PUZZLE ITU BERNAMA PERANAN

Pada awalnya menekuni dunia tasawuf -dari awalnya pemahaman keagamaan yg begitu kaku dan melulu syariat-, saya mengira bahwa sebenarnya jalan apapun yang digunakan manusia untuk menemui Tuhan, toh pada akhirnya akan sampai juga, karena Tuhan ya  yang itu saja dan satu-satunya, hanya saja manusia menyebutnya beragam-ragam.

Pendeknya, dulu saya mengira beragam jalan dan metoda akan sampai pada tujuan yg sama.

Permakluman ini, dulunya saya kita sebagai sebuah sikap welas asih yang sangat sufi.

Belakangan saya menyadari fakta kebijakan yang lainnya lagi, dari yang pertama begitu permisif akan pemahaman bagaimanapun tentang Tuhan, saya menjadi sadar bahwa manusia lebih sering kelirunya daripada benarnya dalam urusan pemahaman tentang Allah. Maka itu para Nabi diutus. Karena persepsi orang-orang tentang Allah sering keliru sepanjang sejarah manusia.

Para Nabi ‘rela’berdarah-darah dalam upaya membetulkan pengenalan manusia tentang Allah.

Jadi tak mungkin semua pahaman dan semua metoda benar. Mesti ada garis batas bahwa ada pahaman benar dan ada pahaman salah.

Belakangan, saya seperti menemukan puzzle yang menggenapkan pemahaman yang tadi belum utuh.

Puzzle itu bernama PERANAN.

Setiap orang harus menjalankan PERANAN mereka. Mendakwahkan sesuatu kepahaman yang mereka yakini sebagai sesuatu yang benar. Dengan ini dunia akan dinamis.

Tetapi, manusia tidak boleh menggunakan konteks bahasa Allah pada makhluk. Bagaimanapun ada adab hubungan makhluk-makhluk.

Contoh sederhana. ALLAH SWT berhak -dengan segala kapasitasNya- untuk memanggil Nabi Muhammad SAW sebagai ‘Yang bermuka masam’dalam surat abasa.

Tetapi sesama makhluk, mana boleh kita panggil Beliau dengan sebutan itu?

Sama juga, Allah berhak mengancam dengan neraka, mengancam dengan azab, dll.

Tetapi dalam konteks pergaulan sesama makhluk, kita tak boleh mendaulat diri sebagai orang yang mengancam dengan neraka, mengancam dengan azab.

Karena yang kita lihat di dunia ini sering terbalik-balik dengan kenyataannya. Ada pendosa rupanya jadi wali di ujung hidupnya, ada ahli ibadah rupanya keliru dan tertipu dengan amalnya. Siang di dalam malam, malam di dalam siang.

Baru saya mengerti, PERANAN kita sebatas penyampai, dan penyampai bagaimanapun tak boleh mengenakan selendang Tuhan (yaitu kesombongan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s