JALAN ORANG-ORANG YANG KEMBALI

Ceritanya, kalimat Bismillahirrahmanirrahim tidak akrab di telinga orang-orang arab masa-masa awal Rasulullah diutus. Yang mereka lebih akrab adalah kalimat “Bismika Allahumma”. Yang artinya kurang lebih “dengan nama-Mu ya Allah, Tuhan kami.

Orang-orang kala itu masih ‘Akrab’ dengan namaNya, tapi tidak tepat dalam memposisikan sifat Tuhan. Allah adalah sebuah entitas yang jauh dan seram dalam pandangan mayoritas orang waktu itu. Sampai-sampai mereka membuat patung-patung yang mereka tahu itu bukan Tuhan, tapi mereka tetap buat juga itu patung sebagai media perantara antara mereka dan Tuhan. Karena Allah adalah sebuah entitas yang tak terjangkau dalam benak mereka.

Dan kepada kaum inilah, kepada orang-orang yang begitu salahnya mempersepsikan Tuhan, Allah memperkenalkan kembali dirinya lewat sifat Rahman-Rahim. Sifat ini yang menjadi pengantar tema besar diutusnya Nabi Muhammad, yaitu membenarkan posisi Tuhan dalam benak khalayak, bahwa Rabb penguasa jagad raya ini adalah yang maha penyayang dan welas asih. Bismillahirrahmanirrahim, begitu Rasulullah memperkenalkan.

Saya jadi berfikir. Seandainya, Rabb kita ini memperkenalkan dirinya sebagai yang Maha pengasih dan Penyayang pada segolongan orang-orang yang memang pada dasarnya baik; kita bisa menebak bahwa pengenalan diri oleh Allah itu adalah semacam balas kebaikan pada kaum yang bersih dan terjaga. Tapi kok tidak. Nyatanya Allah mengusung Rahman Rahim sebagai sifat yang dikedepankan; bahkan pada golongan orang-orang yang dalam literatur kita temukan sebagai brangasan dan rusak.

Suatu kali, waktu saya sedang makan siang di sebuah tempat pinggir jalan raya dekat kantor, saya iseng mengamati ekspresi orang-orang. Ada karyawan yang sambil makan siang sambil meeting. Ada seorang perempuan yang minum kopi sambil mukanya berekspresi suram. Ada orang-orang yang wajahnya bersih dan ceria. Tapi ada juga anak-anak remaja tanggung sibuk main gadget sambil merokok. Begitu beragam. Namun saya merasakan bahwa betapa segala macam tipe manusia inilah yang TETAP, TETAP terkena welas asih Tuhan.

Allah itu kalau pengen baik, ya baik saja. Tidak perlu apa-apa. Tidak perlu latar belakang.

Masyhur kita dengar, betapa kalau misalnya ada seorang pendosa ber-taubat, maka Allah begitu gembira sekali sampai melebihi rasa gembiranya seorang yang hilang untanya di padang pasir panas, lalu keletihan dan capek mencari untanya sampai putus asa, lalu ketiduran, dan bangun tidur sudah menemukan untanya ada di depan matanya. Gembira sekali pasti orang itu. Dan penerimaan Tuhan pada orang-orang yang “kembali” adalah lebih lapang lagi dari rasa gembira orang itu tadi.

Dan saya semakin meyakini bahwa keputus-asaan akan Rahmat Tuhan, merupakan durhaka paling besar. Seakan-akan kita bisa menilai bahwa Allah begitu emosional dan tersinggungan sampai tidak mengampuni dosa.

Bukan berarti menggampangkan dosa. Tapi saya baru menyadari konteks yang tepat untuk tema ini adalah pada seorang pendosa yang salah memahami sifat Tuhan. Betapa banyaknya di sekitar kita, orang-orang yang  dalam hatinya yang tersembunyi ada pelita yang masih menyala redup. Rasa ingin kembali pada Tuhan itu masih ada. Tapi tertutup rasa malu. Tertutup rasa tidak mungkin diampunkan. Tertutup rasa sudah paling berdosa dan kadung. Dan macam-macam lagi jebakan yang membuat orang yang sebenarnya ingin kembali lalu tidak jadi kembali ke Tuhan. Sepertinya sekali berdosa tetaplah jadi pendosa.

Koruptor yang dipenjara. Preman yang merasa dirinya sampah masyarakat. Orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak ada waktu untuk kontemplatif dan mengingat tujuan hidup. Dan macam macam.

Untuk orang-orang yang berbagai-bagai inilah, yang sudah hampir putus asa dengan rusaknya dirinya sendiri inilah, Allah memperkenalkan diri sebagai yang Rahman dan Rahim. Pengasih dan Penyayang. Yang baik tanpa perlu alasan. Betapa lembutnya.

Seakan-akan, bahkan orang pendosa sekalipun, memiliki jenaknya untuk dekat dengan Tuhan. Yaitu lewat kesadaran bahwa jika dia taubat, Tuhan yang maha Welas Asih itu pasti masih akan menerimanya. Ayolah…kembali pulang.

Seorang teman pernah bercerita pada saya tentang masalahnya. Saya tak tahu penyelesaian masalah itu bagaimana. Saya menanggapi sekedarnya saja, sambil menyarankan bagaimana kalau tiap dia selesai sholat dia sempatkan dirinya untuk sejenak duduk agak lama, dan istighfaran yang benar-benar, dengan mentalitas ingin pulang. Ingin kembali. Ingin dekat, dan sudah capek dengan riuh dunia ini.

Dia mengatakan, bahwa betapa dia merasa berdosa. Sudah jauh tersorong dari rel yang lurus. Mendengar cerita kawan saya itu, saya lalu merasakan betapa orang-orang seperti kita inilah yang sebenarnya sedang ditunggu-tunggu Allah untuk pulang. Pendosa yang melenceng dan dinantikan kembalinya.

Sebuah cerita saya kutipkan untuk kawan saya tadi, cerita tentang seorang pendosa yang bertanya pada Rabi’ah Al adawiyah. “Saya pendosa yang bejat, kalau saya bertaubat, akankah Allah mengampuni saya?” tanya orang itu.

Rabiah menjawab, “Kalau Allah mengampunimu, pastilah kau tertakdir bertaubat”.

Logikanya dia balik. Berarti, jikalah masih ada secercah rasa ingin pulang, rasa malu, rasa penat dengan kesalahan, rasa ingin minta tolong, rasa rindu dalam hati kita, itulah pertanda Allah mengampuni kita. Janganlah pikir panjang. Pulang saja. Taubat.  Karena kasih Allah mengalahkan murkanya.

Sebulanan lebih kemudian, saya chatting dengan kawan saya itu. Masalahnya belum ada jalan keluar, tapi dia katakan hatinya menjadi sangat tenang. Tenang sekali. Saya melihat bukti bahwa siapapun dia yang ingin “pulang” pasti diterima.

Baiknya Allah, kata orang-orang yang arif, adalah Allah tidak butuh dengan sembah sujud kita.

Artinya kalau kita bertaubat, maka bukan berarti Allah menjadi semacam tertinggikan derajatnya dengan pengakuan kesalahan kita. Tidak. Tapi kita sendirilah yang lepas dari belenggu masa lalu dan kembali pada kebahagiaan yang lebih sejati. Taubat itu adalah mekanisme kita menuju Allah dan lepas dari hijab dosa masa lalu.

Kalau misalnya kita mengucap kesyukuran di lisan, bukan berarti Allah menjadi semacam termuliakan karena pengakuan kita akan kedermawananNya. Tidak. Melainkan kita sendirilah yang lepas dari belenggu kebahagiaan semu yang berkaitan dengan harta dan kejadian dalam hidup, menuju kebahagiaan yang lebih sejati, yaitu “kembali” ke Allah. Bersyukur adalah mekanisme kita menuju Allah dan lepas dari hijab penyebab kebahagiaan yang sementara.

Sama seperti saat kita berkurban. Allah tak perlu kambing dan sapi. Tapi saat kita melepaskan keterikatan kita dengan duniawi lewat pembelanjaan uang itulah, sejatinya kita melepas halangan yang membebat kita untuk “kembali”.

Jadi, orang baik menuju Tuhan lewat kebersyukuran akan amalnya. Tapi orang “jelek” pun punya kans yang sama untuk bahagia, yaitu lewat jalan pertaubatan yang melintasi rasa malu, sungkan, rasa tidak layak, dan lain semacamnya. Yang di ujung sana Allah sudah menanti kita dengan rasa bahagia yang lebih besar dari orang hilang untanya di gurun membara, dan menemukannya lagi kala bangun dari tidurnya yang penat dan lama.

Jadi jangan sombong pada orang yang kali ini tertakdir berdosa, bisa jadi dosanya sekarang adalah pengantar pertaubatannya kelak, kita tidak tahu, bahwa Allah begitu gembiranya menemukan bahwa pendosa yang bersimbah salah itu menitis air mata dan mengaku ingin pulang. Ketimbang kita yang merasa bersih dan tidak juga rindu-rindu ingin kembali.

———
Posting ulang dari blog saya di http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s