MENGGALI AKAR BATIN

Beberapa kali menginvestigasi kecelakaan kerja di sebuah lokasi, atau juga menginvestigasi sebuah isu service quality pada sebuah aktivitas pekerjaan, saya jadi terfikir bahwa metoda investigasi untuk menemukan sebuah akar masalah ini juga menarik untuk diterapkan pada hal-hal keseharian yang lebih “dalam” dan prinsipil.

Sekilas mengenai akar masalah, saya ingin berikan satu ilustrasi. Pada sebuah rig pengeboran, Ada seseorang berjalan di tangga kemudian dia terjatuh dan mengalami patah tangan. Setelah diinvestigasi, apa kira-kira sebuah tindakan logis yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal tersebut terulang kembali? Kebanyakan dari kita mungkin berfikir bahwa metoda pencegahan yang logis untuk di lakukan misalnya memasang plang tulisan “hati-hati, tangga licin”, atau semisal itu.

Tapi nyatanya tidak, dalam kasus tadi, metoda pencegahan yang di lakukan agar hal tersebut tidak terjadi lagi di masa depan, adalah dengan mensosialisasikan kepada para pekerja untuk tidak menonton hingga larut malam jika mereka seharusnya bekerja pada shift siang. Karena setelah dilakukan investigasi menyeluruh, tangganya ternyata tidak licin, handrail tersedia, tidak ada yang kropos, tapi ternyata orang yang mengalami kecelakaan itu mengantuk akibat begadang hingga larut malam karena menonton TV, sedangkan dia bekerja pada shift siang hari.

Itulah akar masalah. Menemukan akar masalah menjadi penting, agar tindakan yang dilakukan untuk mencegah sesuatu bisa tepat sasaran. Temukan intinya, lalu dari sanalah kita bisa menemukan solusi.

Dengan logika yang sama, saya berfikir, bahwa metoda kita menemukan akar masalah ini bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita untuk menemukan alasan batin paling tersembunyi yang mendasari sebuah hal kita lakukan.

Saya akan memberikan ilustrasi sederhana mengenai metoda ini. Metoda ini dinamakan 5 WHY. Sederhana sekali. Jika kita melakukan sesuatu, maka tanyakan pada diri kita sendiri, WHY?

Menurut teori yang simple ini, jika kita menggali cukup dalam dengan menanyakan “mengapa?” sampai kurang lebih lima kali, maka kemungkinan besarnya adalah kita akan menemukan akar masalah itu pada jawaban untuk pertanyaan WHY yang terakhir. Artinya, jawaban terakhir itulah yang sebenarnya menyetir kita untuk melakukan sesuatu itu.

Ayo kita coba, tentu tidak harus lima kali tanya. Seberapapun yang nyaman menurut kita saja.

Answer this question: “Kenapa kita bekerja?”

MENGAPA 1

Kalau kita lihat ilustrasi di atas, kita bisa menganggap bahwa sesuatu yang men-drive kita bekerja adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Which is FINE. Sesuatu yang Normal dan masuk akal.

Tapi sebenarnya, kita masih bisa menilik diri kita sendiri lagi lebih dalam. Misalnya lagi, kita sudah punya rumah, dan kita masih tetap bekerja keras, lembur. Apakah bekerja keras yang kita lakukan itu merupakan cerminan semangat juang dan produktivitas yang baik? Atau mungkin kita sudah salah arah? Coba kita tengok

MENGAPA 2

Setiap orang bisa berbeda dalam hal apa yang mendasari mengapa mereka melakukan sesuatu. Tetapi, kalau saya meneliti diri saya sendiri, saya menyimpulkan dengan sederhana bahwa hal yang mendasari kita melakukan sesuatu itu bisa jadi karena: BASIC NEEDS (keinginan dasar seperti kebutuhan primer kita), atau hal yang lebih abstrak semisal keinginan untuk diakui dan menjadi berada, atau hal yang lebih abstrak lagi yaitu keinginan untuk menjadi berguna bagi Allah.

Para guru, yang demikian trampil dalam menelisik kedalam diri mereka, bahkan mungkin menemukan dibalik sesuatu, ternyata masih ada lagi sesuatu yang mendasarinya. Penglihatan batin mereka amat tajam.

Mungkin inilah realita dari yang dimaksud dengan Hadist Nabi, semuanya berawal dari niat. Karena niat-lah yang menentukan apakah seseorang itu berguna / dinilai baik keseluruhan perihidupnya, atau tidak.

Seperti permisalan berikut ini lagi. Ayo kita telusuri ruang batin kita lebih dalam, kita periksa batin kita dan kita tanya.

MENGAPA 3

Pada tatanan luarnya semuanya akan tampak sedemikian serupa. Seseorang yang bekerja keras, dan berderma untuk sosial. Tapi nilai keduanya akan sangat berbeda. Yang satu akan menemukan Tuhan dalam perjalanan kehidupannya, yang satunya akan menemukan dirinya sendiri. Dia hanya akan memenuhi kebutuhan abstrak dalam psikologi batinnya sendiri. Dia sebenarnya bukan menolong orang lain, tapi menolong dirinya sendiri.

Hal ini menjadi menarik, kita akan menjadi tahu kenapa sebagian orang menemukan dirinya menjadi lebih besar egonya, meskipun telah melakukan sedemikian banyak hal-hal baik tampak luarnya. Dan kita juga akan bisa mengerti pada sisi lainnya, apa yang dimaksud oleh guru-guru yang arif dengan ‘menjadi nol’.

Kalau engkau kenal diri engkau, engkau kenal Tuhan engkau, engkau tahu bahwa engkau tiadalah memiliki wujud. Kata Imam Al Ghozali.

Ada orang-orang yang semakin dia melakukan sesuatu, semakin dirinya muncul dan menjadi ADA. Ada orang-orang yang semakin dia melakukan sesuatu, semakin dirinya menjadi HILANG.

Dan perjalanan kita menemukan landasan dari semua itu sebenarnya bisa kita mulai sekarang juga, dengan banyak-banyak menilik ruang batin kita dan jujur menanya dan menjawab.

Pada gilirannya nanti, semakin sering kita menjelajah ruang batin kita sendiri, kita akan menjadi tahu apa saja yang selama ini menyetir seluruh perikehidupan kita.

Hal-hal dasar kah? Kebutuhan kita sendiri kah? Ego kita kah? Atau sesuatu yang lebih luhur dari pada itu?

Mungkin baik untuk dibiasakan, kita sejenak berhenti dan melihat diri kita sendiri, mungkin kita tidak perlu bekerja sekeras ini, jika ternyata sesuatu yang menyetir kita bekerja adalah hal yang sangat kekanakan dan egois.

Atau sebaliknya, mungkin kita tetap harus bekerja sekeras ini, meski penat letih dan tak ada orang menilai, karena sesuatu yang menyetir kita untuk melakukan semua ini adalah sesuatu yang membuat kita menemukan kenyataan Dia ada dimana-mana, dan kita hanya sekedar menjalani peranan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s