YANG SEBENAR-BENARNYA TEMA

Kenyataan bahwa manusia tidak akan tenang hidupnya sebelum dia menentukan sebuah tujuan dalam kehidupannya, mungkin menjadi salah satu pembeda antara manusia dan lain-lain makhluk.

Seekor singa, misalnya. Bisa saja dia hidup hari ini, mencari makan, lalu tidur, dan kembali lagi esok hari dalam sebuah rutinitas yang serupa. Setiap hari, sang singa hanya memperpanjang durasi hidupnya, dari makan menuju makan, tanpa sebuah tema besar apapun dalam kehidupannya. Dia hidup, dan melakukan segala sesuatunya dalam kehidupannya yang alamiah hanya untuk memperpanjang durasi hidupnya. Tidak ada tema, tidak ada alasan, tidak ada sesuatu yang dikejar, dan tidak ada sesuatu yang lebih ‘dalam’ sebagai penggerak.

Sedangkan manusia tidak. Manusia akan gelisah dan merasa selalu kurang, sampai dia menemukan sebuah tema besar yang kemudian dia anut, atau dia akui menjadi sentral cerita keseluruhan kehidupannya.

Harus ada sebuah tema, tujuan, sebuah “mengapa”, sebuah “darimana dan mau kemana?” yang menjadi ide keseluruhan gerak hidupnya.

Yang ingin menjadi dokter, akan menjadikan pencapaian akan titel dokter sebagai tujuan keseluruhan hidupnya. Jadi ada tujuan, dan ada prasarana. Tujuan-nya adalah menjadi dokter, prasarananya adalah makan, minum, belajar, pulang larut, dan seterusnya.

Tanpa tujuan, tanpa tema, sebuah proses makan, minum, belajar, pulang larut, akan menjadi kurang greget. Tidak berarti. Tapi dengan tema, segala aktivitas apapun menjadi punya makna yang bisa dilekatkan kepada aktivitas itu.

Sebuah “makan” akan menjadi lebih dalam maknanya jika dilekatkan dengan sebuah ide bahwa makan itu nanti bisa jadi sarana pencapaian tujuan yang lebih adiluhung.

Itu kalau dia punya cita-cita menjadi dokter. Ada juga, sebagian manusia yang tema kehidupan yang mereka ‘anut’ adalah menjadi pemusik, misalnya. Maka keseluruhan tindak-tanduk kehidupannya, hiruk-pikuk kesehariannya, baginya menjadi PRASARANA untuk mencapai tujuan menjadi pemusik.

Begitulah singkatnya, manusia tidak bisa untuk tidak memiliki sebuah tema, tujuan. Menjadi dokter, menjadi pejabat, membahagiakan keluarga, menjadi pebisnis, menjadi ayah yang teladan, macam-macam. Orang paling bergajulan sedunia-pun, dia memiliki sebuah tema. Sebuah alasan yang menjadikan segala atribut kehidupan, aktivitas, menjadi prasarana pencapaian tujuan itu. Terlepas apakah yang mereka lakukan benar atau tidak secara norma.

Alasan-alasan itulah, yang nantinya akan membuat roda hidup bergerak. Karena setiap orang memiliki bahan bakar, ada alasan-alasan yang membuat setiap orang bergerak. Maka kehidupan menjadi berjalan.

Permasalahannya adalah, kita jarang sekali menyadari bahwa tema kehidupan yang kita pilih adalah sangat temporer.

Orang yang menjadikan capaian titel S3 sebagai tema hidupnya, misalnya. Setelah mencapai S3, lalu apa tema-nya? Orang ini harus mencari sebuah tujuan yang lain lagi, sebuah alasan agar kehidupannya terus memiliki bahan bakar penggerak.

Orang yang menjadikan pencapaian kebahagiaan keluarga sebagai tema hidupnya, akan mencapai juga suatu titik dimana dia butuh alasan yang lain lagi untuk bergerak.

Sebuah kondisi yang kita alami, yang kita kira merupakan sebuah capaian tujuan, bisa saja hanya merupakan sebuah sarana perjalanan bagi orang lainnya.

Singkatnya sesuatu di dalam hidup ini kadang bisa menjadi tujuan, atau kadang bisa dianggap sebagai sarana mencapai tujuan, tergantung cara pandang.

Kita ulangi lagi, sesuatu itu, bisa menjadi TUJUAN, atau bisa jadi PRASARANA dalam hidup, tergantung CARA PANDANG.

Belakangan saya sadari sebuah paradoks, Bagaimana mungkin, sesuatu yang terukur (PRASARANA) menjadi tujuan hidup? Pasti ada yang salah, jika tujuan besar bagi segolongan orang, bisa sekedar menjadi prasarana bagi sebagian lainnya, atau sebaliknya. Pasti ada yang salah.

Saya baru menyadari sebuah kesalahan berfikir saya,  setelah mengkaji petuah orang-orang arif,kenapa kok sepertinya selalu ada yang kurang?

Saya baru menyadari bahwa Segala atribut apapun dalam kehidupan ini sebenarnya PRASARANA, bukan tujuan, bukan tema kehidupan kita. Tema hidup kita semestinyalah tidak temporer dan kerdil. Dia harus sesuatu yang lebih luhur.

Segala sesuatu dalam hidup ini, semuanya PRASARANA, bukan tujuan. Cobalah artikulasikan segala macam lelakon apa saja dalam hidup, pastilah itu sebenarnya sarana, bukan tujuan. Jadi selama ini kita sudah banyak salah memilih tema.

Makan-minumnya kita. Kerja-istirahatnya kita. Atribut-atribut sosial kita. Keluarga kita. Kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Semua bukan tujuan. Karena semuanya ini temporer.

Menjadi pebisnis yang sukses, jelas bukan tujuan hidup. Menjadi orang yang banyak beramal dengan mendirikan panti asuhan, pun bukan tujuan hidup. Berdakwah keliling dunia, bukan tujuan hidup. Segala apapun yang bisa kita sebutkan dan berikan contoh gamblangnya, adalah sarana, bukan tujuan.

Semuanya sarana, untuk mengenal Dia. Tema besar kehidupan ini adalah mengenal Dia, sang pencipta alam ini, yang laisa kamislihi syaiun. Tiada serupa apapun, tiada umpama. DariNya kita berawal, padaNya kita kembali. Dia yang memberikan kita atribut-atribut, yang menggelar sedemikian banyak prasarana. Maka Dia-lah sebenar-benar tema. Tujuan. SelainNya, semua yang terhampar hanyalah sarana mengenal Dia.

Kita harus berhenti sejenak dan melihat ke dalam diri, bila sudah terlalu sibuk dan penat kita mengejar sesuatu, dan ternyata sesuatu yang kita tuju itu terlampau temporer, kerdil dan terukur, maka itu bukan tujuan. Itu Cuma sarana.

 

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s