MENYEMBUHKAN PERSANDARAN

Ada takbir menyemburat dari pucuk menara-menara masjid. Bersama tahlil, dan tahmid. Idul fitri sejak dulu ialah selebrasi kegembiraan. Lama sudah saya mengakrabi idul fitri sebagai ekspresi budaya yang syahdu, hingga baru-baru inilah saya menyadari aspek ruhani dari gempita puja-puji di setiap sore jelang malam lebaran.

Sekian lama rupanya saya tidak bertakbir. Seruan yang ianya membesarkan Allah, menegasikan yang lain.

Mungkin ini kenapa gerangan dzikir dan peribadatan apapun saja yang saya lakukan belum menghantarkan saya menjadi pribadi bersih yang dicirikan dengan tiada gelisah dan tiada duka. Semacam bintang penghargaan yang disematkan Tuhan pada hati orang-orang yang arif.

Rupanya, saat selama ini saya berdoa, doa saya hanya meminta dengan pesimis.

Mungkin sembari berdoa, saya lupa mentakbirkan Allah. Membesarkan Allah. Sembari berdoa, hati saya malah sibuk menghadap kepada ‘masalah’. Atau sembari beramal, hati saya mengukur kemampuan Allah dengan kalkulasi-kalkulasi kemungkinan ala manusia.

Saya ingat kisah nabi Zakaria, yang berpuluh tahun tak memiliki anak, hingga senja usia beliau, masih saja berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa, kepada Engkau, ya Tuhanku.”

Sebuah doa yang men-akbar-kan Allah. Istri beliau mandul, usia beliau sudah demikian tua, tetapi segala kemusykilan keadaan versi manusia itu tidak membuat beliau menganggap kecil kebesaran Tuhan. Apa buktinya? Buktinya ialah beliau berdoa, dan pengharapannya tidak pernah berkurang.

Dan begitu juga para Nabi yang lain. Nabi Muhammad SAW di kala islam dimusuhi seantero penjuru, dan keberhasilan syiar tauhid seperti tidak akan ada masa depannya, tapi Beliau tetap mentakbirkan Allah.

Musa alaihissalam, melawan firaun sang penguasa absolut di era itu, yang sekaligus bapak angkat beliau sendiri. Segala takdir perjuangan saat itu sulit dikalkulasi dengan siasat perang macam apapun saja, tapi tetap Musa menggantungkan harapannya kepada Tuhan.

Ada yang lebih akbar dari masalah. Bahkan lebih Akbar dari usaha dan peribadatan terhebat manusia itu sendiri. Maka jangan menilai Tuhan dengan kalkulasi manusia.

Mungkin, selepas puasa kita disuruh memperbanyak takbir pada idul fitri ialah semacam pengingat, bahwa manusia-manusia sekalian, jangan selalunya mengukur kemampuan Allah dengan sudut pandang makhluk.

Kita seperti disuruh berhenti dari kedunguan kita sendiri, yaitu berdoa sekalian pesimis. Atau kedunguan kita berikutnya, yaitu beramal sekalian menilai bahwa Allah mestilah hanya bisa merahmati selevel dengan amal kita. Padahal Kita disuruh memanggilNya saja. Minta tolong. Dan percaya bahwa Dia lebih Akbar dari segala persoalan kita. Bahkan lebih akbar dari usaha kita yang demikian ‘manusia.’

Meski jalan keluar belum terlihat. Meski halang rintang demikian  berjejal-jejal. Tetapi persandaran kita kepada Dia tidak boleh hilang. Ciri dari persandaran yang tidak benar, adalah saat kita berdoa, kita mulai mengukur-ukur kemampuan Tuhan dengan kalkulasi manusia yang begitu tidak komprehensif. Tugas kita berdoa semata, minta tolong, menghadap, melapor dengan sebenar-benar melapor. Masalah cara pengkabulannya entah bagaimana-bagaimana, adalah wilayah keTuhanan yang jangan diserempet-serempet dengan logika kita yang pendek dan prematur.

Mungkin, selepas Ramadhan kita disuruh bertakbir adalah untuk menyembuhkan persandaran kita yang sakit itu.

Ciri persandaran yang sakit dan tidak semestinya adalah ‘saat kita sangat ingin kembali kepada Tuhan –lewat segala peribadatan dan juga termasuk puasa kita yang lalu- kita merasa putus asa dari pertolongan Allah. Kita merasa SELAMA-LAMANYA kita tidak akan sampai, Karena kita sibuk menilai peribadatan kita sendiri. Kita sibuk mengukur lelaku kita sendiri. Lalu kita bayangkan bahwa kehebatan Allah dalam mencerahkan hambanya hanya selevel kemampuan kita itu.

Mengatakan “Duh Tuhan…dengan amal seperti ini bagaimana mungkin saya bisa mencapai Engkau” adalah baik dengan syarat dan ketentuan.

Dia akan menjadi baik, jika pengakuan kelemahan diri itu menggiring untuk semakin mengharapkan pertolongan dan keAkbaran Allah.

Dia akan menjadi salah, jika pengakuan kelemahan itu lahir dari sudut pandang yang mengira bahwa Allah hanya bisa menyelamatkan kita jika peribadatan kita telah sempurna. Padahal sang guru yang arif berpesan bahwa peribadatan manusia tidak akan pernah sempurna selamanya. Maka janganlah menilai Tuhan selevel dengan peribadatan manusia.

Jadi mungkin, kita harus meniru siti hajar. Saat ditengah kesulitan di padang tandus, Ismail menangis meraung dan tidak ada air sama sekali. Maka siti hajar berlari…berlari bolak-balik mencari air di sepanjang shofa dan marwa. Meski akal sehat dan kalkulasi kemakhlukkan pasti menganggap tidak mungkin ada pertolongan, tapi siti hajar men-Akbar-kan Allah.

Tugas beliau dan kita hanya berlari saja. Berlari…berlari….berlari…. dan segala usaha yang merupakan ekspresi berharap dalam doa yang benar-benar membesarkan Allah.

Lalu segala aktifitas bekerja, berdoa, ibadah apapun saja itu jangan kita ingat-ingat lagi. Lakukan lalu lupakan. Agar cukup Allah saja yang besar di hati kita. Bukan usaha kita. Bukan masalah kita.

——————

*) selamat hari raya idul fithri. saya mohon maaf lahir dan bathin atas segala khilaf dan tulisan yang tidak berkenan selama ini
*) gambar saya pinjam dari sini

*) saya posting ulang dari blog permanen saya di http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s