MENGGURUKAN RIVAL

Sering kita temukan pernyataan bahwa kita sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. Selama bertahun-tahun saya rupanya menafsirkan hal tersebut secara keliru, saya rasa.

Sejak saya SMA, sampai saya kuliah, meskipun saya termasuk orang yang tidak banyak bicara, atau mungkin kurang ekspressif, tetapi saya mengamati juga orang-orang di sekitar saya dalam “diam” saya itu, dan menjadikan mereka yang saya anggap punya kelebihan, sebagai rival. Meski tentu saja rival dalam artian positif.

Kebaikan dari mentalitas seperti ini tentu saja ada, yaitu saya menjadi tertantang untuk mengejar pencapaian seseorang. Mengejar rekan-rekan yang lebih tersohor dalam komunitas. Mengejar kepiawaian seorang rekan dalam membantai soal-soal matematika dan angka-angka. Mengejar kemahiran seorang rekan dalam akrobat kata-kata dan orasi.

Banyak sekali tema “pengejaran” yang membuat hidup menjadi lebih cepat dan meningkat. Seperti dalam kisah komik, chinmi memiliki rival yaitu shie-fan, seseorang yang dia kejar pencapaian ilmu tongkat-nya. Naruto memiliki rival, yaitu sasuke.

Begitulah. Bertahun-tahun saya menafsirkan bahwa untuk kita berkembang kita harus memiliki rival.

Sampai kemudian berapa tahun belakangan saya menyadari ada sesuatu yang berubah dalam cara saya memandang hal ini. Dan ini baru bisa saya rangkumkan dalam bahasa setelah berapa waktu ini saja.

Yaitu bahwa perlombaan itu berbeda dengan pertandingan.

Pertandingan mengharuskan dua kubu berhadapan. Semisal tinju atau kumite dalam karate. Sedangkan perlombaan, para pesertanya tidak berhadapan. Melainkan mereka bersama-sama bergerak menuju arah yang sama. Seperti lomba lari.

Sebenarnya itulah yang kita lakukan dalam hidup ini. saya rasa, kehidupan kita ini bukan masalah kita bisa mengalahkan siapa. Karena kita, dan mereka, sebenarnya sama-sama bergerak ke tujuan yang sama. Ke akhir yang sama. Jadi tidak ada yang dikalahkan dan mengalahkan.
Atau lebih tepatnya, kita tidak saling menaklukkan satu sama lain.

Saya teringat, bahwa sahabat Umar dan Abu bakar dalam perlombaan amalnya. Umar selalu berusaha mengejar Abu Bakar dalam amalnya.

Dan berkali-kali Umar tertinggal.

Saat Rasulullah bertanya siapa yang hari ini puasa, di antara para sahabat, pastilah Umar menjadi orang yang menyaksikan bahwa Abu Bakar orang yang puasa.

Saat Rasulullah bertanya lagi siapa yang sudah mengunjungi orang sakit, siapa yang sudah memberi makan anak yatim? Selalu Abu Bakar mengungguli Umar.

Sampai pada puncaknya saat Umar menafkahkan setengah hartanya – setengah, coba bayangkan, setengah harta!!- lagi-lagi Umar tertegun melihat Abu Bakar menafkahkan SEMUA hartanya. SEMUA. i mean every single thing!! “Gila!”.

Sebuah pencapaian yang luar biasa. Waktu itulah Umar menyadari dia tidak akan pernah menang melawan Abu Bakar.
***
Saat ini, saya menyadari bahwa memandang hidup sebagai sebuah pertandingan, dalam konteks kalah-mengalahkan sangatlah tidak tepat.

Kita akan selalu tersiksa dalam cita-cita kita sendiri untuk menaklukkan orang lain. Kalau saya merenung lebih dalam lagi, bukankah ego yang menyetir semua itu?

Maka berapa tahun belakangan saya menyadari bahwa setiap orang memiliki “keluarbiasaannya” sendiri. Maka semua orang adalah guru bagi saya.
Dan selayaknya kita belajar pada orang-orang.

Berlomba-lomba dalam kebaikan, ya, tentu saja. Tapi tidak ada lagi bersit di hati saya untuk menaklukkan siapapun saja.

Maka dalam ketertinggalan ilmu pengetahuan misalnya, saya daulat-lah orang yang lebih pandai dari saya sebagai guru. Saya belajar darinya. Biarkanlah dia melaju dengan kepintarannya, dan sudilah mengajarkan ilmunya kepada saya. Karena kita sama-sama bergerak menuju akhir kehidupan, bukan? Dan semua ini hanya perkara bagaimana dalam perjalanan sampai finish ini kita saling memberi kebaikan pada khalayak. Bukan masalah bagaimana kita menjegal orang-orang yang sama-sama berlari menuju akhir.

Saya mengerti bahwa dalam kapasitas intelektual, dalam perkembangan emosional, dalam spiritualitas, seni, kemahiran mengelola rumah tangga, kearifan mendidik anak, keluwesan pergaulan di dunia kerja, pengetahuan perminyakan, dan sebagainya dan sebagainya; saya pastilah tertinggal dari banyak orang.

Maka saya mendaulat pula sekian banyak orang menjadi guru buat saya. Tempat bercermin, bertanya, menimba ilmu, memulung kearifan, meminta koreksi, dan segala macamnya, untuk supaya saya bisa pula berjalan secepat orang-orang, dan memberi kebaikan di sepanjang jalan yang kita sama-sama lalui.

Perkara siapa yang saat ini melaju di depan, siapa yang tertinggal di belakang, tak terlalu penting lagi buat saya.

Karena saya ingat sebuah ungkapan yang masyhur, bila tak mampu berlomba dengan para abid dalam ibadahnya, setidaknya kita berlomba dengan para pendosa dalam istighfarnya.

Dan lomba bukan pertandingan tinju, Bukan menaklukkan satu sama lain. Tapi bergerak bersama-sama, menuju arah yang sama. Sehingga saya mengkonversi semua yang saya anggap rival menjadi guru.

***

posting ulang dari blog http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s