PAGELARAN ISMI ROBBI

Jika kita tidak memandang kehidupan dalam konteks pagelaran ISMI ROBBI (Allah menyatakan diriNya dengan menggelar sifat-sifatNya dalam kehidupan), kita akan segera saja menjadi mengira konteks hidup ini adalah kita, maka kita ‘wujud’.

Kita bekerja; kita kira konteksnya adalah kepala rumah tangga menjalankan kewajiban cari rizki. Maka kita ‘wujud’ dan merasa kita yg bekerja keras. (PADAHAL, konteksnya adalah Allah sedang tunjukkan bagaimana pengaturanNya tentang rizki. Allah tunjukkan pada kita bagaimana caraNya membagikan rizki untuk keluarga kita. Allah mengajari tentang asmaNya Yang Maha Memberi Rezeki)

Yg merasa berperan akan gampang tersinggung. Semisal , “sudah capek-capek kerja keras banting tulang, malah ga dianggep, ga ada terimakasih.” dan seterusnya.

Sedangkan yang memandang kehidupan sebagai cara Allah menunjukkan sifat-sifat, lewat pagelaran ISMI ROBBI,  akan ‘hilang dirinya’ tertengoklah pengaturan Allah dimana-mana.

Dalam perjalanan spiritualpun sama.

Kita meniti jalan pulang. Kita keliru mengira konteksnya adalah kita berjuang menuju Allah dengan segala peribadatan kita.

Maka siap-siaplah kecewa. Karena peribadatan manusia tak pernah sempurna.

Semakin menyadari diri banyak cela, orang yang tak melihat pengaturan Allah akan surut ke belakang, “ga mungkin aku sampai ke Allah.”  Kita memandang diri, bukan memandang Pengaturan Allah lewat pagelaran ISMI ROBBI.

Sedangkan, orang yang memandang perjalanan spiritual dalam konteks ISMI ROBBI jadi menyadari, kita diperjalankan.

Allah mengenalkan diriNya yg maha memberi hidayah, Yang Memahamkan.  Yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Dia pahamkan akan agama.

Saat sang pejalan tersilap dan menurun ibadahnya; dia malah akan terpandang bahwa dari Allah-lah segala DAYA segala UPAYA. Semakin-makin dia tidak bersandar lagi pada dirinya sendiri. Semakin-makin dia minta tolong Allah. Makin dia ibadah, makin dirinya sirna. Makin pengaturan Allahlewat pagelaran ISMI ROBBI yang tertengok-tengok di matanya.

Ibadahnya tak lagi dia tengok sebagai unjuk prestasi, melainkan cuma bentuk lain dari sikap minta tolong pada Allah.

Orang yang memandang hidup sebagai pagelaran ISMI ROBBI, menyadari bahwa semua-semua kejadian hidup ini konteksnya tentang DIA.

Maka yang membaca dengan konteks ISMI ROBBI, akan diajariNya ilmu, apa-apa yang tak diketahui

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s