PAGELARAN ISMI ROBBI (5)

Dulu saya sempat bertanya, kenapa Budha banyak sekali mengajarkan tentang sesuatu yang sangat spiritual, semisal ajaran kerahiban, meditasi dan semacamnya.

Nabi Isa AS pun sama, kita lihat banyak ajaran welas asih disana.

Kenapa di islam, saya jarang menemukan itu? –tentu keterbatasan pengetahuan keislaman saya merupakan salah satu jawabannya– tetapi terlepas dari keterbatasan pengetahuan, memang jamak akan ditemukan orang awam bahwa islam tak selalunya membahas hal-hal spiritual seperti meditasi dan semacamnya.

Saya baru mengerti sekarang, bahwa hal itu tersebab peranan.

Usia manusia terbatas, dan dalam usia yang terbatas itu ada peranan yang harus dituntaskan.

Kalau kita lihat Budha (sebagian pendapat mengatakan Budha adalah Nabi yg mengajarkan  tauhid keesaan Allah, masa-masa sebelum kenabian Rasulullah SAW), Budha adalah seorang anak raja yang meninggalkan tahtanya kemudian memilih kehidupan pertapa.

Budha tidak berada dalam konteks dia seorang penguasa. Budha tidak menghadapi tantangan eksternal berupa musuh yang ingin memerangi dia, itu sebab ajaran Budha akan melulu mengenai spiritualitas dan semacamnya.

Begitupun Nabi Isa AS, beliau bukanlah seorang Nabi yang Penguasa, Beliau Nabi tetapi tidak dalam konteks memiliki daerah kekuasaan sebagaimana raja.

Berbeda dengan Rasulullah. Rasulullah adalah pemegang maqom spiritualitas tertinggi, tetapi di saat yang sama adalah panglima perang. Seorang yang begitu zuhud tapi di saat yang sama pemegang kekuasaan perbendaharaan negara. Cinta kasih pada sesama, tetapi di saat yang sama harus menjalankan takdir bunuh-membunuh melawan orang-orang kafir yang memeranginya.

Waktu terbatas, dan ada peranan yang mesti dituntaskan.

Maka sebenarnya islam pun memiliki ajaran spiritual semacamnya itu –yang belakangan baru saya sadari setelah dipertemukan dengan banyak guru kearifan-, tetapi karena konteks peranan Rasulullah, maka ajaran yang dikedepankan tak melulu itu, tetapi juga tentang perekonomian, sains, kaidah perang, pengaturan kenegaraan dan lain-lain.

Ternyata memang, ilmu akan diturunkan sesuai dengan peranan seseorang.

Kalau kita lihat Nabi Musa AS, kenapa Nabi Musa tidak se’dalam‘ khidir kema’rifatannya? padahal Beliau Ulul Azmi, artinya satu diantara sejumlah Nabi yang paling luar biasa prestasinya, umpamanya begitu.

Ternyata karena tugas.

Tugas Nabi Musa bukan tugasan membimbing orang-orang “pencari” untuk mengenal Allah lebih dalam dari sekedar pengenalan syariat. Itu tugasnya Nabiyullah Khidir.

Tugas musa adalah memimpin Bani Israil, mengajaknya kenal Allah, dan meruntuhkan penguasa tiran paling berkuasa di masanya, yaitu Firaun.

Tak mungkin tugas itu diserahkan kepada orang yang disaat yang sama diberikan ajaran yang mengedepankan meditasi, spiritualitas, kontemplasi.

Peranan itu mestilah diberikan kepada seorang baik, jujur, tetapi disaat yang sama juga begitu keras pengertiannya tentang kehidupan.

Pernah membunuh, tetapi kemudian diampuni. Diberikan mu’jizat yang spektakuler karena tugasannya membimbing kaum paling ngeyel sedunia. Dijuluki kalamullah, karena peranan beliau dan karena karakter orang Israel yang dipimpinnya tak bisa sekedar disusupi makna-makna, mesti zahir dan tegas. Tuhan ngomong langsung.

Dan lepas dari segala anugerah itu, Musa masih juga meminta Allah menampakkan diri di bukit Thursina, sampai bukit hancur lebur.

Dan di akhirat nanti, Musa pula masih mendebat Adam dan menggugat Adam karena kesalahan adam, lalu musa kalah debat. Begitu menurut hadist.

Kenapa? Peranan!

Allah akan melengkapi ilmu kepada seseorang, sesuai dengan peranan dia. Dan ketersingkapan akan makna-makna tidak selalunya menandakan posisi spiritualitas seseorang, kadang-kadang dia hanya karna masalah peranan.

Seperti Musa dan Khidir.

Siapa lebih mulia? ilmu, jelas Khidir lebih banyak. Tetapi kemuliaan di sisi Allah? Wallahu’alam, sebagian ulama mengatakan Khidir tidak masuk ulul azmi, tetapi Musa masuk.

Wallahu’alam, Khidir punya peranan lain.

Yang saya renungi, ternyata saya baru paham, bahwa ilmu-ilmu yang turun pada kita, tak akan lari dari seputar kisah peranan kita.

Tak akan seorang dokter diturunkan kepahaman ilmu geologi. Tak akan seorang petani diturunkan kepahaman tentang strategi militer perang. Pasti ilmu melengkapi peranan.

Kita tinggal stand by dalam “mode” ingat Allah selalu, dan menangkap ilmu apa yang “turun” sesuai kita punya peran.

Kita “membaca”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s