PAGELARAN ISMI ROBBI (4)

Perintahnya adalah membaca, dengan nama Rabb yang menciptakan. IQRO BI ISMI ROBBI. Artinya, yang bisa kita “baca” dalam kehidupan ini adalah kreasiNya. Makna-makna yang dia ‘nyatakan’ dalam penciptaanNya.

Karena yang “bisa dibaca” memang sesuatu yang Allah ciptakan. ISMI ROBBI berkaitan dengan kapasitas penciptaan (umpamanya begitu, walaupun mungkin bahasa ini tak terlalu tepat).

Sedangkan ALLAH, Allah tak bisa dibaca. Allah adalah nama bagi Dzat yang tiada serupa tiada umpama. Rahasia di atas rahasia. Allah adalah yang kita sembah, Dialah yang undefined, Maha Rahasia, sebab itu Dia tak akan bisa dibaca. Yang bisa dibaca itu adalah pagelaran alam sifat Dia. Penzahiran asmaNya. Tapi jangan sembah alam sifat, sembahlah Yang Punya Sifat.

Hal ini penting, karena kebiasaan manusia adalah mengetahui sesuatu berdasarkan inderawinya, lima indera ditambah lagi satu indera yaitu mata hati.

Saya mencatat dari ada point sangat penting dari penjelasan seorang guru, yaitu bahwa manusia tak bisa merangkum Dia. Ini sangat betul sekali.

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” Thaha -110

Artinya, pembacaan terhebat manusia sekalipun, hanya akan bisa mengantar manusia MEMBACA ismi Robbi. Asma-asma penciptaanya. Kreasionalnya. Kejadian hidup yang terzahir yang merangkum sifat-sifat dan makna-makna tentang Dia.

ALLAH sendiri tak akan terbaca, tak akan tertengok, tak tersentuh, oleh science semutakhir apapun saja, oleh pendakian spiritual setinggi apapun saja.

Nah….yang kurang tepat dari sebagian orang adalah saat mereka melakukan perjalanan spiritual, peribadatan yang dalam, mereka mengira dalam perjalanan itu nanti inderanya akan bisa ‘menyentuh, merangkum, menengok, merasakan’ Allah.

Semisal saat mereka memperjalankan mata hatinya, mereka menengok, atau merasakan, menemukan sebuah sensasi ketenangan yang begitu dekat, kosong yang begitu ada, mereka merasa mereka BERSENTUHAN dengan Allah.

Jadi seakan-akan sudah begitu personal dan mewakili Allah. Sampai-sampai keluarlah pernyataan seakan-akan mereka berhak mewakili Allah dalam lakuannya. Itu tak betul.

Kalau pengakuan itu dari Allah, boleh…semisal Allah berfirman “Bukan kamu yang melempar, Muhammad, tetapi Aku”. Berarti Allah mengajarkan kepahaman pada Rasulullah SAW bahwa manusia tak punya daya upaya.

Tapi kalau pengakuan itu dari sisi manusia, itu mencederai adab, tak boleh. Misalnya seorang shalih berkata sambil marah “kamu jangan macem-macem, ini bukan saya yang marah, ini Allah yg marah” lha ndak sopan. Berarti mengaku diri sebagai Allah.

Sehebat apapun manusia memperjalankan mata hatinya, membaca alam semesta, yang mereka tengok, tembusi, rasakan, baca, itu bukan Allah. Melainkan pagelaran sifatNya.

Jangan sembah sifatNya, sembahlah pemilikNya. Pagelaran sifatNya bisa dibaca, pemiliknya selalulah rahasia di atas rahasia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s