MALAIKAT, SETAN, DAN FIKIRAN-FIKIRAN

Konon, kata orang-orang arif. Perjalanan yang bisa menumbuhkan kearifan itu ialah perjalanan “ke dalam”. “Journey Inward”.

Maksud mereka begini. Seiring dengan perkembangan kedewasaan kita, mau tidak mau, salah satu syarat agar kita bisa menjadi semakin arif adalah sering-seringlah melakukan perjalanan ke dalam diri kita sendiri. Mengenal diri. Siapa kenal dirinya, maka kenal Tuhannya, kata peribahasa.

Rupanya, kata para guru-guru kearifan yang mengajarkan pembersihan hati, salah satu yang “wajib” kita kenali dari diri kita ini ialah ‘khatir‘ atau lintasan fikiran.

Lintasan fikiran, atau bahasa arabnya ‘khatir‘, adalah sebuah fikiran yang muncul tanpa kita rekayasa. Biasanya, fikiran yang muncul dengan sendirinya inilah yang kalau kita terbawa, bisa membesar menjadi niat, dari niat menjadi sebuah tekad yang sangat kuat dan akhirnya berujung menjadi sebuah tindakan yang kita lakukan.

Supaya tidak absurd, ini contoh realitanya. Misalnya ketika kita sholat. Begitu kita takbiratul ihram, rupanya beribu-ribu khatir langsung melintas di kepala kita. Tiba-tiba ingat sendal di luar musholla. Tiba-tiba kepikiran mengenai kerjaan. Ingat makanan. Ingat anak. Tiba-tiba kesal sama AC musholla yang rasanya kok kurang dingin. Macam-macam. Itulah khatir. Lintasan fikiran.

Sebenarnya, lintasan fikiran ini muncul tidak hanya di dalam sholat, melainkan hampir dalam seluruh perikehidupan kita dia muncul. Hanya saja tidak kita sadari. Dan hampir seluruh tindakan dalam kehidupan kita didahului oleh khatir.

Misalnya kita pergi ke bengkel motor di hari minggu pagi, didahului oleh khatir mengenai ingatan bahwa motor kita belum diservice padahal sudah sekian bulan. Khatir itu kita ikuti, atau lebih tepatnya kita “terbawa” oleh khatir itu, dan akhirnya menjadi sebuah tindakan.

Tidak hanya tindakan, melainkan perasaan kita juga disetir oleh khatir. Misalnya, kita sedang kerja, lalu ada email yang tidak menyenangkan dari bos kita. lalu ada khatir yang lewat di hati kita, jangan-jangan bos kita sudah tidak suka sama kita. Jangan-jangan kita mau dipecat. Khatir model begitu, kalau kita biarkan menguasai diri kita, maka seharian kita akan terjebak dalam suasana hati yang tidak menyenangkan.

Itulah kenapa, guru-guru kearifan bahkan hampir-hampir mengatakan bahwa usaha kita untuk mengenal khatir –yang pada dasarnya adalah usaha mengenal diri; dan pada gilirannya merupakan upaya untuk lebih kenal dengan Tuhan- hampir-hampir menjadi wajib.

Karena betapa pentingnya kita mengetahui suatu motif, atau awalan dari tindakan kita.

Tentu saja, khatir itu tidak selamanya buruk. Dalam beberapa literatur sudah jamak kita ketahui bahwa bisikan-bisikan kebaikan juga disusupkan kedalam hati manusia, oleh malaikat. Dan bisikan-bisikan keburukan disusupkan oleh setan. Sedangkan, ada pula bisikan-bisikan yang muncul dari ego pribadi kita, atau hawa nafsu yang lagi-lagi cenderung pada keburukan. Jadi dua banding satu. Betapa kita kewalahan kalau tidak pandai mengenal diri. Ujug-ujug kita sudah terjebak, kok seharian ini saya was-was ga jelas ya? Rupanya usut punya usut tadi pagi waktu berangkat kantor ada lintasan fikiran yang membuat kita kesal dengan kemacetan jakarta. Ada pula lintasan fikiran yang membuat kita teringat dengan sikap tetangga yang kurang menyenangkan. Dari kesemua lintasan fikiran yang buruk itu, tidak satupun yang kita tepis. Dan alhasil lintasan fikiran itu membesar dan menguat, menjadi sebuah perasaan batin yang menguasai kita. bayangkan betapa menderitanya kita hidup kalau setiap hari perasaan kita disetir oleh lintasan-lintasan fikiran yang datang. Salah satu ciri kita sudah disetir oleh lintasan fikiran itu ialah kalau kita tidak sadar tiba-tiba sudah terjebak pada sebuah suasana hati yang tak enak dan kita tak tahu kenapa. Kalau bahasa Al-Qurannya ialahwaswisufi sudurinnas. was-was di dalam hati kita.

Sekarang pertanyaan menariknya ialah, bagaimana cara agar kita bisa ‘aware‘ dengan lintasan fikiran kita sendiri?

Sederhana saja rupanya, kata guru-guru. Dzikrullah!! Dzikir yang sebanyak-banyaknya.

Dengan banyak berdzikir, lintasan-lintasan fikiran itu akan sulit masuk. Kalaupun masuk, akan ada semacam jarak mental antara kita dan lintasan fikiran itu, sehingga kita bisa lebih cepat awareterhadap lintasan fikiran itu. Baikkah, atau burukkah lintasan itu? kita terbiasa semacam deteksi dini.

Ada kisah, suatu hari saya sedang bertandang ke kantor client saya dalam rangka meeting. Usai meeting saya makan di kantin kantor itu. Sambil makan, saya membaca sebuah buku Syaikh Abdul Qadir jailani. Lagi enak-enaknya membaca buku, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sapaan seorang teman. Rupanya beliau teman lama saya yang kebetulan bekerja di kantor client saya tadi. lalu kami ngobrol-ngobrol ngalor ngidul.

Yang menarik, tepat saat pertama kali rekan saya datang itu, di hati saya ada sebuah lintasan fikiran yang berkelebat, “wah…kebetulan ini, lama tidak bertemu teman lama, pas ketemu pas saya sedang baca buku agama. Mantap!”

Saya langsung istighfar. Astaghfirullah…. itulahkhatir. Lintasan fikiran yang datang begitu saja tanpa kita rekayasa. Involuntary tought. Dianya bisa baik, bisa buruk. Dalam kasus saya, jelas itu lintasan khatir buruk. Dalam bahasa yang lain, mungkin itu ilham fujur. Keburukan.

Dan sering-sering mengamati khatir nantinya bisa membuat kita mengenal keburukan-keburukan diri kita, siapa kita sebenarnya, apa motif landasan di balik perilaku-perilaku kita, kesemua hal yang halus-halus yang selama ini tidak kita sadari.

Dan dalam tingkatan yang lanjut, kata guru-guru, dzikrullah yang rutin dan kebiasaan mengamatikhatir itu kan membuat kita bisa membedakan, apakah bisikan ini dari diri kita sendiri, was-was keburukan dari setan, atau petunjuk kebaikan dari Tuhan.

—-

posting ulang dari blog saya http://www.debuterbang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s