MENJADI TIADA (2)

Para ahli psikologi, memetakan kebutuhan manusia, dan menemukan fakta bahwa kebutuhan manusia umumnya berkembang dari hal yang kasat mata menuju hal yang abstrak.

Mereka katakan, pada awalnya manusia hanya butuh sandang pangan dan papan semata. Seiring mendewasa; manusia butuh perasaan aman. Butuh rasa kasih. Pada puncaknya, kebutuhan manusia menurut para ahli psikologi adalah aktualisasi diri. Perasaan untuk dianggap ‘ada’.

Belakangan saya cermati, ternyata karena keinginan manusia untuk aktual dan merasa ada inilah yang membuat kita menjadi merasa wujud. Karena kita merasa ikut mengatur.

Padahal kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin mengatur, sedangkan semua kejadian adalah urusan Allah.

Kalau yang menyusun langit, membentuk bumi, menggelindingkan planet-planet dan bintang pada orbitnya, yang menggulung awan, menerbangkan butir-butir debu, menghidupi sel-sel dalam badan kita, dan hal semacam daun jatuh juga dalam urusanNya; lalu bagaimana ada yang urusan kita?

Ternyata, hal-hal semisal ‘kita bekerja’, belakangan saya sadari bukanlah urusan kita sebagai kepala keluarga menghidupi anak istri. Melainkan mengenai Allah yang membagikan rizki pada anak istri kita, mengenai Allah yang menggerakkan roda ekonomi perusahaan kita, mengenai Allah yang menghubung-kaitkan segala kejadian.

Dan dalam af’al Maha Hebat itu, kita diberikan (digerakkan) pada porsi yg sudah tertulis buat kita. BUKAN mengenai kita, tapi tentang mengenalkan DIA, dan selalu mengenai DIA.

Saat kita menganggap bekerja, atau sesuatu apapun itu mengenai kita, maka saat itu kita merasa wujud. Bersama pengakuan akan ‘ada’nya kita, bersama itu pula segala penyakit hati menemukan tempatnya. Iri karna tak diterimakasihi orang lain, dendam, kemarahan, dan lain-lain karena kita merasa ini semua tentang kita. Padahal bukan tentang kita, dan tak pernah tentang kita.

Jika kita menganggap bekerja itu mengenai DIA, maka kita akan ‘hilang’, siapapun yang ‘dimunculkan’ dan mendapat nama karna kerja yang kita lakukan, kita tak soal. Karena kita tak lagi ada. Karena kita melihat geraknya Allah dalam segala-gala.

Jadi kalau para motivator itu mengatakan capaian terhebat manusia adalah from zero to hero, para arifin mengatakan sebaliknya, from hero to ZERO.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s