SEBAIT RINDU

Ya Allah, pertemukanlah aku dengan Penghulu Para Nabi. Pemimpin Para Aulia. Setunduk-tunduk makhluk. Sebenar-benar penyaksi. Setinggi-tinggi hikmah dan kebijaksanaan.

Rasul Engkau. Nabi Engkau yang Mulia. Seorang ummi yang Kau ajari membaca hidup dengan nama-namaMu yang baik.

Kepada jalan sepertinya-lah kami mengusahakan pengabdian. Meski pencapaian kami tak sebutir debu dibanding kedekatan-nya kepada Engkau yang kami Muliakan.

Rabbana amanna bima anzalta wattaba ‘nar-Rasula fak-tubna ma’ash-Shahidin.

Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi.(3:53)

SIKAP PENGEMBALIAN

Kita paham, segala kejadian dari Allah, dan segala kejadian KEMBALI kepada Allah.

Kejadian yang menimpa kita, selalulah harus kita kembalikan kepada Allah. Bentuk pengembalian itu sendiri bisa beragam-ragam.

Handphone hilang, misalnya. Bentuk pengembalian kita kepada Allah adalah dengan meridhoi kejadian. Ingat Dia, dan melafadzkan innalillahi wainnailaihi rajiun.

Setelah “dikembalikan”, maka kejadian hidup (yang berupa kehilangan) telah berhasil kita LONCATI. Kita tak lagi tertengok “kehilangan”, tetapi tertengok pengaturan Allah.

Itu kalau kejadian yang sudah terjadi. Bagaimana kalau kejadian yang belum terjadi? Semisal Allah memasukkan sebuah keinginan di dalam hati kita?

Keinginan, datang dari Allah, maka kembalikan kepada Allah.

Semisal, karena kebutuhan hidup yang sangat mendesak, kita perlu motor untuk mobilitas. Terbitlah keinginan membeli motor di hati kita. Keinginan itu sejatinya dari Allah.

Cara pengembalian kepada Allah adalah dengan DOA. Berdoalah kepada Allah, agar Allah mengaruniakan kemudahan rizki dan kebarokahan rizki.

Ini namanya pengembalian. Sikap pengembalian ini namanya menegakkan sikap penghambaan. Sikap ini juga namanya mengagungkan Allah, hanya Allah sang pemberi rizki.

Contoh kebalikannya adalah TIDAK MENGEMBALIKAN.

Ada kebutuhan, ada keinginan beli motor. Dia tidak berdoa, melainkan sibuuuuuk saja di hatinya mikirin motor. Mikirin cara dapat yang lebih banyak, cara dapat kredit, dsb.

Meskipun pada akhirnya sama-sama terbeli motor. Orang yang pertama berhasil meloncati kebutuhan dan keinginan sampai terpandang pengaturan Allah. Orang kedua terpandang pada kehebatan dirinya sendiri…

Pada gilirannya nanti, orang-orang yang selalu MENGEMBALIKAN, akan menyadari ketiadaan kemampuan diri untuk mengatur kejadian hidup. Orang ini berhenti sibuk “memastikan” hasil usahanya, dan dia terpandang pengaturan Allah dimana-mana. Dia tidak “wujud”.

Sedang yang “tak pernah mengembalikan,” akan “penuh” dengan dirinya sendiri. Dia semakin meng-ada.

Tak usah risau dengan doa. Yang pokok adalah jujur melihat apa yang ada di dalam hati.

Jika ada keinginan, segera kembalikan keinginan itu kepada Allah lewat DOA. Doa yang menegakkan kehambaan. Yang mengagungkan Allah. Sehingga kita terpandang pada pengaturan Dia.

Lama-lama Allah akan memasukkan kondisi yang berbeda di dalam hati kita.

Nantinya bukan lagi penuh dengan keinginan, tetapi penuh dengan kebersyukuran.

Tetapi harus jujur. Jangan di hati ada keinginan, tetapi sikap lahir “diem-diem” seolah maqom “enggan berdoa”, tetapi di batin kepikiran selalu, pada luarannya sibuk merancang usaha, tak ada ingat kepada Allah.

Ini adalah sikap tak jujur, sama sekali bukan “maqom tinggi” melainkan ghurur.

Tak ada kebaikan pada sikap tak jujur menilai diri. Padahal harusnya “keinginan” bisa jadi jalan “kembali”; sikap tak jujur malah menjauhkan.

Nabi Ibrahim as. Berbeda penempatannya. Di hati Beliau hanya  ada Allah semata. Maka sikap lahirnya kita tengok,  adalah “tak ada permintaan” meski Beliau akan dilemparkan ke kobaran Api oleh Namrud.

Lho…tetapi kan Allah SWT sudah tahu apa yang kita butuhkan, tanpa perlu meminta?

Jelas….Allah sudah tahu. Tetapi ini sebenarnya bukan perkara Allah tahu atau tak tahu, ini perkara apa yang berkecamuk di hati kita. Jika ada kebutuhan berkecamuk di hati kita, kebingungan, keperluan, maka memintalah kepada Allah sebagai cara “mengembalikan” keinginan, hingga persandaran kita kembali menjadi hanya pada Dia semata, bukan pada usaha sendiri. Lafadz doa akan mendewasa seiring ketersingkapan ruhani, seiring maqom. Hingga puncaknya adalah pengenalan sejati, yang membuat sang hamba tak lagi terbersit pada keperluan selain dari Allah melulu.

Tetapi sebelum sampai kesana, ikutilah syariat yang dituntunkan Rasulullah SAW. Berdoalah, Dia akan menjawab doa itu.

Jujurlah menilai diri, dan lewat pengembalian; jadikan segala kejadian hidup sebagai jalan pulang.

PAGAR PENJAGA

Pengenalan akan Dia, selalulah dimulai lewat “HAL spiritual” berupa dorongan di dalam hati: yang menjadi demikian takut, atau demikian cinta mengharu biru.

Suasana di dalam hati ini, tak bisa dibuat-buat. Ianya “given” dimasukkan oleh Allah, sebagai pendorong, sebagai jalan kepahaman, dan sebagai penggerak amaliyah.

Karena pengenalan kepada Allah dimulakan dari dorongan tersebut, maka mematikan langkah orang-orang yang ingin kembali ke Allah dengan ucapan “kalau ada maunya aja baru mau ibadah!” Adalah keliru.

Karena, sebagian cara Allah mengenalkan diriNya adalah menanamkan rasa “butuh” kepada hambaNya.

Orang yang gelisah, bingung, takut, berarti berada pada gerbang jalan pulang. Bukan orang yang dimurkai.

Rasa butuh ini menjadi semacam pagar, yang menjaga agar hamba selalu berada pada jalur “kembali”.

Sebegitu juga rasa takut, dan rasa cinta. Juga dimasukkan ke hati hamba, juga semisal “pagar” yang menjaga agar hamba tetap di dalam jalur kembali.

Karena fungsi “pagar” sebagai penjaga, maka adalah masuk akal untuk meminta agar pagar dilanggengkan oleh Allah.

Semisal doa Rasulullah agar selalu hidup, mati dalam keadaan miskin, dan dikumpulkan dalam golongan orang-orang miskin.

Miskin adalah majazi, dari makna “rasa butuh dan fakir di hadapan Allah.” Rasulullah meminta dilanggengkan untuk selalu dalam rasa butuh kepada Allah.

Rasa butuh dan takut, terus menerus tak akan bisa diterima wadah sang hamba. Maka Allah menanamkan pula keping satunya lagi yaitu rasa harap dan cinta.

Ibnu Qayyim mengatakan, kehambaan ditopang dua sayap itu, khauf dan roja, takut dan harap. Dua-duanya pagar penjaga agar sang hamba tetap berada di jalur kembali.

Sebagaimana kata “Rabb” yang merangkum makna penguasa, pengatur, makna-makna JalalNYA, maka Rabb selalulah lekat pada dorongan spiritual takut dan cemas, misalnya Robbana Dzolamna anfussana

Dan  “Ilahi”, itu keping satunya lagi, Ilahi Anta Maqsudi.

Yang pokok adalah, kalau kita tengok, kehidupan kita pasti tak akan lari dari dua pagar ini.

Sekali waktu tema hidup kita pasti ada yang tentang takut dan gelisah, terbanting-banting. Tapi sekali waktu ada juga yang berselindung harapan besar padaNya.

Artinya, sebenarnya jalan kembali itu adalah takdir kita masing-masing ini, asalkan menjadikan setiap potongan takdir sebagai alasan pulang.

Entah berlindung dari takut padaNya, atau berharap pada pertolonganNya, yang jelas setiap kejadian menghantarkan kembali.

MAJELIS ORANG-ORANG FAKIR (2)

Dulu…setiap kali saya diterpa ujian, saya sering membanding-bandingkan dengan kawan-kawan saya yang lain. Yang hidupnya bagai sungai tenang, tiada gejolak. Mulus, hampir tak ada gelombang.

Dulu sering terpikir, kenapa kok mereka hidupnya tenang-tenang saja, tak ada masalah ya? Kok saya begini-begini amat?

Tetapi lama-kelamaan saya merenung. Apakah Rasulullah pernah membanding-bandingkan hidupnya dengan sahabatnya?

Misalnya saat ditinggal Khadijah, dan ditinggal pamannya, rasanya tak pernah Beliau itu yang, “duh…kok enak ya Abu Bakar, ga sendirian. Ga ada masalah….” tak pernah.

Saya tengok-tengok, ternyata semakin diterpa badai, semakin Beliau itu “menenggelamkan diri dalam rasa fakir kepada Allah.” Menegakkan kehambaan dan mengakui bahwa betapa butuh kepada pertolongan Allah.

Jika ujian kita maknai sebagai ‘Allah tak ridho pada kita’, maka berarti keseluruhan deret nama para Nabi adalah orang-orang yang Allah tak ridhoi? Tak mungkin.

Nyatanya, sepaham saya hanya Sulaiman AS-lah yang Nabi dan raja-diraja, selebihnya adalah para anbiya yang meniti jalan kefakiran. Hidup dalam rasa butuh yang teramat sangat. Fakir di depan Tuhan.

Menjalani takdir yang membanting-banting, dan menenggelamkan diri mereka dalam hidup yang miskin, mati yang miskin, dan dikelilingi orang-orang miskin.

Maka benarlah ternyata orang-orang arif yang lebih mengkhawatirkan “lapang” ketimbang “sempit”. Karena kesempitan, menumbuhkan rasa butuh, rasa butuh menjadikan mereka fakir di hadapan Allah.

Baru saya sadar, bahwa ucapan melemahkan pada saat ada seseorang yang tergerak ingin minta tolong pada Allah kala diterpa musibah, “Giliran ada masalah aja, baru mau ibadah!!!” ; Adalah ucapan yang sungguh tak tepat konteks.

Allah mengundang hambaNya “pulang” dengan caraNya sendiri, dan mayoritas undangan itu adalah jalan panjang hidup yang membanting-banting dan menerbitkan rasa butuh dan ingin kembali.

“Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin”

MAJELIS ORANG-ORANG FAKIR

Ada salah satu do’a Rasulullah SAW yang jarang diamalkan oleh kita. Yaitu do’a beliau meminta hidup dalam keadaan miskin.

Saya ingat, dulu waktu saya masih kecil, KH. Zainudin MZ pernah guyon dalam ceramahnya, mau memberikan sebuah amalan kepada para jamaahnya, tetapi dengan syarat harus janji diamalkan. Setelah diberi tahu, semua orang tertawa dan senyum-senyum sendiri, karena enggan mengamalkan. Termasuk Pak Kiai pun mengaku tidak mengamalkan doa tersebut.

Inilah do’a tersebut:
“Allahumma Ahyinii Miskiinan, wa Amitnii Miskiinan, wahsyurniii fii Jumratil-masaakiin”

Artinya : “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN, dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang MISKIN”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah

Dulu kala saya mengira Rasulullah mengajarkan tentang Miskin secara harfiah. Memang, dalam tempo-tempo tertentu kita lihat beliau serba kekurangan. Tetapi dalam kali lain kita tengok prasarana da’wah penunjang yang beliau gunakan pun tidak murah, Unta Merah. Jadi rasanya ada yang kurang tepat dengan pemaknaan miskin di do’a itu.

Baru saya paham bahwa do’a beliau tentang miskin ini adalah miskin “majazi”. Istilah. Beberapa ulama pun memberikan penjelasan bahwa miskin di sini adalah tawadhu, tunduk, merendah.

Singkat kata maksudnya adalah ‘ingin dikumpulkan, dihidupkan, dan mati dalam golongan orang-orang yang merasa selalu “butuh” kepada Allah. Merasa “fakir di hadapan Allah” Begitu kata para ulama, termasuk Imam Ghozali.

Menarik kalau kita cermati, bahwa keseluruhan panjang kehidupan Rasulullah SAW dilalui dengan rasa fakir di hadapan Allah. Begitupun para Nabi yang lain, para aulia dan para salihin. Selalu merasa butuh di hadapan Allah.

Bagaimana sikap merasa fakir di hadapan Allah ini terjelma dari masing-masing pribadi; akan berbeda sesuai derajat ketersingkapan ilmu, dan ketersingkapan pandangan ruhani tiap orang.

Orang-orang yang selalu diterpa masalah, bisa menghayati rasa “fakir di hadapan Allah” dengan meminta tolong kepada Allah. Menegakkan kehambaan dengan meminta pertolongan.

Seperti Zakariya as yang melafadzkan do’a, “Ya Allah berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.”  Zakariya AS, Mengakui betapa berhajatnya dia kepada pertolongan Allah. Fakir di hadapan Allah.

Setiap kesulitan hidup yang mendera, setiap apa saja yang kita jalani dalam hidup ini, saya rasa sebenarnya gerbang untuk menjadi fakir di hadapan Allah. Dengan selalu menjadi fakir dan merasa butuh kepada Allah, Allah akan antarkan kita kepada pemaknaan yang lebih dalam, untuk semakin merasa butuh kepada Dia.

Tetapi  kita mengerti bahwa rasa butuh kepada Allah itu akan terejawantah dan akan menjadi semakin mendewasa bentuknya seiring apa yang terpandang oleh ruhani kita.

Umpama Musa yang berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” Do’a yang penuh isyarat dan tak meminta sesuatu. Tetapi yang pokok adalah, di dalam hatinya, tetap Musa menjadi fakir di hadapan Tuhannya.

Rasa-rasanya, inilah yang sangat penting. Membenarkan persandaran, dan menjadikan diri kita hidup dalam rasa butuh, berkumpul dengan orang-orang yang juga fakir, dan mati dalam keadaan yang tetap merasa sangat perlu kepada Allah.

Jadi cara kita berfikir bukanlah “Kalau ada kebutuhan, baru mau ke Allah.” Melainkan “Justru dengan adanya kebutuhan itulah, kita merasa fakir di hadapan Allah.” Rasa butuh, merupakan anugerah, gerbang awal untuk memasuki majelis orang-orang fakir.

Saya tengok-tengok, caranya sederhana. Cukup menghayati hidup kita masing-masing, dan mengingatNya, lalu akan terpahamkanlah, bahwa beratus-ratus hal dalam hidup ini yang tak mungkin bisa kita selesaikan dari tugas peranan kita masing-masing tanpa meminta pertolongan kepada Allah.

Semakin minta tolong, semakin kita menjadi fakir di hadapan Dia.

YANG BIASA, TETAPI MENGGUNCANG ARASY

Ada kisah yang sangat masyhur tentang Nabi Musa yang menemui seorang penggembala tengah berdoa.

“Duhai pangeran tercinta, dimanakah Engkau? Supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu dan mempersiapkan ranjang-Mu. Dimanakah Engkau? Supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu. Dimanakah Engkau? Supaya aku bisa menyilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu.”

Mendengar doa itu Nabi Musa berang dan menghardik

“Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu!”

Penggembala menangis ketakutan pada hardikan Nabi Musa.

“Apa menurutmu Tuhan adalah seorang manusia biasa sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apa menurutmu Tuhan adalah seorang anak kecil yang memerlukan susu supaya tumbuh besar? Tentu saja tidak! Tuhan Maha Sempurna di dalam diri-Nya. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti itu, kau tidak lain dari seorang penghujat agama,” begitu Nabi Musa memarahi orang tersebut.

Sang penggembala yang kaget inipun lari ketakutan sambil menangis sedu-sedan.

Selepas itu Musa melanjutkan perjalanan, dan di tengah perjalanan Beliau ditegur Allah SWT,

“Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya? Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Aku tidak memperhatikan keindahan kata-kata. Yang Aku perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu.”

Musa ditegur sebab memarahi sang pecinta Allah. Memang sang pecinta itu keliru, tetapi kekeliruan itu sekaligus menjelaskan dimana maqom keilmuan sang pecinta. Keilmuan yang tak setaraf Musa AS.

Musa berbalik dan mencari penggembala tadi untuk menyampaikan maaf.

Kalau kita tengok Rasulullah SAW. Beliau sangat mengerti perihal maqom.

Saat bertanya pada seorang budak wanita

“ Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: Di mana Allah? Dia menjawab: di atas langit. Rasul bertanya: Siapa saya? Wanita itu menjawab: engkau adalah utusan Allah. Maka Nabi bersabda: ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang (wanita) beriman” (H.R Muslim).

Rasulullah membenarkan wanita itu -meski kita tentu tahu bahwa Allah SWT tak bertempat, sudah bayak guru-guru kearifan membukakan rahasia bahwa Allah SWT tak bersifat seperti makhluk yang membutuhkan tempat untuk berada,  bagaimana ada sesuatu yang bisa menampung Dia? Tentu keliru. Tetapi kita rekam dalam sejarah bahwa Rasulullah membenarkan pendapat itu-

Jelas sekali Rasulullah berbicara pada konteks maqom sang Budak wanita tersebut.

Yang ingin saya sampaikan adalah, ada kalanya ketersingkapan ilmu tak selalu berarti lurus dan sebanding dengan derajat kedekatan. Boleh jadi ada sebagian kalangan yang tak tersingkap ilmu sebanyak kita, tetapi menghabiskan jenaknya detik demi detik mengakrabi Tuhan.

Ada suatu kisah, seorang mubaligh muda yang sangat sibuk mengkampanyekan anti bid’ah di kampungnya.

Semua diberantas oleh pemuda ini, sampai suatu ketika dia menjadi merenung saat menemukan salah seorang penduduk kampung kecelakaan.

Di detik sakaratul mautnya sang penduduk kampung ini berpesan pada istrinya, “jangan lupa buatkan bubur merah dan bubur putih untuk Kanjeng Nabi.” Lalu orang tersebut meninggal.

Seseorang yang dianggap ahlul bid’ah, malah teringat Rasulullah pada detik terakhir matinya?  Inikan siang di dalam malam, malam di dalam siang?

Lantas apakah tak perlu meluruskan? Tentu tidak. Saya menyimpulkan sebagai berikut:

1. Ketersingkapan setiap orang berbeda, dan kewajiban setiap orang-lah untuk menyampaikan walau satu ayat tentang apa yang dia pahami; pada orang lainnya. Maka roda keilmuan akan bergerak dinamis. Ketersingkapan akan menyebar dan menemukan muaranya sendiri. Seorang arif mengumpamakan hal ini dengan “Si kecil menceritakan Yang Besar” (INI PERANAN)

2. Bahwa penyampaian pada orang lain, haruslah mengerti perkara maqom. Karena kapasitas keilmuan setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang wadah intelektualitasnya tak cukup menampung ketersingkapan yang lebih pelik, namun wadah cintanya begitu besar. Ini bisa ditolelir selama bukan perkara pokok.

3. Ini yang paling penting. Banyak orang-orang yang nampak sangat biasa, tak punya ilmu banyak, tapi doa-doa mereka mengguncang arasy. Maka patutlah kita hati-hati, bijak-bijak, dan mendulang kearifan dari siapa saja.

Siapa tahu penyapu jalan, supir bus, penjual mie ayam, atau satpam kantor kita adalah orang-orang yang mengguncang arasy :D:D

MENDULANG KEARIFAN

MENDULANG KEARIFAN

Kalau kita melihat “wright bersaudara” kita akan sangat geli membayangkan percobaan yang mereka lakukan untuk membuat manusia bisa terbang.

Adalah mereka mencoba membuat sayap seperti burung Sehingga jatuh dengan konyol dari atas bukit. Nyungsep di gundukan tanah karena mencari momentum pesawat untuk lepas landas. Dan macam-macam kelucuan lainnya hingga akhirnya terwujudlah prototype pertama pesawat terbang. Itupun masih sangat menggelikan jika kita bandingkan dengan “stealth”-nya amerika sekarang yang seperti siluman tak tertangkap radar.

Begitupun kita akan merasa lucu apabila melihat keris. Kecil, berlekuk-lekuk seperti naga. Kita membayangkan bagaimana para empu menempanya berulang-ulang, mencampur baja dan besi lainnya, lalu mematrinya kepada gagang dan disarungkan dengan gagah. Tapi bagaimanapun, sebuah keris akan terlihat hilang greget dibandingkan AK-47 senapan paling standar di dunia militer sekarang.

Tetapi kita semua memahami, bahwa baik pesawat jaman dulu, ataupun juga keris, adalah produk “kearifan masa lampau.”

Sesuatu yang memang sudah Allah izinkan untuk terjadi pada masanya, pada orang-orangnya yang tepat, pada peruntukan dan hikmahnya sendiri.

Bagaimanapun, kearifan masa lampau akan sulit mengalahkan pencapaian masa yang lebih akhir. Karena pada fithrahnya-lah Allah mentakdirkan ilmu untuk terus berkembang, dan dimurnikan seiring waktu.

Apa pasal? Pasalnya adalah bahwa setiap orang ternyata sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan “EUREKA” mereka masing-masing.

Ada porsi kepahaman yang sudah Allah takdirkan untuk tersingkap kepada setiap orang.

EUREKA….aku menemukannya. Sebab ilmu dan hikmah itu memang sudah ada, tetapi ketersingkapannya berbeda-beda tiap orang, disesuaikan dengan konteks waktu dan masa. Orang masa lalu, tak akan sanggup menanggung ketersingkapan masa kini, sebab konteks mereka beda.

Jika tidak begitu, akan sangat banyak orang-orang yang terasing di setiap zaman. Karena ketersingkapan yang mereka dapat melampaui jamannya. Tak boleh.

Itulah jika kita lihat dengan jujur, kita akan mengerti bahwa betapa semua ini tersusun rapih.

Orang-orang masa sekarang, mestilah menggunakan senapan AK-47 atau bahkan yang lebih mutakhir. Menggunakan pesawat supersonik atau yang lebih dari itu.

Tetapi rasa hormat mestilah tetap terjaga, pada empu penemu keris. Pada wright bersaudara yang terpikir ide pembuatan pesawat.

Begitupula dengan spiritualitas. Banyak kita jumpai guru-guru kearifan masa silam yang kalau kita bandingkan dengan masa kini mungkin approachnya terlihat begitu tradisional. Dalam beberapa kesimpulan oengajaran terlihat keliru dan kurang tepat apalagi dibandingkan dengan fakta sains terkini. Tetapi bagaimanapun mereka adalah orang-orang arif dari kegemilangan sejarah silam.

Boleh saja mengoreksi mereka, tetapi janganlah kita melunturkan rasa hormat pada orang-orang yang begitu banyak jenak pribadi mereka dihabiskan dengan mengakrabi Tuhannya.

Bukan sebab mereka semua orang-orang masa lalu mesti benar. Akan tetapi sebab kita sendirilah yang ingin menjadi bijak-bestari. Menyediakan diri untuk mendulang kearifan. Sebab mengerti bahwa betapa ilmu dan kepahaman itu Allah sediakan terserak-serak di merata zaman.

Pada jenaknya sendiri, pada orang-orang nya sendiri, pada hikmah yang sudah rapih disusunkan untuk masa itu, dan masa kini.

Al-fatihah.

——
Dalam jenak kerinduan dan kesalutan pada guru-guru kearifan masa silam -dan masa kini-. Aku menghormati kalian karena Allah

PERSIDANGAN, STRATEGI, DAN INSIGHT

Ada sebuah kisah sangat populer tentang Sayidina Ali ra yang kalah dalam persidangan memperebutkan baju besi miliknya yang diambil oleh seorang yahudi.

Ali ra jujur dengan mengatakan baju itu miliknya, tetapi dia kalah dalam persidangan sebab tak cukup saksi yang mendukungnya.

Beliau Amirul mukminin. Jujur. Benar. Tetapi dikalahkan dalam hukum syariat. Hukum yang prosedural. Dan sang hakim tidak ‘keliru’ mengambil keputusan itu. Singkatnya keputusan yang malah memenangkan pihak yang sebenarnya salah itu; sudah benar secara prosedur.

Lepas dari hikmah cerita itu, -kita tahu sang Yahudi akhirnya masuk islam- ada sebuah point yang sangat penting yaitu bahwa “Syariat dunia harus diputuskan / dihukumi berdasarkan apa yang nampak mata.” Itu rumus.

Jadi dalam versi duniawi, sang hakim sudah benar dengan mengalahkan Ali ra  dalam persidangan. Persidangan sudah adil berdasarkan syariat. Sudah prosedural. Itu prinsip hukum di dunia.

Dalam kaitannya dengan praktik tasawwuf adalah : “Ilham atau Kasyaf (intuisi / pandangan hati) tak bisa menjadi hujjah syariat.” Betapapun  ilham atau kasyaf yang didapat benar, tetapi ia hanya berlaku untuk diri pribadi.

Seperti permisalan, jika seseorang ingin berjalan dan menemukan persimpangan barat dan timur, maka dia boleh memilih dengan alasan se-subjektif apapun. Misalnya dia mau ke timur karena jalannya lebih banyak pohon-pohonnya. Boleh…

Begitupun umpamanya dia mendapatkan insight, intuisi, ilham bahwa jalan ke timur lebih baik, dia boleh melakukan itu untuk subjektif dirinya sendiri.

Tetapi dalam kaitannya sebagai hujjah, memutuskan bahwa orang lain bersalah, orang lain harus dikenakan sesuatu, dan lain-lain, sesuatu yang diluar subjektif dirinya; adalah tidak boleh mendasarkan kepada ilham maupun kasyaf. Begitulah syariat di dunia.

Lepas dari itu, ilham, kasyaf, insight, pengalaman ruhani apapun saja saya rasa adalah semacam hadiah penguat, agar kita membenarkan apa yang sudah diajari atau disampaikan orang-orang shalih.

Karena kita mengalami sendiri realitanya. Bukan untuk hujjah syariat. Melainkan secara subjektif untuk menaikkan keyakinan dari yang mungkin agak-agak yakin menjadi yakin betulan.

Dan petunjuk boleh diikuti atau TIDAK diikuti, terutama jika menyangkut kemaslahatan umum. Dan mendiskusikan sesuatu insight yang di dapat jika untuk kepentingan umum, adalah lebih utama.

Saya teringat cerita mimpi Rasulullah SAW pada saat sebelum perang Uhud, dimana Beliau bermimpi yang kurang lebih dimaknai sebagai anjuran untuk melakukan siasat menunggu di dalam benteng atau strategi bertahan.

Tetapi tetap beliau bermusyawarah kepada sahabat-sahabat beliau, dan diputuskanlah strategi yang digunakan malah sebaliknya, yaitu strategi menyerang (artinya berlawanan dengan petunjuk mimpi Beliau).

Hal tersebut tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah kekalahan perang Uhud disebabkan para prajurit tidak mematuhi komando Rasulullah untuk bertahan di gunung, melainkan malah lari kocar-kacir mengambil rampasan perang, dan kemudian berbalik menjadi kekalahan yang menyakitkan.

Dan Rasulullah SAW tak pernah menyinggung-nyinggung “Tuh kan… kalian tidak ikuti mimpi saya!” Tak pernah.

Melainkan kita tengok bagaimana Al Quran mengambil hikmah, disebutkan disana mengenai orang-orang mukmin yang tidak menepati apa yang telah mereka janjikan (yaitu berbalik dan lari meninggalkan Rasulullah saat perang).

Al Quran tak menyinggung tentang petunjuk yang tak diikuti dan malah mengikuti hasil musyawarah.

Kisah ini bagi saya sangat berarti, mendudukkan pengertian yang benar tentang petunjuk dan seperti apa menyikapinya.

Wallahualam

PERMINTAAN TAK MENABRAK KERIDHOAN

Mari kita lihat, bagaimana para Nabi mengakrabi Tuhannya. Akrabi-lah Allah SWT sebagaimana tercontohkan oleh para shalihin, aulia, para Nabi, yang tak pernah berhenti curhat pada Allah.

Dialektika batin para pejalan ruhani, salah satunya adalah kegamangan apakah sebaiknya berdoa -karena Allah perintahkan- atau sebaiknya tak berdoa -sebab Allah Maha mengetahui; terlebih Allah yang mentakdirkan segala kejadian.-

Sebenarnya kalau kita tengok para Nabi, dalam puncak keridhoan mereka menghadapi segala yang terjadi, mereka tetap berdoa dan meminta. Itu berarti, permintaan tidaklah ‘menabrak’ keridhoan.

Saat mereka meridhoi apa yang terjadi, mereka meminta pertolongan Allah untuk diselamatkan dan diperjalankan menuju takdir yang lebih baik.

Hanya saja, maqom ruhani setiap orang berbeda. Ada orang yang meminta dengan begitu detail dan merincikan segala kebutuhannya seperti ‘to do list’ untuk Tuhan -sebab kurangnya pengenalan kepada Allah-, Ada orang yang sudah begitu dekat dan akrab, sehingga permintaan pun tak terlontar dari bibirnya, karena rasa malu yang sangat dan keyakinan akan kebaikan dan kebijakan Sang Pemberi.

Bagaimanapun. Setiap orang memiliki jenaknya sendiri untuk dekat dengan Tuhan, Para Nabi tetap berdoa, tetapi doa mereka memang lebih berupa munajat pujian dan pengagungan ketimbang permintaan, sebab mereka sangat dekat dengan Allah.

Terlepas dari itu, kebutuhan yang ada pada kita, sejatinya bisa dimaknai sebagai undangan dari Allah untuk kembali. Disitulah letaknya kita menegakkan kehambaan dengan mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menolong. Maka berdoalah.

Dengan selalu berdoa, Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kedekatan kita dan pemaknaan kita akan doa bakal berubah dengan sendirinya.

Pada posisi manapun kita sekarang, tangga pertama yang harus dilalui ya sering-seringlah ‘curhat’ padaNya.

Allah sendiri yang akan menaikkan maqom kita.

MAQOM DAN DOA

——–

Saya tambahkan tulisan Ustadz Abdul Aziz yang juga berkaitan dengan ini, menarik. silakan dibaca di bawah ini:

Diantara sifat Allah adalah “Al-Mujib” Maha mengabulkan Doa. Tergelarnya sifat Allah ini, maka akan ada manusia yang datang MENGHADAP kepada -Nya melalui doa, munajat, i’tikaf mengajukan proposal untuk menyelesaikan urusan kekhalifahannya di dunia. Sebagaimana nabi Ibrahim menghadap Allah dengan membawa proposal masalah

(Aş-Şāffāt):99 –
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”

Di sisi lainnya ada sifat Allah, Al-Adhiim (Maha Agung) tergelar, maka ada yang datang MENGHADAP kepada-Nya dengan meng-Agungkan-Nya, melalui Sholat, berkhalwat, ada juga yang ‘bersilaturahiim’ dengan berzikir lisan, sirri atau haqiqi
Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim,

(Al-‘An`ām):79 – Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Setelah bermakrifat, baru kemudian nabi Ibrahim bersyariat

(Ash-Shu`arā’):78 – 81

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,

dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,

dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,

dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) “

kita bisa datang menghadap kepada Allah, sesuai keadaan kita masing2 sebagaimana di teladani bapak Tauhid, nabi Ibrahim di atas.Yang terpenting sebenarnya adalah HADAPKANLAH wajah kita dengan lurus kepada Wajah-Nya

(Al-‘A`rāf):29 – Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah wajah (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)”.

Wallahua’lam bissawab

MENGEJAR ORANG-ORANG SUCI (2)

Para nabi dibekali dengan ‘pengetahuan langit’ yang membuat mereka begitu tajam dan holistik pandangannya, tetapi sekaligus membuat perbedaan pemahaman antara mereka dan orang awam semakin jauh. Saking jauhnya perbedaan pandangan itu, Para Nabi sering menjadi terasing.

Nabi Nuh berdakwah sepuluh abad, tetapi pengikut beliau hanya tiga belas orang. SEPULUH ABAD.

Nabi Musa berdakwah pada kaum pembangkang. Setelah segala mujizat spektakuler musa, dan baru saja ditunjukkan lagi pertolongan dengan tenggelamnya firaun, mereka malah mengatakan kepada Musa “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau, berperanglah engkau berdua, kami hendak duduk-duduk di sini saja.” Saat Musa mengajak memasuki tanah suci. Mereka meminta makanan turun dari langit. Setelah turun manna wa salwa mereka meminta pula variasi makanan kacang-kacangan. Puncaknya, mereka balik lagi menyembah patung sapi.

Begitu juga Hud AS, Begitu juga Yunus AS hingga Beliau sebegitu kecewanya dan meninggalkan kaumnya. Dan sederet nenama para Nabi masa silam dengan perjuangan mereka yang berat.

Betapapun permaafan adalah utama, tetapi Allah ‘mengerti’ keterbatasan manusia. Maka selain ada bab tentang welas asih ada pula bab tentang ketegasan. Mungkin ini adalah bentuk akomodir secara lahiriah, bentuk keadilan satu dibayar satu.

Dalam konteks permakluman terhadap keterbatasan yang manusiawi seperti di atas itulah, kita menjadi mengerti betapa beratnya dialektika batin para Nabi.

Ada permaafan dan permakluman beratus tahun, tetapi ada pula ‘doa’ yang menghancurkan. Sebuah doa yang mau tak mau muncul dari keletihan dan sekaligus kerinduan agar Allah datangkan orang-orang yang mengerti dengan risalah tauhid.

Di ambang batas perjuangan yang panjang itu, di ambang batas perbedaan pandangan itu, mereka mendoakan agar orang-orang yang membangkang itu diberikan balasan yang setimpal.

Disitulah kita mendengar cerita ummat terdahulu yang dihancur leburkan dengan bencana. Banjir. Gunung berapi.Topan-badai. Dikutuk menjadi kera.Ditenggelamkan di laut. Dan sebagainya. Allah menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, dan kita mengerti kepayahan para Nabi pengusung risalah Tauhid itu.

Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang paling mustajab. Nabi-nabi sebelum Rasulullah menggunakan doa mereka untuk menghancurkan musuh-musuh Allah. Tetapi Rasulullah menggunakan doanya untuk membentengi ummatnya.

Maka beliau Rahmat seluruh alam. Tersebab doa beliau, tidak akan ada lagi penghancuran masal kepada ummatnya, seperti disapu bersihnya ummat terdahulu. Seberapapun membangkangnya ummat, Allah tak akan menurunkan bala dari langit. Kita semua diselimuti doa Rasulullah. Beliaulah penghulu para Nabi.

Terlepas dari itu semua, kita melihat betapa Allah menurunkan pemahaman akan sifat-sifatNya melalui asbab Nuzul yang begitu luar biasa. Maka bagaimana kita tidak bersholawat kepada para Nabi?

Saat kita sekarang tinggal menyerap ilmu saja bahwa Allah-lah sebenar-benar pendidik, sedangkan realita penzahiran sifat itu sudah mereka yang pikul lewat penyampaian risalah beratus tahun dan orang yang paham bisa dihitung jari.

Kita tinggal menyerap ilmu saja bahwa Allah-lah sebaik-baik pelindung, sedangkan realita penzahiran sifat itu sudah mereka yang pikul, lewat darah dan air mata, diburu, diancam dibunuh, dan tragedi yang menghilangkan orang-orang terdekat.

Tiap kali dihadang cobaan, bagaimana kita tak teringat para Nabi.

Disitulah saya mengerti makna sholawat. Mengakui dengan jujur kepada Allah, bahwa keridhoan yang saya punya tak seujung kuku orang-orang suci masa silam.

Cukuplah saya mengaku bahwa saya tak punya daya, tak punya upaya, tak sanggup untuk mensabari segala coba sehebat mereka, tetapi mudah-mudahan sedikit cinta ini menjadikan Allah ridho dan mengumpulkan bersama-sama di syurga. Sebab rahmatNya semata, bukan sebab amal kita.

KONFERENSI SUFI DAN NGGONDELI DOSA

Dulu waktu saya kecil, mungkin waktu saya SD. Saya teringat di stasiun TVRI ada ceramah subuh. Yang ceramah seorang bapak tua -mungkin sufi atau orang arif-, beliau menceritakan sebuah kisah. Saya tak ingat sumbernya, tapi kisahnya menarik sekedar buat renungan.

Suatu hari di konferensi para sufi orang-orang berkumpul. Mereka mencoba merumuskan apakah taubat itu? Semua dedengkot sufi mengeluarkan pendapatnya. Orang-orang ramai berdebat, tapi kok rasanya belum menemukan sebuah definisi yang pas.

Disaat mereka semua masih belum menemukan definisi yang tepat, waktu istirahat sudah tiba dan masuklah seorang pelayan yang membawakan makanan. Seorang sufi iseng bertanya kepada pelayan itu, “Pelayan, tunggu….coba jelaskan apa definisi ‘taubat’ menurutmu?”

Sang pelayan yang ditanya mendadak itu bingung, lalu menjawab dengan polosnya, “Menurut saya, ‘taubat’ itu artinya melupakan segala dosa.”

Sang sufi berteriak kegirangan. “Nah…ini dia definisi yang kita cari-cari!!” ujarnya.

Kisah ini mungkin hanya rekaan. Tetapi, ada point menarik disini. Begini, saat saya mengamati sebagian orang-orang depresi berat tersebab mereka ‘mengamati’ dosa masa lalunya. Kemudian menjadi ‘enggan’ kembali kepada Allah, karena merasa tak layak. itu adalah ‘jebakan’.

Mengetahui kesalahan itu baik, mengenang-ngenang terus dosa sampai menjadi rikuh dan enggan kembali ke Allah adalah ghurur.

Mungkin itu sebab, Allah melarang seseorang menceritakan dosa yang dia sudah perbuat di masa lalu, kepada orang lain. Apa-apa yang Allah sudah tutupi, kenapa engkau buka? Tak boleh.

Ciri seseorang diberikan rahmat oleh Allah, adalah saat orang itu berdosa, maka dosanya tidak membuat dia lari dari Allah, melainkan menjadi jalan kembali pada Allah.

Mengingat dosa, adalah baik -kata Ibnu Qayyim- apabila mengingat dosa itu menerbitkan rasa ‘butuh’ kepada Allah, butuh rahmat dan pertolongan. Sebagai awalan untuk kembali.

Tetapi saat orang itu sudah meniti jalan pertaubatan, sudah menghabiskan waktu dengan mengingati Allah, lalu terpandang pada rahmat Allah, tertengok Jalal dan Jamalnya, maka melupakan dosa (berpaling dari dosa silam) adalah lebih baik baginya.

Istilahnya, “move on”, tidak “nggondeli” dosanya. Ibarat hati yang sudah penuh dengan ingatan Allah, kenapa kok dibawa masuk ingatan dosa?

Sama juga dengan wejangan seorang guru yang arif,  jika ada masalah, kita meminta tolong pada Allah dengan “doa”, artinya, masalah menjadi jalan kembali kepada Allah. Tapi…jika sedang tak ada masalah, jangan cari masalah. Jangan berdoa untuk hal yang tak perlu.

Ciri seseorang diberi rahmat oleh Allah, adalah saat orang itu ada masalah, masalahnya malah jadi jalan kembali kepada Allah.

Tetapi, setelah hati penuh dengan ingatan Allah, melupakan hal-hal yang tidak penting adalah lebih utama.

Kalau hati sudah bersih, maka jangan bawa masuk hal-hal yang bisa mengotorinya.

Itu sebab, sang arif tadi mengajark “kalau tak ada masalah jangan cari masalah!”

Janganlah kita “berdoa dan minta tolong Allah” untuk menentukan apakah kita makan nasi rames atau makan mie ayam?  Apakah pakai kemeja lengan pendek atau lengan panjang?

karena hal tersebut sejatinya tidak sedang mengganggu hati kita, hati kita sedang mengingati Allah, jangan kita bawa masuk hal yang tak penting.

Tetapi, jika memang ada hal yang besar yang mengganggu kita, maka disitulah kita jadikan hal itu sebagai jalan kembali padaNya. Lewat Doa dan permohonan.

Dan itu menjawab masalah pelik para pejalan ruhani, mana yang lebih utama ingat dosakah atau tak ingat dosa? Berdo’akah atau tidak berdo’a?

Jawabannya tergantung maqom.

Wallahualam.

HINGGA DIA YANG MENGANGKAT

Kita tahu, bahwa selalu ada dorongan di dalam diri manusia; barulah selepas itu terwujud menjadi sebuah aktivitas fisik.

Awalnya dorongan itu bisa saja merupakan dorongan rendah semisal nafsu jasadiah. Karena lapar, maka manusia makan misalnya. Tetapi seiring perjalanan hidup, orang yang kenal dirinya kenal Tuhannya menjadi paham bahwa dia hidup ada peranan, ada fungsi yang harus ditunaikan. Dia menjadi paham juga bahwa segala kejadian hidup adalah tentang Allah menyatakan diriNya. Maka lambat laun cara pandang / dorongan orang ini melakukan sesuatu bisa jadi berubah, lebih bermakna.

Contoh sederhananya, orang ini paham bahwa dia harus bekerja pada siang harinya, dia paham juga bahwa pekerjaan itu bukan tentang dia melainkan tentang ‘Allah membagikan rezeki pada orang-orang’, “kebetulan” saja dia terlibat. Dia tahu bahwa dirinya biasanya saat siang hari akan ngantuk dan tidak fokus; maka pagi harinya dia minum kopi, agar tertunaikan peranan dia dengan baik.

Nah…maka “minum kopi-nya” orang ini, KARENA ALLAH.

Sebuah dorongan yang timbul dari ‘pemaknaan tentang Dia’.

Dan kita tahu, bahwa dorongan ini tak bisa dibuat-buat. ALLAH sendiri yang turunkan. Maka dalam sebuah ayat terkutipkan perkataan Iblis pada Allah ‘Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlasin (ikhlas)’” (QS Shaad: 81-82). Mukhlasin berarti “dibuat ikhlas”.

Maka ikhlas adalah rahasia…di dalam rahasia….di dalam rahasia yang Allah taruh di hati hambaNya yang beriman.

“Berkaitan dengan ikhlas, aku bertanya kepada Jibril as. apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata,“Aku bertanya kepada Tuhan yang Maha Suci tentang ikhlas, apakah ikhlas itu sebenarnya? “ Allah swt. yang Mahaluas Pengetahuan-Nya menjawab, “Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Kucintai.“(HR. al-Qazwini).

Kalau ikhlas adalah melakukan sesuatu karena dorongan karena Allah, maka Ridho adalah sisi mata uang satunya lagi.

RIDHO adalah sikap dimana dia menerima apa yang diberikan pada dia sekarang, baru setelah itu dilanjutkan dengan dia bergerak ke arah lebih baik dengan dorongan IKHLAS.

Setiap detik, ada takdir menerpa kita. Setiap takdir adalah seakan pemberitahuan bahwa kita harus bergerak ke arah kebaikan.

Tertakdir dosa, berarti disuruh taubat. Ridho (terima) lalu ikhlas (bergerak dalam bingkai kepahaman akan Dia).

Tertakdir uang kehabisan, berarti disuruh bergerak mencari (bisa pinjam, atau kerja lebih keras). Ridho…lalu bergerak dalam bingkai ikhlas.

Jika tertakdir uang habis sedang dia merutuk-rutuk karena itu berarti dia tak ridho. Lalu dia bergerak kerja lebih keras karena ingin menyaingi pencapaian rekannya, berarti dia tak ikhlas.

Tak ada yang berbeda pada LUARANNYA, yang berbeda hanya YANG DALAM.

Itu sebab, syaikh Abdul Qadir jailani pernah berkata, “Seperti juga rasa lapar adalah takdir-Nya, kemudian Allah memerintahkan agar kita melawan takdir tersebut dengan makan yang juga merupakan takdirNya. Jika seorang hamba menyerah kepada takdir lapar, meskipun ia mampu untuk melawannya dengan takdir makan, hingga ia mati, niscaya ia mati dalam keadaan maksiat.”

Ngeri kan? Supaya kita tak keliru-keliru mana ridho mana ikhlas.

Nah…..kembali lagi tentang “maqom”. Memang ada, beberapa orang yang Allah takdirkan bahwa pandangan mata hati mereka sudah tidak lagi tertengok pada “sebab-akibat”. Sudah tertengok Allah melulu.

Misalnya, Maryam. Dia hanya sibuk beribadah, tetapi Allah turunkan dari syurga makanan-makanan ke mihrabnya.

Seandainya kala itu maryam ingin berusaha, “wah…ga ada makanan nih, masa di mihrab melulu, usaha dulu lah cari kerja.”

Maka Maryam sudah menjadi “turun” dari maqom yang tinggi. Pasalnya, Allah sudah letakkan dia pada maqom “tajrid” yaitu seseorang yang tak lagi tertengok pada sebab-akibat, tetapi tertengok pada Allah melulu. Kalau dia berusaha, maka turun derajat.

Sebaliknya, model kita-kita ini. Kalau lapar ga mau cari makan, ya lucu. Karena, kita bukan disana maqomnya. Kita adalah “asbab”, orang-orang yang masih terpandang pada sebab-akibat.

Maka pakailah petuah Syaikh Abdul Qadir, lapar…kerja, cari makan. Tapi ridholah….tapi ikhlaslah…

Sampai Allah sendiri yang menaikkan taraf kamu. Kata sang Syaikh.

———
*) Syaikh Abdul Qadir Jailani, dikutip dari buku Ibnu Qayim Al Jauziyah tentang taubat.

TANGGA-TANGGA PENGELIHATAN

Apakah gerangan alasannya, seorang sahabat dilarang Rasulullah menyedekahkan lebih dari sepertiga hartanya, sedang di saat yang lain Sayidina Abu Bakar RA kita tahu menyedekahkan SELURUH harta miliknya?

Hal yang seakan inkonsisten ini akan terjawab ternyata, jika kita memahami mengenai apa yang oleh orang-orang arif disebut MAQOM. Atau gampangnya kita istilahkan saja level spiritualitas.

Kita tahu, bahwa selalu ada di dalam diri manusia itu sebuah dorongan yang menyebabkan manusia melakukan sesuatu. Misalnya, karena ada amarah di dalam dirinya, maka manusia memukul orang lain. Itu misal.

Tetapi, khusus lebih spesifik untuk bahasan spiritualitas, orang-orang arif memberi istilah dengan “Ahwal / Hal / Kondisi ruhani” sebagai istilah yang membahasakan dorongan yang terjadi di dalam jiwa manusia itu. Dan memberi istilah lain yaitu “Amal” sebagai sesuatu yang terzahir atau terwujud sebagai aktivitas fisik.

Contohnya kira-kira begini. Karena seorang arif mendapatkan sebuah kondisi ruhani dimana dia merasakan betapa Allah itu Maha Berkuasa, maka secara lahiriyah orang ini akan terus-terusan menangis karena takut. Itu contoh situasi “dalam” menyetir aktivitas “luar.”

Contoh lainnya lagi misalnya, seorang arif mendapatkan sebuah kondisi ruhani dimana dia merasakan betapa Allah itu Baiiiiiiiik sekali. Maka secara lahiriyah orang ini akan senyam-senyum sendiri. Terus-terusan sumringah. Dan merasa hidup ini tanpa beban.

Dua contoh yang berbeda secara lahiriyah, karena kondisi ruhani yang mereka alami berbeda. Nah…selama dia masih sebatas kondisi ruhani begini, dia masih bisa berganti-ganti. Kadang begini, kadang begitu. Tidak tetap. Kadang khusyu’ kadang tidak.

Kondisi Ruhani masih bisa bolak-balik. Misalnya, tempo-tempo saya pernah merasakan begitu khusyuuuu sekali, seakan-akan saya sudah menyamai level para aulia. Dulu saya mengira itu adalah pencapaian spiritual saya. Tapi pas ada masalah, JEDEEERRRR. Goyang. Baru saya tahu bahwa kondisi ruhani waktu itu belum stabil.

Sedangkan “Maqom”, apa itu maqom?

Maqom adalah sebuah level dimana kondisi ruhani yang didapatkan seseorang itu sudah menetap. Teguh. dan tidak lagi bolak-balik. Dirinya betul-betul berubah, maka kita sebut dia “Naik Maqom.” Level spiritualnya naik..

Semakin tinggi maqom seseorang, semakin ibadah atau amal dia menjadi BEYOND / DI ATAS rata-rata orang umum. Tetapi ingat, hal itu disetir oleh kondisi DALEMnya, bukan dibuat-buat. Dan amal mereka tidak bertentangan dengan syariat yang umum, tetapi akan sulit dilakukan orang dengan level MAQOM dibawahnya.

Kalaupun orang dengan maqom dibawahnya mencoba meniru amal lahiriyah orang ini, pasti keliru. Ada yang kurang pas-lah.

Nah…ini kuncinya. Sebagai awalan, SYARIAT yang diajarkan Rasulullah SAW sudah diatur sedemikian rupa sehingga bisa DIAPLIKASIKAN semua maqom. Karena Rasulullah paham bahwa ummat beliau berbeda-beda levelnya.

Jadi kita jalankan syariat ini dengan sebaiknya, tahu tentang diri, tahu tentang Allah (Ma’rifatullah). Maka lama-lama maqom akan naik, dan tanpa sadar amalan lahiriah berubah sendiri menjadi lebih baik.

Jadi harus dari dalam ke luar. Jangan meniru amalan lahiriah (luar) orang dengan maqom puncak, jangan. Tirulah amalan syariat yang dicontohkan Rasulullah. Nanti kalau terus dilakukan, tanpa sadar akan pindah sendiri menjadi amalan dengan maqom orang yang lebih tinggi.

Hal inilah saya rasa, penjelasan mengapa Rasulullah sekali waktu membolehkan seseorang sedekah SEMUA harta, sekali waktu melarang orang lainnya sedekah lebih dari sepertiga harta. Ini juga penjelasan mengapa Rasulullah menganjurkan kita banyak-banyak berdo’a, tapi pada ceritra lainnya kita tahu bahwa Nabiyullah Ibrahim AS enggan berdoa saat detik-detik hendak dilempar ke kobaran api.

Jangan tiru amaliyah lahiriyah yang tinggi-tinggi dari para auliya. Tiru DALEMNYA. Kalau dalemnya sudah dapat. Nanti akan seperti Ibrahim AS. Mau dilempar ke api pun dia tak berdoa, sebab pengelihatan Beliau sudah sangat tajam dan mengerti bahwa semua dalam genggaman takdir Allah, dan Allah Maha Tahu apa yang terjadi, dan Allah tahu yang terbaik. Tapi DALEMANNYA Ibrahim AS setitikpun tidak berontak

Untuk kita-kita ini yang masih gelisah, masih ada senang dan sedih, harus menegakkan kehambaan dengan memuji Allah, meminta tolong padaNya, berlindung pada Nya.

Barulah nanti diperjalankan. Syukur-syukur sampai ‘maqom’ seperti Ibrahim.

Jika kondisi ruhani yang dalam sudah ketemu, bentuk amaliah lahiriyah akan berubah dengan sendirinya.

Kalau amalan lahiriyah yang ditiru, belum tentu kondisi ruhani bisa menyusul. Sederhananya, harus menuruti syariat yang umum yang dicontohkan kanjeng Nabi Muhammad SAW….Barulah nanti Allah akan memperjalankan kita ke maqom-maqom yang ditakdirkan untuk kita.

Semoga gambar di bawah ini membantu.

MAQOM

*) Hadist Qudsi: “Siapa yang lebih sibuk berdzikir kepadaKu dibanding meminta kepadaKu, justru Aku beri ia lebih utama dibanding yang Kuberikan kepada orang-orang yang meminta”.

SAMPAI JUMPA DI BATAS CAHAYA

Kurang apa Nabiyullah Ibrahim AS? Mendapat wahyu, dijuluki Khalilullah, tersingkap pandangannya, tapi suatu ketika Beliau pernah juga meminta agar Allah tampakkan bagaimana cara Allah menghidupkan yang telah mati.

Kurang apa Musa AS? Allah bercakap langsung padanya. Tangannya diapitkan ke ketiak; maka memancar cahaya putih cemerlang, tongkatnya bisa menjelma ular, barusan saja Fir’aun ditenggelamkan di laut setelah mengejar Musa dan kaumnya. Namun kita mendengar cerita, Musa meminta Allah menampakkan diri di bukit thursina.

Pertanyaannya apa dua Nabiyullah itu kurang yakin kepada Allah? Lama saya merenung, dan  Tentu tak mungkin mereka kurang yakin kepada Allah, mereka adalah Ulul Azmi.

Ulul Azmi berarti puncak maqom spiritualitas. Di antara Nabi-nabi terpilih, mereka the best-nya.

Jadi kenapa mereka masih meminta yang “aneh-aneh” setelah dibukakan kepada mereka tirai hijab?

Dulu saya bertanya, pastilah ada sesuatu yang  membedakan permintaan mereka dengan permintaan orang-orang yang menentang Allah dan meminta bukti? Tapi apa?

Sekarang saya baru mengerti bahwa permintaan mereka bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan efek dari kerinduan kepada Allah.

Orang yang kenal, menjadi rindu, yang rindu mencari-cari alasan untuk semakin dekat.

Seperti Nabiyullah Idris AS yang “macem-macem” cara beliau supaya dimasukkan ke syurga. Meminta malaikat maut mencabut nyawanya, lalu membawanya tamasya ke neraka dan syurga, lalu meninggalkan terompahnya di syurga supaya bisa kembali lagi kesana.

Saya rasa poinnya adalah mereka telah beriman, telah merasakan pahit getirnya ujian dan keridhoan, selepas itu mereka meminta sesuatu agar semakin bertambah keimanan di samping keimanan yang telah ada.

Beberapa rekan berbincang dan menambahkan kearifan yang mereka miliki sehingga saya menjadi lebih paham tentang ini.

Ini penjelasannya.

Hamba-hamba yang Allah sayangi, dianugerahi kerinduan untuk bertemu denganNya, dan itu terlihat dari rekam sejarah seperti yang kita bincang di atas. Tetapi ada perbedaan sikap yang memberi kita pelajaran besar

1. Nabi Musa dengan berbagai ujian dan pertolongan Allah, tentunya sadar betul bahwa Permintaan beliau adalah melebihi keinginan manusia biasa, beliau ingin bertemu langsung dengan pencipta-Nya, dan setelah Allah buktikan, ternyata Nabi Musa tidak sanggup dan beliau mengucapkan Subhanallah ketika sadar dari pingsannya dan segera bertaubat…. (QS Al A’raf:143 ).

2. Nabi ibrahim memiliki keinginan kuat dengan menggunakan akalnya mencari Tuhannya, sehingga berucap “telah lelah mencari…” namun Beliau tetap bersujud sampai Allah menunjukkan buktikan kekuasaan Nya agar keyakinan nabi ibrahim semakin mantap (QS Al An’am:79 )

3. Sangat berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, begitu ikhlas dan pasrahnya menyerahkan jiwa dan raganya untuk memenuhi kewajibannya sebagai rasul Allah SWT, dengan pedihnya sebagai manusia biasa kehilangan semua keluarga yg menyayangi dan melindunginya dalam berdakwah, justru beliau tidak meminta apa-apa kepada Allah, tetapi Allah lah yang menghibur kekasihnya dengan peristiwa Isra Miraj (QS Al Isra:1).

Kita mengerti bahwa peristiwa Mi’raj yang dialami Rasulullah, Beliau diangkat ke atas langit sampai di batas tirai nur dan arasy Allah. -Seorang Arif mengatakan bahwa peristiwa itu tidaklah berarti bahwa Allah bertempat di sana (karena ‘bertempat’ adalah sifat bagi makhluk) melainkan peristiwa itu menunjukkan kemuliaan tempat itu-.

Tapi yang paling pokok adalah, Rasulullah ‘bertemu’ Allah pada puncak kepasrahan Beliau, dan diberikan oleh-oleh berupa perintah sholat. Jenak yang merupakan kesempatan mi’raj bagi semua Umat Beliau, untuk juga bertemu Allah dan merasakan kondisi pertemuan seperti yang dirasakan para Nabi. Rasulullah tak pergi dan menikmatinya sendirian, beliau membawa pulang keberkahan itu untuk kita.

Maka, kata guru-guru yang arif. Saat berada di puncak kerinduan. Saat para pencari diterpa ujian di titik yang nadir. Saat kesendirian membalut sepi. Saat keseharian didera rutinitas yang klise. Saat apapun saja, Umat Muhammad SAW tak usah lagi mencari-cari cara yang lain untuk mengobati duka lara dan rindu, pergilah mi’raj lewat sholat, dan temuilah Allah. Sang Empunya kehidupan ini.

Meski belum bisa sekualitas mereka, tetapi pemahaman yang benar akan makna sholat ini mudah-mudahan menghantarkan kita juga untuk bertemu di batas cahaya.

——
Terimakasih Pak Ahmad, Pak Deka, Pak Sahry atas tambahannya

TONGKAT MUSA

Sekian lama belajar pelan-pelan pada guru-guru kearifan yang mengajarkan ihsan, saya mengamati ada keterpisahan yang halus di dalam diri.

Sering saya merasa seperti terasing di keramaian. Melihat hidup sangat berbeda dengan orang lain. Terkadang saya melihat benda-benda di sekitar saya, lalu tempo-tempo saya bertanya-tanya, “Untuk apa semua ini?”

Setelah menyadari bahwa ada “Sesuatu Yang Tahu” di dalam diri ini, sebuah bashiroh, kesadaran yang independen, hati yang halus yang sebenarnya terpisah dengan apapun saja; saya jadi kadang berfikir, kenapa manusia bekerja keras? Apa yang dikejar? Bukankah manusia bisa menjadi bahagia jika manusia itu melepaskan keinginan dirinya dari benda-benda? Artinya manusia itu bisa bahagia dengan begitu sederhana, tanpa perlu bekerja keras dan larut dalam segala kesibukan yang menyita perhatian.

Cukup lama saya berada dalam bimbang seperti ini, tetapi saya menyadari seperti ada potongan puzzle lagi yang belum genap.

Saya bertanya sendiri, “kalau semua manusia memutuskan untuk menjadi bahagia dengan melepas semua keinginan, dan menjalani hidup yang romantis dengan punya rumah di dalam hutan, di pinggir air terjun, hidup dari memancing ikan di pinggir rumah, makan dari sayur di kebun sepetak, siang hari tiduran dan minum air kelapa, sore memandang senja, lalu siapa yang bergerak dan membangun peradaban?”

Lebih-lebih lagi, bukanlah hal tersebut keinginan juga? Keinginan yang tersembunyi untuk hidup enak tanpa beban?

Lalu saya menyadari, bahwa setiap orang memiliki peranan yang sudah digariskan untuk membangun kehidupan dan memainkan fungsi kekhalifahan. Setiap fungsi kekhalifahan dilengkapi perangkat kebendaan.

Orang-orang yang memandang kehidupan sebagai perlombaan koleksi benda-benda, akan diperbudak oleh harta. Hidup dalam kebahagiaan yang begitu rentan dan rapuh. Hilang benda, sengsara-lah yang DI DALAM mereka.

Tetapi orang-orang yang memandang kehidupan sebagai kehormatan terlibat dalam peran kekhalifahan, akan memandang harta sebagai perangkat semata.

Mendudukkan benda sebagai benda saja. Bukan sesuatu yang membuat jumawa, tidak juga sesuatu yang menjadikan canggung yang tak pada tempatnya.

Ramai, orang-orang berdebat larat, “Apakah Rasulullah SAW kaya?” tanya mereka.

Satu kubu mati-matian mengatakan Rasulullah kaya, dan menganjurkan orang-orang untuk kaya. Satu kubu mati-matian mengatakan Rasulullah adalah miskin papa, hidup diantara orang miskin, berkumpul diantara orang miskin.

Sekarang saya baru paham, Rasulullah memandang benda sebagai benda semata. Perangkat untuk menjalankan peranannya.

Jadi bukan masalah kaya atau tak kaya, berkuasa atau tak berkuasa. Tetapi jika dalam menjalankan fungsi kekhalifahan itu ada sesuatu perangkat yang kita perlukan, maka bekerja sajalah, dan ambil perangkat itu sebagaimana “tongkat” Musa, yang ‘membantunya berjalan.’

Jika di dalam peranan itu ada porsinya bahwa fungsi kekhalifahan hanya akan bisa dijalankan jika disupport unta merah, maka pakai saja unta merah.
Maka di satu sisi kita lihat Rasulullah punya perangkat terbaik seperti unta itu, ibarat perangkat BMW terbaru penunjang mobilitas,  tapi di kali lain makan saja tak ada hingga beliau puasa. Benda-benda menjadi easy come easy go.

Begitu juga jika peranan kita adalah semisal mendakwahkan tauhid pada orang-orang “hebat” yang sakti dengan kedigdayaan mereka, maka perangkat ‘tembus pandang’, ‘kasyaf’,  ‘weruh sak durung winarah’, adalah perangkat yang boleh jadi dianugerahkan pada kita sekadar untuk menjalankan fungsi.

Sebagaimana Musa yang melawan ahli sihir, maka harus spektakuler pula tongkatnya, bisa jadi ular, laut bisa dibelah.

Di lain sisi Rasulullah, beliau tak perlu membelah laut, karena peranan beliau adalah menghadapi kaum yang lincah dalam susastra, maka Qur’an jawabannya.

Jika ilmu dan ilham kepahaman turun sesuai peranan, maka saya kira perangkat kebendaan pun akan turun sesuai peranan.

Bukan masalah kaya atau tak kaya, bukan sakti atau tak sakti, kuasa tak berkuasa, tetapi semua didudukkan sebagaimana porsinya saja.

Perangkat membantu kita menjalankan peranan. Peranan menghantarkan kita pada pengenalan skenario. Skenario menceritakan pada kita tentang Sang Empunya.