TUKANG BATU YANG MEMBACA

ini cerita klasik. Suatu hari ada seorang tukang batu. Tukang batu tersebut mencabik-cabik batu dengan palunya yang besar. Bertahun-tahun. Sampai suatu ketika sang tukang batu itu merasa jenuh dan meminta kepada Tuhan. Dalam penatnya, sang tukang batu meminta ditakdirkan mendapat pekerjaan lain.

Tak lama tukang batu ditakdirkan pindah profesi dan menjadi penjual tahu yang selama ini selalu melintas di dekat tempat dia bekerja. Sang tukang batu begitu senang dan akhirnya merasa mimpinya terkabul karena betapa selama ini dia iri dengan tukang tahu, sekarang dia pun menjadi tukang tahu.

Setelah berapa bulan, sang tukang tahu baru ini merasa letih dan penat dengan pekerjaannya. Setiap hari dia diterpa panas menyengat. Sambil menyeka keringat di dahinya dia menatap matahari, dan berdoa betapa enaknya jika dia menjadi matahari.

Singkat kata, doanya mustajab. Dia menjadi matahari. Dia merasa sangat senang dan menabur panas dimana-mana. orang-orang berpeluh dan kepanasan. Cukup lama dia merasakan nikmatnya jadi matahari sampai suatu ketika cahayanya dihalangi awan hitam yang bergulung-gulung. lalu dia hendak pula menjadi awan.

Lagi-lagi terkabul, dia menjadi awan. Dia menikmati menjadi gumpalan gelap yang mengguyuri bumi dengan hujan. Dia membanjiri segalanya, semuanya tersapu kecuali batu karang. Lalu dia ingin menjadi batu karang.

Setelah menjadi batu karang dia merasa begitu digdaya. Tak lekang oleh panas, tak hancur karna hujan dan tempias ombak. Dia merasa begitu kukuh dan terpuaskan.

Sampai suatu hari yang terik. Seorang tukang batu berjalan tegap di atasnya, dan mengayunkan palunya yang besar untuk membelah batu karang itu.

Senada dengan cerita di atas, saya pernah berada dalam sebuah kondisi dimana saya merasakan bahwa hasrat untuk berpindah dari suatu keadaan yang ada pada saya sekarang; merupakan sebuah ketidak-syukuran.

Pasalnya, saya baru mengerti maksud Ibnu Athoillah dalam sebuah petuah singkatnya, yang mengatakan kurang lebih banyak manusia yang berputar-putar seperti keledai penggilingan. Berpindah dari satu keadaan pada keadaan lainnya, tiada ujungnya.

Saya menjadi mengerti maksud beliau. Bahwa kebiasaan manusia adalah mengeluh. Karena manusia tidak mensyukuri keadaan yang ada pada dirinya saat ini. Maka manusia meminta Tuhan untuk memindahkannya dari keadaan yang ada sekarang, menuju keadaan lainnya.

Saat keinginan manusia tersebut terkabul, seperti jamaknya tabiat manusia, akan ada lagi sesuatu yang menyebabkan dia tidak kerasan dengan keadaan yang ada padanya saat itu, maka akhirnya diapun akan meminta lagi kepada Tuhan untuk memindahkannya pada keadaan lainnya yang menurut dia lebih baik.

Dan itulah yang dimaksud sang syeikh dengan ‘berputar-putar’ seperti keledai penggilingan. Tak ada ujungnya.

Saya menyimpulkan maksud beliau, bahwa seandainya saja manusia bisa menerima kondisi yang ada pada dirinya, maka manusia itu ternyata akan menjadi sadar dan mengerti bahwa kunci kebahagiaan ternyata bukan pada keadaan. Tapi pada hati yang lapang dan menerima. Hati yang lapang, akan membuat kita bisa merasakan bahwa keadaan yang ada pada kita merupakan anugerah.

Cukup lama saya mengerti akan kebijakan ini, sampai saya menemukan sebuah potongan puzzle lagi yang menggenapkan teorema ini.

Potongan puzzle yang baru saya temukan itu bernama IQRA.

wahyu yang turun paling pertama kepada Sang Nabi SAW. Bacalah!

Apa yang dibaca? Seorang ulama menuliskan bahwa pada wahyu itu tidak perintah membaca apa. Yang ada adalah sebuah penjelasan tentang bagaimana membacanya.

Bacalah, dengan nama Tuhanmu!

Artinya, kita disuruh membaca apa saja. Memahami apa saja. Dalam kaitannya dengan spiritualitas, kita bisa artikan bahwa saat kita belajar memahami segala sesuatu, sejatinya kita sedang belajar menyibak tabir untuk lebih bisa mengenal Allah. Yang Menjadikan Segala sesuatu.

Untuk bisa membaca, maka kita harus meluaskan pandangan. Dan untuk meluaskan pandangan, maka kita tidak boleh sempit dan tertambat pada sesuatu. Agar tidak tertambat pada sesuatu, maka kita harus bergerak, artinya kita berpindah dari suatu keadaan pada keadaan lainnya.

Sepintas, kebijakan yang ini menabrak kebijakan yang disampaikan pada cerita klasik, dan juga petuah sang syeikh Ibnu Athoillah di atas, bukan?

Tapi ternyata tidak.

Seseorang baru akan bisa melihat hikmah, atau baru bisa membaca alam ini dengan nama Tuhan, saat dia sudah bisa menerima apapun saja yang ada pada dirinya saat ini.

ilustrasi sederhananya adalah begini. Saat kita berjalan dan melihat ada api di pinggir jalan, maka kita akan berpindah dan menjauh. Itu adalah karena kita ‘membaca’ alam. Membaca api. Itu tindakan yang benar.

Akan tetapi akan menjadi tidak benar, seandainya saat kita melihat api di pinggir jalan, kita mengutuk-ngutuk Tuhan. Kita menjadi marah dan mempertanyakan Tuhan, kenapa harus Tuhan ciptakan api itu panas? Kenapa harus membakar? lalu kita berpindah dari tempat kita dengan sebuah kekesalan kepada api, dan kekesalan kepada takdir Tuhan.

Sama-sama berpindah. Yang satu berpindah karena ‘membaca’, yang satu berpindah karena kesal dan marah.

Kisah klasik di awal tadi, merupakan sebuah sampel seseorang yang berpindah karena sebuah ketidak terimaan akan takdir.

Kisahnya akan menjadi lain jika begini: Seorang tukang batu, merasakan hidupnya begitu pelik dan sempit karena rezeki dan hasil penjualan batu begitu sedikit. Awalnya sang tukang batu merasakan bahwa tanpa bekerja di penjualan batu-batu dia tak akan hidup. Belakangan dia menyadari, kesimpulan seperti itu adalah kesimpulan yang salah, artinya dia sudah memandang kecil Kemaha Besaran Tuhan, dan menganggap sempit keluasan rezeki Tuhan.

Menyadari kesalahan pandangannya, maka sang tukang batu berdoa kepada Tuhan. Agar dia dituntun untuk bersandar kepada Tuhan, bukan kepada pekerjaan. Maka akhirnya Tuhan memindahkan dia ke pekerjaan lainnya.

Dari sana dia ‘membaca’, bahwa betapa luasnya dunia ini, dan betapa besarnya kasih sayang Tuhan. Betapa berbagai-bagainya cara Tuhan menghamparkan rezeki kepada manusia.

Lalu sang tukang batu menjadi heran, karena kini hatinya telah ‘tawar’ memandang apa saja. Baginya kini tak soal, jualan batu kah, atau jualan tahu-kah. karena batu dan tahu sekedar cerita saja. Yang penting adalah ‘membaca’ cerita itu, hingga kenal Siapa Yang Menuliskan plot hidup yang begitu indah dan tak tertebak.

***

repost dari http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s