CORONG KEPAHAMAN

Sewaktu saya SMA dulu, saat pelajaran biologi yang membahas hubungan antara impuls listrik dari otak yang mengalir lewat syaraf-syaraf dan kaitannya dengan pergerakan otot, saya memiliki satu kebingungan yang mengganggu benak saya.

Apa yang menjembatani antara sesuatu yang bersifat abstrak, non materi (KEINGINAN) dengan sesuatu yang bersifat materi (PERGERAKAN OTOT, Impuls listrik otak dan syaraf, dsb.) Bagaimana keinginan yang bersifat abstrak dari dalam jiwa manusia menggerakkan impuls listrik dan berpengaruh ke otot?

Kala itu, guru SMA saya tak tahu jawabannya. Dan tak ada yang bisa menjawab dalam rentang waktu cukup lama, sayapun tetap bingung.

Jawabannya malah baru saya temukan akhir-akhir ini pada kajian seorang arif yang membahas mengenai nafs manusia : jasad, nyawa, ruhani, dan hati yang halus. Lalu terjawab pula pada tulisan seorang arif lainnya yang mengatakan jembatan penghubung itu sebenarnya ialah otak itu sendiri. Keinginan manusia yang bersifat abstrak itu bertempat di spiritual heart (Hati yang halus, latifah Robbaniah) yang memiliki kemampuan mengerti segala hakikat. Otak merupakan port penghubungnya dengan alam materi yaitu jasad manusia itu sendiri.

Singkat cerita, saya tak hendak membahas mengenai tubuh kasar dan tubuh halus, yang menjadi pengertian bagi saya pribadi adalah bahwa Allah-lah sebenar-benar pendidik.

Pertanyaan dalam hati manusia, sejatinya adalah sesuatu yang Allah turunkan pula sebagai pemicu agar manusia tersebut membaca alam (pagelaran sifat) yang pada akhirnya menghantarkan manusia mengenal Yang Punya Alam. Dia sendiri yang mengajar. Kadang-kadang jawaban dari pertanyaan itu baru akan disingkapkan puluhan tahun kemudian setelah kita memiliki cukup “wadah” untuk menampung kebijakan dari jawaban pertanyaan itu.

Karena kenyataan bahwa Dia-lah yang mengajar kit;, sudah kita pahami. Satu PR besar lanjutan bagi saya pribadi adalah mencoba menyadari bahwa kita bukanlah pengajar -dalam kaitannya dengan keluarga kita, atau rekan, atau orang lain-.

Ada cerita tentang Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah. Kita lebih akrab dengan nama Buya Hamka. Pusing kepala ayah beliau –yang seorang kiai– hendak mendidik Buya Hamka kecil, nyatanya Hamka kecil malah lebih senang latihan silat daripada mengaji. Kerjanya berkelahi seperti jagoan kampung. Sampai-sampai suatu ketika ayahnya berangkat haji, Buya Hamka kecil tetap tak perduli. Dia sibuk main kelereng (main gundu) bersama temannya.

Waktu itulah temannya menegur dia, kata temannya itu kurang lebih lah begini “Malik, Bapakmu ulama besar pergi berhaji, kau cuma sibuk saja main kelereng begini.”

Waktu itulah ‘hantaman’ terjadi pada hati Buya Hamka, langsung dia tinggalkan permainan gundu dan berbalik ke rumah. Lepas itu beliau menjadi ulama tenar yang kita kenang sampai sekarang.

Allah-lah sebenar-benar pendidik.

Maka menempatkan konteks pendidikan menjadi konteks kita yang mendidik, atau “Aku”, akan menyiksa diri kita sendiri. Karena yang mampu memahamkan dan mendidik adalah Allah sendiri.

Itu baru terlihat setelah saya berkeluarga dan punya anak. Betapa terlihat bahwa sebenarnya yang mengajarkan adalah Allah sendiri, lewat plot yang Allah buat sendiri.

Dalam plot besar pengajaran itu, kadang-kadang kita dilibatkan menjadi keran ilmu, kadang-kadang orang lain yang dijadikan keran ilmu, kadang-kadang kejadian hidup sendirilah keran ilmunya.

Saat kita memaksakan diri kita sendiri HARUS menjadi keran ilmu, maka kita akan sakit hati saat pengajaran kita tak diterima. Atau kita akan menjadi kecewa, saat kemampuan kita mengajari tak sehebat yang kita bayangkan. Seumpama keran, mengira dia adalah mata air. Atau sebaliknya mengira bahwa air tak akan bisa mengalir tanpa melalui dia. Itulah sumber kesakitan.

Layaknya keran, keran sendiri adalah tak pernah menjadi sumber air. Betapapun banyak air yang mengalir dari keran, keran hanyalah corong. Dan bagi corong, adalah kehormatan untuk bersedia dialiri air, kepada siapapun yang tertakdir menerimanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s