JENJANG PENGELIHATAN

Saya renung-renung, salah satu kebijakan Rasulullah SAW adalah Beliau memberikan pengajaran selalu mempertimbangkan keruhanian umat Beliau yang begitu beragam.

Semisal, sholat tarawih beliau lakukan beberapa kali saja di masjid, selepasnya tidak beliau lakukan lagi karena takut dianggap wajib dan memberatkan umatnya yang beragam level spiritualitas, ada yang tinggi ada yang rendah.

Jadi sudah ada panduan umum yang tentu applicable buat semua golongan dan maqom spiritualitas. Syariat di-set pada level itu. level umum.

Umpamanya, seorang ulama ada memberikan permisalan, syariat fiqih itu seumpama pematang sawah. Batasan-batasan. Tetapi hidup petani bukan soalan batas-batasan, ianya adalah soal bagaimana bertanam padi secara baik dan berkualitas.

Umpama lagi, permainan sepak bola. Syariat fiqih ialah batasan-batasan, bermain bola tidak boleh kena tangan, harus pakai kaki.

Bermain bola sambil merangkak; boleh secara syariat sepak bola, tetapi tentu tidak efektif dan mencederai “niatan bermain bola secara berkualitas.”

Begitulah, ada levelan umum yang sudah di-set untuk semua jenjang spiritualitas, tapi ada juga orang-orang yang bisa melakukan lebih dari itu saat maqom spiritualitas mereka sudah lebih tinggi.

Lakuan itu, tidak menyalahi tata aturan, tetapi tak semua orang bisa terapkan.

Semisal, levelan umumnya adalah sholat lima waktu, tetapi levelan maqom spiritualitas sayidina Umar; dia menyedekahkan kebunnya yang membuat dia lalai sholat ashar tepat waktu.

Levelan umum adalah menjaga kebersihan dari hadast, levelan maqom Sayidina Utsman bin affan beliau mandi dalam toilet terkunci, duduk di pojokan, di dalam kamar yang terkunci, pintu depan terkunci juga. Dan masih juga menggunakan basahan, saking malu-nya pada Allah.

Levelan umumnya adalah berdoa sebanyak-banyaknya, tetapi maqom spiritualitas Nabiyullaj Ibrahim AS bahkan membuat dia tak hendak berdoa, meski diikat tangannyadan waktu itu adalah detik-detik menunggu dilempar ke kobaran api, sedang Jibril sudah turun di depannya dan membujuk agar dia berdoa kepada Allah. Ibrahim tetap enggan, bagi Ibrahim, dia berdoa berarti mencederai adab kepercayaan pada Allah.

Kita tahu bahwa amal (atau sesuatu yang terlihat pada luarannya) didorong oleh sesuatu yang ada di dalam jiwanya (HAL spitual / kondisi ruhani), maka meniru bentuk luar amal tetapi belum mempunyai KONDISI DALEMNYA menurut saya kurang pas.

Kondisi umum adalah zakat 2.5%, kita lakukan itu sebisa-bisanya kita, sampai nanti akan ada masanya KONDISI RUHANI di dalam akan naik dan mewujud pada kerelaan kita mengeluarkan lebih dari itu.

Kalau kita langsung meniru Abu Bakar menyedekahkan SEMUA harta tanpa sisa, alamat kita tersiksa sendiri. Maqom belum sampai, amalan sudah kita tiru.

Sama juga, levelan umumnya adalah kita berdoa saat ada sesuatu yang mengganggu fikiran kita, sesuatu yang berat. Sampai nanti karena rajinnya berdoa, kita menjadi ‘naik’ sendiri dan menyadari bahwa yang penting bukan muatan doanya, tapi yang penting adalah cakap-cakap curhatnya pada Allah.

Baru kita akan mengerti bahwa “orang yang sibuk berzikir, sampai lupa meminta, akan diberikan sesuatu yang lebih baik daripada orang yang meminta.”

Itu kalau maqomnya sudah sampai. Tetapi kalau belum, dan ‘masalah masih menari-nari’ di benak kita, ya hemat saya doalah sebanyak-banyaknya, karena banyak berdoa itu adalah maqom menegakkan penghambaan juga, kemana lagi minta tolong kalau tidak berdoa?

Jadi bentukan amal lahiriah akan berbeda-beda, karena berbeda-bedanya maqom seseorang.

Dan yang pokok adalah jangan meniru amalnya (kalau amal, tirulah levelan umum yang sudah Rasulullah set), tetapi tirulah kondisi DALEMnya, kalau kondisi dalem sudah sampe, otomatis amal berubah sendiri.

Seperti ada seorang Arif beliau melihat Yang Satu sebagai Yang Satu saja, saking tajamnya pengelihatan. Sifat-sifat pun tak terpandang lagi. Apa yang terjadi sudah tidak akan disoal lagi. Ridho.

Tetapi kita, cukuplah dulu berada dalam maqom hamba yang terpandang pada jalal dan jamalnya Allah. Melihat sifat-sifat yang dinyatakan Allah bertebaran di muka bumi ini, Dia menyatakan diriNya lewat penciptaanNya.

Pada waktunya nanti,  Dia-lah juga yang kuasa merubah maqom kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s