MENJAGA PERPUSTAKAAN BATIN

Seorang pengunjung toko melihat sebuah lukisan dalam sebuah pigura. Betapa dia kagum pada keseluruhan kecantikan lukisan dan pigura itu, tapi tak lama tiba2 pigura jatuh dan lukisan koyak. Sang pengunjung toko itu kaget, tapi tak ada luka dalam hatinya, karena dia menyadari bahwa lukisan itu bukan milik dia.

Kasusnya akan berbeda seandainya lukisan itu dia beli, dia pajang di rumahnya, satu jam kemudian pigura jatuh dan koyak di rumahnya. Sama-sama rusak dan koyak dengan ilustrasi pertama, tapi yang kedua ini juga akan menimbulkan sebuah goresan di hatinya. Kenapa? Karena ada rasa kepemilikan.

Kalau kita cermati, rasa kepemilikan itu membuat seseorang menjadi attached (terikat) dengan sesuatu yang secara persepsi dia anggap milik. Sesuatu yang melekat dengan batinnya. Padahal, secara kasat mata tidak ada sesuatu apapun jua yang membuat orang tersebut terluka secara fisik, tetapi rasa sakit akibat kehilangan sesuatu yang dianggap milik itu tadi; begitu nyata dan terasa.

Uniknya, dalam skala yang lebih ‘halus’ dan ‘tinggi’ lagi, saya temukan para guru-guru kearifan mengatakan bahwa sesuatu yang membentuk diri kita itu adalah juga sekumpulan persepsi-persepsi masa lalu kita.

Misalnya begini, coba kita jawab pertanyaan ini, “apakah yang sebenarnya membentuk sebuah ego kita? Sesuatu yang kita anggap personaliti kita?”

Misalnya, kenapa seorang Budi itu seperti itu? Kenapa dia memiliki kecenderungan seperti itu? Kenapa dia menyukai sesuatu dan membenci sesuatu yang lain? Kenapa dia berkarakter begini dan begitu? Ternyata, jawaban dari semua itu adalah ‘kumpulan pengalaman’.

Kumpulan pengalaman kitalah yang membuat kita menjadi begini dan begitu.

Andaikan batin kita ialah sebuah perpustakaan, maka kita adalah sang penjaga perpustakaan itu. Setiap kejadian dalam kehidupan, bolehlah kita umpamakan sebagai sebuah buku.

Sang penjaga perpustakaan akan mengambil sebuah buku yang dia temukan di luar, dan jika dia MENYUKAI buku tersebut, maka buku itu akan dia simpan dalam sebuah perpustakaan itu.

Hari berganti berbilang tahun, kumpulan buku di perpustakaan itu akan penuh. Dari berbagai kumpulan buku itulah sang penjaga perpustakaan akan menilai kehidupan yang dia temukan di luar.
image

Semisal sang penjaga perpustakaan ini lahir dan besar dalam tata krama jawa yang penuh kiasan dan bahasa isyarat (seperti apa-apa yang tersimpan dalam memori buku di perpustakaan batinnya), maka sang penjaga perpustakaan ini akan menilai orang lain sebagai sopan atau tidak sopan dengan perbandingan pada catatan di bukunya di perpustakaan itu.

Pada gilirannya dia bertindak, dia membenci, dia menyukai, dan segala macamnya adalah sebuah proses kompleks hasil dari membandingkan apa yang dia temui di luar, dengan bank data perpustakaannya.

Setelah membandingkan, dia akan memutuskan untuk menyukai, atau menolak sesuatu. Sesuatu yang dia tolak akan dia buang, dan sesuatu yang dia suka akan dia simpan sebagai koleksi buku lainnya di dalam perpustakaan batinnya. Dan nantinya dengan bank data yang telah bertambah itulah dia mengamati kehidupan dan menilai masa depan.

Semua adalah proses logis dan tak bisa kita tolak. Maka saya rasa benar sekali ungkapan bahwa kita sepanjang masa adalah selalunya pembelajar.

Akan tetapi, ternyata jarang sekali orang-orang yang mampu mengerti bahwa sebenarnya kumpulan bank data itulah yang mempengaruhi persepsi.

Akibatnya, seseorang akan mati-matian membenci atau menyukai sesuatu, padahal belum tentu sesuatu itu benar-benar baik atau benar-benar buruk. Karena rasa suka dan bencinya dipengaruhi buku-buku yang sudah lebih dulu masuk ruang batinnya.

Para guru berpesan, menyadari sebuah kenyataan ini membuat kita mengerti bahwa betapa pentingnya memasukkan bank data atau buku-buku berupa kumpulan pengalaman dari sesuatu yang memang sudah pasti benar. Kitab suci, dan wejangan para Nabi, agar menjadi bagian dari bank data perpustakaan kita dan pada gilirannya mempengaruhi cara pandang kita.

Kemudian, kita perlukan juga sebuah ketrampilan mental untuk memisahkan antara sesuatu yang kita sudah anggap merupakan BAGIAN dari diri kita, menjadi kembali sebagai sebuah fakta saja, bahwa semua itu adalah buku semata, kumpulan ilmu dan pengalaman semata.

Itulah mengapa, orang yang sering bertafakur akan menemukan dirinya sendiri, dan menjadi mampu memisahkan antara dirinya (sang penjaga perpustakaan) dengan bukunya (memorinya, emosinya, kecenderungan batinnya)

Kemudiannya lagi, ketrampilan mengamati diri sendiri itu akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada hal-hal yang secara gampang bisa kita rubah dari diri kita. Umpama kita temukan fakta bahwa ada sebuah buku yang kita simpan dalam perpustakaan batin kita, yang ternyata buku itu jahat, dan mempengaruhi kita dalam perikehidupan kita, maka buku itu kita ambil dan kita buang dari batin kita, kita gantikan dengan buku yang baru.

Namun, sudah pasti akan ada hal-hal yang kita sadar sudah berurat akar. Seumpama sesuatu itu adalah tema tulisan, maka tulisan dengan tema itu sudah memenuhi hampir semua lini rak buku kita, kita akan kesulitan mengeluarkan semuanya.

Yang kita bisa lakukan adalah awareness. Kita sadar kita belum bisa mengenyahkan semua itu, akan tetapi kita awas dan tahu bahwa setiap kali kita bertindak kita hati-hati untuk menilai, kita menjaga agar penilaian kita tidak terlalu dipengaruhi tema yg sudah mengakar itu.

Orang-orang yang sudah awas, ternyata mampu untuk benar-benar menganggap kumpulan buku di perpustakaan nya sebagai sesuatu yang terpisah dengan dirinya.

Semisal ilustrasi pada kejadian di atas tadi, umpama lukisan indah dalam piguranya sudah dia beli, dan karena suatu hal lukisan itu terjatuh hancur dan koyak, hatinya tidak ikut luka. Karena dia tidak lagi memasukkan apa-apa yang di luar ke dalam batinnya. Kalaupun masuk, dia sadar bahwa buku, hanyalah buku semata. Diriya sendiri masih bebas dan merdeka.

——–
Gambar dipnjam dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s