PAGELARAN SEMESTA

Seorang bijak mengatakan, bahwa hidup ini umpamanya kita menaiki sebuah mobil, rute telah ditentukan, sudah ada yang menyetir, dan kita tinggal duduk manis melongok ke luar jendela untuk kemudian menonton pagelaran pemandangan yang beragam-ragam.

Waktu, berjalan begitu cepat, sang penumpang tak akan bisa menahan laju mobil, dan pada saatnya nanti perjalanan akan tiba pada perhentiannya yang terakhir.

Sepanjang jalanan, akan banyak pemandangan yang mengaduk-aduk emosi kita sebagai penumpang. Ada tragedi dan darah, ada prahara, ada juga tawa dan kegembiraan. Tetapi sekejap saja, roda mobil bergulir dan kita akan tiba pada jalanan yang lain lagi.

Orang yang tertambat pada pemandangan yang dia lihat pada masa silamnya, akan sibuk tersiksa sepanjang sisa perjalanannya kedepan.

Yang memendam dendam masa lalu, akan mengotori semua persepsi dia akan pemandangan jalanan di sisa perjalanannya.

Pun yang terlalu menikmati keindahan masa silam, tak akan bisa berkutik dan akhirnya gagal mensyukuri jalanan indah sepanjang sisa petualangan.

Dulu, saya mengira bahwa usaha terbaik manusialah yang akan membuat manusia (sang penumpang di dalam mobil itu) bisa terlepas dari jerat perasaan dan kelekatan yang terlalu rapat dengan segala pemandangan yang dia lihat dari luar jendela.

Semisal, jika dalam perjalanan masa silam kita memendam luka hati yang dalam dan nganga, atau kekecewaan yang berat dan membelenggu, maka kita harus berusaha membersihkan hati dari segala hal yang buruk itu. Dengan apa saja cara pembersihan hati yang diajarkan para arifin.

Belakangan, sebuah kebijakan menyambangi dan memberikan pengetahuan yang mencerahkan. Bahwa melakukan segala pembersihan hati akan sia-sia jika tak memangkas akar masalahnya.

Bahwa hal terbaik yang manusia bisa lakukan untuk mengatasi duka kepahitan hidup, lara kehilangan, ketersinggungan ego, ketakutan masa depan, kebencian, iri, dengki, dan segala hal-hal lainnya adalah menghilangkan asal muasal segala yang merajam-rajam jiwa manusia itu.

Apa gerangan?

Asal muasalnya ialah ‘aku’.

Pengakuan keberadaan manusia itu sendiri yang mengakibatkan segala yang menyakitkan datang dan merobek-robek.

‘Jika engkau kenal diri engkau, engkau kenal Tuhan engkau, engkau tahu engkau tiadalah memiliki wujud’ kata imam Al-Ghozali.

Kita datang ke dunia ini sendiri . Dan kita pulang juga sendiri. Ibaratkan lagi seorang penumpang dalam mobil, maka segala pemandangan sepanjang perjalanan itulah yang membentuk diri kita. (Atau kita akui sebagai diri kita).

Ego kita, atau sesuatu yang kita identifikasi sebagai ‘aku’ adalah sesungguhnya kumpulan pengalaman, yang kita rekam dan jadikan sebagai pembanding untuk segala apa yang terjadi di hadapan kita kedepannya.

Saat kita bisa kembali mendudukkan perkara bahwa kita hanyalah sebagai penumpang, dan penumpang tiadalah memiliki hak atas segala pemandangan yang terhampar-hampar di luar jendela, maka kita akan tidak terbebat oleh segala yang menyiksa.

Karena ego muncul bersama dengan pengakuan akan hak.

Aku akan muncul beserta kehormatanku, hartaku, milikku. Segala sesuatu di luar diri kita yang kita identifikasi dan lekatkan sebagai milik.

Padahal pemandangan akan berubah, dan mobil akan terus berjalan seiring rute yang telah ditentukan.

Orang-orang yang tentram jiwanya, rupanya telah hilang pengakuannya. Hidup mereka mengalir dan berbuat yang terbaik, dibingkai dengan kenestian syariat. Kadangkala tertakdir mulus dan datar, kadang penuh onak dan naik turun. Tapi tak ada pengakuan di sana. Hingga tiada dendam dan kemarahan.

Semisal kisah sayidina Ali RA. Dalam sebuah etape hidupnya, beliau berperang bersama Rasulullah SAW. Berperang yang bukan karena ego yang luka, melainkan karena kemestian syariat untuk perlindungan diri.  Setelah mengalahkan seorang musuh dalam adu permainan pedang, sang musuh jatuh dan Ali hendak memenggalnya.

Musuh tersebut meludahi muka Ali RA. Dan lalu Ali, menyarungkan pedangnya dan berbalik pergi meninggalkan musuh yang keheranan dan bertanya mengapa Ali tak jadi memenggal dirinya?

Kita tahu, Ali tak hendak ‘aku’nya muncul. Bahwa perang -dan atau episode apa saja dalam hidup- adalah tentang Dia. Bukan tentang kita.

Dan orang-orang arif yang telah menemukan dirinya, menemukan tuhannya, menyadari sebuah fakta dan rahasia besar sepanjang sejarah manusia, bahwa segala yang terhampar-hampar di alam raya ini ternyata hanyalah pagelaran dari Nya, untuk menyatakan diriNya.

DiriNya tak akan terlihat mata fisik manusia, tak serupa apapun saja, maka dizahirkanlah alam raya ini sebagai Maha Karya untuk menunjukkan Sang Pembuatnya.

Orang yang gagal melihat diriNya di sepanjang pagelaran alam semesta ini, pastilah sedang salah memandang, mungkin seperti kita-kita ini, yang mengira bahwa kitalah yang wujud dan pengendali, padahal segala yang terserak di jagad ini bukan tentang kita, tapi tentang Dia.

Bahkan kehidupan kita sendiri pun bukan tentang kita, tapi tentang perjalanan yang telah fix rutenya, untuk menyaksikan Dia juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s