JEJAK PARA PENYAKSI

Kenapa ada sebagian orang menegak khamr dan memilih untuk mabuk? Karena saat mereka mabuk, mereka tidak memperhatikan masalah kehidupannya. Sebab mereka ‘lupa’. Mereka menghilangkan masalahnya dengan cara temporer. Menghilangkan fokus dari hal eksternal yang menyakitkan.

Sebagian praktisi kerahiban, juga mengetahui bahwa faktor eksternal manusia bisa membuat manusia tak bahagia. Maka dari itu mereka lakoni hidup kerahiban, meninggalkan dunia, agar yang DALAM merasa damai.

Approach tasawuf ternyata berbeda. Yang ditinggalkan rupanya bukan masalah / faktor eksternalnya, melainkan pengakuan bahwa kita ‘wujud’ dan mempunyai kemampuan mengatur-lah yg dihilangkan.

Hingga kita melihat segala kejadian sebagai pengaturan Allah dan caraNya “menyatakan diri”.

Kalau keinginan untuk ikut terlibat dalam pengaturan; hilang, maka rasa sakit akan lenyap. Kalau tak ada ‘aku’ maka tak ada yang sakit.

Tapi untuk meyakini dengan dalam bahwa manusia tidak memiliki kuasa pengaturan –dan pada gilirannya semakin mengenali Allah lewat pembacaan akan pengaturanNya pada kejadian hidup-, untuk sampai kesana, Allah akan perjalankan dengan caraNya sendiri.

Maka saat dibelit kejadian hidup yang berat, betapa kita tak teringat dengan para Nabi?

Epic sejarah tentang sebenar-benar penyaksi, setunduk-tunduk makhluk.   Yang menjalani kehidupan penyaksian dan kemenyerahan diri sampai dibatas-batas nadir.

IBRAHIM meninggalkan anaknya di lembah tandus, setelah besar anaknya disuruh untuk disembelih olehnya.

MUSA diperjalankan melawan diktator tirani paling berkuasa yang sekaligus bapak angkatnya sendiri.

RASULULLAH yatim-piatu, dikejar-kejar akan dibunuh oleh lingkungan yang memuja berhala, diberi pendamping sesabar khadijah –lalu pada saat kenyamanan sudah mulai terasa; Allah ambil Khadijah, diambil pula sang paman-,  lalu dalam pada  itu beliau ke thaif hendak mencari harapan penerimaan dari orang-orang disana, tetapi malah dikejar dan diburu lemparan batu serta dianggap orang gila.

Saat diberi kejadian hidup yg berat, disitulah saya ‘menengok’ para Nabi. Dan disitulah saya baru memahami sholawat. Urun salam, tanda kesalutan kepada contoh sebenar-benar penyaksi. Bahwa yang memandang hidup dengan cara seperti ini tak cuma kita sendiri, tetapi sudah dicontohkan orang-orang suci masa silam.

Terlalu panjang rentang jarak spiritual kita dan mereka, cukuplah kita berada di lingkaran orang-orang yang ingin juga memandang kehidupan sebagaimana mereka memandang.

Menyerah sebagaimana mereka menyerah.

Rabbana amanna bima anzalta wattaba’nar rasula faktubna ma’asy-syahidin. 

“ya tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi” (Ali Imran : 53)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s