AKAR-AKAR, DEDAUN, DAN AKU

“Jadi pak Mbong, dimananya yang kurang tepat?” Tanya Hasan pada Pak Gembong.

Sembari bertanya, Hasan mengudap ubi jalar rebus. Menyeruput bandrek yang mengepulkan asap putih tipis pada udara. Sementara Pak Gembong bersender pada dinding gazebo yang berdecit karena bambu-bambu yang dijalin itu memang agak ringkih.

“Lha ya itu mas, sampeyan memangkas daunnya, tapi akarnya masih tertinggal, ya daunnya tumbuh lagi, persis kaya ilalang belakang rumah saya ini, hehehe.”

“Lha pak Mbong saja jarang mangkas ilalang, makanya saya jadi ikut-ikut, ahahahaha.” Hasan tertawa berderai.

Hasan menyukai jenak dimana dia bisa melarikan diri dari sibuknya aktivitas kerja. Bagi Hasan, refreshing itu bukanlah pergi ke Paris lalu berfoto selfie dengan latar belakang menara eifel, atau pergi menonton tari kecak di Bali, atau tak selalu harus ke Lembang dan mengigil di kabut pagi vila-vila.

Bagi Hasan, dia cuma butuh minum bandrek, atau kopi, atau teh manis hangat dan berbincang tentang makna hidup. Itu sudah refreshing paling juara baginya.

Tapi memang pak Gembong adalah rekan, sekaligus guru kehidupan buat dia. Seorang office boy yang sepuh dan sangat biasa, tapi dibalik segala lelaku pengadukan kopi, dan segala hal klise fotokopi-fotokopi, angkat barang, dan macam-macam itu, Pak Gembong memancarkan perbawa. Perbawa inilah yang ditangkap oleh mata Hasan yang jeli. Sebuah perbawa yang cuma bisa dipijarkan oleh orang-orang yang tak cinta dunia. Orang-orang yang sudah “sampai” kata Hasan dalam hati.

Begitulah hari sabtu pagi jelang siang itu, Hasan menstarter motor tigernya yang bersuara berat dan sejurus kemudian dia telah tiba di rumah pak Gembong.

Mereka ngobrol ngalur ngidul di halaman belakang. Bercerita tentang burung merpati peliharaan pak Gembong. Bercerita tentang motor tiger punya Hasan. Tentang jakarta yang gerah dan sibuk, lalu tentang pekerjaan yang menyita tenaga dan emosi.

Orang butuh uang maka orang bekerja, setelah bekerja orang butuh uang untuk lepas dari penat kerja. Ini kan parodi hidup, kata Hasan mengawali celotehan curhat gratisnya pagi itu.

Dan lalu Hasan bercerita tentang bagaimana dia memaknai pekerjaan sebagai sebuah jalan saja, untuk sesuatu yang lebih prinsipil dari sekedar embel-embel pangkat dan embel-embel harta.

Pak Gembong mengangguk-angguk membenarkan dan menyimak dengan teliti, sambil sekali-kali hanya menyandarkan punggungnya pada dinding gazebo bambu, memejamkan mata dan diam hening mendengarkan sambil senyum.

Hasan menceritakan persaingan kantor yang semakin tidak masuk akal. Orang-orang mencari nama, orang-orang mensikut sesama. Hasan selama ini merasa di luar arena, tetapi dengan berjalannya waktu arena membesar dan semua terlibat, mau atau dia tidak mau.

Disitulah Hasan merasa jengah, saat tiba-tiba dia ‘niteni’ rasa di hatinya dan menemukan bahwa iri, bahwa rasa tidak puas hati, bahwa rasa kecewa, seringkali bersemayam juga di hatinya. Betapapun dia ingin menjadi orang yang ikhlas, tapi rasa-rasa itu seperti belut yang menyelinap dengan sangat licin.

“Jadi gitu pak, seingetku aku sudah rajin sholat, yo zikiran rajin juga, yo sedekah rajin juga, lha tapi kok aku ga bisa lepas dari rasa iri, rasa kecewa, dan rasa kesal dalam persaingan hidup ini ya pak? Piye carane?” Kata Hasan pagi itu.

Lalu pak Gembong turun dari gazebo dan perlahan mencabuti ilalang pada pinggir pilar bambu, setelah itu menjelaskan bahwa ini semua bukan perkara dedaunan yang harus disiangi tiap hari, tetapi perkara akar yang memas tak mestinya masih ada.

“Jadi, opo akare pak?” Kata Hasan. Sambil ikut-ikut menyabuti ilalang.

“Akarnya itu ‘aku’.” Kata Pak Gembong.

“Aku? Maksudnya aku gimana pak?”

“Lha yo ‘aku’, ‘diri’, kan segala rasa iri, gelisah, dengki, tidak puas, itu ibarat daun mas. Kita selama ini diajari sama orang-orang alim kan bagaimana memangkas daun. Tetapi mereka lupa, dedaunan akan tumbuh pada batang yang ditopang akar. Nah, akar dari semua penyakit di dalam hati itu adalah ‘aku’, rasa bahwa kita ini ‘wujud’ dan ikut mengatur.”

“Sik..sik pak, pelan-pelan, mulai dalem ini, hahahaha” Hasan tertawa.

Hasan menyukai fragmen dimana Pak Gembong mulai menjadi seperti seorang filosof. Hasan sering menggoda Pak Gembong dengan sebutan filosof. Tapi belakangan Hasan sadar, Pak Gembong bukan filosof, yang dia ceritakan itu bukan filsafat, tetapi pengalaman hidup dia sendiri. Lalu dari sana Hasan tahu bahwa Pak Gembong adalah ‘pejalan’, orang yang terus menerus meniti jalan kembali pada Tuhan. Dan orang seperti ini selalunya ‘dalem’ kata Hasan dalam hati.

Pak Gembong tertawa dan melanjutkan, “Lha yo mosok mas Hasan ga ngerti, ga mungkin toh, hahaha.”

Hasan menyeringai dan merasa harus mengeluarkan juga kemampuan perenungannya.

“OK Pak, jadi maksud Pak Mbong, Ego kita, atau perasaan kita bahwa kita ini berhak mengatur katakanlah laju hidup kita; itulah yang menjadi akar dari segala penyakit hati kita, begitu?”

“Sederhananya begini mas. Mas Hasan suka bandrek toh?”

“Suka Pak, Teh manis atau kopi juga boleh, hehe.”

“Mas Hasan juga suka berbincang tentang kehidupan, suka musik, suka acara TV komedi, suka ini, suka itu, tak suka ini, tak suka itu, dan macem-macem lagi, itu karena apa?”

“Hmmm….karena apa ya? Karena ya otomatis saja begitu pak” Hasan mengernyit dahi.

“Ga otomatis mas, itu ada sebabnya” lanjut pak Gembong.

“Ya mungkin karena pertama kali ketemu hal begitu, kok ya menyenangkan, ya jadi suka sampai sekarang.”

“Nah itu dia, pertama kali ketemu.” Pak Gembong menyahut cepat. “Berarti karena memori masa lalu, kan? Kita ini ibarat seorang pencatat mas, pengalaman hidup kita itu kita catat, dan kita jadikan pembanding untuk melangkah di masa depan.”

“Pencatat?”

“Iya, pencatat, coba, semua yang membentuk kepribadian mas Hasan sekarang adalah catatan masa lalu, bukan?”

“Iya ya pak…jadi maksud pak Mbong, kepribadian, cara pandang, dan apa yang ada pada diri kita ini sebenarnya dibentuk oleh sesuatu yang taroklah kita catat ke dalam jiwa kita, atas apa-apa pengalaman masa lalu kita, gitu Pak?”

“Iya”

“Lha hubungannya dengan ‘aku’ dan dengan ‘akar’ tadi gimana?”

“kalau segala hal yang kita anggap diri kita, kita anggap identitas kita –yang kita suka dan benci, yang kita kenang, yang kita anggap milik- adalah ternyata catatan masa lalu dalam jiwa kita, maka sebenarnya kita ini ada apa tidak?”

“Wah..berat iki pak,” Hasan nyengir kuda,  “Kalau begitu cara pandangnya, rasanya yang kita anggap ‘kita’ atau yang kita anggap ‘aku’ identitas kita selama ini ternyata sebenarnya ga ada ya? Yang ada adalah kumpulan catatan semata. Dan kita ini  sebenarnya pengamat semata atas kejadian hidup. Gitu apa pak?”

“ Ya kurang lebih, hehehe…tapi ga mungkin seratus persen bisa jadi pencatat saja tanpa ada sesuatu yang lekat pada diri kita dari apa-apa yang kita amati, pasti ada yang nempel, itulah perlunya mengenal kitab suci, mengenal orang-orang alim, agar sesuatu yang kita dapat dari luar dan membentuk diri kita, adalah sesuatu yang baik mas, dan agar tak terlalu mengaku-aku atas segala sesuatu yang terjadi dalam sepanjang kehidupan kita.”

Hasan memandang jauh, sambil berjongkok dan memainkan ilalang yang tercerabut di tangannya.

“Kalau mas Hasan selama ini menganggap urusan pekerjaan di kantor sebagai sesuatu yang memunculkan ‘aku’ mas Hasan, maka segala penyakit hati itu seperti diberikan akar.”

“Makanya tirakat ruhani seperti apapun saja, tak bisa menyembuhkan hati yang benci dendam, yang iri dengki, yang tak puas dan merutuk-rutuk ya pak?”

“Lha itu tahu, hehe”

“Jadi, biar hilang aku-nya, gimana pak?”

“Ya ngelihatnya dari atas mas. Dari pandangan yang lebih tinggi lagi, macam burung elang itu. Mas Hasan bekerja misalnya menyelesaikan satu proyek. Itu sebenarnya bukan perkara mas Hasan, bukan tentang sampeyan menjadi pucuk pimpinan, atau Mas Hasan begini dan begitu. Tapi…itu semua adalah urusannya Tuhan mas. Allah sedang bekerja, dalam ‘kerjanya’ Allah itu, dalam pengaturan itu, mas Hasan terlibat.”

“Jadi, menjadi pimpinan proyek itu sebenarnya bukan perkara saya dapet job ya pak, tapi perkara Allah sedang memberikan rezeki kepada si A, si B, si C lewat proyek itu. Perkara ada vendor-vendor yang harus terlibat karena mereka rezeki dari situ. Geraknya Allah, pengaturannya Allah, gitu kah?”

“Ya mas… dan lebih dalam lagi,  semua hal itu semisal perkara ada orang yang memerankan takdir culas. Mungkin orang itu harus muncul sekarang, karena nanti di masa depan orang itu taubat, maka jeleknya harus sekarang, dan pas kebagian jelek itu di episode proyeknya mas Hasan.”

“Dengan memandang begitu, maka ego diri apa hilang pak?”

“Coba mas Hasan praktekkan selalu begitu. Dengan memandang semua ini urusan Allah. Dan memang selalunya urusan Allah. Lama-lama Mas Hasan ‘tidak terlibat’ dalam pengaturan kehidupan ini. Mas Hasan cuma pelaku saja. Semua sebenarnya urusan Allah. Ada baikkah, ada burukkah. Semua adalah pengaturan Allah yang mesti bergulir. lama-lama ‘aku’ nya hilang mas. Kalau kata guru-guru, Mas Hasan nanti ‘tidak wujud’ menjadi tiada.”

“Lha kalau ada yang buruk apa ndak usah bertindak pak?”

“Ya bergerak saja lagi sesuai peranan, tinggal apakah pas bergerak itu ‘aku’ mas Hasan muncul lagi opo ora?” Pak Gembong tersenyum simpul.

“Iya ya..Peran kita saat ini lakukan saja, tetapi agar ego jangan muncul agar tidak merasa kitalah yang sedang punya urusan, maka kita harus memandang dari atas, memandang dari ketinggian, dan sadari bahwa semua ini dalam urusanNya.”

Hasan kembali ke gazebo tempat dia duduk tadi dan lalu menggumam sendiri, “Lalu semua penyakit hati tak akan bisa tumbuh kalau tak ada akarnya. Bagaimana ada penyakit hati, kalau yang terjadi saja bukan urusan kita. Bukan perkara kita, tapi perkara Dia.”

Dari jauh lalu Hasan melihat pak Gembong berdiri dan memandang ufuk, sejurus lalu beliau memejamkan mata dalam ketenangan yang menggentarkan.

“Seperti ini mas, awan-awan bergerak, burung-burung bercuit, ada rerumputan tumbuh, ada dedaun gugur, ada debu-debu terapung di udara, ada pemotor dan pemobil macet di jalanan, semut-semut berjejer di dinding gazebo, dan ada kita yang sedang bercerita ini, semua urusan Dia. Dan selalunya urusan Dia.” Kata Pak Gembong lirih dan dalam lewat suaranya yang serak, suara yang tua dan menguar perbawa itu.

Entah pak Gembong tahu entah tidak, di belakangnya Hasan juga menutup mata dan bersender pada dinding bambu yang berdecit, lalu sebulir bening jatuh dari pojok matanya.

——————-

*) gambar dipinjam dari sini

One thought on “AKAR-AKAR, DEDAUN, DAN AKU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s