EUREKA DAN ORANG-ORANG YANG DIAJARI

EUREKA, adalah sebuah kata seruan dari bahasa Yunani. Ekspresi ini digunakan untuk melambangkan penemuan akan suatu hal. Artinya kurang lebih “Aku telah menemukannya.”

Kata ini menjadi familiar sekali dimana-mana setelah digunakan oleh Archimedes Seorang ilmuwan yang diberikan tugas oleh sang raja untuk mengetahui apakah mahkota sang raja dicampur perak ataukah murni emas?

“Eureka…eureka…” teriak Archimedes setelah dia menemukan bagaimana caranya.

Kepahaman itu Archimedes dapatkan saat dia menceburkan diri ke dalam bak mandi, dan tiba-tiba paham bahwa volume benda yang tak beraturan bisa diukur dengan melihat berapa besar volume air yang dipindahkan. Dalam gilirannya nanti, perhitungan volume dan kaitannya dengan massa jenis bisa dia gunakan untuk mengetahui apakah mahkota tersebut murni atau tidak.

Disitulah Archimedes berlari dan berteriak Eureka….eureka… saking semangatnya sampai lupa mengenakan bajunya terlebih dahulu, konon begitu.

Archimedes adalah ‘penemu’. Sama seperti ratusan ilmuwan lainnya, mereka adalah penemu.

Sang penemu, tentu saja bukan pencipta. Hal ini menarik, saat seorang arif menjelaskan bahwa seorang penemu, sesungguhnya hanya menjadi ‘saksi’ saja dari sedemikian banyak hukum-hukum alam yang telah Allah SWT susunkan. Maka mereka berkata Eureka, saya menemukannya, bukan saya menciptakannya. Karena hukum itu sudah ada, semua sudah tersusun rapih.

Perkara apakah saat seseorang sudah bisa menyingkap suatu tabir hukum-hukum di alam semesta; kemudian orang itu beriman atau tidak; akan kita obrol-obrol lain kali.

Sekarang saya ingin berbincang sejenak bahwa dalam sejarah panjang manusia untuk mencoba memahami kehidupan ini, ternyata manusia menemukan sesuatu.

Dalam pandangan yang lebih sufistik, dikatakan oleh orang-orang arif bahwa sejatinya manusia itupun tidak menemukan, tetapi diilhamkan tentang sesuatu.

Allah-lah yang mengilhamkan sesuatu itu kepada manusia.

Ilham berupa kepahaman yang menyusup secara cepat, pengertian-pengertian yang begitu saja merasuk, tanpa suara, tanpa huruf.

Seumpama Newton, hanya dengan melihat apel jatuh, kita tahu kemudian Newton menemukan hukum gravitasi. Kalau kita ganti dengan bahasa para arifin, Newton bukanlah menemukan, tetapi Newton ‘dipahamkan’ tentang gravitasi.

Lagi-lagi, perkara apakah dengan mendapatkan kepahaman gravitasi maka Newton menyadari keberadaa Tuhan, sang pencipta hukum itu? itu lain soal.

Satu hal yang sangat menarik adalah kita sudah memahami bahwa segala apa saja yang terzahir di alam raya ini sebenarnya cara Allah untuk ‘menyatakan’ diriNya. Sifat-sifatNya dirangkum dalam nama-namaNya yang baik. Dan kesemuanya terzahir dalam alam raya ini.

Siapa yang memahamkan manusia pada alam raya ini? –yang pada gilirannya kepahaman itu membantu pengenalan tentang Dia- ya Allah SWT sendiri yang memahamkan manusia itu.

Tetapi yang perlu kita mengerti adalah bahwa ilmu Allah SWT itu sangatlah luas dan tak terperi. Sepanjang sejarah manusia, manusia belajar dan akhirnya memahami hal-hal sedikit demi sedikit, tapi pengembaraan umat manusia itu belumlah selesai, maka manusia melakukan itu transfer knowledge.

Setiap orang membuka tabir-tabir kehidupan dan pengenalan akan Allah lewat jalannya sendiri. Kemudian setiap orang akan bertemu dengan “Eureka” mereka masing-masing. Dan hal itulah yang kemudian disampaikan kepada orang lain lewat bahasa yang diverbalkan, dari sebelumnya hanya berupa kepahaman semata tanpa bentuk.

Pokok pentingnya adalah, dalam upaya pengenalan manusia kepada Allah SWT, kita tahu bahwa ‘perjalanan’ memang penting. Perjalanan adalah sebuah metafora yang digunakan para salikin (orang-orang yang meniti jalan pulang kepada Allah) untuk menggambarkan bahwa yang penting dalam perjalanan menuju Allah adalah ‘tirakat’ ruhani. Adalah peribadatan yang nantinya menghantarkan mereka menuju kepahaman-kepahaman.

Tetapi belakangan saya menyadari satu hal, ‘tirakat’ semata akan menyebabkan manusia sangat lama dalam mengenal Tuhan, jika tidak disandari ilmu yang benar.

Hal ini ibarat cerita ilmuwan tadi. Coba bayangkan, betapa susahnya jaman dulu Sang Michael Faraday penemu fenomena kelistrikan merumuskan kepahaman yang dia dapat menjadi sesuatu yang dipahami juga oleh orang banyak. Tapi jaman sekarang, anak TK pun punya pengetahuan apa itu listrik, paling tidak mereka tahu.

Dan anak TK tidak tidak perlu lagi melakukan perenungan panjang sepanjang kerja keras Michael Faraday dalam menemukan listrik (dalam diilhamkan tentang listrik). Karena hal tentang listrik sudah tersingkap.

Itulah hebatnya Transfer Knowledge.

Karena anak-anak jaman sekarang, sudah tidak lagi berfikir mengenai apa itu listrik, tapi sudah berfikir mengenai kemanfaatan yang mereka bisa buat lewat fenomena listrik. Sesuatu yang mungkin terbetik di hati pun tidak oleh Michael Faraday.

Begitu pula perjalanan spiritual.

Tirakat itu penting, tentu saja. Tetapi tirakat haruslah dilambari dengan keilmuan yang benar.

Cobalah tengok, Al-Quran sudah ada, Hadist ada, panduan ruhani yang valid dan kredibel pun ada.

Ada Al-Hikam mengenai seluk beluk dialektika batin para salik. Ada buku-buku Syeikh Abdul Qadir Jailani. Ada madarijus salikin. Macam-macamlah.

Kita tinggal melakukan tirakat ruhani sesuai tuntunan yang benar, untuk kemudian ‘membenarkan’ apa yang memang tertulis pada buku-buku masa lalu itu lewat pengalaman batin kita.

Kita tidak harus starting ulang dari Nol.

Bayangkan para pejalan ruhani yang mulai dari Nol. Mereka melakukan segala macam tirakat panjang dan lama untuk sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah bukan ini, bukan itu, bukan segala-sesuatu yang kita kenal. Sebuah kesimpulan yang sejak dari lama dijelaskan Al-Quran dalam surat Al-Ikhlas.

Yang saya ingin bagikan ialah, kalau kita melangkah lewat kepahaman Ilmu Makrifat yang benar, maka perjalanan akan insyaallah lebih cepat dan terjaga.

Karena memang tugas kita adalah memanfaatkan kepahaman yang sudah Allah berikan pada seseorang pada masanya sendiri di waktu lalu, untuk kita terapkan dan menerima kepahaman yang lebih lagi yang diberikan Allah pada kita di masanya kita sekarang ini.

Kasihan para guru di masa silam, jika ilmunya tak kita pakai. Atau kalaulah perjalanan panjang kita dalam kehidupan hanya menghasilkan sebuah teorema yang ternyata sudah pula dirumuskan mereka di masa silam.

Tapi apapun ceritanya, apapun yang kita verbalkan menjadi teorema, menjadi catatan-catatan pengetahuan, sesungguhnya benar-benar kita ini hanyalah seorang yang diilhamkan. Dipahamkan. Jadi Eureka itu mungkin tepatnya ‘aku diajari’, bukan ‘aku menemukannya’.

 

MAZHAB JALAN TENGAH

Selalu ada sebuah desakan dari dalam diri manusia yang membuat manusia bergerak dan melakukan sesuatu. Apakah itu karna tuntutan biologisnya, atau kecintaan kebendaan, atau keinginan untuk diakui dan dianggap ‘ada’. Sebuah desakan dari dalam diri itulah yang membuat manusia melakukan sesuatu. Dan saat sesuatu yang dia lakukan itu berhasil, atau keinginannya terpenuhi, maka manusia akan menjadi bahagia.

Dalam usaha pemenuhan kebutuhan –desakan- dari dalam diri itulah manusia ‘bekerja’ atau melakukan aktivitas.

Paradoksnya adalah saat melakukan aktivitas atau melakukan pekerjaan itulah manusia akan terbentur dengan pelbagai tantangan yang pada gilirannya membuat manusia itu susah sendiri dan menjadi tidak bahagia.

Contoh sederhananya, manusia bekerja untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Seiring berjalan waktu manusia disetir oleh kecintaan kebendaan, maka manusia bekerja lebih keras lagi untuk membeli sesuatu melebihi apa yang dia butuh. Saat manusia bekerja lebih keras dari yang semestinya itulah manusia akan merasa tersiksa, tapi anehnya manusia merasa tersiksa untuk mendapatkan rasa bahagia. Lucu juga kalau dipikir.

Mungkin, karena menganggap bahwa paradoks semacam ini ‘lucu’ dan tak seharusnya, maka manusia mencari cara bagaimana baiknya agar kebahagiaan manusia tidak terganggu.

Saya mengamati ada dua hal yang manusia lakukan untuk mempertahankan kebahagiaannya. Yang pertama adalah menghilangkan hal eksternal.

Pertama, saya ingin mengutip sebuah cerita mengenai seseorang yang disibukkan dengan aktivitas eksternalnya, sehingga dia mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya semu. Bahagia tapi tidak bahagia.

Pernah kita dengar bersama, sebuah hadist tentang seorang sahabat bernama Tsa’labah yang mendesak Nabi Muhammad SAW agar mendoakan dirinya menjadi orang kaya raya. Sang Nabi yang tadinya menolak mendoakan –tersebab khawatir bahwa kekayaan tak baik untuk Tsa’labah- akhirnya mendoakan juga setelah didesak terus.

Doa Nabi terkabul, Tsa’labah menjadi kaya lewat kambingnya yang beranak pinak. Tsa’labah sampai kesulitan memelihara kambingnya dan kekayaannya yang menggunung.

Dia memang menjadi kaya raya, tetapi kekayaannya itu menjauhkan dia dari Allah, tersebab dia menjadi sibuk mengurus kambingnya itu. Tsa’labah, sudah lupa akan tujuan hidupnya.

Jika kita mengaitkan kisah Tsa’labah dengan pencarian makna hidup manusia, kita bisa kerucutkan bahwa hal paling penting bagi Tsa’labah adalah harta. Kekayaan yang pada gilirannya membuat dirinya diakui.

Sebagian spiritualis menyadari hal ini, bahwa faktor eksternal (pekerjaan, keluarga, pangkat, dll) itulah sebenarnya penyebab manusia tidak bahagia. Maka mereka memilih jalan kerahiban. Meninggalkan dunia untuk kemudian menjalani hidup dalam kebahagiaan yang tak terusik oleh tanggung jawab keduniawian.

Pada sisi ekstrim satunya lagi, orang-orang hedonis menggunakan “shortcut” untuk menghilangkan sementara hal-hal eksternal yang membuat mereka tidak bahagia. Mereka minum khamr, atau hal semacam itu yang efeknya bisa membuat mereka ‘lupa’ dengan masalah eksternal mereka. Karena tidak sadar, dan masalah eksternal luput dari perhatian mereka, maka mereka bahagia. Bahagia yang semu.

Padahal islam rasanya tak begitu. Tentu tak begitu.

Itulah kenapa islam melarang kita mabuk dan menghilangkan kesadaran. Pada sisi lainnya, islam juga melarang kita menjalani kehidupan kerahiban.

Kita tahu Nabi Muhammad SAW adalah seorang Nabi tetapi sekaligus Kepala Negara dan Panglima perang.

Banyak juga contoh sahabat Nabi yang lainnya, mereka menjalani hidup yang asketis tetapi disaat yang sama juga business man dan saudagar.

Artinya tentu kesibukan eksternal tak ditinggalkan sama sekali. Jadi bukan perkara sibuk tak sibuk, kaya tak kaya, atau pangkat tak berpangkat. Tapi ini soal cara pandang pada kehidupan.

MAZHAB JALAN TENGAH

Para arifin mengajarkan kepada kita jalan pertengahan. Segala permasalah kehidupan yang membebat dan menyiksa manusia, sebenarnya adalah imbas dari ‘wujud’nya diri manusia itu sendiri. Imbas dari persepsi bahwa manusia ‘punya andil’ dalam drama kehidupan ini.

Nanti di belakang saya akan cerita bahwa semua ini bukanlah berarti manusia tidak harus bekerja dan berusaha, melainkan sebaliknya. Tetapi singkatnya adalah, saat manusia merasa bahwa dirinya sudah punya kemampuan untuk mengatur, maka saat itulah ego-nya muncul. Atau kalau bahasa sufistiknya adalah saat itulah manusia itu merasa ‘wujud’, mengaku ada. Dan bersama pengakuan akan keberadaan diri itulah, segala hal yang menyakitkan menjelma.

Para guru yang arif mengatakan, bahwa segala hal yang terjadi ini sebenarnya bukanlah perkara tentang kita.

Tengoklah awan berarak. Tengok pula dedaun yang melambai dan gugur disapu angin. Tengok pula debu-debu beterbangan. Matahari yang pijar. Ibu menggendong anaknya. Ayah bekerja. Binatang-binatang mencari makan. Segala kesibukan yang ada di alam raya ini sebenarnya adalah urusan Allah, untuk menyatakan diriNya.

Allah memiliki sifat-sifat, setiap sifat terangkum dalam nama-namanya yang baik. Setiap sifat itu tergulirkan dan mengejawantah lewat kejadian-kejadian hidup. Jadi sebenarnya semua tentang Dia, tak pernah tentang kita.

Menyadari hal tersebutlah, seorang arif pernah mengatakan bahwa kita mesti melepaskan diri kita dari keinginan untuk ikut mengatur. Keinginan untuk ikut mengatur itulah yang pada gilirannya membuat kita merasa bahwa sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini; adalah tentang diri kita. Seakan-akan kita adalah tema sentralnya. Maka bersamaan dengan pengakuan diri itulah segala rasa sakit akan datang. Rasa sakit karna tak dihargai, rasa sakit karna tak berhasil, rasa sakit karna diacuhkan, rasa sakit karna iri, dan segala bentuk penyakit hati yang bisa kita sebutkan.

Saat manusia bisa melepaskan diri dari keinginan untuk ikut mengatur, maka manusia akan terbebas dari ‘aku’ nya. Dan mereka akan melihat bahwa dimana-mana yang berlaku adalah pengaturannya Allah. Mereka menjadi tiada ‘wujud’.

MENJALANKAN PERANAN

Saat manusia sudah tidak mengaku bahwa dirinya memiliki kemampuan mengatur. Saat manusia sudah menyadari bahwa dirinya sama sekali tiada daya dan upaya, karena semua adalah urusannya Allah, milik Allah, maka manusia itu umpamanya sudah zero.

Dan orang-orang zero inilah yang pada gilirannya nanti akan benar-benar menjalankan fungsi kekhalifahan. Yaitu sesuatu yang Rasulullah sampaikan dengan bahasa : “Khoirunnas anfauhum linnnas”. Sebaik-baik manusia, adalah yang bermanfaat untuk orang lain.

Orang-orang yang tidak mengaku bahwa dirinya memiliki kemampuan dan daya upaya, akan memandang bahwa segalanya adalah kuasa Allah. Dan mereka akan umpama perkakas yang siap menjalankan masing-masing mereka punya peranan.

Mereka akan berkebaikan. Mereka akan bekerja. Mereka akan bergerak. Yang dalam keseluruhan bingkai aktivitas itu mereka tidak merasa diri mereka punya andil, tak merasa mereka punya kemampuan, melainkan yang mereka pandang adalah bahwa semakin mereka bergerak; semakin mereka mengerti bahwa segala-gala di dunia ini ternyata perkara Allah menyatakan diri semata.

Sifat-sifat Allah tergelar di semesta raya ini, dan hanya para penyaksi sajalah yang Allah berikan anugerah memandang tajam pada sebalik tirai hijab kejadian hidup.

Wallahu alam

*) “Istirahatkan dirimu dari at-tadbir(kerisauan mengatur kebutuhan), sebab apa yang sudah dijaminkan/diselesaikan oleh selainmu (pengaturan Allah), tidak perlu engkau sibuk memikirkannya.” (Ibnu Athoillah dalam Al-Hikam)

MENJADI TIADA (2)

Para ahli psikologi, memetakan kebutuhan manusia, dan menemukan fakta bahwa kebutuhan manusia umumnya berkembang dari hal yang kasat mata menuju hal yang abstrak.

Mereka katakan, pada awalnya manusia hanya butuh sandang pangan dan papan semata. Seiring mendewasa; manusia butuh perasaan aman. Butuh rasa kasih. Pada puncaknya, kebutuhan manusia menurut para ahli psikologi adalah aktualisasi diri. Perasaan untuk dianggap ‘ada’.

Belakangan saya cermati, ternyata karena keinginan manusia untuk aktual dan merasa ada inilah yang membuat kita menjadi merasa wujud. Karena kita merasa ikut mengatur.

Padahal kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin mengatur, sedangkan semua kejadian adalah urusan Allah.

Kalau yang menyusun langit, membentuk bumi, menggelindingkan planet-planet dan bintang pada orbitnya, yang menggulung awan, menerbangkan butir-butir debu, menghidupi sel-sel dalam badan kita, dan hal semacam daun jatuh juga dalam urusanNya; lalu bagaimana ada yang urusan kita?

Ternyata, hal-hal semisal ‘kita bekerja’, belakangan saya sadari bukanlah urusan kita sebagai kepala keluarga menghidupi anak istri. Melainkan mengenai Allah yang membagikan rizki pada anak istri kita, mengenai Allah yang menggerakkan roda ekonomi perusahaan kita, mengenai Allah yang menghubung-kaitkan segala kejadian.

Dan dalam af’al Maha Hebat itu, kita diberikan (digerakkan) pada porsi yg sudah tertulis buat kita. BUKAN mengenai kita, tapi tentang mengenalkan DIA, dan selalu mengenai DIA.

Saat kita menganggap bekerja, atau sesuatu apapun itu mengenai kita, maka saat itu kita merasa wujud. Bersama pengakuan akan ‘ada’nya kita, bersama itu pula segala penyakit hati menemukan tempatnya. Iri karna tak diterimakasihi orang lain, dendam, kemarahan, dan lain-lain karena kita merasa ini semua tentang kita. Padahal bukan tentang kita, dan tak pernah tentang kita.

Jika kita menganggap bekerja itu mengenai DIA, maka kita akan ‘hilang’, siapapun yang ‘dimunculkan’ dan mendapat nama karna kerja yang kita lakukan, kita tak soal. Karena kita tak lagi ada. Karena kita melihat geraknya Allah dalam segala-gala.

Jadi kalau para motivator itu mengatakan capaian terhebat manusia adalah from zero to hero, para arifin mengatakan sebaliknya, from hero to ZERO.

AKAR-AKAR, DEDAUN, DAN AKU

“Jadi pak Mbong, dimananya yang kurang tepat?” Tanya Hasan pada Pak Gembong.

Sembari bertanya, Hasan mengudap ubi jalar rebus. Menyeruput bandrek yang mengepulkan asap putih tipis pada udara. Sementara Pak Gembong bersender pada dinding gazebo yang berdecit karena bambu-bambu yang dijalin itu memang agak ringkih.

“Lha ya itu mas, sampeyan memangkas daunnya, tapi akarnya masih tertinggal, ya daunnya tumbuh lagi, persis kaya ilalang belakang rumah saya ini, hehehe.”

“Lha pak Mbong saja jarang mangkas ilalang, makanya saya jadi ikut-ikut, ahahahaha.” Hasan tertawa berderai.

Hasan menyukai jenak dimana dia bisa melarikan diri dari sibuknya aktivitas kerja. Bagi Hasan, refreshing itu bukanlah pergi ke Paris lalu berfoto selfie dengan latar belakang menara eifel, atau pergi menonton tari kecak di Bali, atau tak selalu harus ke Lembang dan mengigil di kabut pagi vila-vila.

Bagi Hasan, dia cuma butuh minum bandrek, atau kopi, atau teh manis hangat dan berbincang tentang makna hidup. Itu sudah refreshing paling juara baginya.

Tapi memang pak Gembong adalah rekan, sekaligus guru kehidupan buat dia. Seorang office boy yang sepuh dan sangat biasa, tapi dibalik segala lelaku pengadukan kopi, dan segala hal klise fotokopi-fotokopi, angkat barang, dan macam-macam itu, Pak Gembong memancarkan perbawa. Perbawa inilah yang ditangkap oleh mata Hasan yang jeli. Sebuah perbawa yang cuma bisa dipijarkan oleh orang-orang yang tak cinta dunia. Orang-orang yang sudah “sampai” kata Hasan dalam hati.

Begitulah hari sabtu pagi jelang siang itu, Hasan menstarter motor tigernya yang bersuara berat dan sejurus kemudian dia telah tiba di rumah pak Gembong.

Mereka ngobrol ngalur ngidul di halaman belakang. Bercerita tentang burung merpati peliharaan pak Gembong. Bercerita tentang motor tiger punya Hasan. Tentang jakarta yang gerah dan sibuk, lalu tentang pekerjaan yang menyita tenaga dan emosi.

Orang butuh uang maka orang bekerja, setelah bekerja orang butuh uang untuk lepas dari penat kerja. Ini kan parodi hidup, kata Hasan mengawali celotehan curhat gratisnya pagi itu.

Dan lalu Hasan bercerita tentang bagaimana dia memaknai pekerjaan sebagai sebuah jalan saja, untuk sesuatu yang lebih prinsipil dari sekedar embel-embel pangkat dan embel-embel harta.

Pak Gembong mengangguk-angguk membenarkan dan menyimak dengan teliti, sambil sekali-kali hanya menyandarkan punggungnya pada dinding gazebo bambu, memejamkan mata dan diam hening mendengarkan sambil senyum.

Hasan menceritakan persaingan kantor yang semakin tidak masuk akal. Orang-orang mencari nama, orang-orang mensikut sesama. Hasan selama ini merasa di luar arena, tetapi dengan berjalannya waktu arena membesar dan semua terlibat, mau atau dia tidak mau.

Disitulah Hasan merasa jengah, saat tiba-tiba dia ‘niteni’ rasa di hatinya dan menemukan bahwa iri, bahwa rasa tidak puas hati, bahwa rasa kecewa, seringkali bersemayam juga di hatinya. Betapapun dia ingin menjadi orang yang ikhlas, tapi rasa-rasa itu seperti belut yang menyelinap dengan sangat licin.

“Jadi gitu pak, seingetku aku sudah rajin sholat, yo zikiran rajin juga, yo sedekah rajin juga, lha tapi kok aku ga bisa lepas dari rasa iri, rasa kecewa, dan rasa kesal dalam persaingan hidup ini ya pak? Piye carane?” Kata Hasan pagi itu.

Lalu pak Gembong turun dari gazebo dan perlahan mencabuti ilalang pada pinggir pilar bambu, setelah itu menjelaskan bahwa ini semua bukan perkara dedaunan yang harus disiangi tiap hari, tetapi perkara akar yang memas tak mestinya masih ada.

“Jadi, opo akare pak?” Kata Hasan. Sambil ikut-ikut menyabuti ilalang.

“Akarnya itu ‘aku’.” Kata Pak Gembong.

“Aku? Maksudnya aku gimana pak?”

“Lha yo ‘aku’, ‘diri’, kan segala rasa iri, gelisah, dengki, tidak puas, itu ibarat daun mas. Kita selama ini diajari sama orang-orang alim kan bagaimana memangkas daun. Tetapi mereka lupa, dedaunan akan tumbuh pada batang yang ditopang akar. Nah, akar dari semua penyakit di dalam hati itu adalah ‘aku’, rasa bahwa kita ini ‘wujud’ dan ikut mengatur.”

“Sik..sik pak, pelan-pelan, mulai dalem ini, hahahaha” Hasan tertawa.

Hasan menyukai fragmen dimana Pak Gembong mulai menjadi seperti seorang filosof. Hasan sering menggoda Pak Gembong dengan sebutan filosof. Tapi belakangan Hasan sadar, Pak Gembong bukan filosof, yang dia ceritakan itu bukan filsafat, tetapi pengalaman hidup dia sendiri. Lalu dari sana Hasan tahu bahwa Pak Gembong adalah ‘pejalan’, orang yang terus menerus meniti jalan kembali pada Tuhan. Dan orang seperti ini selalunya ‘dalem’ kata Hasan dalam hati.

Pak Gembong tertawa dan melanjutkan, “Lha yo mosok mas Hasan ga ngerti, ga mungkin toh, hahaha.”

Hasan menyeringai dan merasa harus mengeluarkan juga kemampuan perenungannya.

“OK Pak, jadi maksud Pak Mbong, Ego kita, atau perasaan kita bahwa kita ini berhak mengatur katakanlah laju hidup kita; itulah yang menjadi akar dari segala penyakit hati kita, begitu?”

“Sederhananya begini mas. Mas Hasan suka bandrek toh?”

“Suka Pak, Teh manis atau kopi juga boleh, hehe.”

“Mas Hasan juga suka berbincang tentang kehidupan, suka musik, suka acara TV komedi, suka ini, suka itu, tak suka ini, tak suka itu, dan macem-macem lagi, itu karena apa?”

“Hmmm….karena apa ya? Karena ya otomatis saja begitu pak” Hasan mengernyit dahi.

“Ga otomatis mas, itu ada sebabnya” lanjut pak Gembong.

“Ya mungkin karena pertama kali ketemu hal begitu, kok ya menyenangkan, ya jadi suka sampai sekarang.”

“Nah itu dia, pertama kali ketemu.” Pak Gembong menyahut cepat. “Berarti karena memori masa lalu, kan? Kita ini ibarat seorang pencatat mas, pengalaman hidup kita itu kita catat, dan kita jadikan pembanding untuk melangkah di masa depan.”

“Pencatat?”

“Iya, pencatat, coba, semua yang membentuk kepribadian mas Hasan sekarang adalah catatan masa lalu, bukan?”

“Iya ya pak…jadi maksud pak Mbong, kepribadian, cara pandang, dan apa yang ada pada diri kita ini sebenarnya dibentuk oleh sesuatu yang taroklah kita catat ke dalam jiwa kita, atas apa-apa pengalaman masa lalu kita, gitu Pak?”

“Iya”

“Lha hubungannya dengan ‘aku’ dan dengan ‘akar’ tadi gimana?”

“kalau segala hal yang kita anggap diri kita, kita anggap identitas kita –yang kita suka dan benci, yang kita kenang, yang kita anggap milik- adalah ternyata catatan masa lalu dalam jiwa kita, maka sebenarnya kita ini ada apa tidak?”

“Wah..berat iki pak,” Hasan nyengir kuda,  “Kalau begitu cara pandangnya, rasanya yang kita anggap ‘kita’ atau yang kita anggap ‘aku’ identitas kita selama ini ternyata sebenarnya ga ada ya? Yang ada adalah kumpulan catatan semata. Dan kita ini  sebenarnya pengamat semata atas kejadian hidup. Gitu apa pak?”

“ Ya kurang lebih, hehehe…tapi ga mungkin seratus persen bisa jadi pencatat saja tanpa ada sesuatu yang lekat pada diri kita dari apa-apa yang kita amati, pasti ada yang nempel, itulah perlunya mengenal kitab suci, mengenal orang-orang alim, agar sesuatu yang kita dapat dari luar dan membentuk diri kita, adalah sesuatu yang baik mas, dan agar tak terlalu mengaku-aku atas segala sesuatu yang terjadi dalam sepanjang kehidupan kita.”

Hasan memandang jauh, sambil berjongkok dan memainkan ilalang yang tercerabut di tangannya.

“Kalau mas Hasan selama ini menganggap urusan pekerjaan di kantor sebagai sesuatu yang memunculkan ‘aku’ mas Hasan, maka segala penyakit hati itu seperti diberikan akar.”

“Makanya tirakat ruhani seperti apapun saja, tak bisa menyembuhkan hati yang benci dendam, yang iri dengki, yang tak puas dan merutuk-rutuk ya pak?”

“Lha itu tahu, hehe”

“Jadi, biar hilang aku-nya, gimana pak?”

“Ya ngelihatnya dari atas mas. Dari pandangan yang lebih tinggi lagi, macam burung elang itu. Mas Hasan bekerja misalnya menyelesaikan satu proyek. Itu sebenarnya bukan perkara mas Hasan, bukan tentang sampeyan menjadi pucuk pimpinan, atau Mas Hasan begini dan begitu. Tapi…itu semua adalah urusannya Tuhan mas. Allah sedang bekerja, dalam ‘kerjanya’ Allah itu, dalam pengaturan itu, mas Hasan terlibat.”

“Jadi, menjadi pimpinan proyek itu sebenarnya bukan perkara saya dapet job ya pak, tapi perkara Allah sedang memberikan rezeki kepada si A, si B, si C lewat proyek itu. Perkara ada vendor-vendor yang harus terlibat karena mereka rezeki dari situ. Geraknya Allah, pengaturannya Allah, gitu kah?”

“Ya mas… dan lebih dalam lagi,  semua hal itu semisal perkara ada orang yang memerankan takdir culas. Mungkin orang itu harus muncul sekarang, karena nanti di masa depan orang itu taubat, maka jeleknya harus sekarang, dan pas kebagian jelek itu di episode proyeknya mas Hasan.”

“Dengan memandang begitu, maka ego diri apa hilang pak?”

“Coba mas Hasan praktekkan selalu begitu. Dengan memandang semua ini urusan Allah. Dan memang selalunya urusan Allah. Lama-lama Mas Hasan ‘tidak terlibat’ dalam pengaturan kehidupan ini. Mas Hasan cuma pelaku saja. Semua sebenarnya urusan Allah. Ada baikkah, ada burukkah. Semua adalah pengaturan Allah yang mesti bergulir. lama-lama ‘aku’ nya hilang mas. Kalau kata guru-guru, Mas Hasan nanti ‘tidak wujud’ menjadi tiada.”

“Lha kalau ada yang buruk apa ndak usah bertindak pak?”

“Ya bergerak saja lagi sesuai peranan, tinggal apakah pas bergerak itu ‘aku’ mas Hasan muncul lagi opo ora?” Pak Gembong tersenyum simpul.

“Iya ya..Peran kita saat ini lakukan saja, tetapi agar ego jangan muncul agar tidak merasa kitalah yang sedang punya urusan, maka kita harus memandang dari atas, memandang dari ketinggian, dan sadari bahwa semua ini dalam urusanNya.”

Hasan kembali ke gazebo tempat dia duduk tadi dan lalu menggumam sendiri, “Lalu semua penyakit hati tak akan bisa tumbuh kalau tak ada akarnya. Bagaimana ada penyakit hati, kalau yang terjadi saja bukan urusan kita. Bukan perkara kita, tapi perkara Dia.”

Dari jauh lalu Hasan melihat pak Gembong berdiri dan memandang ufuk, sejurus lalu beliau memejamkan mata dalam ketenangan yang menggentarkan.

“Seperti ini mas, awan-awan bergerak, burung-burung bercuit, ada rerumputan tumbuh, ada dedaun gugur, ada debu-debu terapung di udara, ada pemotor dan pemobil macet di jalanan, semut-semut berjejer di dinding gazebo, dan ada kita yang sedang bercerita ini, semua urusan Dia. Dan selalunya urusan Dia.” Kata Pak Gembong lirih dan dalam lewat suaranya yang serak, suara yang tua dan menguar perbawa itu.

Entah pak Gembong tahu entah tidak, di belakangnya Hasan juga menutup mata dan bersender pada dinding bambu yang berdecit, lalu sebulir bening jatuh dari pojok matanya.

——————-

*) gambar dipinjam dari sini

JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI (2)

Kisah panjang milyaran tahun umat manusia, diawali dengan dramatis oleh ‘kesalahan’ Nabi Adam A.S. yang memakan buah khuldi. Tapi dibalik ‘kesalahan’ ini juga kita tahu bahwa ceritra kolosal umat manusia dimulai, dan bahwa memang Nabi Adam sudah di-planning untuk menjadi awalan umat manusia. Kesimpulan besarnya adalah, dibalik sesuatu yang sepertinya buruk, ada kebaikan tersembunyi yang kita tak tahu.

Mengenai dosa. Seperti itulah para arifin mengajarkan kita memaknai dosa. Seorang guru yang arif mengatakan bahwa bukan berarti seorang pendosa itu adalah orang yang jatuh martabat kemanusiaannya, kemudian tidak layak berada di tengah-tengah masyarakat, bukan. Melainkan, kita harus mengerti bahwa medan perang besar antara kita dan syaitan adalah medan perang seluas jagad raya dunia ini, dua puluh empat jam sehari.

Orang-orang yang berdosa, kata guru tadi, adalah ibarat prajurit yang terluka di medan laga. Kita harus menolong mereka. Mengobati luka jiwanya. Dan memberikan semangat bahwa perang belum usai, dan mereka harus kembali ke gelanggang dengan semangat yang baru lagi. Adalah kebodohan, jika ada seorang prajurit yang terluka di medan laga, lalu yang kebetulan tidak terluka malah memandang korban sebagai pesakitan dan beban.

Kita tengoklah Nabi Adam. Tengoklah juga kisah Nabi Yunus yang juga ‘bersalah’ karena lari dan meninggalkan kaumnya yang ndableg dikasih tahu tapi ga mau nurut. Tengok juga kisah Nabi Musa yang bersalah karena membunuh satu orang dengan tinjunya yang liat. Dan macam-macam lagi cerita orang-orang yang bersalah, pendosa.

Rupanya, yang penting adalah terus menerus kembali kepada Allah. Kan tema besar hidup kita Cuma itu, kembali kepada Allah. Menemukan jalan pulang.

Nah…ini dia yang penting, untuk orang-orang yang ingin kembali, sekali lagi saya harus menulis dengan tebal ‘untuk orang-orang yang ingin kembali’; yang penting adalah tentu saja tujuan tempat dia kembali. Bukan posisi dia berada sekarang. Jadi secara majazi katakanlah, ndak soal pahala dosa, ndak soal abid atau pendosa kita sekarang. Yang penting kita pulang, sudah itu saja.

Untuk orang-orang yang ingin kembali kepada Allah, jika saat ini mereka tertakdir sebagai seorang dengan track record peribadatan yang mulus dan memesona; maka cara mereka kembali adalah dengan mensyukuri bahwa segala peribadatan itu merupakan anugerah dari Allah. Bukan karena ketaatan pribadi mereka.

Untuk orang-orang yang ingin kembali kepada Allah, jika saat ini mereka tertakdir khilaf dan berdosa; maka cara mereka kembali adalah dengan mengakui kesalahan dan menyadari bahwa tidak ada daya, tidak ada upaya untuk berkebaikan, melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang yang beribadah dengan tekun, lalu kemudian menjadikan ibadahnya sebagai hitung-hitungan kepada Allah, dan merasa dia layak untuk dibalas dengan segala kebaikan dan nikmat hidup; berarti orang ini sebenarnya tidak ‘kembali’ kepada Allah.

Begitupun dengan seorang pendosa, seorang pendosa yang mengira bahwa dosanya yang setumpuk itu lebih hebat daripada rahmat Allah, merasa bahwa sudah pasti kunci mati di pintu Tuhan membuatnya tidak akan bisa diampuni; sebenarnya juga tidak ‘kembali’ kepada Allah.

Membangun ‘koneksi’ kepada Allah, dan selalu bergerak untuk kembali kepada Dia, dalam suka, dalam duka, dalam taat, dan bahkan dalam dosa, adalah ciri dari orang-orang yang Dia beri rahmat. Mungkin itulah makna taubat yang benar. Taubat berarti kembali.

PAGELARAN SEMESTA

Seorang bijak mengatakan, bahwa hidup ini umpamanya kita menaiki sebuah mobil, rute telah ditentukan, sudah ada yang menyetir, dan kita tinggal duduk manis melongok ke luar jendela untuk kemudian menonton pagelaran pemandangan yang beragam-ragam.

Waktu, berjalan begitu cepat, sang penumpang tak akan bisa menahan laju mobil, dan pada saatnya nanti perjalanan akan tiba pada perhentiannya yang terakhir.

Sepanjang jalanan, akan banyak pemandangan yang mengaduk-aduk emosi kita sebagai penumpang. Ada tragedi dan darah, ada prahara, ada juga tawa dan kegembiraan. Tetapi sekejap saja, roda mobil bergulir dan kita akan tiba pada jalanan yang lain lagi.

Orang yang tertambat pada pemandangan yang dia lihat pada masa silamnya, akan sibuk tersiksa sepanjang sisa perjalanannya kedepan.

Yang memendam dendam masa lalu, akan mengotori semua persepsi dia akan pemandangan jalanan di sisa perjalanannya.

Pun yang terlalu menikmati keindahan masa silam, tak akan bisa berkutik dan akhirnya gagal mensyukuri jalanan indah sepanjang sisa petualangan.

Dulu, saya mengira bahwa usaha terbaik manusialah yang akan membuat manusia (sang penumpang di dalam mobil itu) bisa terlepas dari jerat perasaan dan kelekatan yang terlalu rapat dengan segala pemandangan yang dia lihat dari luar jendela.

Semisal, jika dalam perjalanan masa silam kita memendam luka hati yang dalam dan nganga, atau kekecewaan yang berat dan membelenggu, maka kita harus berusaha membersihkan hati dari segala hal yang buruk itu. Dengan apa saja cara pembersihan hati yang diajarkan para arifin.

Belakangan, sebuah kebijakan menyambangi dan memberikan pengetahuan yang mencerahkan. Bahwa melakukan segala pembersihan hati akan sia-sia jika tak memangkas akar masalahnya.

Bahwa hal terbaik yang manusia bisa lakukan untuk mengatasi duka kepahitan hidup, lara kehilangan, ketersinggungan ego, ketakutan masa depan, kebencian, iri, dengki, dan segala hal-hal lainnya adalah menghilangkan asal muasal segala yang merajam-rajam jiwa manusia itu.

Apa gerangan?

Asal muasalnya ialah ‘aku’.

Pengakuan keberadaan manusia itu sendiri yang mengakibatkan segala yang menyakitkan datang dan merobek-robek.

‘Jika engkau kenal diri engkau, engkau kenal Tuhan engkau, engkau tahu engkau tiadalah memiliki wujud’ kata imam Al-Ghozali.

Kita datang ke dunia ini sendiri . Dan kita pulang juga sendiri. Ibaratkan lagi seorang penumpang dalam mobil, maka segala pemandangan sepanjang perjalanan itulah yang membentuk diri kita. (Atau kita akui sebagai diri kita).

Ego kita, atau sesuatu yang kita identifikasi sebagai ‘aku’ adalah sesungguhnya kumpulan pengalaman, yang kita rekam dan jadikan sebagai pembanding untuk segala apa yang terjadi di hadapan kita kedepannya.

Saat kita bisa kembali mendudukkan perkara bahwa kita hanyalah sebagai penumpang, dan penumpang tiadalah memiliki hak atas segala pemandangan yang terhampar-hampar di luar jendela, maka kita akan tidak terbebat oleh segala yang menyiksa.

Karena ego muncul bersama dengan pengakuan akan hak.

Aku akan muncul beserta kehormatanku, hartaku, milikku. Segala sesuatu di luar diri kita yang kita identifikasi dan lekatkan sebagai milik.

Padahal pemandangan akan berubah, dan mobil akan terus berjalan seiring rute yang telah ditentukan.

Orang-orang yang tentram jiwanya, rupanya telah hilang pengakuannya. Hidup mereka mengalir dan berbuat yang terbaik, dibingkai dengan kenestian syariat. Kadangkala tertakdir mulus dan datar, kadang penuh onak dan naik turun. Tapi tak ada pengakuan di sana. Hingga tiada dendam dan kemarahan.

Semisal kisah sayidina Ali RA. Dalam sebuah etape hidupnya, beliau berperang bersama Rasulullah SAW. Berperang yang bukan karena ego yang luka, melainkan karena kemestian syariat untuk perlindungan diri.  Setelah mengalahkan seorang musuh dalam adu permainan pedang, sang musuh jatuh dan Ali hendak memenggalnya.

Musuh tersebut meludahi muka Ali RA. Dan lalu Ali, menyarungkan pedangnya dan berbalik pergi meninggalkan musuh yang keheranan dan bertanya mengapa Ali tak jadi memenggal dirinya?

Kita tahu, Ali tak hendak ‘aku’nya muncul. Bahwa perang -dan atau episode apa saja dalam hidup- adalah tentang Dia. Bukan tentang kita.

Dan orang-orang arif yang telah menemukan dirinya, menemukan tuhannya, menyadari sebuah fakta dan rahasia besar sepanjang sejarah manusia, bahwa segala yang terhampar-hampar di alam raya ini ternyata hanyalah pagelaran dari Nya, untuk menyatakan diriNya.

DiriNya tak akan terlihat mata fisik manusia, tak serupa apapun saja, maka dizahirkanlah alam raya ini sebagai Maha Karya untuk menunjukkan Sang Pembuatnya.

Orang yang gagal melihat diriNya di sepanjang pagelaran alam semesta ini, pastilah sedang salah memandang, mungkin seperti kita-kita ini, yang mengira bahwa kitalah yang wujud dan pengendali, padahal segala yang terserak di jagad ini bukan tentang kita, tapi tentang Dia.

Bahkan kehidupan kita sendiri pun bukan tentang kita, tapi tentang perjalanan yang telah fix rutenya, untuk menyaksikan Dia juga.

SEBAIK-BAIK TEMPAT KEMBALI

Ada orang yang tertakdirkan meniti jalan kembali menuju Allah; lewat tema peribadatan yang berbilang-bilang jumlah dan ketaatan yang memesona.

Namun ada pula, orang yang tertakdirkan meniti jalan pulang menuju Allah; lewat tema pertaubatan yang menitipkan padanya rasa fakir dan tak berdaya dalam pengharapan keampunan dan ridho Allah.

Tak soal jalan mana yang sedang kita tempuh.

Orang-orang yang diberikan kesempatan menjadi ‘abid dengan limpahan ibadah, akan bisa meniti jalan kesyukuran karena Allah telah menganugerahi mereka kesempatan beribadah.

Orang-orang berdosapun juga memiliki kans yang sama untuk meniti jalan pertaubatan, karena Allah telah menanamkan kesadaran yang bersih bahwa dosa setumpuk gegunungpun tak akan bisa menyaingi rahmat dan keampunan Allah.

Kebahagiaan Allah menerima pendosa yang bertaubat itu seumpama kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali, setelah berhari-hari lepas hilang di gurun pasir, bahkan lebih dari itu. Ciri-ciri seseorang diberikan rahmat oleh Tuhan adalah saat kelam masa lalunya orang tersebut tidak membuat dia putus asa dari rahmat Allah dan tidak menjadi semakin jauh dan terjerumus.

Ciri-ciri seseorang diberikan rahmat oleh Allah adalah saat segala kebaikan dan peribadatan yang seseorang lakukan sudah tidak lagi dipandang sebagai prestasi kebaikan sang ‘abid, melainkan anugerah kemurahan Sang Pencipta.

Intinya kembalilah pulang. Apa saja cerita hidupmu, kembalilah pulang.

Karena Allah sebaik-baik tempat kembali.