EUREKA DAN ORANG-ORANG YANG DIAJARI

EUREKA, adalah sebuah kata seruan dari bahasa Yunani. Ekspresi ini digunakan untuk melambangkan penemuan akan suatu hal. Artinya kurang lebih “Aku telah menemukannya.”

Kata ini menjadi familiar sekali dimana-mana setelah digunakan oleh Archimedes Seorang ilmuwan yang diberikan tugas oleh sang raja untuk mengetahui apakah mahkota sang raja dicampur perak ataukah murni emas?

“Eureka…eureka…” teriak Archimedes setelah dia menemukan bagaimana caranya.

Kepahaman itu Archimedes dapatkan saat dia menceburkan diri ke dalam bak mandi, dan tiba-tiba paham bahwa volume benda yang tak beraturan bisa diukur dengan melihat berapa besar volume air yang dipindahkan. Dalam gilirannya nanti, perhitungan volume dan kaitannya dengan massa jenis bisa dia gunakan untuk mengetahui apakah mahkota tersebut murni atau tidak.

Disitulah Archimedes berlari dan berteriak Eureka….eureka… saking semangatnya sampai lupa mengenakan bajunya terlebih dahulu, konon begitu.

Archimedes adalah ‘penemu’. Sama seperti ratusan ilmuwan lainnya, mereka adalah penemu.

Sang penemu, tentu saja bukan pencipta. Hal ini menarik, saat seorang arif menjelaskan bahwa seorang penemu, sesungguhnya hanya menjadi ‘saksi’ saja dari sedemikian banyak hukum-hukum alam yang telah Allah SWT susunkan. Maka mereka berkata Eureka, saya menemukannya, bukan saya menciptakannya. Karena hukum itu sudah ada, semua sudah tersusun rapih.

Perkara apakah saat seseorang sudah bisa menyingkap suatu tabir hukum-hukum di alam semesta; kemudian orang itu beriman atau tidak; akan kita obrol-obrol lain kali.

Sekarang saya ingin berbincang sejenak bahwa dalam sejarah panjang manusia untuk mencoba memahami kehidupan ini, ternyata manusia menemukan sesuatu.

Dalam pandangan yang lebih sufistik, dikatakan oleh orang-orang arif bahwa sejatinya manusia itupun tidak menemukan, tetapi diilhamkan tentang sesuatu.

Allah-lah yang mengilhamkan sesuatu itu kepada manusia.

Ilham berupa kepahaman yang menyusup secara cepat, pengertian-pengertian yang begitu saja merasuk, tanpa suara, tanpa huruf.

Seumpama Newton, hanya dengan melihat apel jatuh, kita tahu kemudian Newton menemukan hukum gravitasi. Kalau kita ganti dengan bahasa para arifin, Newton bukanlah menemukan, tetapi Newton ‘dipahamkan’ tentang gravitasi.

Lagi-lagi, perkara apakah dengan mendapatkan kepahaman gravitasi maka Newton menyadari keberadaa Tuhan, sang pencipta hukum itu? itu lain soal.

Satu hal yang sangat menarik adalah kita sudah memahami bahwa segala apa saja yang terzahir di alam raya ini sebenarnya cara Allah untuk ‘menyatakan’ diriNya. Sifat-sifatNya dirangkum dalam nama-namaNya yang baik. Dan kesemuanya terzahir dalam alam raya ini.

Siapa yang memahamkan manusia pada alam raya ini? –yang pada gilirannya kepahaman itu membantu pengenalan tentang Dia- ya Allah SWT sendiri yang memahamkan manusia itu.

Tetapi yang perlu kita mengerti adalah bahwa ilmu Allah SWT itu sangatlah luas dan tak terperi. Sepanjang sejarah manusia, manusia belajar dan akhirnya memahami hal-hal sedikit demi sedikit, tapi pengembaraan umat manusia itu belumlah selesai, maka manusia melakukan itu transfer knowledge.

Setiap orang membuka tabir-tabir kehidupan dan pengenalan akan Allah lewat jalannya sendiri. Kemudian setiap orang akan bertemu dengan “Eureka” mereka masing-masing. Dan hal itulah yang kemudian disampaikan kepada orang lain lewat bahasa yang diverbalkan, dari sebelumnya hanya berupa kepahaman semata tanpa bentuk.

Pokok pentingnya adalah, dalam upaya pengenalan manusia kepada Allah SWT, kita tahu bahwa ‘perjalanan’ memang penting. Perjalanan adalah sebuah metafora yang digunakan para salikin (orang-orang yang meniti jalan pulang kepada Allah) untuk menggambarkan bahwa yang penting dalam perjalanan menuju Allah adalah ‘tirakat’ ruhani. Adalah peribadatan yang nantinya menghantarkan mereka menuju kepahaman-kepahaman.

Tetapi belakangan saya menyadari satu hal, ‘tirakat’ semata akan menyebabkan manusia sangat lama dalam mengenal Tuhan, jika tidak disandari ilmu yang benar.

Hal ini ibarat cerita ilmuwan tadi. Coba bayangkan, betapa susahnya jaman dulu Sang Michael Faraday penemu fenomena kelistrikan merumuskan kepahaman yang dia dapat menjadi sesuatu yang dipahami juga oleh orang banyak. Tapi jaman sekarang, anak TK pun punya pengetahuan apa itu listrik, paling tidak mereka tahu.

Dan anak TK tidak tidak perlu lagi melakukan perenungan panjang sepanjang kerja keras Michael Faraday dalam menemukan listrik (dalam diilhamkan tentang listrik). Karena hal tentang listrik sudah tersingkap.

Itulah hebatnya Transfer Knowledge.

Karena anak-anak jaman sekarang, sudah tidak lagi berfikir mengenai apa itu listrik, tapi sudah berfikir mengenai kemanfaatan yang mereka bisa buat lewat fenomena listrik. Sesuatu yang mungkin terbetik di hati pun tidak oleh Michael Faraday.

Begitu pula perjalanan spiritual.

Tirakat itu penting, tentu saja. Tetapi tirakat haruslah dilambari dengan keilmuan yang benar.

Cobalah tengok, Al-Quran sudah ada, Hadist ada, panduan ruhani yang valid dan kredibel pun ada.

Ada Al-Hikam mengenai seluk beluk dialektika batin para salik. Ada buku-buku Syeikh Abdul Qadir Jailani. Ada madarijus salikin. Macam-macamlah.

Kita tinggal melakukan tirakat ruhani sesuai tuntunan yang benar, untuk kemudian ‘membenarkan’ apa yang memang tertulis pada buku-buku masa lalu itu lewat pengalaman batin kita.

Kita tidak harus starting ulang dari Nol.

Bayangkan para pejalan ruhani yang mulai dari Nol. Mereka melakukan segala macam tirakat panjang dan lama untuk sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah bukan ini, bukan itu, bukan segala-sesuatu yang kita kenal. Sebuah kesimpulan yang sejak dari lama dijelaskan Al-Quran dalam surat Al-Ikhlas.

Yang saya ingin bagikan ialah, kalau kita melangkah lewat kepahaman Ilmu Makrifat yang benar, maka perjalanan akan insyaallah lebih cepat dan terjaga.

Karena memang tugas kita adalah memanfaatkan kepahaman yang sudah Allah berikan pada seseorang pada masanya sendiri di waktu lalu, untuk kita terapkan dan menerima kepahaman yang lebih lagi yang diberikan Allah pada kita di masanya kita sekarang ini.

Kasihan para guru di masa silam, jika ilmunya tak kita pakai. Atau kalaulah perjalanan panjang kita dalam kehidupan hanya menghasilkan sebuah teorema yang ternyata sudah pula dirumuskan mereka di masa silam.

Tapi apapun ceritanya, apapun yang kita verbalkan menjadi teorema, menjadi catatan-catatan pengetahuan, sesungguhnya benar-benar kita ini hanyalah seorang yang diilhamkan. Dipahamkan. Jadi Eureka itu mungkin tepatnya ‘aku diajari’, bukan ‘aku menemukannya’.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s