TONGKAT MUSA

Sekian lama belajar pelan-pelan pada guru-guru kearifan yang mengajarkan ihsan, saya mengamati ada keterpisahan yang halus di dalam diri.

Sering saya merasa seperti terasing di keramaian. Melihat hidup sangat berbeda dengan orang lain. Terkadang saya melihat benda-benda di sekitar saya, lalu tempo-tempo saya bertanya-tanya, “Untuk apa semua ini?”

Setelah menyadari bahwa ada “Sesuatu Yang Tahu” di dalam diri ini, sebuah bashiroh, kesadaran yang independen, hati yang halus yang sebenarnya terpisah dengan apapun saja; saya jadi kadang berfikir, kenapa manusia bekerja keras? Apa yang dikejar? Bukankah manusia bisa menjadi bahagia jika manusia itu melepaskan keinginan dirinya dari benda-benda? Artinya manusia itu bisa bahagia dengan begitu sederhana, tanpa perlu bekerja keras dan larut dalam segala kesibukan yang menyita perhatian.

Cukup lama saya berada dalam bimbang seperti ini, tetapi saya menyadari seperti ada potongan puzzle lagi yang belum genap.

Saya bertanya sendiri, “kalau semua manusia memutuskan untuk menjadi bahagia dengan melepas semua keinginan, dan menjalani hidup yang romantis dengan punya rumah di dalam hutan, di pinggir air terjun, hidup dari memancing ikan di pinggir rumah, makan dari sayur di kebun sepetak, siang hari tiduran dan minum air kelapa, sore memandang senja, lalu siapa yang bergerak dan membangun peradaban?”

Lebih-lebih lagi, bukanlah hal tersebut keinginan juga? Keinginan yang tersembunyi untuk hidup enak tanpa beban?

Lalu saya menyadari, bahwa setiap orang memiliki peranan yang sudah digariskan untuk membangun kehidupan dan memainkan fungsi kekhalifahan. Setiap fungsi kekhalifahan dilengkapi perangkat kebendaan.

Orang-orang yang memandang kehidupan sebagai perlombaan koleksi benda-benda, akan diperbudak oleh harta. Hidup dalam kebahagiaan yang begitu rentan dan rapuh. Hilang benda, sengsara-lah yang DI DALAM mereka.

Tetapi orang-orang yang memandang kehidupan sebagai kehormatan terlibat dalam peran kekhalifahan, akan memandang harta sebagai perangkat semata.

Mendudukkan benda sebagai benda saja. Bukan sesuatu yang membuat jumawa, tidak juga sesuatu yang menjadikan canggung yang tak pada tempatnya.

Ramai, orang-orang berdebat larat, “Apakah Rasulullah SAW kaya?” tanya mereka.

Satu kubu mati-matian mengatakan Rasulullah kaya, dan menganjurkan orang-orang untuk kaya. Satu kubu mati-matian mengatakan Rasulullah adalah miskin papa, hidup diantara orang miskin, berkumpul diantara orang miskin.

Sekarang saya baru paham, Rasulullah memandang benda sebagai benda semata. Perangkat untuk menjalankan peranannya.

Jadi bukan masalah kaya atau tak kaya, berkuasa atau tak berkuasa. Tetapi jika dalam menjalankan fungsi kekhalifahan itu ada sesuatu perangkat yang kita perlukan, maka bekerja sajalah, dan ambil perangkat itu sebagaimana “tongkat” Musa, yang ‘membantunya berjalan.’

Jika di dalam peranan itu ada porsinya bahwa fungsi kekhalifahan hanya akan bisa dijalankan jika disupport unta merah, maka pakai saja unta merah.
Maka di satu sisi kita lihat Rasulullah punya perangkat terbaik seperti unta itu, ibarat perangkat BMW terbaru penunjang mobilitas,  tapi di kali lain makan saja tak ada hingga beliau puasa. Benda-benda menjadi easy come easy go.

Begitu juga jika peranan kita adalah semisal mendakwahkan tauhid pada orang-orang “hebat” yang sakti dengan kedigdayaan mereka, maka perangkat ‘tembus pandang’, ‘kasyaf’,  ‘weruh sak durung winarah’, adalah perangkat yang boleh jadi dianugerahkan pada kita sekadar untuk menjalankan fungsi.

Sebagaimana Musa yang melawan ahli sihir, maka harus spektakuler pula tongkatnya, bisa jadi ular, laut bisa dibelah.

Di lain sisi Rasulullah, beliau tak perlu membelah laut, karena peranan beliau adalah menghadapi kaum yang lincah dalam susastra, maka Qur’an jawabannya.

Jika ilmu dan ilham kepahaman turun sesuai peranan, maka saya kira perangkat kebendaan pun akan turun sesuai peranan.

Bukan masalah kaya atau tak kaya, bukan sakti atau tak sakti, kuasa tak berkuasa, tetapi semua didudukkan sebagaimana porsinya saja.

Perangkat membantu kita menjalankan peranan. Peranan menghantarkan kita pada pengenalan skenario. Skenario menceritakan pada kita tentang Sang Empunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s