PUNCAK KECANGGUNGAN

Saya termasuk satu diantara sedikit orang-orang yang berada di puncak kecanggungan. Dalam banyak perkara, saya mengamati diri saya sebagai seorang yang canggung pada level yang lumayan mengkhawatirkan.

Saya merasa canggung saat berada di kerumunan. Merasa canggung pada suasana yang baru. Merasa canggung jika mengenakan pakaian yang sedikit modis. Juga merasa canggung jika berkendaraan mewah.

Tadinya, saya mengira kecanggungan ini adalah imbas dari konsep zuhud. Rupanya saya keliru.

Ada satu ilustrasi yang selama berapa tahun cukup mengagumkan bagi saya, yaitu ketika saya mendengar seorang ustadz yang mengajar dan selalu menolak saat beliau diberikan amplop sebagai upah mengajar. Saya mengagumi kezuhudan beliau. Dan selama bertahun-tahun pula saya menjadikan kisah dalam cerita itu sebagai role model.

Saya bukan ustadz, tentu saja, tapi dalam banyak hal saya menolak sesuatu yang “mewah” saya beri tanda kutip. Karena begitulah konsepsi zuhud dalam benak saya.

Rupanya, dengan cara berfikir yang demikian itu, saya sudah mengkaitkan sikap zuhud dengan sesuatu yang melulu kasat mata.

Misalnya, naik kendaraan umum ketimbang memiliki mobil pribadi adalah zuhud dalam versi saya yang lama. Zuhud selalu saya kaitkan dengan sikap sederhana yang kasat mata. Penafsiran yang minimalis.

Belakangan, saya tiba-tiba menyadari suatu fakta, bahwa saya menolak sesuatu yang menurut saya tidak zuhud itu; bukanlah karena dorongan sikap mental yang sederhana. Melainkan karena dorongan kecanggungan yang saya sebut di awal tadi. Rasa canggung yang disetir oleh pemaknaan yang berlebihan terhadap benda-benda.

Begini cerita lanjutnya. Ada beberapa hal yang menurut saya mewah, tetapi akhirnya saya menyadari bahwa ianya tepat guna. Artinya mewah atau mahal -tetapi fungsional- bukan berarti tidak zuhud.

Satu contoh yaitu motor. Menurut saya, membeli motor itu sesuatu yang tidak zuhud pada awalnya. Karena saya besar dalam lingkungan keluarga yang marjinal dan sulit secara keuangan. Motor dalam skala saya adalah mewah. Namun setelah saya diberikan kemampuan keuangan, lalu saya membeli motor, saya merasakan ada semacam sensasi bersalah di benak saya.

Sensasi yang tadinya saya kira sebagai sikap zuhud, tapi ternyata lahir dari kecanggungan. Canggung terhadap benda. Padahal motor cuma benda. Cuma kumpulan besi, kaleng, dan baut-baut. Rasa canggung inilah yang telat sekali saya sadari, dan bertahun-tahun tertipu dalam makna zuhud yang kurang pas.

Nyatanya, motor sangat membantu kehidupan saya. Saya bisa berangkat kerja dengan cepat, bisa menghemat, pergi kesana-sini. Dan lain-lain.

Jadi membeli motor, adalah sebuah keputusan mahal dalam skala saya waktu itu, keputusan yang sedikit saya sesali karena mengira saya tidak zuhud lagi, tapi belakangan saya sadari itu adalah sebuah keputusan yang tepat. Dan saya mensyukuri rezeki itu.

Karena motor sangatlah fungsional. Dan rasa bersalah saya di awal-awal itu adalah sebuah kecanggungan. yaitu sikap memandang berlebih terhadap benda.

Sebuah keputusan mahal lainnya, dalam skala saya adalah membeli mobil. Keputusan ini sempat memberikan rasa guncang yang lain lagi. Mengingat mobil lebih mahal dari motor. Dan saya merasa sudah tidak zuhud. Rupanya, mobil sangatlah membantu saya. Waktu istri melahirkan. Bolak-balik ke Rumah Sakit. Dan sekarang istri bolak-balik ke tempat kerja dengan mobil, sambil membawa anak saya yang sudah semakin besar. jadi mobil ternyata fungsional.

Itulah yang saya maksud dengan kecanggungan.

Baru belakangan ini saja, saya bertemu dengan bentuk kearifan lainnya. Yaitu saat seorang ulama yang sepuh selesai mengajar diberikan amplop, dan dia menerimanya dengan biasa saja.

Tidak ada raut gembira. Tidak ada penolakan yang resisten. Tapi sebuah sikap biasa saja yang malah menimbulkan kesan zuhud yang sebenarnya.

Apa pasal? pasalnya, kata beliau. Saat menerima uang yang diberikan, dia tidak pernah memandang orang yang memberikan uang itu. Tapi beliau memandang uang sebagai rezeki yang diberikan Allah.

Jadi, “mata hati” yang memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan mendudukkan perkara zuhud tepat pada tempatnya yang sesuai.

“Mata hati” yang selalu memandang kepada Sang Pemilik rezeki-lah yang akan melepaskan kita dari puncak kecanggungan, mendudukkan benda sebagai benda semata.

Tidak canggung memakai jas, pun biasa saja saat memakai kaos oblong. Tidak canggung naik mobil, pun bersyukur saat naik metro mini. Tinggal di hotel berbintang, ataupun di rumah kontrakan. Biasa saja. Karena kita sudah mendudukkan benda sebagai benda semata. Bukan sesuatu yang lekat di hati. Membuat jumawa, atau menjadikan canggung yang tak pada tempatnya.

***

posting ulang dari blog permanen saya http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s