YANG TERPANDANG

image

Kebanyakan orang, saat mereka beramal mereka menimbang-nimbang amalnya. Mengira-ngira apakah amal yang mereka lakukan ikhlas atau riya? Menghitung-hitung apakah peribadatan yang mereka lakukan itu bisa menghantarkan mereka ke syurga apakah tidak?

Sedangkan orang-orang yang arif, saat beramal mereka ‘terpandang’ pada karunia Allah. Betapa saat itu mereka mensyukuri untuk telah tertakdirkan menjadi hamba yang ‘kembali’ pada Allah.

Orang-orang yang arif tidak sempat menebak-nebak apakah amalnya ikhlas atau riya, karena mereka terpandang kepada kebaikan Allah yg telah memberikan mereka hadiah berupa kesempatan ketaatan.

Jangankan menyoal riya dan tiada riya, merasa punya kemampuan beramal pun mereka tidak.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ – قَالَ – وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.

{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]

Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:

والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها

Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.

Ibnu Athoillah mengatakan, jangan bersandar pada ‘amal.

Orang yg bersandar pada amal berarti sibuk mentakjubi dirinya. Sedang orang yg bersandar pada Allah berarti orang itu selalunya terpandang bahwa amal ibadah yang mereka lakukan adalah sebuah hadiah dari Allah.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kepada hambaNya, Allah memberikan pula wadahnya. Begitu seorang guru berkata.

Saat Allah ingin memberikan anugerah kedekatan padaNya, dan kepahaman pada agamaNya, Allah akan memberikan wadah berupa kesempatan, berupa takdir beramal bagi hamba itu.

Bahwa amal yang terzahir oleh kita adalah anugerah sebelum anugerah, itulah yang terpandang di ‘mata’ orang-orang arif.

***

posting ulang dari blog permanen di http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s