IQRO’ SEPANJANG PERJALANAN

Kira-kira apa maksud dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, IQRA’?

Wahyu itu turun saat Rasulullah sedang begitu gelisah melihat kondisi masyarakat yang carut-marut, tapi beliau tidak mengerti apa yang harus dilakukan, pun tidak mengerti apa yang harus dimaknai. Tapi beliau gelisah dengan kondisi itu.

Dalam konteks seperti itulah Jibril A.S turun dan mentransfer wahyu “IQRA'” baca!

Waktu kecil dulu, saya pikir Jibril turun membawa gulungan perkamen dan menyuruh Rasulullah membaca, dan beliau tak bisa membacanya karena Beliau buta huruf. Sekarang tentu kita semua mengerti bahwa bukan membaca seperti itu maksudnya. Tetapi ‘membaca’ kehidupan, ‘membaca’ hikmah pada konteks kejadian apapun yang menghampiri kita.

Seorang ulama ada menjelaskan, kalau kita tengok keseluruhan surat, di sana tak ada keterangan mengenai apa yang dibaca. Melainkan adanya keterangan cara membaca. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Berarti, setiap manusia memang akan memiliki objek pembacaan yang berbeda-beda, sesuai dengan kejadian hidup mereka masing-masing. Tetapi syaratnya tetap, untuk bisa membaca dan untuk bisa ‘diajari’ dengan perantaraan kalam, kita harus Bi Ismi Rabbika.

Banyak guru-guru kearifan yang mengajarkan kepada kita, bahwa sebenarnya “perjalanan menuju Allah” itu sudah diseting oleh Allah sendiri. Dan setiap manusia memiliki jenaknya sendiri.

Dalam keseluruhan panjang jenak kehidupan manusia itulah mereka harus IQRO. agar mereka diajari lewat perantaraan ‘kalam’, dan syarat IQRO’-nya -‘membaca’ hikmah pada konteks kejadian hidup yang kita alami- harus Dengan Nama Tuhan.

Tersebab, Allah memiliki sifat-sifat. Sifat-sifat Allah terangkum dalam nama-namaNya yang baik. Asmaul Husna. Dan segala kejadian hidup yang tergelar ini adalah menyatakan sifat-sifat itu.

Sebagaimana Al-Qur’an yang turun selalu berkait dengan konteks kejadian hidup, begitu juga kepahaman yang turun pada kita pastilah terkait dengan kejadian hidup. Asalkan kita selalu IQRO’ dengan jujur.

Semisal, masyhur kita dengar ada ilustrasi seorang ‘abid yang begitu tekun beribadah, namun dalam suatu kali -oleh Allah- sang ‘abid dibuat berdosa.

Jika sang ‘abid kemudian frustasi untuk menuju Tuhan, karena merasa sedemikian banyak amal kebaikannya ternyata kemudian kok ada celanya juga, berarti sang ‘abid tidak IQRO’, dan ini menandakan sang ‘abid berjalan menuju Tuhan dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Bukan dengan mengharap ridho dan pertolongan Allah SWT.

Akan lain ceritanya, jika sang ‘abid yang khilaf tadi IQRO’, mengakui kesalahan diri, dan hasil ‘pembacaannya’ akan mengantarkan dia pada kesimpulan bahwa daya berketaatan dan upaya lari dari kemaksiatan semata-mata karena pertolongan Allah. Sang ‘abid akan berhenti mengandalkan kemampuan diri. Dan semakin berharap pada Allah.

Dia akan tetap beribadah, tapi ibadahnya sudah dimaknai sebagai sebuah bentuk minta tolong kepada Tuhan. Bukan sebagai bentuk unjuk prestasi.

Kisah hidup sudah tertulis dan digelar. Dalam sepanjang kisah hidup itu umpamanya ada siang dan ada malam-nya.

Allah berkuasa memasukkan malam ke dalam siang, siang ke dalam malam. Ada kebaikan dalam sesuatu yang ternampak buruk, atau boleh jadi ada hal buruk yang terselinap di dalam kebaikan.

Tugas kita adalah IQRO’. Baca keseluruhan panjang konteks hidup kita dengan nama Allah.

Dan akhirnya saya baru paham apa maksud guru-guru kearifan yang mengatakan bahwa perjalanan menuju Allah itu tidak akan sampai jika tidak bersama Allah.

Orang yang tidak bersama Allah, tidak IQRO’ dengan nama Allah sepanjang perjalanan hidupnya, akan menemukan bahwa betapa dia kecewa dengan kemampuan dirinya yang sering kali salah, silap, dan terjatuh. lalu dia surut ke belakang.

Orang yang selalu IQRO dengan nama Allah, bersama Allah sepanjang perjalanan hidupnya, akan semakin mengerti bahwa dirinya memang tidak bisa diandalkan. Dia menjadi paham bahwa Yang memberi petunjuk ialah Allah, Yang Memberi Hidayah adalah Allah, amal-amal manusia adalah karunia dariNya, buah dari amal pun karuniaNya juga. Yang Maha memberi ilmu adalah Dia. Yang Selalu Mengampuni kita pada perjalanan pertaubatan yang turun-naik juga Dia.

Mengerti fakta itu; semakin dirinya minta tolong kepada Allah.

Seluruh perikehidupan dia dimaknai sebagai permohonan pada Allah. Ibadahnya adalah minta tolong. Kerjanya adalah minta tolong. Dalam jatuhnya dia teringat Allah. Dalam khilafnya juga dia kembali kepada Allah.

Orang-orang yang selalu IQRO’ bi Ismi Rabbi inilah yang akan mendapatkan kepahaman, dan diajari oleh yang Maha Pemurah, yang Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s