulang dari blog permanen http://www.debuterbang.com

MELAINKAN SEDIKIT SEKALI

Kenyataan bahwa manusia tidak mungkin memiliki pengetahuan yang komprehensif, dengan sendirinya menjadi hujjah yang sangat kuat untuk menunjukkan bahwa Allah maha luas ilmunya.

Sekomplit-komplit pengetahuan manusia, tidak bisa mencapai sedikitpun saja dari kemaha luasan ilmu Allah.

Inilah salah satu alasan kenapa kemudian di dalam kehidupan akan banyak sekali terjadi persinggungan dan silang sengketa antar manusia, karena manusia tidak komprehensif pemahamannya.

Dua orang yang saling memandang dengan kacamata pengetahuan dan kepahaman yang berbeda akan bisa berselisih meskipun dua orang itu sama-sama orang baik. Itulah seninya takdir.

Maka memandang kehidupan, tidak akan pernah bisa hitam-putih. Orang-orang arif mengatakan Allah bisa memasukkan malam ke dalam siang, siang ke dalam malam. Kadang-kadang Allah memunculkan kebaikan dari sesuatu yang zahirnya ternampak jahat, atau menyisipkan kejahatan dalam sesuatu yang kelihatan baik dan menarik. Itulah kehebatan Allah. Seorang pendosa dan bergajulan rupanya menjadi hamba yang disayangi Tuhan tersebab perasaan fakir dan butuhnya kepada keampunan Allah, seorang abid menjadi dimurkai Tuhan tersebab perasaan jumawa atas amalnya. Dan semuanya itu luput dari pandangan manusia.

Kalau kita melihat sejarah, kita akan melihat sebuah kenyataan yang mencengangkan, bahwa betapa kehidupan ini sebenarnya tidak kalah “drama” dibandingkan dengan cerita sinetron atau drama yang kita biasa baca di Novel. Lihatlah betapa apiknya Allah menyusun takdir.

Indonesia misalnya. Kita mengenal tokoh sejarah yang masyhur: Sukarno seorang nasionalis. Semaun yang seorang komunis. Lalu Kartosuwiryo yang seorang islamis. Agak sulit kita percayai bahwa rupanya tiga orang tersebut tumbuh besar dalam didikan guru yang sama, yaitu HOS Tjokroaminoto.

Tinggal di rumah kos-kosan yang sama, teman berdebat dan diskusi, lalu sampai waktunya kemudian takdir mengarahkan mereka menjadi berhadap-hadapan di medan laga sejarah.  Tiga orang pembesar sejarah Indonesia ini, lahir dari ceruk “rumah” yang sama. Betapa drama-nya.

Kita tidak bahas mengenai siapa yang benar menurut kita, tentu. Yang kita ingin lihat adalah sisi yang lain, yaitu sebuah kenyataan bahwa ketiga orang itu sama-sama menginginkan persatuan, tetapi berselisih pada tataran cara mewujudkannya. Artinya ketiga orang itu sama-sama lahir dari sebuah niatan yang anggaplah baik, tetapi kemudian terjadi simpangan pada saat mereka menzahirkan niatan itu. Yang mana neraka yang mana syurga? Urusan Allah-lah itu, manusia tidak sampai kepada penghakiman mengenai itu.

Perbedaan tindakan itu kita amati rupanya lahir karena latar belakang keilmuan yang beda, karakter, cara pandang, mungkin sosial budaya keluarga, dan lain-lain, dan lain-lain yang kita tidak bisa lihat detailnya satu-satu.

Masih di Indonesia lagi, kita ambil contoh lain. KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asyari adalah dua ulama besar yang juga sama-sama merupakan teman main. Tidur dalam bilik kecil yang sama. Lahir dari “tempat” pendidikan yang sama, sampai akhirnya takdir menghantarkan dua gerakan ormas besar yang mereka dirikan untuk menjadi rival pemikiran satu sama lain, dari dulu hingga sekarang.

Musa memprotes khidir. Mereka berselisih betapapun dua-duanya orang yang sama-sama dekat pada Tuhan, tetapi bisa berbeda pandangan.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang menyejarah itu menarik untuk kita bahas sama-sama, kita sama-sama tahu bahwa dalam pandangan jagad keilmuan yang lebih kompleks tindakan Nabi Khidir lah yang benar jika dilihat dari kacamata yang lebih luas, Sebabnya Nabi Khidir punya kefahaman atau data yang lebih banyak dibandingkan Nabi Musa saat itu, Khidir melihat sesuatu dibalik sesuatu.

Tapi dengan tingkat kefahaman dan keilmuan yang dimiliki Nabi Musa, dengan situasi batin Nabi Musa, maka memprotes itu adalah tindakan benar  juga. Karena marahnya Nabi Musa adalah wujud dari kebaikan moral, dari kepedulian. Dan sangat wajar Nabi Musa memrotes Khidir, dalam kapasitas data yang Nabi Musa pahami.

Kita tentu mengerti bahwa Khidir benar, akan tetapi Nabi Musa tidak bisa untuk diam saja. Perkaranya akan lain sekali jika Nabi Musa pada akhirnya diam, misalnya diamnya karena apatis. Diamnya itu di-drive dari kecuekan –bukan dari kesadaran bahwa ada gap pemahaman yang panjang antara dirinya dan Khidir– maka diam seperti itu salah.

Dan bayangkan betapa kompleksnya penilaian yang sejati itu! Ya memang pengadilan yang paling adil ialah pengadilan Tuhan. Dan Tuhan-lah yang menggenggam kapasitas untuk tahu segala seluk beluk yang nampak dan yang tersembunyi. Tugas manusia ialah menjalankan peranan dengan segala kapasitas data yang dia miliki, sambil memahami bahwa sekompleks-kompleks dan sebenar-benar pemahaman dan penghakiman hanyalah milik Allah.

Tugas manusia adalah menjalankan peranan sebaik mungkin dengan kapasitas data yang mereka miliki saat ini.

Kenapa mereka yang dulunya dekat kemudian ditakdirkan berhadap-hadapan? Kenapa orang-orang yang sama-sama punya impian kebaikan kemudian bertemu di gelanggang? Lepaskan sejenak ego kita, dan kita pandang ini dari kacamata yang lebih luas. Itulah takdir Allah. Dan semua takdir Allah, pasti berhikmah.

Itu semua adalah drama kolosal yang Allah pertontonkan, untuk menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin mencapai pemahaman yang komprehensif. Akan selalu ada celah untuk manusia memiliki pandangan yang berbeda, tersebab keterbatasan manusia. Dan kemampuan manusia hanyalah sebatas menjalani peranan masing-masing dengan sebaik mungkin.

Ada yang dimudahkan jalannya untuk menjalankan peranan tertentu. Ada yang dimudahkan menjalankan peranan lainnya. Dan dalam setiap peranan itu, Allah-lah yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya mendasari setiap pergerakan, setiap kecenderungan, setiap tingkah laku, setiap keputusan, setiap persilangan pendapat, pokoknya apa saja Allah tahu.

Dan menilik kemaha-luasan ilmu Allah ini, maka sepatutnya dalam menjalankan peranan ini, manusia kemudian memandang orang lain sebagai manusia yang juga menjalankan peranan takdirnya sendiri.

Dua orang yang sama-sama baik bisa dipertemukan takdir di panggung sejarah untuk berhadapan satu sama lain. Yang paling benar absolut adalah Allah, tentu saja. Tapi dari sudut pandang manusia, yang paling berkah ialah yang memandang bahwa dalam segala kelakonannya saat ini mereka tidak selalunya berhadapan dengan para durjana, tetapi mungkin saja berhadapan dengan orang yang sama-sama benar, hanya saja takdir memutuskan saat ini mereka harus bertempur di medan sejarah. Lalu mereka semakin menyadari keluasan ilmu Allah. Dan tiadalah manusia mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan sedikit sekali.

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

LAUTAN PENGELIHATAN

EyesSeorang pengemudi motor disalip secara serampangan oleh seorang pengemudi motor lainnya. Orang yang disalip ini kaget dan kemudian muntab, dia marah besar dan mengejar pengemudi motor yang menyalipnya.

Darah mendidih, maklum anak muda. Setelah kejar-kejaran panjang, dia berhenti di dekat motor yang menyalip. Motor itu diparkir di tepi jalan, persis di dekat toilet umum. Dia lihat pengemudi motor yang menyalipnya tadi keluar dari toilet umum sambil memberi uang lima ribu kepada penjaga, dan menyuruh sang penjaga menyimpan kembaliannya.

Anak muda yang tadinya marah dan siap melabrak, urung melampiaskan kemarahannya. Dia biarkan sang pengemudi motor itu berlalu saja.

Tadinya dia pikir pengemudi motor itu menghina dia dengan menyalipnya secara serampangan dan mengajak adu kebut-kebutan. Rupanya gelegak amarah dia itu tidak tepat konteks, karena sebenarnya sang penyalip ini menyalip dengan buru-buru sebab kebelet mau buang air. Bagaimana dia bisa marah.

Cerita ini fiktif belaka. Tetapi bagian yang benar adalah sebuah kenyataan bahwa seringkali apa yang tampak mata tidak selalunya hitam putih.

Semakin lengkap data yang kita punya, maka semakin lengkaplah bahan-bahan yang kita perlukan untuk mengambil kesimpulan. Kesimpulan dua orang yang memiliki data-data berbeda, bisa jadi berbeda sama sekali. Makin lengkap data, makin bijak seseorang mengambil kesimpulan.

Dalam literatur orang-orang yang arif, tingkat kepahaman seseorang dalam memahami kehidupan ini, mereka namakan dengan “maqom”. Levelan spiritual.

Seseorang, semakin arif dirinya, rupanya semakin menyadari bahwa bisa jadi apa yang tampak mata dan kita nilai sebagai sesuatu yang buruk atau yang baik, dimata Tuhan akan sama sekali berbeda. Apa pasal? Pasalnya adalah bahwa Allah memiliki lebih banyak data dibandingkan manusia, sehingga Allah akan menilai dengan PASTI lebih komprehensif.

Coba kita tengok permisalan ini.

Ada berapa jumlah sel pada tubuh manusia? Para ilmuwan mengatakan ada sepuluh pangkat tiga belas sel pada pada tubuh manusia. Trilliun…trilliun…trilliun banyaknya.

Tiap sel bergerak sendiri. Masing-masing sel kalau dipecah lagi akan menjadi atom-atom yang juga bergerak sendiri dengan intelegensianya masing-masing. Dan tak pernah tabrakan. Dan ber-ratus ratus triliun kehidupan itu ada di dalam lautan ilmunya Allah. Tidak satupun dari sebiji atom yang Allah tidak tahu. Yang Allah lupakan dari perhitungan Dia yang Maha.

Itu dari segi mikro, dari sisi yang lebih besar sedikit, Allah mengetahui, detail latar belakang budaya seseorang, kecenderungan batin seseorang. Apakah orang ini terpapar dengan pengetahuan keilmuan keagamaan yang cukup apa tidak? Apakah orang ini melakukan sesuatu dengan dasar kebencian? Atau kecintaan? Apakah niat baik orang ini ada unsur rasa ingin dikenal? Apakah seseorang pendosa ini melakukan dosanya karena pembangkangan terhadap Tuhan atau karena kebodohan? Apakah kebodohan itu karena kemalasan belajar apakah karena sistem sosial yang membuat dia bodoh?

Dan macam-macam dan berbagai-bagai. Itulah ilmuNya Allah.

Kita kumpulkan seluruh pohon-pohon di dunia, lalu tujuh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan segala pengetahuanNya yang komprehensif itu, tidak akan habis kita tuliskan.

Poinnya apa? Poinnya adalah, bahwa seringkali di dunia ini apa yang terlihat, tak seperti yang terlihat.

Kalau misalnya kita melihat seorang pendosa, secara zahir kita lihat orang itu katakanlah minum-minuman keras sampai mabuk dan membuat kekacauan. Kita, tidak pada posisi yang pantas untuk menghakimi orang itu dengan NERAKA atau SYURGA. Karena neraka dan syurga adalah terletak pada keridhoan Allah, dengan segala kearifan dan lautan pengetahuanNya.

Bukan berarti kita tidak boleh memberikan peringatan. Justru kita harus memberikan.

Itulah namanya peranan. Setiap orang diberikan peranan oleh Allah, agar dunia ini bisa dinamis. Orang-orang berkebaikanlah. Menyampaikan yang baik. Menghentikan keburukan yang mengancam, dengan kebaikan yang kuat dan sistematis. Tetapi, dalam segala peranan berkebaikan yang kita lakukan itu, kita pahamilah, bahwa Allah memandang dengan lautan kepahaman yang pastinya lebih hebat dari mata manusia yang redup dan begitu terbatas.

Kita pernah dengar, seorang pendosa yang membunuh 99 orang, lalu bertanya pada orang ke seratus yang kemudian dibunuhnya pula karena orang itu mengatakan bahwa sang pendosa tidak akan lagi diampuni Tuhan. Selepas membunuh orang keseratus itu, sang pendosa berjalan lagi dan menyesal dia ingin bertaubat, lalu pergi mencari orang yang bisa membimbingnya bertaubat. Di tengah jalan dia mati. Cerita ke belakangnya sudah sangat masyhur, dia masuk syurga.

Apa pasal? Pasalnya adalah keridhoan Tuhan, dengan segala kapasitas ilmunya Alah, Allah paham detak hati manusia, latar belakang keilmuan, gejolak hati, kondisi rumah tangga, karakter budaya, IQ, macam-macam tentang orang itu.

Itulah kenapa kita tidak boleh memandang rendah seseorang.

Seorang pendosa di masa kini, boleh jadi di masa depan akan mentaubati dosanya dan dosanya malah menjadi jalannya untuk dekat pada Allah.

Seorang yang tampak pendosa, boleh jadi lebih masyhur di langit, pasalnya dia merasa begitu fakir dan butuh pertolongan Tuhan.

Sekali lagi, bukan menafikan kebaikan. Tetapi dalam berkebaikan, kita harus paham bahwa segala orang di dunia ini berkelindan dengan segala kemungkinan untuk terpapar rahmat Allah yang begitu luas dan rahmat Allah mengalahkan murkaNya.

Satu hal yang sangat penting adalah, dikarenakan luasnya ilmu Allah, maka Allah mestilah juga bijaksana. Alimul Hakim. Maha berilmu dan Maha bijaksana.

Maka Allah tidak mungkin reaktif.

Semisal ada pendosa yang mempertontonkan dosanya, dan kemudian kita teriakkan, “ya Allah, ini orang menghina Engkau, rajam dia dengan api”. Ya tidak mungkin kemudian JEDEERRRR dari langit turun petir yang menghantam orang itu.

Pasalnya, Allah maha bijaksana. Kalau Allah reaktif dan gampang tersinggungan oleh dosa manusia, maka Allah akan kehilangan kemaha bijaksanaannya. Mosok Allah dipanas-panasi sama manusia kemudian tersulut? Ndak mungkin.

Maka tetaplah berkebaikan, tetapi dalam berkebaikan itu, “sambil malu-lah”. Bahwa orang yang kita ajak berkebaikan itu, bisa jadi namanya lebih wangi di sisi Tuhan yang maha bijaksana, ketimbang kita yang merasa mulia.

 

———

gambar saya pinjam dari link ini
posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com