SAMPAI JUMPA DI BATAS CAHAYA

Kurang apa Nabiyullah Ibrahim AS? Mendapat wahyu, dijuluki Khalilullah, tersingkap pandangannya, tapi suatu ketika Beliau pernah juga meminta agar Allah tampakkan bagaimana cara Allah menghidupkan yang telah mati.

Kurang apa Musa AS? Allah bercakap langsung padanya. Tangannya diapitkan ke ketiak; maka memancar cahaya putih cemerlang, tongkatnya bisa menjelma ular, barusan saja Fir’aun ditenggelamkan di laut setelah mengejar Musa dan kaumnya. Namun kita mendengar cerita, Musa meminta Allah menampakkan diri di bukit thursina.

Pertanyaannya apa dua Nabiyullah itu kurang yakin kepada Allah? Lama saya merenung, dan  Tentu tak mungkin mereka kurang yakin kepada Allah, mereka adalah Ulul Azmi.

Ulul Azmi berarti puncak maqom spiritualitas. Di antara Nabi-nabi terpilih, mereka the best-nya.

Jadi kenapa mereka masih meminta yang “aneh-aneh” setelah dibukakan kepada mereka tirai hijab?

Dulu saya bertanya, pastilah ada sesuatu yang  membedakan permintaan mereka dengan permintaan orang-orang yang menentang Allah dan meminta bukti? Tapi apa?

Sekarang saya baru mengerti bahwa permintaan mereka bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan efek dari kerinduan kepada Allah.

Orang yang kenal, menjadi rindu, yang rindu mencari-cari alasan untuk semakin dekat.

Seperti Nabiyullah Idris AS yang “macem-macem” cara beliau supaya dimasukkan ke syurga. Meminta malaikat maut mencabut nyawanya, lalu membawanya tamasya ke neraka dan syurga, lalu meninggalkan terompahnya di syurga supaya bisa kembali lagi kesana.

Saya rasa poinnya adalah mereka telah beriman, telah merasakan pahit getirnya ujian dan keridhoan, selepas itu mereka meminta sesuatu agar semakin bertambah keimanan di samping keimanan yang telah ada.

Beberapa rekan berbincang dan menambahkan kearifan yang mereka miliki sehingga saya menjadi lebih paham tentang ini.

Ini penjelasannya.

Hamba-hamba yang Allah sayangi, dianugerahi kerinduan untuk bertemu denganNya, dan itu terlihat dari rekam sejarah seperti yang kita bincang di atas. Tetapi ada perbedaan sikap yang memberi kita pelajaran besar

1. Nabi Musa dengan berbagai ujian dan pertolongan Allah, tentunya sadar betul bahwa Permintaan beliau adalah melebihi keinginan manusia biasa, beliau ingin bertemu langsung dengan pencipta-Nya, dan setelah Allah buktikan, ternyata Nabi Musa tidak sanggup dan beliau mengucapkan Subhanallah ketika sadar dari pingsannya dan segera bertaubat…. (QS Al A’raf:143 ).

2. Nabi ibrahim memiliki keinginan kuat dengan menggunakan akalnya mencari Tuhannya, sehingga berucap “telah lelah mencari…” namun Beliau tetap bersujud sampai Allah menunjukkan buktikan kekuasaan Nya agar keyakinan nabi ibrahim semakin mantap (QS Al An’am:79 )

3. Sangat berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, begitu ikhlas dan pasrahnya menyerahkan jiwa dan raganya untuk memenuhi kewajibannya sebagai rasul Allah SWT, dengan pedihnya sebagai manusia biasa kehilangan semua keluarga yg menyayangi dan melindunginya dalam berdakwah, justru beliau tidak meminta apa-apa kepada Allah, tetapi Allah lah yang menghibur kekasihnya dengan peristiwa Isra Miraj (QS Al Isra:1).

Kita mengerti bahwa peristiwa Mi’raj yang dialami Rasulullah, Beliau diangkat ke atas langit sampai di batas tirai nur dan arasy Allah. -Seorang Arif mengatakan bahwa peristiwa itu tidaklah berarti bahwa Allah bertempat di sana (karena ‘bertempat’ adalah sifat bagi makhluk) melainkan peristiwa itu menunjukkan kemuliaan tempat itu-.

Tapi yang paling pokok adalah, Rasulullah ‘bertemu’ Allah pada puncak kepasrahan Beliau, dan diberikan oleh-oleh berupa perintah sholat. Jenak yang merupakan kesempatan mi’raj bagi semua Umat Beliau, untuk juga bertemu Allah dan merasakan kondisi pertemuan seperti yang dirasakan para Nabi. Rasulullah tak pergi dan menikmatinya sendirian, beliau membawa pulang keberkahan itu untuk kita.

Maka, kata guru-guru yang arif. Saat berada di puncak kerinduan. Saat para pencari diterpa ujian di titik yang nadir. Saat kesendirian membalut sepi. Saat keseharian didera rutinitas yang klise. Saat apapun saja, Umat Muhammad SAW tak usah lagi mencari-cari cara yang lain untuk mengobati duka lara dan rindu, pergilah mi’raj lewat sholat, dan temuilah Allah. Sang Empunya kehidupan ini.

Meski belum bisa sekualitas mereka, tetapi pemahaman yang benar akan makna sholat ini mudah-mudahan menghantarkan kita juga untuk bertemu di batas cahaya.

——
Terimakasih Pak Ahmad, Pak Deka, Pak Sahry atas tambahannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s