JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI (2)

Kisah panjang milyaran tahun umat manusia, diawali dengan dramatis oleh ‘kesalahan’ Nabi Adam A.S. yang memakan buah khuldi. Tapi dibalik ‘kesalahan’ ini juga kita tahu bahwa ceritra kolosal umat manusia dimulai, dan bahwa memang Nabi Adam sudah di-planning untuk menjadi awalan umat manusia. Kesimpulan besarnya adalah, dibalik sesuatu yang sepertinya buruk, ada kebaikan tersembunyi yang kita tak tahu.

Mengenai dosa. Seperti itulah para arifin mengajarkan kita memaknai dosa. Seorang guru yang arif mengatakan bahwa bukan berarti seorang pendosa itu adalah orang yang jatuh martabat kemanusiaannya, kemudian tidak layak berada di tengah-tengah masyarakat, bukan. Melainkan, kita harus mengerti bahwa medan perang besar antara kita dan syaitan adalah medan perang seluas jagad raya dunia ini, dua puluh empat jam sehari.

Orang-orang yang berdosa, kata guru tadi, adalah ibarat prajurit yang terluka di medan laga. Kita harus menolong mereka. Mengobati luka jiwanya. Dan memberikan semangat bahwa perang belum usai, dan mereka harus kembali ke gelanggang dengan semangat yang baru lagi. Adalah kebodohan, jika ada seorang prajurit yang terluka di medan laga, lalu yang kebetulan tidak terluka malah memandang korban sebagai pesakitan dan beban.

Kita tengoklah Nabi Adam. Tengoklah juga kisah Nabi Yunus yang juga ‘bersalah’ karena lari dan meninggalkan kaumnya yang ndableg dikasih tahu tapi ga mau nurut. Tengok juga kisah Nabi Musa yang bersalah karena membunuh satu orang dengan tinjunya yang liat. Dan macam-macam lagi cerita orang-orang yang bersalah, pendosa.

Rupanya, yang penting adalah terus menerus kembali kepada Allah. Kan tema besar hidup kita Cuma itu, kembali kepada Allah. Menemukan jalan pulang.

Nah…ini dia yang penting, untuk orang-orang yang ingin kembali, sekali lagi saya harus menulis dengan tebal ‘untuk orang-orang yang ingin kembali’; yang penting adalah tentu saja tujuan tempat dia kembali. Bukan posisi dia berada sekarang. Jadi secara majazi katakanlah, ndak soal pahala dosa, ndak soal abid atau pendosa kita sekarang. Yang penting kita pulang, sudah itu saja.

Untuk orang-orang yang ingin kembali kepada Allah, jika saat ini mereka tertakdir sebagai seorang dengan track record peribadatan yang mulus dan memesona; maka cara mereka kembali adalah dengan mensyukuri bahwa segala peribadatan itu merupakan anugerah dari Allah. Bukan karena ketaatan pribadi mereka.

Untuk orang-orang yang ingin kembali kepada Allah, jika saat ini mereka tertakdir khilaf dan berdosa; maka cara mereka kembali adalah dengan mengakui kesalahan dan menyadari bahwa tidak ada daya, tidak ada upaya untuk berkebaikan, melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang yang beribadah dengan tekun, lalu kemudian menjadikan ibadahnya sebagai hitung-hitungan kepada Allah, dan merasa dia layak untuk dibalas dengan segala kebaikan dan nikmat hidup; berarti orang ini sebenarnya tidak ‘kembali’ kepada Allah.

Begitupun dengan seorang pendosa, seorang pendosa yang mengira bahwa dosanya yang setumpuk itu lebih hebat daripada rahmat Allah, merasa bahwa sudah pasti kunci mati di pintu Tuhan membuatnya tidak akan bisa diampuni; sebenarnya juga tidak ‘kembali’ kepada Allah.

Membangun ‘koneksi’ kepada Allah, dan selalu bergerak untuk kembali kepada Dia, dalam suka, dalam duka, dalam taat, dan bahkan dalam dosa, adalah ciri dari orang-orang yang Dia beri rahmat. Mungkin itulah makna taubat yang benar. Taubat berarti kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s