TAK AKAN PERNAH TERBELI

Lumma-CLR-BMW-M6-1
Dalam jangka waktu sebulan, apakah mungkin upah dari sebuah pekerjaan mencuci piring akan mencapai nilai lima ratus juta atau senilai BMW terbaru? Dengan logika umum yang normal, kita tahu itu rasanya sangat tidak mungkin, bukan?

Tapi anehnya kita sering melakukan hal yang sebaliknya, kita sering menganggap hal itu mungkin, dan jelas-jelas itu suatu kesalahan dalam cara memandang. Hal itu analog dengan kita yang selalu menganggap bahwa usaha terbaik manusia dalam peribadatannya bisa dibarter dengan karunia Allah. Padahal karunia Allah dibandingkan usaha terbaik manusia sekalipun, tetap tak akan sebanding.

Ini sebuah perumpamaan sederhana. Anggaplah kita ini seorang anak yang berharap agar orang tua kita membelikan kita sebuah mobil baru seharga lima ratus juta. Maka untuk ‘merayu’ orang tua kita, kita melakukan segala macam kegiatan membantu orang tua kita di rumah.hand-washing-dishes

Kita mencuci piring, menyapu rumah, mencucikan mobil orang tua kita, mengepel lantai, menyapu halaman, dan macam-macam. Dengan harapan orang tua kita akan mengabulkan keinginan kita untuk dibelikan sebuah mobil.

Membantu orang tua adalah baik, akan tetapi sebuah sikap yang salah akan terjadi saat seorang anak melakukan segala baktinya itu, kemudian dia beranggapan bahwa baktinya itu -segala macam pekerjaan rumah tangga yang dia bantu lakukan itu- jika ditotal-total upahnya akan senilai harga mobil yang lima ratus juta.

Padahal kalau misalnya dihitung, upah cuci piring, upah cuci mobil, nyapu rumah, ngepel; tidak akan pernah mencapai lima ratus juta. Tidak akan pernah senilai itu.

Kalaupun mobil akhirnya diberikan oleh orang tua kita, itu semata karena kebaikan mereka. Bukan karena harga mobil itu terbayar dengan upah kerja keras kita yang membantu mencuci dan menyapu di rumah.

Begitulah kita. Saat keinginan untuk mendekat kepada Allah muncul, maka kita terdorong untuk melakukan segala amal baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita tidak lagi ‘memandang’ kepada Allah, tetapi kita memandang kepada amal. Bukan lagi karunia Allah yang menarik kita kepadaNya yang kita andalkan, melainkan usaha kita sendiri.

Cara mengetahuinya gampang sekali, saat suatu ketika kita nge-drop dalam beribadah, kita akan kehilangan harapan untuk bisa dekat kepada Allah.

Taroklah peribadatan kita sempurna, sholat berbilang-bilang rakaat, dzikir begitu dawam, tilawah Qur’an berlembar-lembar, tetapi suatu ketika ada masalah menghantam, lalu kejiwaan kita begitu rapuh dan kita gelisah. Kita begitu larut dalam gelisah, sholat tak tenang, dzikir terlupa, sampai akhirnya menjadi sadar, kalau saya sampai se-gelisah ini, lalu apa artinya segala laku peribadatan yang saya lakukan sebanyak itu kalau tidak membuat saya bisa tenang dan pasrah pada Allah?

Lalu kita kecewa, kecewa pada sebuah kenyataan bahwa kita tidak bisa menjaga track-record kemulusan peribadatan kita. Dan kita sampai pada sebuah kesimpulan yang fatal “Ah…memang tak mungkin saya bisa sampai kepada Allah, sudahlah”.

Kesimpulan fatal yang membuat kita putus asa terhadap rahmat Allah itulah, yang menandakan bahwa selama ini kita “berjalan” menuju Allah bukan dengan “mengandalkan/ mengharapkan karunia Allah” melainkan dengan menganggap hebat usaha kita sendiri.

Saya belakangan baru mengerti, apa maksud orang-orang arif yang mengatakan bahwa orang yang akan berhasil sampai di penghujungnya adalah orang-orang yang sejak awal sudah mengandalkan Allah. Bukan mengandalkan dirinya sendiri.

Orang-orang seperti ini, saat beribadah dia akan memaknai ibadahnya sebagai sebuah bentuk minta tolong kepada Allah. ya, minta tolong, begitu saja. Sebagai sebuah bentuk mengharapkan kebaikan Allah, agar Allah menarik orang tersebut mendekat.

Saat orang-orang seperti ini terpuruk, mereka tetap akan memandang Allah, dan malah menjadi menyadari bahwa betapa segala daya dan kekuatan adalah milik Allah. Malah mereka semakin sadar dan ngerti bahwa sebenarnya kemampuan manusia ini cuma ngarep tok kepada Allah. Ngarep, dan bentuk pengharapan itu terejawantah dalam segala macam perilaku kehidupan. Tapi intinya tetap bukan pada perilaku kebaikan itu, tetapi bahwa perilaku kebaikan itu cuma bentuk lain dari minta tolong.

Daya berkeinginan datangnya dari Allah. Segala upaya terbaik manusiapun karena pertolongan Allah. Sudah tidak ada tempatnya lagi bagi sombong-sombongan manusia untuk bertahta.

Sudah, memang manusia ini tidak akan pernah bisa membeli karunia Allah dengan prestasi terbaik sekalipun.

Maka ngeri sebenarnya kalau mengharapkan hitungan keadilan Allah. Hitungan adil itu adalah seperti ibarat di atas tadi, kalau mobil seharga lima ratus juta diberikan ke kita, dan ternyata usaha terbaik kita hanya diupahi katakanlah sepuluh juta, maka berarti kita hutang empat ratus sembilan puluh juta. Mau bayar pake apa?

Jadi jangan menantang keadilan Allah, tapi bersimpuh dan mengharap saja pada rahmatNya. Menjadi fakir dihadapan Tuhan.

Jadi, kita berjalan terus saja, jatuh, bangun lagi, jalan lagi, jatuh lagi bangun lagi jalan lagi. Sambil jangan pernah berfikir bahwa usaha kita yang jatuh bangun ini yang akan mengatarkan kita sampai padaNya. Melainkan karena kebaikan diriNya sendirilah.

Seperti yang masyhur kita tahu, kita sejengkal Dia sedepa. kita sedepa Dia sehasta. kita jalan Dia berlari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s